Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 183 : Lagi-Lagi Istana Roh


__ADS_3

"Ada apa Ayah? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Zhang Yu begitu sampai di gubuk.


Zhang Long tak terburu-buru, dia meminta Zhang Yu dan Xiao Mei duduk terlebih dahulu sambil menuangkan air untuk mereka.


"Bagaimana ceritanya hingga kalian bisa kembali bersama?" tanya Zhang Long.


Untuk sejenak pasangan ibu dan anak itu saling memandang. Kemudian Zhang Yu memberi tanda agar ibunya saja yang bercerita.


Xiao Mei pun menceritakan semua yang diketahuinya. Mulai dari perjalanan Zhang Yu mengikuti pertarungan surga, melakukan tes darah hingga memasuki altar leluhur dan mendapat pengakuan leluhur Xiao Mu.


Mendengar kisah putranya yang sangat mengagumkan. Zhang Long tak bisa untuk tidak mengaguminya. Dia juga ikut merasa senang mendengar keberhasilannya.


Meski ada rasa bersalah karena dirinya begitu tidak berguna. Dia mencoba menyembunyikannya dan tak mau mengacaukan situasi yang baik ini.


"Oh ya, masih ada lagi. Setelah keluar dari altar leluhur dia bertarung menghadapi kelompok Istana Roh yang menyusup ke domain Klan Xiao. Dia membunuh lima kultivator tingkat suci seorang diri dan membantu kakeknya saat mengalahkan kultivator setengah abadi."


Zhang Long menatap putranya dengan lekat. Detik berikutnya dia tertawa sambil menggelengkan kepala tak berdaya. "Tidak disangka sekarang kau lebih kuat dari Ayah. Kau benar-benar mengejutkan."


Zhang Yu tidak mau berpuas diri walau pujian itu membuatnya sangat senang. Dia tahu tingkatannya saat ini masih tidak begitu tinggi jika membandingkan orang-orang dari Kekaisaran Yang dan masih sangat jauh dibanding orang-orang dari Kekaisaran Long.


"Omong-omong Ayah, aku mendengar jika sebelum Klan Wen menyerang, ada kelompok orang berpakai hitam menyerang klan. Siapa mereka? Dan kenapa mereka menyerang Klan Zhang?"


Ketika Zhang Yu menyebut kelompok orang berpakaian hitam, mata Zhang Long dipenuhi amarah dan dendam. Dia mengepalkan dan tanpa sadar memukul meja cukup keras.


Brak!

__ADS_1


Gelas air hampir tumpah.


"Mereka adalah orang-orang Istana Roh."


Otak Zhang Yu seperti tersengat listrik mendengar perkataan ayahnya. Begitu pula dengan Xiao Mei yang tak kalah terkejut begitu mendengar nama Istana Roh.


"Ayah tidak tahu jelas kelompok seperti apa Istana Roh. Tapi yang pasti tujuan mereka menyerang Klan Zhang adalah untuk membebaskan Zhang Feng dan Tetua Pertama."


"Apa? Kenapa mereka melakukan itu?" tanya Zhang Yu spontan.


"Itu karena mereka datang dengan Zhang Ye."


"..."


"Beruntung saat itu Patriark masih memiliki artefak tingkat tinggi peninggalan leluhur yang dapat melukai kultivator tingkat surgawi. Dan karena berpikir Patriark masih memiliki artefak sejenis itu, akhirnya mereka pergi setelah membebaskan Tetua Pertama dan Zhang Feng."


"Saat itu banyak yang terluka karena pertarungan tersebut. Tapi Klan Wen datang memanfaatkan situasi untuk menundukkan Klan Zhang. Mereka tak berpikir jika Klan Zhang masih terlalu kuat bahkan dalam keadaan terburuk. Jadi Wen Ou menggunakan trik licik dengan racun yang dibawanya."


Kemarahan tampak lebih besar saat Zhang Long membicarakan Klan Wen. Mungkin karena Klan Wen termasuk kelompok yang dipercaya oleh Klan Zhang dan tak pernah terpikir mereka memiliki ambisi yang begitu besar dengan menundukkan Klan Zhang.


"Kami pergi melarikan diri saat itu karena kondisi Patriark sangat buruk. Namun sekarang, setelah keadaan Patriark membaik kita harus pergi untuk membuat perhitungan dengan Klan Wen."


"Sepertinya hal itu sudah tidak diperlukan," kata Xiao Mei yang sontak membuat Zhang Long mengerutkan kening.


"Kenapa tidak perlu? Klan Wen harus menerima balasannya."

__ADS_1


Xiao Mei tertawa lirih. "Itu karena putramu telah memberi mereka balasan yang setimpal."


"Apa?" Zhang Long semakin bingung. Dia beralih memandang Zhang Yu dan bertanya padanya. "Apa yang dimaksud ibumu? Kau memberi mereka balasan?"


Zhang Yu menenggak air minumnya dengan tenang. Lalu berkata, "Ayah, Klan Wen sudah tidak ada."


"..."


Tentu saja Zhang Long tidak langsung percaya dengan kalimat tersebut. Tetapi setelah memperhatikan wajah Zhang Yu dan Xiao Mei yang serius membuat Zhang Long bertanya-tanya dalam benaknya tentang kebenaran cerita ini.


"Klan Wen sudah lenyap?"


Zhang Yu mengangguk sekilas. "Mereka tak pantas diampuni. Mulai hari ini, Klan Wen tidak akan ada lagi di Kota Qian Gu. Satu-satunya klan besar yang tersisa hanyalah Klan Zhang."


Itu seperti mendeklarasikan diri. Namun apa yang tak boleh karena sekarang Klan Zhang adalah satu-satunya Klan besar.


Bukan hanya di gubuk tersebut. Berita lenyapnya Klan Wen juga sudah menyebar ke orang-orang klan lainnya. Itu tak lain adalah Zhang Shu yang sebelumnya telah mendengar cerita Zhang Yu dalam perjalanan ke tempat persembunyian. Terlebih dengan cincin khusus dengan tanda Patriark Klan Wen membuatnya tidak ada alasan lain untuk tidak percaya kepadanya.


Tentu hal itu menjadi kabar bahagia. Orang-orang klan keluar dan berkumpul di bagian depan tempat persembunyian untuk merayakan hari di mana kemenangan telah mereka dapatkan.


Zhang Long masih terdiam di tempatnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia tak mengira kemampuan putranya telah sejauh ini. Bahkan mengalahkan Wen Ou dan membalas dendam Klan.


"Ayah, di mana Bibi? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Zhang Yu sambil celingukan.


Zhang Long pun seketika mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Zhang Yu. "Bibimu, dia ...."

__ADS_1


__ADS_2