Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 115 : Antara Binatang Spiritual


__ADS_3

"Entah ini hanya perasaanku saja atau memang mereka menjadi lebih akrab setelah kembali," gumam Wang Chen melihat kedua muridnya yang duduk dengan tenang di hadapannya.


Pertama kali bertemu mereka seperti anjing dan kucing yang akan bertengkar ketika berhadapan. Sekarang suasana tampak tenang dan tidak ada aura permusuhan.


"Guru, kenapa kau meminta kami datang? Ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Zhang Yu menyadarkan Wang Chen dari kemelut pikirannya.


Wang Chen berdehem sekali untuk mengatur suasana.


"Ini tentang pagoda naga. Konon katanya pagoda naga hanya akan hancur ketika seseorang mendapat warisannya. Apa kalian tahu siapa yang mendapatkan warisan itu?"


Karena terdapat batasan kekuatan tak sembarang orang dapat memasuki alam Zhen Yang. Wang Chen dulu pernah memasukinya, juga pernah menjelajahi pagoda naga. Tapi dia tidak cukup beruntung untuk naik ke lantai tujuh.


Setiap pintu menuju Alam Zhen Yang terbuka dia selalu menunggu seseorang yang dapat mencapai lantai Ketujuh dan mendapat warisan itu. Tapi sudah berlalu puluhan tahun dan masih belum ada yang berhasil.


Sampai saat ini kabar runtuhnya pagoda naga membuat rasa penasaran yang sempat terkubur kembali muncul ke permukaan. "Kenapa kalian hanya diam? Katakan, apa jangan-jangan orang Klan Hong dan Klan Yan yang mendapatkannya?"


Zhang Yu diam-diam menatap gelang naga yang melingkar di tangannya.


"Sebenarnya tidak ada yang istimewa di lantai ketujuh. Hanya saja ...."


Wang Chen menaikkan alisnya tidak senang mendengar kata hanya. "Bagaimana kau bisa mengatakannya begitu yakin? Memangnya kau naik ke lantai tujuh?"


Zhang Yu terkekeh. "Guru, kau ini sedang meremehkan muridmu ya? Kami naik ke lantai tujuh bersama."


"Kami memang naik ke lantai ketujuh, Guru. Selain kami, ada juga murid Guang Zhou, kemudian dua orang masing-masing dari Klan Yan dan Klan Hong," kata Xuan Yin menimpali ucapan Zhang Yu.


Tentu saja hal ini membuat Wang Chen terkejut. Dia sendiri tak bisa mencapai lantai ketujuh pagoda naga. Tapi kedua muridnya bisa melakukannya.


Entah harus bangga atau malu karena muridnya lebih baik darinya.


Ehem...


"Bisa kau jelaskan kenapa tidak begitu istimewa?" tanya Wang Chen setelah berdehem dengan suara nyaring.


"Karena di lantai ketujuh kita hanya dihadapkan dengan sisa-sisa jiwa dewa naga. Bahkan belum juga dapat menerobos tingkatan energi itu tiba-tiba lenyap."


"Apakah seperti itu?" Jawaban Xuan Yin tidak membuat Wang Chen puas. Tapi setelah Zhang Yu ikut membenarkan cerita itu dia tidak punya pilihan lain kecuali percaya setelah kedua muridnya memiliki jawaban yang sama.


"Baiklah. Kita akhirnya pembicaraan ini. Yin'er, Guru akan mengajarkan bagian kedua teknik pedang dan bulan. Ikut guru ke depan."


"Baik, Guru!" Xuan Yin bersemangat ketika mendengar hal itu. Dia segera bangkit dari tempat duduknya.


Wang Chen diam sejenak sambil membelakangi Zhang Yu yang duduk di gazebo. "Yin'er, pergilah ke depan dulu. Guru akan menyusul."


Xuan Yin mengerutkan kening. Mesin begitu dia tak bertanya dan berjalan meninggalkan area belakang.


"Ada yang ingin Guru sampaikan?" tanya Zhang Yu.


