
"Zhang Yu, apa kau tidak salah jalan?" Xiao Mei memperhatikan sekitar dan merasa aneh dengan pemandangan di sepanjang jalan.
Zhang Yu berhenti begitu mendengar ucapan ibunya. Tidak dipungkiri dia juga merasa aneh melihat jalan menuju klan dipenuhi dengan sisa-sisa senjata ataupun alat-alat lainnya.
Gambaran ini sedikit mengingatkan Zhang Yu dengan jalan di sekitar gerbang selatan setelah serangan yang dilakukan Istana Roh.
"Ibu, ...."
Tanpa menyelesaikan kalimatnya Zhang Yu segera bergegas memasuki wilayah Klan Zhang.
Xiao Mei mengejarnya. Begitu mereka melewati gapura, terlihat jelas kekacauan ada di mana-mana. Sangat berantakan dan sebagian besar bangunan hancur atau rata dengan tanah.
Langkah kaki Zhang Yu terhenti di tempat dan raut wajahnya menjadi rumit.
"Zhang Yu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Xiao Mei spontan.
"Aku tidak tahu ibu." Tangan Zhang Yu bergetar. Dia menjadi gelisah ketika memikirkan keadaan ayah, bibi serta yang lain.
Xiao Mei tidak bertanya lagi. Dia sendiri cukup tahu jika Zhang Yu tidak mengerti sama sekali tentang apa yang terjadi karena mereka berdua baru saja sampai. Namun Xiao Mei tidak dapat mengendalikan mulutnya yang bertanya dengan khawatir.
"Ibu, kita harus pergi ke kediaman."
"Kau tunjukkan jalannya,"
Tanpa berlama-lama Zhang Yu bersama dengan ibunya masuk lebih jauh wilayah Klan Zhang. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di wilayah pusat tempat kediaman tetua. Namun kondisinya tidak jauh berbeda yang seketika membuat Zhang Yu dan Xiao Mei tak bisa berkata-kata.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Zhang Yu.
Sekarang di depan mata adalah kediaman yang dahulu menjadi tempat tinggalnya. Kediaman yang penuh dengan kenangan dan cukup membuatnya rindu untuk kembali. Akan tetapi kediaman yang berdiri kokoh sebelumnya, saat ini hampir rata dengan tanah.
Mata Zhang Yu menjadi merah ketika membayangkan semua kenangan di kediaman ini hancur lebur tak bersisa. Setidaknya membutuhkan waktu beberapa lama sampai dia mendapatkan kembali ketenangannya.
"Tidak ada mayat di sekitar sini. Begitu pula dengan jalan yang kita lalui. Itu tanda bahwa ayahmu, bibimu serta yang lain masih selamat." Xiao Mei menenangkan Zhang Yu. Kalimatnya pun berhasil membuatnya lebih tenang.
"Lebih baik kita pergi ke wilayah lain. Karena Ibu yakin kita akan mendapatkan informasi tentang apa yang menimpa Klan Zhang."
Zhang Yu mengangkat wajahnya memandang ke atas langit. Tidak ada yang ia harapkan saat ini. Dia hanya berharap sang ayah, bibi serta anggota Klan Zhang yang lain baik-baik saja.
"Baiklah Ibu. Ayo kita pergi,"
Mereka pun meninggalkan wilayah Klan Zhang untuk menuju wilayah Klan Wen. Terlihat perbedaan yang sangat kontras karena wilayah yang dikuasai Klan Wen sangat makmur dan lebih hidup dengan banyaknya orang yang berlalu lalang.
Zhang Yu tak bisa mempercayai hal ini. Walau bagaimanapun Klan Zhang adalah klan terkuat di Kota Qian Gu. Memikirkan hal yang buruk menimpa Klan hingga hancur dan orang-orang menghilangkan pun membuatnya penasaran siapa pelakunya.
Apa mungkin itu Klan Wen yang berkolusi dengan klan-klan tingkat dua? Tapi bahkan jika mereka semua bergabung juga tidak akan mampu menciptakan dampak semengerikan itu.
"Zhang Yu, di sana sangat ramai. Mungkin kita dapat menemukan informasi di sana," tunjuk Xiao Mei pada rumah makan dua lantai yang terlihat asing.
Zhang Yu tak mengingat ada rumah makan ini saat dirinya masih di Kota Qian Gu. Tidak disangka lima tahun berlalu dan sudah banyak perubahan.
