Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 152 : Babak Final ll


__ADS_3

Setelah kalah dalam pertarungan pertama babak final, Guang Zhou sekarang sudah kembali ke atas arena untuk menghadapi Zhang Yu.


Andai dalam pertarungan ini dia menang, maka Xiao Yuze yang menang atas dirinya mendapat tempat pertama, sedang dirinya dan Zhang Yu masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga. Itu jika dirinya mampu mengalahkan Zhang Yu.


Namun jika sebaliknya, Zhang Yu akan bertarung dengan Xiao Yuze memperebutkan posisi pertama. Sementara dirinya harus puas di posisi ketiga.


"Kau masih punya waktu untuk memulihkan diri. Apa kau yakin mau memulai pertarungannya sekarang?" tanya Jendral Ji Han pada Guang Zhou.


Tentu semua orang tahu jika sebelumnya Guang Zhou terluka saat berhadapan dengan Xiao Yuze. Dia hanya mengambil setengah dari waktu yang diberikan untuk memulihkan diri dan langsung menantang Zhang Yu.


"Tidak ada yang tahu keadaanku lebih dari diriku sendiri. Aku sudah sangat baik," jawabnya.


Jendral Ji Han tidak punya hak untuk melarang peserta jika sudah siap untuk bertarung. Dia melirik ke arah Zhang Yu, lalu bertanya padanya.


"Kau siap?"


"Silakan Jendral memulainya."


Mendengar ini Jendral Ji Han langsung mengambil ancang-ancang. Dalam hitungan ketiga, dia melompat dari tempatnya sambil berseru dengan suara lantang.


"Mulai!"


Lima pedang cahaya muncul di atas kepala Guang Zhou. Kelimanya berputar dan memancarkan aura yang kuat.


"Aku sudah menunggu saat-saat ini. Walau mungkin kekuatanku lebih lemah darimu, jangan pernah berbelas kasihan padaku," kata Guang Zhou.


"Baik, akan kulakukan." Tepat setelah itu Zhang Yu menempatkan pedangnya di depan tubuhnya.


"Telapak tangan api!"


Begitu melihat Guang Zhou melesatkan dua pedang cahaya, Zhang Yu mengeluarkan bayangan telapak tangan untuk menahannya. Bayangan telapak tangan itu bergerak cepat menyusur tanah, menerjang pedang cahaya lalu hancur bersamaan.


Mata Guang Zhou berkedut melihat serangannya dipatahkan oleh Zhang Yu. Setelah sebelumnya Xiao Yuze juga melakukan hal yang sama, ini seperti dejavu yang sedikit mempengaruhi dirinya.


"Kakak Guang Zhou! Awas!"


Seruan dari tempat keluarga Tong menyadarkan Guang Zhou yang sempat terdiam. Dia mengangkat wajahnya saat merasakan hembusan angin terasa sangat nyata dari bagian depannya.


Blam!

__ADS_1


Pedang semesta yang dilapisi Qi hampir saja mendarat di tubuh Guang Zhou andai dia terlambat sepersekian detik. Wajahnya agak pucat, tangannya gemetar hebat. Namun Guang Zhou melawan perasaan ragu dalam dirinya dan mengeluarkan teknik bertarung andalannya.


Berputar seperti roda, menerjang seperti gelombang. Setiap gerakan sangat dinamis tapi juga sangat teratur.


Zhang Yu yang sebelumnya berpikir kondisi Guang Zhou belum cukup pulih untuk menghadapinya pun mulai ragu dengan pendapat tersebut. Serangannya berhasil memaksa dirinya bertahan, meski pada akhirnya dirinya mampu mengimbanginya dan secara bertahap mendominasi gerakannya.


"Dia punya lebih banyak cara bertarung dari yang aku pikirkan sebelumnya. Sepertinya jarak di antara kami semakin lebar," batin Guang Zhou. Dia sadar pertarungan jarak dekat sangat tudak menguntungkan baginya. Oleh karena itu dia menggunakan empat pedang cahaya yang masih menunggu perintahnya.


"Zhang Yu, jika kau dapat bertahan dari serangan ku. Aku akan mengaku kalah darimu!" serunya.


Seketika Zhang Yu merasa tertarik dengan tantangan Guang Zhou. Melihat empat pedang cahaya mulai berputar dan membidik ke arahnya, dia mengeluarkan bayangan cakar raksasa yang setiap kukunya berwarna merah. Teknik Pedang Pembunuh.


"E-energi ini ... Mereka berdua berniat mengakhiri pertarungan dengan serangan pamungkas! Energi kekuatan ini bahkan lebih kuat dari sebelumnya!"


"Entah bagaimana Zhang Yu akan bertahan dari serangan empat pedang cahaya yang menyerang secara bersamaan. Itu adalah teknik rahasia Klan Guang yang cukup terkenal!"


"Namun terlihat juga teknik milik Zhang Yu tidak kalah kuat. Entah bagaimana akhir pertarungan ini, kita harus menunggu sampai selesai."