Wang Chen menunggu Xuan Yin benar-benar menjauh kemudian membalikkan badan menghadapnya. "Apa kau sudah tahu Klan Hong itu satu dari tiga Klan Kuno?"


"... Ya, aku mengetahuinya."


"Baguslah jika kau sudah tahu. Kau harus berhati-hati jika bertemu lagi dengan salah satu dari Klan Kuno. Lebih baik tidak berurusan dengan mereka." Setelah mengatakan peringatannya, Wang Chen pergi.

__ADS_1


Tapi Zhang Yu kembali memanggilnya sehingga pria tua itu menahan langkahnya. "Guru, aku sudah menguasai bagian kedua dari teknik budidaya tubuh."


"Kau sungguh menguasainya? Heum ... Pantas saja perkembanganmu menjadi lebih cepat. Kau banyak naik tingkat kan?"


Zhang Yu tersenyum canggung. "Yah, begitulah."


Wang Chen tersenyum samar, bergumam dengan sangat pelan. "Aku tahu kau akan lebih berbakat darinya."


"Kau mengatakan sesuatu Guru?" tanya Zhang Yu melihat bibir sang guru tampak bergerak.


Namun Wang Chen mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Sebaiknya kau pergi ke lantai kelima menara kultivasi. Di sana adalah tempat yang cocok untuk kau berkultivasi dengan metode tahap kedua kitab budidaya tubuh."


"Ini adalah token khusus yang tidak dimiliki sembarangan murid. Dengan ini kau dapat mengakses lantai kelima di menara kultivasi tanpa poin kontribusi."


Zhang Yu menerima token berwarna coklat itu. "Terima kasih guru! Aku tak akan mengecewakanmu!"


...


Sesampainya di kediaman Zhang Yu tak melihat keberadaan Wu Zetian dan Sun. Dia pun kembali keluar ke halaman untuk mencarinya, mendengar suara yang akrab dari kediaman di samping.


Sun?


"Kenapa dia berada di kediaman He Jiao?" Zhang Yu bergegas pergi ke sana untuk melihatnya. Terlihat Sun yang sedang melompat di antara atap dan halaman sementara He Jiao mempelajari sebuah kitab sambil mengawasinya.


"Kenapa kau berlarian seperti itu? Tidak lelah? Aku memberimu makanan jika kau mau duduk dengan patuh."


Namun Sun tetap sibuk dengan tingkahnya sendiri tak menghiraukan tawaran He Jiao. He Jiao pun menggelengkan kepala. Gadis berponi itu juga cukup fokus dengan kitab di tangannya hingga tak menyadari seseorang telah memasuki halaman kediamannya.


"Terima kasih karena telah menjaganya. Apa dia membuat kerusuhan di sini?"


"Zhang Yu! Kau sudah kembali?"


Sun yang melihat kedatangan Zhang Yu mendadak jadi patuh. Dia melompat dari atas atap laku mendarat di pundaknya.


"Terima kasih karena sudah menjaganya."


"Ti-tidak masalah. Aku senang bersamanya. Dia tidak merepotkan sama sekali."


Zhang Yu mengangguk samar kemudian berbalik pergi setelah kembali mengucapkan terima kasih.


Seiring dengan punggung Zhang Yu yang menghilang, He Jiao kembali duduk sambil mengangkat kitabnya. Namun alih-alih melanjutkan belajarnya dia tak bisa fokus karena mengingat hubungan Zhang Yu dengan saudara seperguruannya.


"Jika tidak salah nanya adalah Yin Xiongmeng kan? Dia memang wanita yang cantik. Tak heran jika mereka berdua memiliki hubungan yang seperti itu."


...


Di kediaman Zhang Yu.


"Aku punya hadiah untukmu." Sun yang ada di atas tempat tidur langsung bersemangat mendengar tentang hadiah. Dia berjingkrak sangat senang dan menantikannya.


Cit... Cit...


"Kau sangat tidak sabar. Tapi ini sangat bagus untukmu." Zhang Yu menggosok gelang naga. Tak lama keluar energi dalam bentuk asap berwarna merah dari sana.

__ADS_1


Perlahan asap itu membentuk siluet naga kecil lengkap dengan kaki, sayap dan kepala.