Tanpa banyak bicara Zhang Yu mengajak ibunya ke sana. Melewati pengunjung yang cukup padat hingga akhirnya menemukan tempat duduk kosong di lantai dua.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya, kalian pesan apa?" tanya pelayan yang menyadari mereka baru datang.
Akan tetapi pada saat ini Zhang Yu terlalu fokus untuk memperhatikan keadaan sekitar mencari informasi tentang klannya. Xiao Mei melambaikan tangan pada pelayan tersebut. "Kau pergilah dulu. Kami akan memanggil jika ingin memesan sesuatu."
Mau tak mau pelayan itu meninggalkan meja Zhang Yu dan Xiao Mei. Terlihat tatapannya yang memandang dengan sinis. Mungkin dalam hati dia mengeluh dan berpikir Zhang Yu tidak mampu membeli sesuatu.
Sungguh meremehkan. Tapi Zhang Yu benar-benar fokus mendengar pembicaraan beberapa orang di meja sebelahnya.
Pada satu titik Zhang Yu ragu akan mendapatkan informasi. Siapa sangka beberapa detik kemudian mereka menyebut nama Klan Zhang dengan cukup lantang.
"Kemarin aku baru saja kembali dari wilayah Klan Zhang. Sungguh beruntung aku menemukan beberapa sumber daya di dekat reruntuhan aula utama mereka. Mungkin aku akan kembali malam ini dan melihat apa yang dapat aku temukan," kata salah satu pria dengan wajah berseri. Sangat jelas dari ekspresinya, dia mendapatkan barang berharga setelah mencari di wilayah Klan Zhang.
Zhang Yu mengepalkan tangan saat mendengar hal ini. Jika bukan karena ingin mendengar percakapan mereka lebih lanjut, sudah pasti dia akan mendatanginya dan mengambil kembali barang milik Klan Zhang yang telah diambilnya.
"Kau menemukan beberapa sumber daya? Beruntung sekali. Jika begitu aku akan ikut denganmu untuk pergi ke sana. Mungkin aku juga cukup beruntung menemukan beberapa barang berharga," ucap yang lain.
Pria bertubuh gemuk yang duduk di sebelah kanan menganggukkan kepala dengan cepat. "Boleh-boleh. Semakin banyak orang semakin banyak yang kita temukan. Ayo kita pergi bersamaku setelah ini."
Mereka tertawa. Mereka benar-benar pergi setelah membayar makanan yang telah dipesan.
Niat hati ingin pergi ke wilayah Klan Zhang untuk menggali harta karun, tapi mereka malah dicegat dua orang tak diundang tak begitu jauh dari rumah makan.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya mereka waspada. Masalahnya mereka merasakan aura kekuatan yang kuat dari dua sosok tersebut. Terlebih pemuda yang mengenakan jubah hitam. Meski hanya dengan tatapannya saja sudah berhasil membuat tubuh mereka bergetar.
Zhang Yu melangkah mendekat. Pada momen ini empat pria setengah baya seketika melangkah mundur beberapa langkah.
"Jangan mendekat," seru mereka kompak.
Namun Zhang Yu hanya mendengus pelan dan mengabaikan ucapan mereka. Dia bertanya, "Kalian tahu apa yang terjadi dengan Klan Zhang?"
"Ka-kami bukan bagian dari mereka. Kami bukan berasal dari Klan Zhang. Jadi tolong lepaskan kami." Mereka memohon dengan ketakutan.
Tetapi daripada fokus dengan ketakutan mereka, Zhang Yu lebih penasaran kenapa empat pria ini malah terlihat takut jika mereka disangka sebagai bagian Klan Zhang.
Apakah Klan Zhang mempunyai musuh yang sangat kuat yang menjadi dasar situasi ini?
"Kalian tahu tanda pengenal ini?" tanya Zhang Yu sambil mengeluarkan sebuah tanda pengenal.
"..."
Melihat tanda pengenal yang ditunjukkan Zhang Yu, keempat pria paruh baya mengerutkan kening secara bersamaan.
"Ka-kau dari Klan Zhang?" tanya mereka tergagap.
"Benar. Namaku Zhang Yu, putra Tetua Kedua, Zhang Long."
Sontak keempat pria langsung menahan nafas mendengar namanya. Mereka kembali mundur satu langkah dengan terkejut.
"Apa? Kau Zhang Yu, pemenang acara kedewasaan klan Zhang lima tahun lalu?"
