Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 89 : Kecil Tapi Rakus


__ADS_3

Melihat lima monyet wajah merah tingkat ketiga mengejar di belakang, Xuan Yin hanya berpikir untuk berlari secepat mungkin.


Namun alangkah sial dirinya, berlari tanpa arah malah membuatnya terjebak dalam jalan buntu.


Di kanan tebing, di kiri dan depan juga tebing. Ketika dia berbalik untuk berkati ke arah lain, tapi monyet wajah merah sudah berdiri di sana.


"Tidak ada jalan lain kecuali bertarung." Xuan Yin menggigit ujung bibirnya. Meski tahu akan sangat sulit mengalahkan lima monyet wajah merah, tapi ini satu-satunya jalan yang dimilikinya.


Ak ak ak...


Kelima monyet wajah merah terlihat dongkol. Mungkin mereka merasa marah dengan apa yang dilakukan Xuan Yin. Terlebih harta yang mereka jaga diambil begitu saja tanpa persetujuan.


Setelah cukup lama berada di tempat, satu monyet wajah merah menggunakan tangan berayun untuk melompat.


Blam!


Serangan kakinya hampir saja mengenai wajah Xuan Yin. Tapi Xuan Yin masih sempat menghindar.


Alhasil serangan itu hanya mengenai tebing batu yang ada di belakang. Satu cekungan besar terlihat nyata di permukaan.


Tidak berhenti sampai di sana. Setelah satu monyet wajah merah tidak berhasil melakukannya kini empat temannya menyerang bersama.


Xuan Yin mencoba menghadapi mereka. Meski dapat bertahan dalam beberapa tarikan nafas, tapi seiring berjalannya waktu dia tidak bisa berbuat banyak.


"Keterlaluan! Jika seperti ini aku akan menjadi mangsa mereka." Dalam keadaan kritis Xuan Yin menyadari ada satu celah tidak begitu besar pada permukaan tebing yang hancur diserang monyet wajah merah sebelumnya.


Tidak tahu secara pasti itu goa atau apa, yang jelas Xuan Yin melihatnya sebagai jalan keluar.


Tidak menunggu lebih lama, memanfaatkan jarak yang cukup jauh dia segera melompat masuk ke sana.


Monyet wajah merah mengejar dan ikut melompat. Tapi mereka hanya berhasil menarik sedikit pakaian yang akhirnya robek tanpa mendapatkan orangnya.


Begitu pula saat ingin mengikuti masuk ke dalam celah, lingkar tubuh terlalu besar tidak muat untuk menyelinap ke dalamnya.


Xuan Yin mulai menstabilkan nafasnya yang memburu. Dia melihat pakaian yang robek dan menggigit ujung bibirnya dengan kesal.


"Dasar monyet jelek!"

__ADS_1


Blam!


Mulutnya baru terkatup. Tapi sebuah dentuman menggelegar keras membuat tebing batu bergoyang.


Xuan Yin yang menyadari monyet-monyet itu belum menyerah menjadi agak panik. Terlebih melihat bagaimana cara mereka menggempur pintu masuk gua. Dia sangat khawatir jika hanya menunggu waktu sampai dirinya tertangkap.


"Apa aku akan mati di sini?" Xuan Yin menggertakkan gigi. Dia belum mencapai mimpinya untuk hidup dengan bebas tanpa menggunakan identitas palsu, tapi dengan situasi ini apakah masih ada kesempatan baginya?


Blam!


Usaha monyet-monyet itu masih berlanjut sampai sekarang. Xuan Yin menenangkan diri dalam situasi yang sangat sulit. Dia perlahan mengedarkan pandangannya ke ruang sempit tak kurang dari tiga kali tiga meter itu lalu menyadari ada ada balok batu seperti sebuah pintu.


Xuan Yin heran, tapi karena desakan situasi yang mengancam keselamatannya dia dengan segera menggeser balok batu itu hingga bergeser setengah meter.


Benar saja. Itu adalah pintu yang menghubungkan ruangannya saat ini dengan ruangan lain.


Mungkin tidak ada yang tahu apa yang akan menunggunya di depan. Tapi tidak ada pilihan lain kecuali masuk ke dalam sana.


Xuan Yin menguncir rambutnya. Dalam sekejap dia berubah menjadi wanita feminim. Wajahnya yang acuh tak acuh dan dingin, menyatu padu dengan bibir merah mudanya yang tipis. Dia seperti bunga yang ada di puncak gunung bersalju. Indah tapi tak sembarangan orang mampu mendapatkannya.


