Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 266


__ADS_3

Zhang Yu masih bergeming di tempatnya sambil memandang ke arah batu karang besar tempat Mo Yasha mendarat.


Tiba-tiba dari sana terlihat pancaran cahaya melesat ke atas seperti pisau yang kemudian menebas batu karang tersebut.


Blar!


Dengan kekuatan serangan seperti itu, tak ayal batu karang besar itu terbelah lalu perlahan tenggelam.


Pada saat yang sama, bayangan hitam berkelebat dari kumparan debu batu karang. Itu tak lain adalah Mo Yasha yang kini berdiri di batu karang lain yang tak begitu jauh dari tempatnya sebelumnya.


"Ini belum berakhir!" serunya.


Meskipun pakaian sudah compang-camping dan tubuh penuh dengan luka, tetapi Mo Yasha masih tidak menerima kekalahannya. Dia kembali mengangkat pedangnya, kembali mengumpulkan Qi dan bersiap dengan teratai api yang amat besar di atas kepalanya.


"Aku, Mo Yasha tidak menerima kekalahan!" teriak Mo Yasha.


Teratai api yang berukuran satu setengah kali lebih besar itu bergerak seperti cakram yang berputar. Tekanan yang dikeluarkan lebih hebat. Dan tidak dapat dipungkiri serangan itu adalah serangan terakhir yang dapat dikeluarkan Mo Yasha.


BOOOM!!


Ledakan yang hebat membuat telinga berdengung. Kapal yang berjarak ratusan meter terombang-ambing karena air laut yang bergerak tidak menentu. Bahkan seluruh batu karang yang ada di jalurnya hancur porak-poranda terkena serangan tersebut.


Mo Yasha terlihat mengatur nafasnya yang memburu, keringat bercucuran di keningnya dan tangan bergetar menggenggam pedang kelas atasnya.


"Huh!" dengusnya, lelah.


Pada saat itu Mo Yasha berpikir jika serangannya berhasil membunuh Zhang Yu. Untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu yang singkat dia bisa tersenyum dengan puas.


Namun, tidak begitu lama senyumnya pun menghilang saat merasakan tekanan kekuatan dari jarak puluhan meter di depannya.


Itu Zhang Yu. Dia melompat dari dalam air ke batu karang yang hampir tenggelam. Di tangannya terdapat pedang semesta yang telah dialiri Qi dan siap untuk bertarung kembali.


"Ti-tidak mungkin! Ba-bagaimana bisa kau tak terluka sedikitpun?!" Mo Yusha yakin jika serangannya sudah menggunakan seluruh Qi dalam tubuhnya. Tetapi Zhang Yu bahkan terlihat baik-baik saja yang membuatnya tidak percaya.


Zhang Yu tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara dia berpindah tempat ke hadapan Mo Yasha.


Meskipun jarak di antara mereka hanya beberapa langkah, Mo Yasha tidak lagi memiliki tenaga untuk menyerang Zhang Yu atau setidaknya berusaha menjangkaunya. Dia diam terpaku di tempatnya, hanya dapat menggertakkan gigi dan menelan ludahnya secara kasar.

__ADS_1


"Ini adalah ajalmu!" Zhang Yu berjalan maju selangkah demi selangkah. Mo Yasha yang ingin kabur berusaha mundur. Namun dia lupa jika batu karang itu memiliki permukaan yang tidak rata. Kakinya tersandung dan kehilangan keseimbangan.


Zhang Yu pun langsung menusuk tubuhnya dengan pedang semesta.


Jleb!


Kematian Mo Yasha disaksikan dua puluh bawahannya yang ada di kapal. Terkejut pastinya, tapi saat ini wajahnya mereka sudah pucat dipenuhi dengan rasa takut.


"Senior Mo terbunuh. Kita tidak mungkin bisa mengalahkannya."


"Balikkan kapal, kita pergi dari sini!" seru beberapa orang.


Kapal yang berukuran cukup besar itu pun perlahan memutar haluan. Namun sebelum kapal benar-benar bergerak, Zhang Yu tiba-tiba muncul di geladak utama.


Blam!


Kakinya mendarat dan sedikit menghunjam lantai kapal. Dua puluh orang yang ada di sana sontak terdiam bagai boneka yang tak tahu harus bagaimana.


"Celaka! Dia sudah di sini! Kita akan mati!"


Dua puluh orang berkumpul menjadi satu di hadapan Zhang Yu. Meskipun dalam jumlah mereka jauh lebih unggul, tetapi tidak satupun berani mengambil keputusan untuk maju terlebih dahulu.


