Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 157 : Bertemu Ibu dan Xuan Yin


__ADS_3

"Seberapa jauh kediaman Klan Xiao dari sini?" Zhang Yu merasa telah melakukan perjalanan yang cukup jauh sejak sampai di dunia tersembunyi. Akan tetapi dia bahkan tidak melihat kediaman Klan Xiao sampai saat ini.


Zhang Yu tak mengira, dunia tersembunyi ternyata lebih luas dari bayangannya. Lebih terlihat seperti sebuah kota, lengkap dengan hutan dan berbagai isi di dalamnya.


"Kau lihat gunung itu?" Xiao Yujin mengangkat tangannya untuk menunjuk gunung tinggi di depan mereka.


"Kita akan sampai setelah melewati gunung itu," jelasnya.


Mereka pun berniat mempercepat langkah agar sampai lebih cepat. Namun tepat pada saat ini sekelompok orang berpakaian ungu baru saja keluar dari balik semak belukar.


Xiao Yujin terdiam beberapa saat sampai pada momen dia mengenali mereka.


"Xiao Yujin, siapa yang kau bawa kembali? Apa diam-diam menyelinap dari rombongan klan hanya untuk mencarinya?" Pria yang berdiri di tengah juga dengan cepat mengenali Xiao Yujin. Namun perhatiannya hanya tertuju pada Zhang Yu yang berdiri di sampingnya.


"Xiao Wang, bukankah kau masih dalam masa hukuman? Atau jangan-jangan kau melarikan diri?" kata Xiao Yujin yang mengubah raut wajah Xiao Wang pucat.


Dia juga menjadi gagap. "A-aku peringatkan kau untuk tidak ikut campur dalam urusanku. A-aku tidak melarikan diri. Aku sudah dibebaskan dua hari yang lalu."


Xiao Yujin menggelengkan kepala. Bahkan tanpa mencari tahu pun dirinya dapat menebak apa yang terjadi. Karena Xiao Wang adalah anak tetua kelima, jelas ayahnya yang membantunya keluar dari masa hukuman.


"Xiao Wang, aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu. Aku pergi dulu."


"Eh! Tunggu dulu!" Sebelum Xiao Yujin melangkah bersama Zhang Yu, Xiao Wang dan kelompoknya menghalangi jalan mereka.


"Kau membawa orang asing masuk ke wilayah kita. Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."


Seketika Xiao Yujin mengangkat wajahnya menatap Zhang Yu.


Orang asing? Xiao Wang benar-benar tidak tahu apapun!


"Minggir, aku harus ke tempat Patriark Sepuh. Kalian jangan membuang waktu ku di sini," kata Xiao Yujin.


Namun Xiao Wang seolah tidak mempedulikan kalimatnya. Dia berkata, "Kau pergi ya pergi saja, aku tidak akan menahanmu. Tapi aku tidak akan membiarkan orang asing berada di wilayah Klan Xiao."


Sembari berkata begitu Xiao Wang memberi tanda pada beberapa orang di belakangnya agar mengeluarkan pedang. Dengan cepat enam orang, tujuh termasuk dirinya, sekarang menodongkan pedang ke arah Zhang Yu.


Xiao Yujin merasa seperti darah di tubuhnya bergejolak. "Xiao Wang, apa yang kau lakukan?!" bentaknya.


Alih-alih menghiraukan ucapan Xiao Yujin, Xiao Wang dengan sangat percaya diri mengalirkan Qi ke pedangnya. Dia juga meminta enam orang temannya bersiap membantunya.


"Xiao Wang, kau benar-benar mencari masalah." Karena tak bisa menasehatinya, Xiao Yujin menyerah dan membiarkan Xiao Wang melakukan apa keinginannya.


"Serang!"

__ADS_1


Xiao Wang berseru dengan suaranya yang lantang. Dia dan keenam temannya menerjang ke arah Zhang Yu sambil mengeluarkan serangan.


Blar!


Ledakan yang kuat membuat Xiao Wang senang. Dia berpikir pertarungan ini telah berakhir. Akan tetapi tak berselang lama ekspresi wajahnya membeku melihat Zhang Yu masih berdiri di tempatnya dan terlihat baik-baik saja tanpa luka.


"Apa?! Bagaimana mungkin!" Xiao Wang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kekuatan tujuh serangan yang dikeluarkan bersama cukup kuat untuk mengalahkan petarung grand master bintang tiga. Bagaimana serangan itu bahkan tidak membuatnya terluka?


Di saat Xiao Wang dan keenam temannya masih memikirkan hal ini, Zhang Yu yang sejak tadi diam kini mulai mengangkat tangannya.


"Tinju Batu!"


Bayangan tinju berwarna emas muncul di depannya. Kemudian tak berselang lama bayangan tinju itu melesat dengan cepat ke arah Xiao Wang dan keenam temannya.


"Celaka! Cepat menghindar!" seru Xiao Wang. Tapi siapa yang mengira serangan itu jauh lebih cepat dari yang mereka pikirkan.


Boom!


Kendati sudah menciptakan perisai Qi untuk bertahan, mereka tetap tak mampu menahan energi kekuatan yang begitu besar. Xiao Wang dan keenam temannya terpental menghantam pohon-pohon di sekitar. Xiao Yujin hanya menggelengkan kepala sambil menarik nafas dalam.


