
Kota Qian Gu.
Setelah melakukan perjalanan tiga bulan, akhirnya Zhang Yu dan Long Shen sampai di ujung timur Daratan Zhen Yang, Kota Qian Gu. Penampakan benteng yang tinggi dan megah menjadi pemandangan pertama yang dapat mereka saksikan. Juga terdapat tulisan nama kota yang berukuran raksasa terpajang di bagian atas gerbang utama.
Zhang Yu melompat turun dari kapal. Long Shen mengekor di belakangnya. Dewa naga yang sekarang dalam wujud bocah laki-laki itu terlihat menekuk raut wajahnya.
"Kau bisa beristirahat sepuasmu setelah ini. Jadi jangan memasang wajah kusut seperti itu," kata Zhang Yu.
Cih!
Long Shen langsung membalas dengan mencibir. "Aku bahkan tak memiliki cukup waktu untuk beristirahat. Semua ini karena kau!" dengusnya.
Meskipun tidak sepanjang perjalanan dirinya yang berada di belakang kemudi kapal, tapi itu masih lebih sering jika dibandingkan dengan Zhang Yu. Jika menghitung dalam angka, dirinya tiga sedang Zhang Yu hanya satu.
"Zhang Yu, kau kah itu?" Zhang Bing berseru dari atas benteng dengan belasan pasukan penjaga.
Mereka sempat mengira kapal yang datang adalah musuh yang berniat membuat masalah dengan Kota Qian Gu. Namun setelah melihat sosok yang berada di atasnya, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengenalinya.
Zhang Bing turun dari atas benteng lalu membuka gerbang utama. Dia ingin melihat keadaan Zhang Yu setelah melakukan perjalanan jauh, tapi langkah kakinya terhenti menyadari Zhang Yu kembali dengan seorang anak laki-laki.
Keheranan itu bukan hanya terlihat di wajah Zhang Bing. Setiap orang yang ada di sana, tak terkecuali penjaga yang ada di dalam benteng. Mereka semua bertanya-tanya tentang siapa anak laki-laki tersebut.
"Mungkin Zhang Yu memiliki anak lain selain Zhang Chao? Apa ini semacam ayah dan anak yang pernah terpisah dan akhirnya bertemu kembali?"
"Namun Zhang Yu adalah genius. Tentu saja dia layak memiliki banyak istri."
Imajinasi mereka sangat luas. Mereka bahkan juga berkhayal tentang istri lain Zhang Yu yang ada di luar sana.
Zhang Yu yang mendengar gumaman mereka hanya menyipitkan mata dan melirik ke arah Long Shen.
Dibandingkan dengannya, Long Shen adalah pihak yang paling tersinggung. "Ayah dan anak pantatmu! Aku tak sudi jadi anak pria sepertinya," liriknya sinis pada Zhang Yu.
Seolah terhubung oleh benang informasi, Zhang Yu membalas apa yang dikatakan Long Shen melalui ekspresinya. "Dasar naga sepuh! Kenapa kau malah melimpahnya kepadaku? Kau pikir aku mau? Kau bahkan masih terlalu tua untuk menjadi kakek buyutku," balasnya.
"Apa kalian sangat senggang? Cepat kembali ke posisi masing-masing!" teriak Zhang Bing pada penjaga yang meninggalkan pos jaga mereka.
Dengan kedudukan yang dimilikinya, para penjaga pun kalang kabut kembali ke tempat masing-masing. Mereka khawatir jika terlalu lama di sana mungkin mereka akan menerima hukuman.
__ADS_1
Zhang Bing menghembuskan nafas kasar sambil memutar mata jengah. "Bukannya fokus bertugas malah mengrumpi seperti wanita," keluhnya.
"Patriark sangat bijak dengan memilih Bibi bertugas di benteng," kata Zhang Yu.
Zhang Bing yang baru memastikan para penjaga sudah kembali ke pos masing-masing sekali lagi beralih kepada Zhang Yu. "Apa kau baru saja memuji bibimu?"
"Tapi terlalu awal untuk melakukannya karena sampai sekarang yang Bibi lakukan hanyalah berkeliling dan memastikan penjaga tetap di pos masing-masing."