Pada saat ini waktu seakan berhenti pada satu momen. Entah keempat pedang cahaya milik Guang Zhou, ataupun bayangan cakar raksasa milik Zhang Yu, dua teknik serangan itu kini melesat dengan sangat cepat.


BOOM!


Diawali dengan kilatan cahaya yang timbul di tengah arena, suara ledakan dua energi kekuatan yang bertemu berhasil membuat telinga semua orang yang hadir berdengung untuk sementara waktu.


"Siapa yang menang?" tanya beberapa orang secara bersamaan. Mereka tidak bisa melihat keadaan arena yang masih tertutup asap. Menunggu sampai Jendral Ji Han, orang yang paling berwenang untuk turun ke arena lalu menggunakan sapuan tangannya menghempas asap yang menutupi arena.


"Itu Zhang Yu! Dia masih berdiri!"


Asap perlahan menghilang. Orang pertama yang terlihat di atas arena adalah Zhang Yu. Meski pakaiannya terdapat beberapa sobekan, tapi dia berdiri dengan bugar di tempatnya semula. Dia bahkan tidak bergeser barang satu langkah pun.


"Di mana Guang Zhou?" tanya sebagian orang.


Hal ini karena Guang Zhou tidak berada di tempatnya. Semua orang penasaran dan mulai mencarinya.


Pada saat asap di atas arena benar-benar menghilang, tidak ada yang tidak terkejut saat melihat keadaan Guang Zhou. Dia berada di ujung arena yang dapat sewaktu-waktu keluar dari garis pembatas. Dia juga masih bisa mempertahankan sikap berdirinya, tapi penampilannya sudah sangat buruk.


Jendral Ji Han mendekat ke tempat Guang Zhou untuk memastikan kondisinya. Dia bertanya, "Apa kau masih sanggup bertarung?"


Namun bukannya langsung menjawab, Guang Zhou mengangkat wajahnya menatap Zhang Yu. Dia ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi pada akhirnya kalimat itu tidak dapat tersampaikan karena dia tak mampu mempertahankan kesadarannya.

__ADS_1


Bruk!


Guang Zhou jatuh hampir tersungkur di arena. Tepat sebelum itu Zhang Yu muncul dengan cepat lalu menopang tubuhnya.


Kejadian ini sontak membuat sebagian orang khawatir. Namun tindakan Zhang Yu yang sangat peduli dengan mantan lawannya pun mendapat tepuk tangan dari penonton.


"Terima kasih, kau dapat menyerahkannya pada kami. Dia mewakili keluarga Tong, kami yang akan merawatnya." Kepala Keluarga Tong dan beberapa orangnya mengambil Guang Zhou. Mereka lalu membawa Guang Zhou ke tempat duduk keluarga Tong sebelum mendapatkan perawatan.


Ehem...


Jendral Ji Han berdehem. "Karena Guang Zhou tak sadarkan diri, maka pemenang pertarungan ini adalah ... Zhang Yu!"


Seruan dari berbagai penjuru langsung bergema. Keluarga Liu terkhusus Liu Bei sangat senang dengan hasil ini dan dia bersorak cukup keras.


"Hidup Saturnus! Hidup Keluarga Liu!"


Liu Mengqi yang ada di sebelah ayahnya hanya menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ayah, perhatikan sikapmu. Kau ini sama saja dengan mencoreng nama baik Saturnus," keluhnya dengan suara rendah.


Zhang Yu sudah kembali ke tempat duduk. Sekarang hanya ada dirinya dan Xiao Yuze di sana. Mereka berdua duduk berjauhan, di ujung kiri dan ujung kanan.


Karena Zhang Yu baru saja menyelesaikan pertarungannya, maka dia punya waktu untuk memulihkan energinya. Dia tak mau mengambil pusing dengan tatapan tajam yang diberikan Xiao Yuze, dia fokus memejamkan mata dan fokus untuk pertarungan selanjutnya.


"Sepupu," panggil Xiao Yuwen.


Bertahap Zhang Yu membuka kelopak matanya lalu menatap Xiao Yuwen yang sudah berdiri di sampingnya. "Ada apa?" tanyanya.


Meski mereka tidak punya hubungan baik, tapi Xiao Yuwen sepertinya tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan Xiao Yuze. Jadi mungkin tidak ada salahnya memperlakukan dia semestinya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya punya surat untukmu dari Patriark," katanya sambil mengeluarkan sebuah gulungan dari balik pakaiannya.


Zhang Yu menatapnya heran. Kemudian secara diam-diam melirik ke tempat Xiao Lang, yang diketahui belakangan ini adalah pamannya.


"Apa isinya?" tanya Zhang Yu.


"Aku tudak tahu. Kau buka saja jika penasaran."


Mendengar jawaban ini Zhang Yu pun membuka gulungan itu. Melepas ikatannya dengan hati-hati, lalu perlahan menggerakkan mata membaca setiap kata yang tertulis di dalamnya.


"..."

__ADS_1


Awalnya baik-baik saja. Tapi saat membaca sepenuhnya isi surat tersebut, raut wajahnya berubah dengan kontan. Zhang Yu menggulung kembali lembaran itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Ingin aku menyerah? Yang benar saja!"


__ADS_2