
Zhang Yu berjalan keluar dari gua berniat mencari sumber batu kualitas tinggi. Tetapi sejauh apa dia mencari masih tidak menemukan jenis batu yang sama.
"Apa kau dapat melacak keberadaan jenis batu itu?"
Long Shen berdecak mendengar pertanyaan Zhang Yu. "Kau pikir batu itu memancarkan aura kekuatan? Jika seperti itu tentu sudah banyak orang yang menemukan jenis batu seperti itu untuk membuat senjata kelas atas yang langka."
Zhang Yu memutar matanya dengan jengah. Ketika dia melirik ke samping, tertangkap siluet hitam bersembunyi di kejauhan.
"Siapa!"
"Ini Luo," kata pria bertubuh tinggi itu seraya keluar dari balik batu.
"Kenapa Tuan di sini? Apa Tuan mencari sesuatu?"
Saat Zhang Yu ingin bicara, perhatiannya tertuju pada kapak di punggung Luo. Sontak dia melangkah kaki mendekat kepadanya. "Kapak itu sangat bagus, bagaimana kalian membuatnya?"
Luo spontan menurunkan kapaknya. "Tuan ingin melihat cara membuatnya? Tuan dapat ikut denganku."
"Ya, aku sangat ingin melihatnya."
Dengan begitu, Zhang Yu sampai di sebuah gua yang berada di sekitar gunung vulkanik. Itu adalah tempat pembuatan senjata Suku Niao. Meski tidak begitu luas, tapi cukup untuk dua puluhan orang Suku Niao bekerja membuat senjata.
Ketika Luo masuk ke dalam gua, mereka yang ada di sana sejenak berhenti lalu memberi salam. Tak disangka ternyata Luo memiliki kedudukan yang lumayan tinggi di antara Suku Niao.
"Lewat sini Tuan," kata Luo.
Sejak masuk ke dalam gua Zhang Yu tak bisa lepas dari puluhan kapak yang menggantung di dinding. Semua adalah senjata kelas atas yang langka. Di sini, senjata yang sangat jarang di temui di Kekaisaran Xuan ataupun tempat lain seperti menjadi senjata biasa.
"Zhang Yu, lihat di sana!"
Suara Long Shen menarik perhatian Zhang Yu. Ketika Zhang Yu mulai mengalihkan pandangannya, mata membulat sempurna melihat bongkahan batu besar berwarna hitam di tengah-tengah gua.
Terdapat beberapa orang Suku Niao mencongkel dengan menggunakan kapak. Terlihat kesulitan tapi akhirnya berhasil mengalahkan mendapatkan bagian yang mereka inginkan.
"Itu adalah batu besi hitam. Kami menggunakannya sebagai bahan utama kapak yang kami gunakan," jelas Luo pada Zhang Yu.
Zhang Yu mencoba menyentuh batu besi hitam dengan tangannya. Dia merasakan seperti ada aliran kekuatan di dalamnya.
"Bisakah aku memilikinya?"
__ADS_1
Hem?
Luo mengerutkan kening mendengar gumaman Zhang Yu. "Tuan ingin memilikinya?" tanyanya.
"Benar. Tidak perlu yang sangat besar. Yang kecil saja sudah cukup." Zhang Yu berpikir akan sulit untuk meminta batu besi hitam. Tetapi siapa yang mengira Luo dengan mudah menyetujuinya.
"Jika Tuan menginginkannya, kami akan menyiapkannya."
Zhang Yu diam beberapa saat sebelum menganggukkan kepala. Tapi Long Shen yang ada di pundak berdecak sambil menggelengkan kepala.
"Kau ini benar-benar menyia-nyiakan kesempatan. Kenapa kau hanya minta yang kecil? Seharusnya kau minta yang besar, atau jika bisa ambil semua batu besi hitam."
Zhang Yu diam tak mengatakan apapun. Tapi meski mulutnya tidak berkata, tapi dalam hati cukup menyesali keputusannya.
Jika tahu akan semudah itu dia akan meminta bagian yang lebih besar. Dia bertanya-tanya apa saat ini masih sempat untuk meminta lebih.
Namun, Luo baru saja kembali dengan satu karung di tangannya.
"Tuan dapat memeriksanya,"
Zhang Yu melihat dua keping batu besi hitam seukuran telapak tangan. Tak dipungkiri dia masih menyesal karena tidak meminta lebih banyak.
