Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 174 : Membunuh Seluruh Penyusup


__ADS_3

"Tidak ada darah di sini. Itu berarti tidak ada pertarungan." Zhang Yu menganalisa ruangan luas ini dengan hati-hati. Dia mulai menautkan berbagai informasi yang ia dapatkan sehingga muncul proyeksi kejadian dalam kepalanya.


Ruangan yang terlihat berantakan di beberapa titik menandakan kepanikan yang dialami penghuni. Mungkin saat itu mereka sedang cemas memikirkan pertarungan di luar, kemudian tiba-tiba datang tamu tak diundang sehingga mereka cepat-cepat melarikan diri.


Melihat juga goresan di tembok, itu bukan seperti jejak pertarungan melainkan tusukan penuh kemarahan.


Orang-orang Istana Roh pastinya tidak menyangka tempat perlindungan darurat sudah kosong. Mereka marah sehingga melampiaskan amarah dengan menyerang tembok.


"Kakek, bagaimana cara membuka pintu ini?" tanya Zhang Yu. Yang dimaksud bukanlah pintu tempat mereka masuk, melainkan pintu lain yang berada di seberang.


Zhang Yu yakin semua orang melarikan diri lewat pintu itu dan penyusup dari Istana Roh mengejar mereka.


Ternyata Xiao Nie juga sependapat. Tanpa membuang banyak waktu Xiao Nie membuka pintu itu dengan menekan beberapa tombol rahasia.


Begitu pintu terbuka mereka terkejut melihat lorong yang penuh dengan darah. Tapi anehnya tidak ada mayat sehingga mereka tidak tahu itu darah milik siapa.


Zhang Yu sejenak diam hanya menatap lorong yang terlihat mengerikan itu. Matanya yang hitam berkilat saat memikirkan keadaan ibunya serta Xuan Yin. Terlebih setelah mengetahui jika orang-orang Istana Roh ternyata mengincar tubuh fisik dewi bukan milik Xuan Yin.


Wush...


Tidak mungkin Zhang Yu berlama-lama di sini. Prioritasnya saat ini adalah menemukan keberadaan mereka.


"Zhang Yu! Jangan gegabah!" Xiao Nie berseru mencoba menghentikan Zhang Yu yang tiba-tiba melesat. Namun sepertinya Zhang Yu tidak mendengar suaranya karena dalam sekejap bayangan punggungnya telah menghilang.


Di sisi lain, Xuan Yin dan Xiao Mei berhasil bersembunyi setelah memisahkan diri untuk mengalihkan perhatian dua puluh orang yang mengejar dari kelompok wanita dan anak-anak.


Akan tetapi sepertinya persembunyian mereka tidak terlalu aman karena kelompok orang Istana Roh sekarang berkeliaran di sekitar tempat mereka bersembunyi.


"Bibi, masih ada kesempatan untukmu pergi dari sini. Mereka semua mengincarku, jadi tidak akan mengejar Bibi," ucap Xuan Yin sambil berusaha mengintip dari gua di balik hutan bambu.


Akan tetapi Xiao Mei menggelengkan kepalanya dengan tegas. Dia berkata, "Jika ingin pastinya Bibi sudah mengambil jalur kanan bersama yang lain. Tapi Bibi tidak mau membiarkanmu sendiri."


"Kita hanya perlu menunggu lebih lama untuk bantuan. Bibi yakin para tetua akan segera kembali dan menyelamatkan kita," tambah Xiao Mei yang membuat Xuan Yin tidak bisa berkata-kata karena terharu.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan mereka?" tanya suara itu lantang. Posisinya membelakangi mulut goa yang ada di balik jajaran pohon bambu. Cukup membuat Xuan Yin dan Xiao Mei saling berpegangan erat dan menahan nafas karena cemas.

__ADS_1


"Tidak ada. Mereka tiba-tiba hilang setelah memasuki wilayah hutan bambu. Mungkin ada tempat tersembunyi di sini yang tidak kita ketahui," sahut yang lain.


Xiao Mei menarik tangan Xuan Yin masuk ke dalam goa. Mereka pun memutuskan berdiam di sana dan berharap bantuan segera datang.


"Berpencar! Cari lagi! Periksa setiap tempat dan jangan sampai terlewat!" Dua pria yang berada di tingkat surgawi bintang sembilan memberi perintah pada delapan belas orang lainnya. Mereka pun segera berpencar kembali memulai pencarian.


Namun sampai beberapa waktu mereka benar-benar tidak menyadari keberadaan goa yang ada di balik rerimbunan pohon bambu.


"Kami akan periksa sebelah sana. Kalian cari ke arah lain." Lima orang pergi mengambil jalur kanan sementara lima orang lain pergi mengambil jalur kiri. Mereka berjalan puluhan langkah sebelum berhenti saat bertemu dengan sesosok pemuda.


"Apa yang dilakukannya di sini? Apa dia ingin menghadapi kita?" ucap kelima pria dengan nada meremehkan.


Karena sebelumnya orang-orang Klan Xiao pasti akan berlari begitu menyedihkan saat bertemu mereka. Cukup aneh melihat satu orang pemuda datang dengan tatapannya yang terlihat marah dan kesal.


