
Kediaman Klan Xiao.
"Tetua Pertama, tidakkah menurutmu ini terlalu gegabah? Kita memang tidak tahu keadaan Patriark dan Zhang Yu sampai saat ini. Namun, dengan mengadakan pengangkatan Patriark baru bukankah sama dengan mengakui kematian Patriark?" Tetua ketiga, Xiao Zhiqian datang ke tempat Tetua Pertama ketika mendengar upacara pengangkatan akan dilaksanakan.
Tetua Pertama menghela nafas. "Tetua Ketiga, kau sendiri tahu jika ini bukan ideku. Sebagian besar anggota Klan mendesak dan ingin agar Klan menemukan sosok pemimpin. Hal itu karena ada beberapa hal yang bisa dilakukan Patriark tapi tidak bisa dilakukan orang lain."
Sebagai tetua, Xiao Zhiqian jelas mengerti apa yang dibicarakan Tetua Pertama. Tapi masalahnya, keadaan Patriark belum dapat dipastikan. Andai acara ini berlangsung dan sewaktu-waktu Patriark datang, ini sama saja dengan tidak menghormatinya. Keadaan itu bahkan lebih buruk.
"Tetua Pertama! Tetua Ketiga! Ada masalah di aula." Salah seorang anggota klan datang untuk melapor.
Tentu hal ini membuat dua pria yang sedang berbincang itu menghentikan pembicaraan seketika.
"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Zhiqian.
Namun sebelum pria itu menjawabnya, Tetua Pertama sudah melewati pergi ke aula yang membuat Xiao Zhiqian langsung menyusulnya.
Aula Klan.
"Bagaimana kalian bisa mengadakan upacara pengangkatan saat hidup dan mati ayahku belum diketahui?! Apa kalian benar-benar sudah menganggapnya tiada?! Cepat turunkan karangan bunga dan lampionnya!" teriak Xiao Mei.
Pekerja yang ada di aula pun langsung ketakutan melihat amarah Xiao Mei. Puncaknya, ketika Xiao Mei memporak-porandakan karangan bunga dan melempar lampion itu ke lantai. Semua orang di sana benar-benar dibuat diam.
"Tetua Pertama, Tetua Ketiga, ...." Para pekerja langsung berdiri melihat kedatangan Tetua Pertama dan Ketiga.
Xiao Zhiqian menarik nafas agak dalam, kemudian menghampiri Xiao Mei yang masih begitu marah.
"Xiao Mei, tenanglah."
Xiao Mei segera berhenti dan beralih pada Xiao Zhiqian. "Apa kalian benar-benar akan melakukan ini?"
Tidak ada jawaban dari Xiao Zhiqian. Hal itu benar-benar membuat Xiao Mei berdecak. Beruntung pada saat itu Zhang Long baru saja datang. Dia dengan segera mendekat dan berusaha menenangkannya.
Karena tak bisa mengendalikan diri, Xiao Mei pun menangis di pelukan Zhang Long. Kenyataan bahwa sampai sekarang dia tidak tahu keadaan ayah dan putranya membuat kondisinya sangat tidak stabil.
__ADS_1
Xiao Mei tahu permintaan upacara pengangkatan sudah sangat wajar dilakukan ketika kursi kepemimpinan kosong lebih dari empat bulan. Namun, Xiao Mei masih tidak bisa menerima kenyataan ini dalam lubuk hatinya.
"Ibu, Ayah, Tetua Pertama, Tetua Ketiga, ada apa ini? Kenapa sangat ramai?"
Tidak ada yang merespon pertanyaan ini untuk beberapa saat. Namun, beberapa detik kemudian satu persatu membalikkan badan menghadap ke pintu aula.
Alangkah terkejutnya mereka saat melihat Xiao Nie dan Zhang Yu yang berdiri tepat di ambang pintu.
"Ayah! Zhang Yu!" Xiao Mei menjadi orang pertama yang berlari ke arah mereka dan memeluk mereka dengan erat.
Dia mengendusnya, dia membolak-balikan mereka agar bisa memastikan dua sosok ini adalah orang yang dia tunggu empat bulan ini.
"Ibu, maaf membuatmu khawatir," ucap Zhang Yu.
Xiao Mei mengusap air matanya. "Aku tahu kalian baik-baik saja. Aku tahu kalian akan kembali!" ucapnya penuh dengan perasaan haru.