"Jangan bilang aku tidak mengingatkan. Kalian sendiri lah yang mencari masalah dengan orang yang salah," batinnya.


Xiao Yuze yang merupakan generasi terbaik Klam Xiao saja dikalahkan olehnya. Apalagi Xiao Wang dan teman-temannya yang bahkan masih di bawahnya. Konyol!


Suara Zhang Yu menyadarkan Xiao Yujin. Dia baru sadar Zhang Yu sudah berjalan cukup jauh di depannya. Meninggalkan kelompok Xiao Wang bahkan juga meninggalkan dirinya.


"Hei, jangan tinggalkan aku!" seru Xiao Yujin kemudian berlari mengikutinya.


Setelah melewati gunung mereka sampai di wilayah Klan Xiao. Sebuah kediaman yang tak jauh berbeda dengan wilayah Klan Zhang. Hanya saja lebih luas dan terlihat kuno.


"Siapa yang berjalan dengan Xiao Yujin? Bukankah ada peraturan dilarang membawa orang asing?"


Pada saat berjalan, seluruh pasang mata langsung berpusat pada mereka. Nama Zhang Yu memang belakangan ini menjadi terkenal, tapi bagi orang-orang yang tidak datang menyaksikan pertarungan surga hanya mengetahui nama tanpa paras atau penampilannya.


Rasa penasaran itu muncul begitu melihat pakaiannya yang cukup kontras dengan pakaian Klan Xiao pada umumnya.


"Zhang Yu, ikut denganku. Patriark Sepuh sudah menunggumu di ruangannya." Xiao Yujin meminta Zhang Yu mengabaikan tatapan semua orang. Dia membawanya ke kediaman utama tempat tinggal Xiao Nie.


Kebetulan begitu mereka sampai di depan kediaman utama, Xiao Zhiqian, Tetua Ketiga, ayah Xiao Yujin baru saja keluar dari kediaman.


"Ayah!"


Xiao Zhiqian mendekat. Senyum di wajahnya mengembang melihat Zhang Yu datang bersama putranya. "Ayo masuk, kakekmu sudah menunggu."

__ADS_1


Ada perasaan aneh dalam diri Zhang Yu saat mendengar hal itu. Dia mencoba mengabaikannya kemudian mengikuti Xiao Zhiqian masuk ke dalam.


"Masuklah, kakekmu ada di dalam."


Zhang Yu diam cukup lama. Xiao Zhiqian sampai harus mengulangi kalimatnya hingga dia mau membuka pintu ruangan di depannya.


Begitu dia masuk, Xiao Nie yang sedang mempelajari sebuah gulungan segera mendongakkan kepala. Dia beranjak dengan antusias menyadari siapa yang datang.


"Duduk. Duduk lah terlebih dahulu." Xiao Nie mengambil kendi arak yang disimpan di bawah meja lalu menyuguhkannya pada Zhang Yu. Setiap orang yang melihatnya pasti akan berpikir dia sangat ramah terhadapnya. Namun Zhang Yu tetap pada sikapnya yang acuh tak acuh.


"Di mana ibu?" tanyanya berusaha bersikap sopan.


"Minumlah terlebih dahulu," kata Xiao Nie.


Zhang Yu tidak tahu apa maksud dari hal ini. Akan tetapi dia tak punya pilihan lain kecuali mengikuti ucapannya. Dia menenggak arak yang diberikan untuknya.


"Apa sekarang sudah?"


Xiao Nie menghela nafas. Bertahap dia beranjak dari kursinya lalu mengajak Zhang Yu bertemu ibunya. "Ikut denganku,"


Mereka menuju bagian lain dari kediaman ini. Tepatnya sebuah ruang isolasi yang ada di bagian belakang.


Saat pertama kali melihatnya, Zhang Yu tak bisa untuk tidak menautkan kedua alisnya melihat belasan penjaga bertugas di beberapa tempat. Tangannya mengepal saat membayangkan sesuatu tentang ibunya.


"Buka penghalangnya," perintah Xiao Nie pada penjaga di depan pintu.


Tidak menunggu perintah kedua penjaga itu langsung menonaktifkan penghalang. Zhang Yu mendorong pintu hingga terbuka, dia masuk dengan terburu-buru tak mempedulikan Xiao Nie atau penjaga di sekitarnya.


Brak!


Dua wanita yang ada di dalam terkejut dengan pintu yang dibuka begitu keras. Ketika tiga pasang mata itu saling bertemu dan bertatapan, ekspresi mereka langsung berubah rumit. Terkhusus Xuan Yin yang mengenal itu Zhang Yu, dia bangkit lalu menerjang ke arahnya dengan pelukan.


"Aku tahu kau akan datang," ucapnya lirih. Dia semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin ada akhir untuk mereka.


Zhang Yu yang melihat Xuan Yin begitu ekspresif pun hanya diam membiarkannya memeluk dirinya.


Keduanya larut, lupa dengan orang lain yang juga memperhatikannya.


Xiao Mei berdehem. "Yin'er,"


Suaranya tidak keras tapi membuat Xuan Yin tersentak hingga mendorong Zhang Yu. Dia benar-benar terbawa suasana dan melupakan keberadaan Xiao Mei.


"Bibi ...."

__ADS_1


Zhang Yu menahan tangan Xuan Yin yang ingin menjauh darinya. Pada saat yang sama dia menatap sosok wanita paruh baya yang memberi perasaan akrab padanya.


__ADS_2