Sementara itu di bibir pantai, penduduk mulai berdatangan sejak mendengar suara-suara menggelegar dari arah pantai. Tak ketinggalan juga orang-orang klan Zhang, bahkan Anggota Suku Niao pun ikut datang.


"Patriark, apa kita hanya akan diam melihat Zhang Yu bertarung sendirian? Dia mungkin membutuhkan bantuan." Zhang Bing berusaha meyakinkan Zhang Lei. Tetapi Zhang Lei berpandangan jika Zhang Yu tak membutuhkan bantuan mereka.


Meski hanya seorang diri, tetapi terlihat jelas jika dia mendominasi pertarungan.


Shin menatap serius bendera yang ada di tiang layar. Matanya memerah saat melihat tulisan menara iblis. "Aku sangat puas melihat mereka dikalahkan oleh Kakak Yu. Itu adalah balasan atas apa yang mereka lakuk pada Suku Niao."


Yi sejenak mengalihkan perhatiannya dari arah kapal kepada sosok mayat yang ada di atas batu karang. "Pangeran, bukankah dia orang yang menangkap Yang Mulia?"


Seketika Shin ikut memperhatikan Mo Yasha. Tetapi jarak yang cukup jauh membuatnya sulit melihat wajahnya dengan jelas.


"Benarkah? Kita harus pergi ke sana untuk melihatnya." Tidak banyak bicara Shin segera pergi ke arah Mo Yasha. Melompat di antara batu karang, memanfaatkan kemampuan lompatannya yang jauh.


Yi juga ikut di belakangnya. Mereka berdua sampai di tempat Mo Yasha lalu menatap lekat wajahnya untuk memastikan apakah benar itu wajah yang sama.

__ADS_1


"Pangeran, tidak salah lagi. Dia orang yang menangkap Yang Mulia."


Sontak tangan Shin bergetar sambil menatap wajah Mo Yasha. Dia mengeluarkan belati dari balik pakaiannya lalu menusuk jantung Mo Yasha beberapa kali.


"Ini adalah balasan dari ayahku! Kau pantas menerima!"


Shin tak peduli jika Mo Yasha sudah tiada. Dia terus menikamnya sampai tubuh pria itu benar-benar terkoyak.


Setelah puas, Shin memandang tubuh Mo Yasha dan menenggelamkannya untuk dijadikan pakan ikan.


"Semoga jiwamu merasakan siksaan yang tiada habisnya!"


Shin masih sangat emosional setelah menendang tubuh Mo Yasha. Perlahan dia mengangkat wajahnya menatap ke arah kapal yang kini sudah setengah hancur dan tak lama akan tenggelam.


Zhang Yu berada di atasnya sambil memegang pedang, sementara dua puluhan tubuh tak bernyawa bertumpuk di bawah kakinya.


"Zhang Yu!" teriak Zhang Bing dari bibir pantai.


Zhang Yu segera mengalihkan pandangannya ke arah sang bibi sambil mengusap darah yang ada di wajahnya.


"Aku baik-baik saja," Mungkin itu yang ingin disampaikannya.


Tak lupa sebelum pergi Zhang Yu mengambil puluhan cincin penyimpanan dan beberapa barang berharga yang ada di kapal. Dia melompat sambil menjejakkan kakinya yang membuat kapal setengah hancur itu benar-benar hancur dan tenggelam.


Pada saat yang sama, Zhang Long dan Xiao Mei sampai di pantai timur.


Padahal mereka baru saja sampai di Kota Qian Gu bersama Xuan Yin dan Zhang Chao. Namun mendengar ada pertarungan di wilayah timur membuat keduanya bergegas memeriksa.


Tentu saja mereka meninggalkan Xuan Yin dan Zhang Chao di klan karena khawatir pertarungan ini dalam skala besar. Namun saat sampai, mereka malah menyaksikan pertarungan yang sudah selesai dengan Zhang Yu membunuh puluhan orang di atas kapal.


"Ibu, Ayah? Kalian datang?" Langkah kaki Zhang Yu terhenti menyadari keberadaan kedua orang tuanya.


Xiao Mei membalas. "Bukan hanya ibu dan ayahmu, tapi juga istri dan anakmu pun ikut datang dari Ibukota."


"Kau tidak kembali, juga tidak memberi kabar. Bagaimana mungkin kami tidak khawatir ketika memikirkan kau pergi setelah menerima surat khusus," tambah Xiao Mei dengan nada mengeluh.


Zhang Yu tak mengatakan apapun. Ini juga salahnya karena lupa memberi kabar. Tapi semua itu terjadi karena dia terlalu fokus mempersiapkan diri untuk menghadapi menara iblis.

__ADS_1


Terbukti sekarang menara iblis dapat dikalahkan meski yang datang baru sebagian kecil dari mereka.


__ADS_2