"Hahahaha ... Aku bebas! Aku bebas!" Dewa naga tertawa begitu senang ketika dirinya keluar dari gelang. Dia masih tidak menyadari dirinya dalam bentuk kecil. Jadi ketika melihat kera yang agak lebih besar darinya, dia terlihat terkejut.


"Aku adalah raja binatang spiritual! Bagaimana mungkin ada yang lebih besar dariku! Dari mana datangnya kera bodoh ini!"


Dewa naga mengumpulkan kekuatan di mulutnya bersiap menyembuhkan apinya yang sangat kuat. Tapi di saat dia mulai membuka mulutnya, tidak ada yang keluar kecuali asap setipis kertas.


Hah!


Hah!


Dia mencoba sampai dua tiga kali tapi tetap tak berhasil.


"Kurang ajar! Kenapa aku tak bisa menggunakan kekuatanku?" Dewa naga menyatukan alisnya dan kembali mengumpulkan kekuatan di mulutnya.


Pada saat itu Zhang Yu membuka mulutnya. "Perlu bantuan?"


"Aku Sang Dewa Naga tidak membutuhkan bantuan. Aku .... Eh!"


Suara ini sedikit familiar. Dewa naga perlahan mendongakkan kepalanya seratus derajat. Matanya berkedut melihat Zhang Yu, kumisnya pun bergerak-gerak mengikuti perubahan raut wajahnya.


"Kau ... Kenapa kau sangat besar?!"


Seketika ruangan menjadi hening. Dewa naga yang masih tidak sadar perlahan mendapat pencerahan setelah melihat keadaan ruangan. Bukan Zhang Yu yang menjadi besar. Bukan juga kera ini yang menjadi besar, melainkan dirinya yang mengecil.


Sun terlihat antusias melihat sisa jiwa dewa naga. Dia meneteskan liur sangat ingin menelannya. Dewa naga yang tahu kekuatannya hilang pun bertahap mundur untuk bersembunyi.


"Kera bodoh! Menyingkir kau! Aku bukan makanan!"


Zhang Yu memegang dewa naga tepat bagian ekornya. Dia seperti cacing yang siap dijadikan umpan.


"Hei! Jangan melakukan ini! Jangan melakukannya!"


Sun melompat berusaha menggapainya. Dewa naga melilitkan tubuhnya ke jari Zhang Yu dengan takut.


"Jangan biarkan dia memakan ku. Ini sama sekali tidak berguna. Aku adalah dewa naga, dia hanya akan mati setelah memakan ku."


Zhang Yu yang mendengar ini sontak menarik kembali tangannya. "Kenapa aku harus mengikuti ucapanmu? Kau berbohong kan?"


"Untuk apa aku berbohong?! Bukan hanya tidak membantunya berevolusi, dia akan mati setelah menelan jiwaku."


Zhang Yu menjadi ragu. Tentu dia tahu dewa naga adalah raja binatang spiritual. Dia memiliki tingkat yang lebih tinggi dari binatang spiritual biasa. Meski Sun juga bukan binatang spiritual biasa, tapi dengan tingkatannya saat ini mungkin dia benar-benar akan mati jika menelan jiwa dewa naga.


"Dari pada membiarkanku dimakan olehnya dan membuatnya terbunuh, bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"


Zhang Yu hanya menaikkan alisnya tanpa bicara. Dewa naga kembali berkata, "Aku akan membantu kera bodoh ini untuk naik tingkat. Setelah dia menjadi lebih kuat, kau harus melepaskan ku."


Zhang Yu tersenyum sinis. "Kenapa aku harus mengikuti keinginan mu?"


Dewa naga menggerutu. Dia sangat marah, tapi tidak ada kekuatan untuk melawan. Juga tidak bisa kabur karena jiwanya telah terikat dengan gelang naga.


"Keterlaluan! Kenapa nasibku, Dewa Naga yang Agung menjadi begitu menyedihkan? Sekarang aku terjebak dengan manusia ini tanpa bisa membantah kalimatnya."

__ADS_1


"


__ADS_2