"Persetan. Aku yang akan pergi dan membunuhnya!" ucap satu di antara kelima pria itu. Kemudian tanpa membuang lebih banyak waktu dia mengeluarkan pedangnya sebelum menyerang dengan teknik bertarungnya.


"Zhang Yu, hati-hati. Dia berada di tingkat suci bintang dua."


Mendengar peringatan dewa naga, Zhang Yu hanya menarik sedikit sudut bibirnya.


Awalnya Long Shen agak ragu saat Zhang Yu mengatakannya. Tapi melihat pria yang berlari tiba-tiba berhenti di tempat, seketika itu juga Long Shen percaya dengan ucapan Zhang Yu.


"Pedang pembunuh!"


Bayangan cakar raksasa dengan segera terbang dari tempat Zhang Yu ke arah pria yang berdiri seperti patung. Tanpa ada kesempatan untuk melawan, tubuhnya langsung hancur dan mati.


Keempat pria yang masih di tempat bahkan tak sempat bereaksi karena kejadian ini sangat cepat. Mereka mengerjapkan mata, kemudian segera mengeluarkan senjata dan tanpa banyak bicara menyerang Zhang Yu bersama-sama.


Tentu saja menghadapi empat orang secara bersamaan adalah kesulitan baginya. Tapi Zhang Yu menggunakan kombinasi teknik pedang utara dengan teknik jarum jiwa penakluk. Empat orang tingkat suci bintang dua dan tiga, satu persatu kehilangan nyawa.


Namun jangan berpikir pertarungan telah berakhir. Mati lima, datang lima belas orang lainnya.


Ketika ahli Istana Roh dari fraksi serigala yang berada di tingkat surgawi bintang sembilan melihat lima orang mati di tangan seorang pemuda, mereka tak bisa untuk tidak menahan nafas selama beberapa detik sambil menatapnya.


"Klan Xiao ternyata memiliki bakat yang luar biasa. Tapi Istana Roh tidak akan membiarkanmu karena hanya akan menjadi masalah jika dibiarkan terus berkembang."

__ADS_1


"Bunuh dia!" seru dua orang itu secara bersamaan. Tiga belas orang di belakang segera melesat mengincar Zhang Yu berniat membunuhnya.


Akan tetapi tepat sebelum itu belasan serangan menyerang dengan gencar datang dari berbagai arah.


Blam!


Blam!


Terpaksa ketiga belas orang segera menarik diri kembali. Dua ahli yang berada di belakang hanya menautkan kedua alisnya dengan tatapan keruh. Terlebih ketika menyaksikan puluhan orang Klan Xiao datang termasuk Xiao Nie dan para tetua.


"Apa-apaan ini! Kenapa semua berkumpul di sini? Bagaimana dengan ketua?" kata mereka sambil berbisik satu sama lain.


Dua ahli pun menjadi sedikit khawatir. Karena mereka tahu hanya ada satu kemungkinan mereka semua berada di sini. Itu tak lain karena rekan-rekan dari Istana Roh sudah dikalahkan.


"Zhang Yu! Serahkan mereka kepada kami. Pergilah ke bagian ujung hutan bambu, di sana terdapat goa tersembunyi yang ada di balik pohon-pohon bambu. Kemungkinan ibumu dan Xuan Yin bersembunyi di sana."


Tidak menunggu lebih lama Zhang Yu segera melesat mengikuti ucapan kakeknya. Dia pun menemukan goa tersembunyi itu setelah melewati pohon-pohon bambu yang cukup rimbun.


Zhang Yu melangkah masuk dengan tak sabar. Langkah demi langkah dia masuk semakin dalam. Tetapi pada saat itu dia berhenti karena menyadari ada mata yang mengawasinya.


"Mati kau!"


Xuan Yin melompat dari atas sambil mendorong pedangnya. Karena dia tidak mengetahui yang datang adalah Zhang Yu, dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang.


Tentu saja Zhang Yu terkejut dengan serangan Xuan Yin yang tidak terduga. Beruntung dirinya masih cukup tangkas sehingga dengan respon yang cepat menangkap tangannya.


"Yin'er, apa kau ingin membunuhku?" tanya Zhang Yu sambil menatap Xuan Yin dalam.


Xuan Yin pun tercengang begitu menyadari pria yang ingin diserangnya adalah Zhang Yu. Dia sontak melepaskan pedangnya kemudian memeluk.


"Brengsek! Kau tahu aku begitu khawatir karena kau tidak keluar bahkan setelah dua tahun? Aku menunggumu, tapi kau bahkan tidak berniat keluar!"


Xuan Yin meluapkan kekesalannya sambil memukul punggung Zhang Yu. Namun dibanding kekesalannya, rasa cemas dan khawatir jauh lebih besar. Dia memeluk lebih erat dan enggan melepaskannya.


Xiao Mei berjalan dari dalam. Dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua insan yang saling berpelukan. Alih-alih mengganggu mereka, Xiao Mei memutuskan untuk keluar karena mengetahui situasi di luar telah aman.

__ADS_1


__ADS_2