Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 168 : Altar Leluhur


__ADS_3

"Kakek datang ke sini malam-malam. Aku yakin bukan sekadar numpang makan. Apa ada sesuatu yang ingin Kakek sampaikan?"


Setelah makan malam selesai Xiao Nie mengajak Zhang Yu ke halaman belakang. Dengan segera Zhang Yu menebak motif kedatangannya yang memang memiliki tujuan tertentu.


"Kau sudah tahu tentang Altar Leluhur kan?" tanya Xiao Nie.


Zhang Yu sejenak diam, sebelum mengangkat wajahnya penasaran. "Apa sudah waktunya?"


Xiao Nie menganggukkan kepala. "Kau sekarang adalah pemilik garis darah tertinggi. Kau berhak memasuki altar leluhur dan mencoba mendapatkan warisan yang ada di dalamnya."


Kalimat ini membuat Zhang Yu cukup senang. Setidaknya sudah beberapa hari sejak tes darah berakhir. Sudah seharusnya Zhang Yu memasuki altar leluhur sebagaimana peraturan dalam klan.


"Baik, Kakek. Aku akan bersiap."


Setelah malam itu Zhang Yu terus mempersiapkan diri. Tujuh hari kemudian Zhang Yu datang bersama belasan orang lainnya termasuk Kakek, Ibu dan Xuan Yin ke sebuah ruangan yang berada di bawah kediaman utama.


Terdapat sebuah pintu besar di salah satu sisi yang memancarkan perasaan mengerikan. Itu tak lain adalah pintu menuju altar leluhur.


Zhang Yu sekilas memperhatikan tata letak ruangan ini yang cukup menarik perhatiannya. Tidak terpikir sekalipun sebelumnya jika ada ruangan seperti ini di bawah kediaman kakeknya. Klan Xiao benar-benar menyimpan banyak misteri dan rahasia.


"Zhang Yu, bersiaplah. Pintunya akan segera terbuka." Zhang Yu tersadar dengan kalimat Xiao Nie. Sementara pria tua itu kini berjalan ke arah pintu sambil mengeluarkan token bertanda khusus dengan Tetua Kedua yang membawa token serupa.


"Di mana Xiao Lang?" tanya Xiao Nie pada Tetua Kedua.


Karena seharusnya yang memegang token itu selain dirinya adalah Xiao Lang. Namun bahkan Xiao Lang tak terlihat batang hidungnya saat seluruh tetua berkumpul di ruangan ini.


"Patriark sepertinya ada urusan. Dia pergi sejak pagi dan sampai sekarang belum kembali. Sebelum pergi dia menitipkan tokennya padaku untuk berjaga-jaga," jelas Tetua Kedua.


Mendengar hal ini Xiao Nie terlihat mengerutkan keningnya. Tetapi dia mengingat ada hal yang lebih penting untuk dilakukan saat ini jadi mengabaikan masalah kehadiran putra sulungnya.


Tanpa membuang lebih banyak waktu dia menempelkan token tersebut di dinding sebelah pintu. Tetua Kedua juga melakukan hal yang sama di sisi lainnya. Kemudian secara mengejutkan pintu itu bersinar lalu menunjukkan tanda-tanda akan terbuka.


"Berhati-hatilah. Jangan terlalu memaksakan diri di dalam sana," kata Xiao Mei memberi nasehat pada putranya.


Zhang Yu menganggukkan kepala. "Aku akan baik-baik saja Ibu. Aku akan kembali dengan selamat."


Xuan Yin yang berada di sampingnya diam di menarik ujung pakaiannya lalu bicara dengan suara pelan. "Kau harus berjanji. Aku akan menunggumu kembali."


Pada saat itu pintu menuju altar leluhur terbuka. Zhang Yu menatap Xuan Yin untuk terakhir kalinya, kemudian berjalan memasuki pintu tersebut.


Wush..

__ADS_1


Tubuhnya lenyap diikuti cahaya pada pintu itu yang juga menghilang.


"Baiklah. Karena Zhang Yu sudah memasuki altar leluhur, kalian boleh kembali."


Tetua kedua menjadi orang pertama yang meninggalkan ruangan ini. Tetua yang lain mengikutinya sehingga hanya tersisa beberapa orang saja di sana.


"Bibi, berapa lama Zhang Yu akan di dalam?" tanya Xuan Yin.


"Satu bulan. Dua bulan, bahkan enam bulan. Tidak ada yang tahu berapa lama dia akan di sana. Tapi akan baik jika dia bertahan lebih lama karena itu tanda dia mampu menguak rahasia di balik altar leluhur dan mendapat warisan di dalamnya."


Xuan Yin tidak tahu harus sedih atau senang mendengar hal itu. Xiao Mei yang menyadari kegelisahan Xuan Yin pun segera merangkul bahunya dengan lembut. "Kau tenang saja. Setiap generasi yang masuk ke dalam altar leluhur selalu kembali dengan selamat. Dia akan baik-baik saja."


Meski tidak dapat menghilang seluruh kekhawatiran Xuan Yin, setidaknya kalimat Xiao Mei membuatnya lebih tenang.


Sementara itu di waktu yang sama, Zhang Yu baru saja sampai di sebuah altar megah dengan belasan pilar menjulang tinggi. Seluruhnya berwarna putih dengan kombinasi emas yang terlihat sangat menakjubkan.


Namun daripada terpukau dengan penampilannya, Zhang Yu tak bisa berhenti fokus pada tekanan luar biasa yang terpancar dari segala penjuru tempat ini. Seolah ada puluhan pasukan yang berdiri mengelilinginya dan bersiap menyerang ke arahnya.