"Zhang Yu, ...." Zhang Bing tiba-tiba mendekat dan berbisik tepat di samping telinganya. Dia menunjuk ke pada Long Shen dan bertanya tentangnya.
"Apa dia sungguh anakmu?" tanyanya.
Walaupun dia sudah berusaha melupakan rasa penasarannya, tapi rasa penasaran itu semakin besar sebelum ia mendengar jawaban Zhang Yu.
Zhang Yu melirik ke beberapa arah. Tidak langsung menjawab, dia mengajak Zhang Bing kembali ke kediaman terlebih dahulu.
Di kediaman sudah ada Zhang Long, Xiao Mei, Xuan Yin dan pastinya Zhang Chao.
Kepulangan Zhang Yu jelas adalah kabar gembira. Tetapi perhatian mereka sekarang hanya tertuju pada sosok anak laki-laki yang datang bersama Zhang Yu.
"Ibu ...."
"Kau benar-benar mengecewakan!" decak Xiao Mei.
Zhang Yu bahkan belum sempat mengatakan kalimatnya, tapi suasana di ruangan ini benar-benar berbeda setelah kalimat ibunya.
Zhang Yu menghela nafas. "Ibu, bisakah kau memberiku waktu untuk menjelaskannya?"
Xiao Mei kembali berdecak. "Baiklah. Cepat katakan."
Sejenak Zhang Yu tak bisa berkata-kata melihat ibunya bersikap sinis terhadapnya. Dia pun menjelaskan tentang siapa Long Shen. Namun tentu tidak semua. Zhang Yu harus memilih jalan cerita yang tepat agar tidak ada pertanyaan lain yang ditujukan kepadanya.
Setelah beberapa lama, Zhang Yu pun mengakhiri penjelasannya.
Zhang Long, Zhang Bing dan Xiao Mei terdiam seperti orang bingung. Mereka bergumam secara serentak. "Jadi dia bukan anakmu?"
"Tentu saja tidak."
__ADS_1
Xiao Mei manggut-manggut. "Syukurlah jika kau tidak mengkhianati Yin'er."
"Andai kau benar-benar telah mengkhianati menantu dan cucuku, ibu tidak akan segan-segan untuk turun tangan," tambahnya bersungut-sungut.
Zhang Yu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ibu, apa kau lupa jika aku anakmu? Kau benar-benar kejam."
Cih!
"Ibu bilang itu jika kau mengkhianati Yin'er. Apa kau memiliki niat semacam itu?"
"Ah ...."
Zhang Yu langsung menutup bibirnya rapat-rapat. "Tentu saja tidak."
"Ya sudah. Kau tidak perlu khawatir jika begitu," ucap Xiao Mei.
...
Sementara itu di sebuah hutan yang dikelilingi tebing, Kekaisaran Long.
"Kakak, aku sudah memastikannya. Tidak ada yang tersisa di tempat ini. Semua sudah hancur."
Pria tua berambut panjang yang disebut kakak perlahan mengangkat wajahnya kemudian menelisik ke sekitar dengan matanya yang hitam legam.
"Siapa yang melakukannya?"
Pria yang berusia lebih muda menghindari tatapan sang kakak saat pertanyaan itu dilontarkan. "Untuk itu kita perlu mencari tahu lebih lanjut. Kemungkinan kejadian ini sudah berlalu sangat lama."
Pria tua berambut panjang mendengus. "Aku masih mengingat dengan jelas saat dia mengatakan keinginannya untuk menyatukan kembali Daratan Zhen Yang. Dia berkata seolah benar-benar mampu melakukannya, tapi dia terbunuh di markasnya sendiri."
Pria setengah baya mengeluarkan sebuah gulungan. "Kakak Pertama, aku menemukan gulungan ini di ruangan kakak kedua."
Pria tua berambut panjang mengernyitkan kening. Dia segera mengambil gulungan itu dan langsung membukanya.
Beberapa kalimat membuatnya sempat berhenti membaca, tapi dia tetap menyelesaikannya sampai selesai.
"Teknik Pengorbanan Darah? Gao Feng Shui, kau benar-benar bodoh!"
__ADS_1