Zhang Yu tak mengatakan apapun merespon keterkejutan mereka. Dia mengulang kembali pertanyaan pertamanya.
__ADS_1
"Kalian tahu apa yang terjadi pada Klan Zhang?"
"Ka-kami ...." Tadinya mereka tidak ingin menjawab. Tapi melihat wajah menakutkan Zhang Yu membuat nyali mereka lenyap saat itu juga.
"Kami tidak tahu dengan jelas. Ta-tapi satu bulan yang lalu Klan Zhang tiba-tiba kedatangan kelompok orang berpakaian hitam. Kelompok itulah yang bertarung dengan Patriark Zhang serta tetua dan puluhan anggota klan lainnya."
Kelompok orang berpakain hitam?
Zhang Yu spontan merespon pada kelompok Istana Roh. Karena selain mempertimbangkan kekuatan mereka yang memang di atas rata-rata, juga dengan pertemuannya saat itu di Kota Dou Yan sebelum naik kapal.
Akan tetapi itu hanya tebakannya saat ini. Belum dapat dipastikan.
"Bagaimana dengan ayahku sekarang? Bagaimana dengan Patriark dan anggota Klan Zhang lainnya?" tanya Zhang Yu.
Empat pria paruh baya menelan ludah dengan kompak.
"Kalo tentang hal ini kami sungguh tidak tahu. Karena setelah pertarungan dengan kelompok berpakaian hitam, Klan Zhang benar-benar dalam kondisi yang sangat lemah dengan banyaknya orang yang terluka termasuk Patriark Zhang dan para tetua. Klan Wen sepertinya juga menyadari hal ini, mereka memanfaatkan situasi untuk menundukkan Klan Zhang. Pertarungan pun kembali pecah, tapi yang aneh, keesokan harinya tidak ada satupun anggota Klan Zhang yang terlihat di kota."
Zhang Yu tak berhenti terkejut saat mendengar cerita mereka.
"Klan Wen?"
Jadi saat itu dalam pertarungan dengan kelompok orang berpakaian hitam Patriark serta yang lain masih di kota. Tapi Klan Wen memanfaatkan situasi hingga membuat orang-orang Klan Zhang meninggalkan wilayah Klan Zhang.
Tangan Zhang Yu terkepal sempurna saat memikirkan hal ini. Darahnya mendidih dan wajahnya memerah karena menahan marah.
Keempat pria paruh baya diam-diam mengambil langkah mundur karena ketakutan melihat ekspresi Zhang Yu.
"A-apa kami sudah boleh pergi?" tanya mereka berharap.
Akan tetapi bagaimana mungkin Zhang Yu melepaskan mereka begitu saja setelah mencuri barang-barang dari wilayah Klan Zhang.
"Keluarkan barang yang kau ambil dari wilayah Klan Zhang," ucapnya dingin yang lebih seperti sebuah perintah.
"..."
Tiga orang terdiam, pria gemuk gemetar dan wajahnya terlihat sangat pucat.
"Apa yang kau tunggu? Kau tidak akan bisa menggunakan sekian itu jika tidak bisa pergi dari sini dengan selamat."
Baru setelah itu pria gemuk merasa ucapan ketiga pria di sampingnya sangat masuk akal. Bahkan jika tak menyerahkannya, Zhang Yu sudah pasti akan mengambilnya secara paksa. Jadi, daripada kehilangan nyawa, lebih baik menyerahkannya dan tidak membuat situasi menjadi lebih buruk.
"Ini. Aku sudah mengembalikannya padamu," ucap pria gemuk. Dia tak berani melirik nya lagi setelah menaruh semua itu di depan Zhang Yu. Mulai dari koin emas, kristal sumber daya dan beberapa barang berharga lain seperti patung emas kepala naga yang seharusnya menempel di pintu masuk aula.
"Ka-kami sudah boleh pergi kan?" tanya pria gemuk dengan ragu.
"Pergilah, kalian boleh pergi."
Bukan Zhang Yu. Melainkan Xiao Mei. Keempat pria paruh baya tidak peduli siapa yang mengatakannya. Mereka hanya peduli untuk menyelamatkan nyawa dengan pergi sejauh mungkin.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
__ADS_1
Menghadapi pertanyaan dari ibunya, Zhang Yu secara bertahap mengangkat wajahnya dengan tekad yang kuat.
"Menghancurkan Klan Wen!"