"Karena hanya ada karung berukuran sedang kami terpaksa membaginya menjadi beberapa bagian," kata Luo seraya menunjuk tumpukan karung di belakangnya.
"..."
Zhang Yu kehilangan kata sampai terbengong. Matanya menatap tumpukan karung yang jika dihitung mungkin ada sekitar dua puluhan.
"Apa semua ini untukku?" tanyanya.
Luo malah menatap Zhang Yu bingung karena bertanya seperti itu. "Bukankah Tuan ingin memilikinya? Kami membungkus semua agar Tuan mudah menyimpannya."
Zhang Yu masih tertegun. Detik selanjutnya dia melirik Long Shen yang bergeming di pundaknya. "Mereka lebih murah hati dari yang aku pikirkan," gumam dewa naga itu.
Zhang Yu segera menyimpan semua dalam cincin penyimpanan. Kemudian kembali ke tempat pengobatan.
Tak disangka pengobatan masih berlangsung bahkan ketika malam mulai datang. Song Yixue begitu gigih berusaha menyembuhkan mereka.
"Kau dari mana?" tanya Xiao Nie. Dia terlalu fokus dengan proses pengobatan sampai tak sadar Zhang Yu meninggalkan gua.
__ADS_1
"Mencari sesuatu," jawab Zhang Yu singkat.
Xiao Nie mengerutkan keningnya karena tidak puas. Namun, saat akan berkata perhatiannya teralihkan dengan suara jeritan Song Yixue.
Akh!
Song Yixue yang berada di tengah kolom memuntahkan darah dari mulutnya. Xiao Nie terlihat khawatir, begitu pula dengan Raja Cao dan beberapa orang lainnya termasuk Zhang Yu.
Tapi bersama dengan kejadian itu, dua puluh orang Suku Niao yang semula tak bisa bergerak kini perlahan menggerakkan tangan dan bagian tubuh lainnya.
Zhang Yu menjadi orang pertama yang terjun ke dalam kolam untuk merapat Song Yixue keluar. Xiao Nie segera menanyainya sambil memeriksa kondisinya.
"Yixue, kau baik-baik saja?"
Namun, alih-alih peduli dengan kondisinya, Song Yixue malah lebih peduli dengan perkembangan dua puluh orang yang baru disembuhkannya.
"Bantu mereka keluar," pintanya.
Raja Cao segera memanggil lebih banyak orang dari luar untuk membantu mengeluarkan anggota sukunya dari dalam kolam. Setelah semua orang dipindahkan, tak lupa dia mendatangi Song Yixue dan berterima kasih padanya.
"Dewi, terima kasih banyak!" Dia mengucapkannya dengan sangat serius. Juga meminta Song Yixue untuk beristirahat di tempat yang sudah ia sediakan.
Tetapi Song Yixue mengingat jika mereka sudah terlalu lama di sini. Jadi dia menolak untuk beristirahat karena harus kembali melanjutkan perjalanan.
Raja Cao sedikit kecewa saat mendengarnya. Namun, dia tak bisa melakukan apapun kecuali mengantar secara langsung kepergian mereka.
"Kau dapat tidur sepuasnya saat di atas kapal angkasa," ucap Zhang Yu yang segera diangguki oleh Xiao Nie.
Song Yixue menganggukkan kepala dengan antusias. "Aku sangat lelah. Mungkin butuh waktu seharian untuk kembali pulih sepenuhnya."
Kapal angkasa muncul di langit saat Xiao Nie melempar giok putih ke tanah. Kemunculan kapal besar yang mengapung di udara benar-benar mengejutkan anggota Suku Niao. Mereka menatap dengan decak kagum seolah benda ajaib ini tidak nyata di mata mereka.
"Dewi, tolong terima ini." Sin berlari dari belakang terlihat sangat terburu-buru. Dia baru tahu jika sang dewi penyelamatnya ingin pergi meninggalkan pulau. Tanpa peduli lagi dengan pakaiannya yang compang-camping dia berlari seperti dikejar serigala hanya untuk menyerahkan sebuah kantong merah pada Song Yixue.
Song Yixue menatap kantong merah itu sesaat, kemudian tersenyum pada pangeran Suku Niao tersebut. "Aku menerimanya, terima kasih banyak."
Setelah itu Song Yixue mengikuti Zhang Yu dan Xiao Nie yang sudah naik ke atas kapal. Dia melambaikan tangan saat ratusan orang melambai padanya.
"Hebat! Perasaan diterima dan dihargai benar-benar hebat!" batin gadis itu.
__ADS_1