Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 204 : Tetua Gadungan


__ADS_3

Rombongan kereta kuda Saturnus baru saja memasuki Kota Xue He melalui jalur selatan. Mereka sempat kembali ke Kekaisaran Yang setelah melakukan beberapa pengamatan rencana tempat pembukaan cabang. Sekarang mereka datang dengan persiapan karena telah menemukan tempat yang cocok dan akan memulai tahap pembangunan.


"Nona, ada sekelompok orang di depan. Sepertinya mereka baru saja mengalami sebuah pertarungan." Sang kusir berbicara dari tempatnya mencoba memberitahu situasi yang dilihatnya.


Sontak Liu Mengqi mengangkat wajahnya lalu sekilas mengintip dari celah jendela sambil menyibak kain putih samar di depannya.


Namun karena sedikit terhalang oleh punggung sang kusir Liu Mengqi tidak dapat melihat dengan jelas situasi tersebut.


"Sepertinya beberapa dari mereka dalam keadaan terluka. Apa kita akan berhenti untuk menolong mereka?" tanya sang kusir.


Mendengar hal itu Liu Mengqi sejenak berpikir. Dia sempat ragu untuk ikut campur dalam masalah ini karena mungkin merupakan jebakan yang diciptakan kelompok bandit untuk mencari mangsa.


Akan tetapi semakin dekat jarak di antara mereka, Liu Mengqi mulai melihat kelompok orang yang dimaksud dan menyadari satu sosok yang cukup akrab baginya.


"Zhang Yu!" gumam Liu Mengqi dalam hati.


Pada saat yang sama Zhang Yu cukup terkejut hingga menyipitkan mata saat melihat kereta kuda milik Saturnus. Karena sebelumnya dia sempat berpikir kelompok yang datang adalah bagian dari Istana Roh atau kelompok Perdana Menteri Song Wejin. Siapa yang menyangka tebakannya benar-benar melenceng.


"Saudara Ketiga, bukankah itu lambang kelompok dagang Saturnus?" tanya Xuan Wu sambil menunjukkan bendera di atas kereta kuda utama.


"Benar. Satu bulan yang lalu mereka sudah mendaftarkan diri untuk membuka tempat usaha. Tampaknya mereka ingin cepat-cepat meresmikan cabang di Kekaisaran Xuan."


Kereta kuda berhenti. Kusir kuda segera berlari ke samping lalu menurunkan tangga untuk Liu Mengqi.


"Nona Liu, senang bertemu denganmu lagi," sapa Xuan San dengan senyum yang mengembang sempurna. Terlihat sekali tatapan yang berbeda ditujukan untuk Liu Mengqi.


Liu Mengqi segera membalas sapaan tersebut dengan ramah dan hangat. "Senang juga bertemu kembali dengan Pangeran Ketiga."


Tak lupa juga Liu Mengqi menyapa Xuan Wu, Xuan Yin dan tentu saja Zhang Yu yang sejak tadi menarik perhatiannya karena memakai jubah Akademi Kekaisaran.


"Nona Liu, apa kau dan rombongan mu sedang dalam perjalanan menuju pusat kota?" tanya Xuan San.


Liu Mengqi pun segera mengalihkan pandangannya dari Zhang Yu. "Benar. Kami dalam perjalanan menuju ke pusat kota sampai melihat jejak pertarungan dari kejauhan."


"Pangeran Ketiga, Pangeran Kelima, apa kalian baik-baik saja?" tanya Liu Mengqi.


Meski sepertinya agak terlambat untuk bertanya, tapi Liu Mengqi menjadi lebih penasaran karena melihat luka-luka di tubuh kedua pangeran.

__ADS_1


Xuan San dan Xuan Wu saling memandang. Detik berikutnya mereka tertawa lirih sambil menggelengkan kepala.


"Kami baik-baik saja. Tapi apa kami boleh ikut bersama kalian kembali ke pusat kota?"


Liu Mengqi sekilas menatap Zhang Yu dan segera menjawabnya. "Tentu saja. Kami mempunyai cukup tempat di sini."


...


Sementara itu di Akademi Kekaisaran.


Setelah gerbang utama dan seluruh akses keluar masuk di tutup, penjagaan secara bertahap dikerahkan. Namun sampai detik ini sosok wanita yang ditunggu itu belum menampakkan batang hidungnya.


"Kepala Akademi, sebenarnya siapa yang kau cari?" tanya Tetua Xin Fei. Dia sudah mendengar jika Wang Chen tengah mencari seseorang sehingga seluruh akses keluar ditutup untuk beberapa waktu.


Tetapi yang membuat Tetua Xin Fei penasaran adalah bagaimana melihat tetua wanita pelataran luar dikumpulkan di tempat ini seolah menjadi objek tersangka.


