Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 108 : Sejarah Perang Abadi


__ADS_3

"Berapa lama kita akan di sini? Sudah dua jam tapi jalan untuk menuju lantai ketujuh tidak muncul."


"Ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Setelah menunggu satu hari pada akhirnya semua memutuskan untuk kembali. Padahal konon katanya warisan utama berada di lantai ketujuh. Tapi seolah warisan itu tidak diperbolehkan untuk dimiliki."


Beberapa pendapat dari murid akademi yang sudah pernah datang tak lagi berharap terlalu banyak untuk mencapai lantai ketujuh. Dalam perjalanan untuk mencapai lantai keenam mereka sudah mendapat banyak manfaat. Jadi jika harus kembali juga bukan hal sia-sia dengan semua barang yang telah dikumpulkan.


"Aku sudah berharap mendapat sesuatu yang amat sangat berharga, tapi ternyata lantai ketujuh hanya bualan yang tak nyata!" Wu Zetian melihat sekeliling. Benar-benar tidak ada tangga ada sesuatu yang menghubungkannya.


"Zhang Yu, sebaiknya kita pergi! Jangan membuang waktu di sini!"


Hampir semua orang berpikir untuk turun ke lantai lima. Wu Zetian, Tang Yue dan He Jiao pun berpikir serupa. Tapi Zhang Yu masih bergeming di tempatnya sambil memperhatikan pilar baru di beberapa sudut ruangan.


Lima pilar batu. Berada di lima sudut berbeda dengan ukuran yang cukup besar.


"Zhang Yu, apa yang akan kau lakukan?" Wu Zetian mencoba memanggil.


Namun Zhang Yu tak menghiraukan ucapannya dan terus berjalan mendekati salah satu pilar batu.


Puluhan orang yang berhasil sampai di lantai keenam pun sekarang menatap ke arahnya. Dia benar-benar menjadi perhatian dengan gelagatnya yang sangat menarik perhatian.


"Apanya yg dia lakukan?"


Pertanyaan ini dikeluarkan oleh banyak orang.


Pangeran pertama Xuan Yang, Tuan Muda Klan Hong, Hong Shen, bahkan Tuan Muda Klan Yan, Yan Xou.


Xuan Yin juga memperhatikan. Dia ikut melihat beberapa pilar batu besar yang ada di lima tempat berbeda.


"Sebenarnya apa yang ada dalam kepalanya?" batinnya.


Di saat semua mata tertuju padanya, Zhang Yu seperti tidak mengetahuinya dan fokus pada pilar batu besar di depannya. Celah kecil berbentuk persegi cukup menarik dalam pandangannya, menelisiknya sekilas dan merasa familiar dengan gambar naga yang ada di permukaan pilar batu.

__ADS_1


"Tak mungkin salah! Aku ingat sekali gambar ini sama dengan ukiran di ruangan sebelumnya." Zhang Yu cepat-cepat mengeluarkan plakat usang yang sebelumnya disimpan dalam cincin penyimpanan. Pandangannya kembali fokus pada celah kecil berbentuk persegi itu dan secara naluriah memasukkannya.


"..."


Sesaat tidak ada yang terjadi. Semua orang mengira Zhang Yu melakukan tindakan sia-sia. Akan tetapi tepat satu detik setelahnya, lantai di bawah kakinya mengeluarkan lingkaran merah lalu berlanjut dengan cahaya merah yang perlahan mengangkat tubuhnya hingga menembus langit-langit ruangan.


Kejadian ini cukup mengejutkan. Semua orang tertegun di tempat seolah lupa bagaimana cara bernafas.


"Dia pergi ke atas! Apa dia naik ke lantai tujuh?!"


"Bagaimana dia bisa melakukannya? Apa yang dia masukkan ke dalam pilar batu besar?"


"Sepertinya itu sebuah plakat."


Ketika beberapa orang dapat melihat apa yang ada di tangan Zhang Yu sebelumnya, sontak suasana di sana menjadi heboh.


"Saudara ketujuh? Bukankah kau menerima satu plakat usang dari kakak pertama dua tahun lalu?" Xuan Si, pangeran keempat bertanya pada Xuan Yin.


"Aku menemukannya dalam penjelajahan dua tahun lalu. Aku berpikir itu tidak berguna, jadi ketika Saudara Ketujuh menginginkannya aku tanpa berpikir memberikannya. Siapa yang mengira itu adalah syarat untuk naik ke lantai tujuh."


Xuan Yin menetap plakat di tangannya dan beralih pada salah satu pilar batu besar. "Saudara Pertama, apa kau ingin menggunakannya?"


"Tidak tidak. Bagaimana mungkin aku mengambil suatu yang telah aku berikan? Karena itu sudah menjadi milikmu, kau baiklah ke lantai tujuh, Saudara Ketujuh."