"Tetua Pertama, Tetua Ketiga, ada apa ini?" tanya Xiao Nie.
Dua pria tua itu sedikit bingung bagaimana cara mengatakannya. Tapi pada akhirnya Xiao Zhiqian maju untuk menjelaskannya.
"Terima kasih atas pengertian Patriark. Kami akan segera membersihkan aula agar kembali seperti semula," kata Xiao Zhiqian.
"Itu tidak perlu. Bahkan mungkin kalian harus memperbaikinya kembali dan membuatnya sebagus mungkin."
Apa?
Tentu ucapan Xiao Nie membuat semua yang ada di aula terdiam. Mereka mulai berpikir macam-macam, termasuk jika Xiao Nie telah tersinggung dengan apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu, sekarang Xiao Nie tidak mau lagi duduk di kursi patriark.
Seolah mengetahui apa yang ada di kepala mereka, Xiao Nie segera berkata, "Bukankah akan ada anggota baru yang akan lahir? Juga ada seseorang yang ingin aku perkenalkan."
Butuh beberapa waktu untuk mencerna kalimat tersebut. Xiao Zhi Qian tertawa, kemudian dengan cepat menganggukkan kepala. "Baiklah. Sesuai keinginan Patriark."
Xiao Mei menarik tangan Zhang Yu dan meninggalkan aula. "Apa kau sudah tahu jika istrimu hamil?" tanya Xiao Mei.
__ADS_1
Zhang Yu langsung teringat ucapan bibinya saat di Kota Qian Gu. "Selamat, akhirnya kau menjadi ayah. Padahal Bibi akan datang saat istrimu melahirkan, tapi kau malah datang terlebih dahulu."
Kalimat itu terdengar seperti ledakan yang sangat kencang berdengung di telinganya. Masih di hari yang sama dia pun meninggalkan Kota Qian Gu dan melakukan perjalanan sepuluh hari tanpa beristirahat sekalipun.
"Ibu, di mana Yin'er?" tanya Zhang Yu.
"Dia di kediaman. Dia mungkin sedang di halaman, duduk sambil menatap langit seperti yang sudah dia lakukan setiap malam."
"Semua itu karenamu. Dia mengkhawatirkanmu," tambah Xiao Mei yang membuat Zhang Yu merasa bersalah dalam lubuk hatinya.
"Aku akan pergi mencarinya," ucapnya kemudian melesat dengan cepat.
Tak butuh waktu lama bagi Zhang Yu untuk sampai di kediaman. Dia memasuki gapura, tetapi tidak melihat siapapun di halaman depan. Dia pun pergi ke halaman belakangan dan menemukan sosok yang dicarinya.
"Zhang Yu,"
Tiada hari tanpa Xuan Yin menggumamkan nama suaminya. Terlebih saat malam dan sendirian. Dia berbicara pada bintang seolah dapat dijadikan sebagai pengantar pesan.
"Apa kau mendengarku dari sana? Entah sekarang kau ada di mana, tapi cepatlah kembali karena anak kita akan segera lahir."
Xuan Yin memegang perutnya dan kembali bergumam. Pada saat itu dia seperti merasakan kehadiran Zhang Yu berada di sekitarnya. Xuan Yin memejamkan mata dan berharap perasaan ini akan bertahan lebih lama.
Zhang Yu mendengar apa yang digumamkan oleh istrinya. Dia berhenti beberapa langkah sambil menenangkan hatinya sebelum melangkah mendekat dan memeluknya dari belakang.
"..."
Tidak ada kata maupun suara. Xuan Yin terkejut dan hampir membanting sosok yang tiba-tiba memeluknya. Namun ketika merasakan pelukannya dan aroma tubuhnya, dia kembali menurunkan tangannya dengan air mata membasahi wajahnya.
"Kau kembali?" tanyanya sedikit serak. Xuan Yin bahkan tak bisa menahan diri untuk tidak menangis karena bahagia.
Zhang Yu mengeratkan pelukannya dan menciuminya dari belakang.
"Maaf karena membuatmu khawatir."
__ADS_1
Xuan Yin menggelengkan kepala tapi tidak bisa mengatakan apapun. Mereka hanya diam dan berpelukan seperti itu.