"..."


Alih-alih mempedulikan pertanyaan Tetua Xin Fei, Wang Chen cukup serius menelisik setiap wajah tetua wanita pelataran luar yang kini berdiri di hadapannya.


"Kalian tidak perlu gugup atau cemas jika tidak melakukan kesalahan," kata Wang Chen berusaha menenangkan tetua tetua yang terlihat tegang.


"Ibu, kau berkata masih mengingat wajah wanita itu. Coba kau lihat tetua tetua yang berbaris di sana dan katakan jika kau mengenalinya." Dengan pengertian terus menerus yang diberikan putrinya, Han Rui menjadi lebih percaya diri saat mulai menganalisis setiap wajah di sana.


Namun dia hanya menggelengkan kepala sebagai tanda jika tidak satupun dari tetua tetua ini yang merupakan wanita yang diberikannya cincin.


"Ibu, apa kau yakin jika wanita itu tidak ada di sini?" tanya He Jiao sambil meminta ibunya melihat lagi wajah-wajah tetua di hadapan mereka.


"Ibu yakin. Tidak ada."


Kening Wang Chen mengerut ketika mendengar jawaban Han Rui. Bertahap dia mengeluarkan daftar nama tetua yang baru diserahkan Tetua Xin Fei beberapa saat yang lalu dan mulai memastikan jumlah mereka.


Anehnya semua tetua wanita yang terdaftar berdiri di sini. Jadi bagaimana dengan tetua wanita itu? Atau jangan-jangan dia bukan tetua Akademi Kekaisaran?


"Tetua Xin Fei, apa kau yakin semua tetua sudah masuk dalam daftar catatanmu?" tanya Wang Chen.


Tentu saja Tetua Xin Fei sedikit panik ketika melihat tatapan mata yang sangat serius dari Wang Chen.

__ADS_1


"Sudah semu ...." Saat Tetua Xin Fei hendak menjawabnya, satu tetua wanita membuka mulutnya.


"Maaf Kepala Akademi, sebenarnya ada satu orang yang tidak ikut berkumpul."


Wang Chen menatap tetua wanita tersebut. "Benarkah? Siapa? Di mana dia sekarang?"


"Rong Liuwen. Dia baru menjadi tetua beberapa bulan ini jadi namanya belum masuk dalam daftar tetua pelataran luar."


Wang Chen langsung menatap Tetua Xin Fei yang juga terlihat bingung. Tetua wanita itu kembali berbicara. "Tetua Xin Fei mungkin tidak tahu tentang Rong Liuwen karena dia masuk ke akademi bersama Tetua Lou Yi."


"..."


Tidak ada kata yang sanggup diucapkan ketika mendengar kalimat tetua wanita ini. Wang Chen menyimpan gulungan daftar tersebut lalu meminta Tetua Xin Fei memanggil Tetua Lou Yi.


Sementara itu di tempat yang cukup tersembunyi, seorang wanita mengintip dan mendengar diam-diam pembicaraan antara tetua wanita dengan Kepala Akademi.


Bertahap raut wajahnya berubah kusut dan menjadi buruk ketika mendengar identitasnya sudah terbongkar.


"Sial! Bagaimana mereka menyadarinya dengan sangat cepat! Aku bahkan tidak sempat keluar karena setiap pintu keluar sudah ditutup."


Rong Liuwen sejenak menatap cincin di tangannya. Sekarang dia harus mencari cara mengeluarkan cincin ini dan menyerahkannya pada perdana menteri.


Tepat saat Rong Liuwen masih memikirkan cara, dua orang murid pelataran luar entah muncul dari mama tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Salam tetua!" ucap mereka.


Rong Liuwen terkejut hingga tersentak. Namun bukannya membalas sapaan itu Rong Liuwen malah menatap mereka tajam.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat pergi!"


Dua murid yang bingung tentu saja segera pergi meninggalkan Rong Liuwen. Tetapi Rong Liuwen sampai saat ini tidak dapat memikirkan cara untuk membawa cincin itu keluar dari gerbang Akademi Kekaisaran.


"Siapa di sana!"


Suara Wang Chen menggema dengan keras. Rong Liuwen menelan ludahnya sesaat, kemudian bergegas pergi tanpa berminat lagi berada di sana.


Pada saat yang sama Wang Chen muncul di tempat Rong Liuwen bersembunyi. Meski tidak berhasil menemukan orang yang dicarinya, Wang Chen dapat memastikan jika wanita itu masih di wilayah akademi.

__ADS_1


Wang Chen berjongkok mengambil token tetua yang ada di tanah lalu tersenyum sambil menatap token tersebut.


"Karena kau masih di dalam wilayah akademi, maka jangan pernah berpikir untuk keluar!"


__ADS_2