"Kakak Pertama sudah memberi izin. Apa lagi yang kau tunggu? Cepat naik ke lantai tujuh dan kembali dengan warisannya!" ucap Xuan Wu sambil menepuk pundak Xuan Yin.


"Baiklah, aku akan melakukannya." Xuan Yin memegang plakat itu dengan erat lalu berjalan mendekati pilar batu besar yang berada paling dekat dengan posisinya.


Setelah memasukkan plakat itu ke dalam celah berbentuk persegi, tepat di bawah kakinya kunci lingkaran merah yang sama. Kemudian cahaya merah yang pekat, lalu sebuah lubang di langit-langit ruangan.


Tubuhnya dalam waktu singkat sudah berada di lantai ketujuh. Duduk di atas sebuah panggung batu dan di hadapan sangkar besar yang kosong.

__ADS_1


"Hati-hati dengan permukaan airnya."


Tepat di sebelahnya, Zhang Yu duduk bersila di panggung batu kedua. Xuan Yin menelaah kalimat Zhang Yu dan menyadari lantai di sekitarnya dipenuhi dengan air berwarna hitam.


Ketika tanpa sengaja satu kerikil terjatuh ke bawah, dalam waktu singkat langsung lebur seperti tak pernah ada.


Xuan Yin tertegun lalu menatap Zhang Yu. Sebelum sempat mengatakan sesuatu, tiga panggung batu yang tersisa bercahaya. Dua detik setelahnya muncul tiga orang di sana.


Mereka adalah Yan Xou, Hong Shen dan Guang Zhou.


Zhang Yu tidak begitu terkejut ketika melihat Yan Xou dan Hong Shen. Tapi dia cukup penasaran tentang Guang Zhou. Bahkan sejak awal memasuki panggung naga dia tidak begitu menonjol dan bahkan tak terlihat olehnya saat di lantai keenam. Siapa yang mengira satu dari lima plakat ditemukan olehnya.


"Zhang Yu, kau sampai di tempat ini pertama kali. Kau tahu maksud sangkar di depan kita?" tanya Hong Shen.


Karena posisi mereka memutari sangkar besar. Jadi tak heran jika mereka sangat penasaran dengan sangkar tersebut.


Tapi Zhang Yu tidak dapat memberi jawaban karena dia juga tidak mengetahuinya.


"Sangkar ini dahulunya adalah tempat untuk mengurung roh dewa naga. Sepuluh abad yang lalu, pertempuran yang sangat hebat terjadi di Daratan Zhen Yang. Melibatkan manusia dengan kerajaan binatang spiritual yang dipimpin dewa naga."


"Pada saat itu jutaan, bahkan milyaran binatang spiritual menyerang di seluruh titik daratan Zhen Yang. Memaksa seluruh Daratan Zhen Yang bersatu. Lalu setelah melewati pertarungan panjang empat puluh hari empat puluh malam kemenangan baru berhasil di dapatkan oleh kelompok manusia. Sebagian besar binatang spiritual dimusnahkan, lalu juga mengurung sisa-sisa jiwa dewa naga di sangkar suci."


Hong Shen yang mendengar kisah ini seketika membulatkan mata. Dia menatap Guang Zhou dan memperhatikannya dengan curiga.


"Kisahnya sangat mirip dengan sejarah perang abadi! Tapi itu hanya diketahui tiga klan kuno! Siapa kau sebenarnya!"


Guang Zhou mengangkat wajahnya acuh tak acuh. "Tidak penting siapa aku. Tapi kisah yang aku ceritakan memang adalah sejarah perang abadi. Daratan Zhen Yang yang dimaksud adalah nama daratan sebelum terbagi menjadi tiga Kekaisaran. Kekaisaran Xuan, Kekaisaran Yang dan Kekaisaran Long."


Zhang Yu mendengar dengan serius setiap kata yang diucapkan Guang Zhou. Dia melirik sangkar di depannya dan mendapat beberapa gambaran. Dia diam beberapa saat lalu bicara dengan suara pelan. "Jangan bilang sangkar di depan kita ini tak lain adalah sangkar suci yang mengurung sisa-sisa jiwa dewa naga."


"Benar! Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan ini dan mulai saja berkultivasi." Setelah mengatakannya, Guang Zhou sudah memejamkan mata sambil menyatukan tangannya di depan dada. Pancaran energi kekuatan jelas terlihat nyata ketika memasuki tubuhnya, ini membuat Zhang Yu dan yang lain cepat cepat mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Luar biasa!" Zhang Yu dapat merasakan energi yang pekat ketika mulai memfokuskan diri pada sangkar hitam di depannya. Seolah sangkar yang kosong itu penuh dengan energi dari sisa-sisa jiwa dewa naga.


__ADS_2