"Cukup lama tidak ada yang datang. Aku pikir semua sudah menyerah."


Bersama dengan kalimat ini beberapa gumpalan cahaya berkumpul dari pilar-pilar tinggi yang ada di sekitar kemudian membentuk siluet pria tua membawa tombak panjang.


"Bocah. Sampai kapan kau terus menatapku? Tidak memberi salam?" kata siluet pria tua itu.


Seketika Zhang Yu tersadar dan cepat-cepat menyatukan kedua tangannya untuk memberi salam. "Salam senior! Junior ini datang untuk meminta petunjuk."


Mendadak suasana menjadi sunyi setelah Zhang Yu mengatakannya. Pria tua itu menatapnya dari atas ke bawah lalu tertawa cukup keras. "Bocah, apa kau sungguh tak mengingatnya? Ini bukan pertama kali kita bertemu."


Zhang Yu menjadi bingung saat mendengar ucapan leluhur. Namun semakin Zhang Yu memperhatikan wajahnya dirinya perlahan mendapatkan petunjuk.


"A-apa mungkin Senior adalah patung di Alam Zhen Yang itu?" Akhirnya Zhang Yu mengingatnya dengan jelas. Waktu itu saat di Alam Zhen Yang dirinya terjebak di sebuah ruangan bersama Xuan Yin. Lalu terdapat patung setinggi lima meter dan wajahnya benar-benar mirip dengan sosok pria di depannya sekarang. Tidak salah lagi, bahwasanya mereka adalah satu orang yang sama.


Hahahaha...


"Benar. Itu aku. Aku meninggalkan sedikit jiwaku di Alam Zhen Yang untuk menjaga kestabilan tempat itu. Aku membagi kekuatan jiwa itu pada kalian karena mengingatkan kondisi ku dengan istriku."


Zhang Yu mengerutkan keningnya. "Jadi saat itu senior sudah tahu jika aku mewarisi darah Klan Xiao?"


"Bisa dikatakan begitu. Aku yakin kita akan bertemu lagi tapi tidak disangka akan begitu cepat." Xiao Mu, leluhur Klan Xiao itu kembali tertawa.


Siapa yang mengira ada hal kebetulan seperti ini. Apa ini murni kebetulan, ataukah takdir?

__ADS_1


Zhang Yu diam untuk waktu yang lama. Berikutnya Zhang Yu mengingat tujuannya datang ke tempat ini.


"Senior. Aku datang ke sini untuk mendapatkan warisanmu. Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkannya?" tanya Zhang Yu terang-terangan.


Bahkan Xiao Mu cukup terkejut karena Zhang Yu sangat terbuka dengannya.


"Apa dia sungguh mengenaliku sebagai leluhurnya? Dia begitu terus terang berbicara padaku." Meski ada rasa heran, tapi Xiao Mu juga merasa Zhang Yu ini lebih berkarakter dari pemuda-pemuda yang pernah bertemu dengannya.


Pria tua itu tertawa sambil menggelengkan kepala merasa Zhang Yu sangat menarik.


"Baiklah. Aku akan menunjukkan apa yang harus kau lakukan."


"Duduklah di atas panggung batu itu," tunjuk Xiao Mu pada batu yang ada di tengah-tengah altar.


Meski dengan sedikit kebingungan Zhang Yu berjalan ke sana seperti perintah Xiao Mu. Saat baru meletakkan bokongnya, Zhang Yu menyadari panggung batu ini adalah satu di antara banyak sumber aura menekan di tempat ini.


"Berhasil atau tidak itu tergantung pada dirimu sendiri," kata Xiao Mu


Zhang Yu mendongakkan wajahnya. Dia bergumam pada dirinya sendiri. "Sebenarnya apa yang harus aku lakukan dengan duduk di sini? Apa aku akan berhasil melaluinya?"


Siapa sangka Xiao Mu mendengar gumamannya yang cukup pelan. "Kau bahkan bisa menundukkan keangkuhan Long Shen. Hal ini pastinya akan mudah untukmu."


Long Shen?


Kening Zhang Yu mengerut mendengar nama asing tersebut.


"Ya. Naga kecil itu. Apa dia tidak memberitahumu namanya?"


"Senior mengetahuinya?" Bukannya menjawab pertanyaan itu Zhang Yu malah balik bertanya.


"Tentu saja. Aku mengetahuinya sejak kau datang ke wilayah Klan Xiao."


Mendengar ini Zhang Yu menganggukkan kepala.


"Pantas saja dia terus bersembunyi di dalam gelang. Ternyata dia sudah merasakan kehadiran leluhur di wilayah Klan Xiao," batin Zhang Yu sambil berdecak.


Xiao Mu membuka mulutnya. "Baiklah. Sekarang pejamkan matamu dan aku akan memulainya."


Begitu kalimat ini selesai diucapkan, batu tempat duduk Zhang Yu tiba-tiba memiliki kekuatan magnetis yang kuat. Zhang Yu merasakan tubuhnya tersedot ke bawah, di waktu yang sama juga kepalanya terasa di tekan dengan batu berukuran raksasa.


Ini bukan hanya menyiksa fisik. Tapi juga menyiksa jiwa. Penyiksaan tiada tara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun Zhang Yu selalu ingat, di sinilah semua dipertaruhkan. Entah itu harapan besar klan atau juga perjuangannya demi orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


__ADS_2