...


Sama seperti sebelumnya. Mereka sangat arogan dan berpikir tidak ada yang berani melawan.


Sialnya mereka malah bertemu dengan Zhang Yu. Dengan teknik pedang utara dan sentuhan ringan teknik pedang pembunuh, kelima orang mati dengan mengenaskan.


Lagi dan lagi harta mereka menjadi barang rampasan. Tapi tidak sebanyak dua orang sebelumnya, bahkan hanya seperempat dari milik mereka.


Namun hal itu bukan fokus utama Zhang Yu. Dibandingkan dengan harta rampasan Zhang Yu malah salah fokus dengan ucapan mereka yang menyebutnya sebagai orang-orang timur.


Orang-orang timur hanya digunakan oleh orang Kekaisaran Yang untuk memanggil orang Kekaisaran Xuan. Hal itu karena Kekaisaran Xuan berada di sebelah timur wilayah mereka.


"Ternyata memang ada pintu lain selain yang berada di wilayah Akademisi Kekaisaran. Harusnya itu berada di wilayah Kekaisaran Yang kan?"


Klan Yan ... Zhang Yu tidak begitu tahu tentang Kekaisaran Yang. Pemahamannya tentang hal itu terlalu rendah jadi tidak bisa mengatakan dengan pasti tentang Klan Yan.


Tapi melihat dari sikap yang angkuh dan arogan dari kelompok sebelumnya, sudah menunjukkan betapa hebat latar belakang mereka.

__ADS_1


Cit cit...


Sun menarik kerah pakaian Zhang Yu dan mengarahkannya untuk pergi ke arah yang dimaksud.


"Ada apa? Apa kau kembali merasakan keberadaan orang lain di sekitar?"


Harus diakui insting kera kecil ini sangat luar biasa. Lima orang klan Yan sebelumnya mengintai dari persembunyian, tapi Sun masih dapat mendeteksi mereka sebelum sempat menyerang diam-diam.


Cit cit...


Kali ini Sun kembali bersikukuh. Zhang Yu tak bisa mengabaikan peringatan darinya dan memutuskan untuk memeriksa.


Letaknya berada di antara dua bongkahan batu besar. Sebelum benar-benar mendekat Zhang Yu menempatkan pedang di tangan kanannya dan sudah menyelimuti nya dengan Qi. Dia hanya perlu mengayunkannya ketika datang bahaya tak terduga.


Namun setelah mereka berdiri di atas dua bongkahan batu besar, bukan hanya tidak ada bahaya tapi juga tidak ada orang di sana.


Kening Zhang Yu mengerut. Bertahap turun menatap Sun dengan heran. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Tidak ada apapun di sini."


Saat bicara Zhang Yu mencoba turun dengan melompat. Telapak kakinya menapak dengan sempurna, tapi perhatian tanpa sengaja tertuju pada tanaman rumput yang memiliki bunga berwarna biru transparan.


"Sepertinya ...." Zhang Yu baru akan mengatakan jika tanaman ini mungkin adalah sumber daya langka yang berharga, Sun yang berada di pundaknya melompat turun lalu memetik bunga itu dan langsung memakannya.


Gluk!


Zhang Yu tak bereaksi dengan cepat menyaksikan hal ini. Matanya masih tertuju pada Sun yang kini diam tak bergerak.


Tiba-tiba mata Sun melotot sempurna. Dia menepuk dada seperti berusaha memuntahkan bunga yang telah dimakannya.


"Kera ini ... Dia begitu rakus. Tidak peduli apa, yang penting menyimpan energi langsung dilahap tanpa banyak bicara. Dan sekarang apa, dia tersedak?"


Meski sangat rakus dan ceroboh, sulit bagi Zhang Yu tak peduli dengannya. Dia segera mendekat kemudian membuatnya tengkurap dan menepuk punggungnya dengan sedikit tenaga.


Phuah!


Biji berwarna hitam seukuran kelereng meluncur keluar dari mulutnya. Sun merasa lega setelah mengeluarkannya dari tenggorokan dan terbaring lelah tanpa rasa bersalah.


Zhang Yu mengambil biji bunga itu dan menatapnya sambil melirik Sun.

__ADS_1


"Badan boleh kecil tapi dia sangat rakus."


__ADS_2