
Dua hari berlalu sejak kedatangannya di akademi, tetapi Han Rui masih diliputi ketakutan ketika mengingat bagaimana keluarga He hancur di tangan Istana Roh.
Dia selalu kepikiran andai suatu saat kelompok itu akan datang dan mencarinya atau mencari putrinya untuk mengambil gulungan teknik pengendali jiwa.
Tak jarang dia bersikap histeris ketakutan saat dirinya sendirian di ruangan. Oleh karena itu He Jiao selalu menemani ibunya dan tak meninggal kediaman jika tidak ada urusan.
Namun pagi ini He Jiao harus membeli makanan untuk mereka. Jadi dengan berhati-hati dia memberitahu ibunya sebelum pergi meninggalkannya. Bahkan setelah melakukan hal itu pun Han Rui seolah tidak mau ditinggal. He Jiao pun berkata padanya akan kembali secepat mungkin.
Tok tok tok...
Han Rui berpikir yang datang adalah He Jiao. Dia segera membukakan pintu dan menyambutnya dengan semangat. Akan tetapi yang datang bukan He Jiao, melainkan seorang wanita setengah baya.
"..."
Tanpa bicara Han Rui berniat menutup pintu. Tapi sebelum pintu itu tertutup tangan wanita paruh baya itu menahannya. "Tunggu, aku ingin bicara denganmu."
Han Rui tak mau. Dia berteriak histeris sambil mendorong pintu berusaha menutupnya.
Melihat ini semakin berisik, wanita paruh baya itu berdecak sambil menahan amarahnya. Dia berusaha membujuk Han Rui dengan kalimat-kalimat yang membuatnya percaya. "Kau sekarang takut kehilangan putrimu kan?"
Han Rui mengendurkan dorongannya.
Wanita paruh baya itu tersenyum laku lanjut berbicara. "Aku tahu. Aku tahu bagaimana perasaanmu."
"Dulu aku juga mengalami hal yang sama. Suamiku, adikku, anak-anakku, semua terbunuh oleh orang-orang jahat. Jika kau percaya padaku, aku dapat membantumu."
Han Rui mundur selangkah, dia membuka pintu lebih lebar seolah menyambut kedatangan.
"Apa kau sungguh dapat membantuku?"
"Tentu saja. Jika kau percaya padaku, aku akan berusaha sekuat tenaga membantumu lepas dari situasi tidak mengenakan ini."
Tanpa banyak berpikir Han Rui menyetujuinya. "Aku percaya padamu. Bagaimana caramu akan membantuku?"
"Itu mudah," kata wanita paruh baya.
"Kau hanya perlu menyerahkan apa yang mereka inginkan. Bukankah dengan begitu mereka tidak akan mengingatmu dan putrimu? Kalian dapat hidup dengan tenang setelah itu."
"I-ini ...." Han Rui sejenak ragu. Wanita paruh baya yang melihat Han Rui kembali ragu segera meyakinkannya.
"Setelah menyerahkan apa yang mereka inginkan. Hidupmu akan lebih baik dan tenang tanpa ancaman. Bukankah ini yang kau inginkan?" tanya wanita itu.
Han Rui segera menganggukkan kepala karena itu memang benar adanya. "Tapi bagaimana aku harus memberikannya pada mereka? Jika aku muncul di depan mereka, sudah pasti mereka langsung membunuhku."
Wanita paruh baya sangat senang karena rencananya berjalan lancar.
"Itu mudah. Kau bisa menyerahkannya padaku. Aku akan membantumu memberikannya pada mereka."
Han Rui mengambil cincin penyimpanan yang ada di bawah tempat tidur lalu berjalan kembali ke tempatnya. "Apa kau sungguh akan membantuku menyerahkannya? Mereka sangat kejam. Nyawamu akan terancam jika bertemu dengan mereka."
__ADS_1
"Tenang saja. Aku rela melakukannya demi dapat membantumu."
Dengan mudah wanita itu membawa pergi cincin berisi teknik pengendali jiwa setelah memanfaatkan kondisi Han Rui yang tidak berdaya.
Tak lama kemudian He Jiao kembali. Ketika dia melihat ibunya berada di ambang pintu seperti akan keluar, dia berlari menghampirinya.
"Ibu, apa yang kau lakukan di sini? Ayo makan, aku sudah membelikanmu makanan lezat."
Han Rui memakan makanan yang disiapkan He Jiao. Pada saat itu He Jiao meninggalkannya untuk mengambil beberapa barang. Tapi perhatiannya tertuju pada tempat tidur yang berantakan.
Rasa penasaran membuatnya memeriksa cincin penyimpanan peninggalan ayahnya. Ketika dia kesulitan untuk menemukannya, He Jiao berjalan kembali ke tempat ibunya. "Ibu, apa kau mengambil cincinnya lagi?"
Sudah dua kali He Jiao mendapati ibunya mengambil cincin penyimpanan itu. Entah hanya memegangnya ataupun menatapnya dengan lekat. He Jiao berpikir ibunya akan senang ketika melihat cincin itu jadi sengaja menari hanya di tempat yang sama. Dia tidak akan tahu apa yang ada dalam pikiran ibunya saat melihat cincin itu.
Han Rui ketakutan. Han Rui ingin membuang cincin itu sejauh mungkin.
"Ibu, di mana cincinnya?" tanya He Jiao.
Tapi dengan santainya Han Rui memberitahu He Jiao jika dirinya sudah memberikan cincin itu pada orang lain.
"Ibu sudah memberikan cincin itu pada mereka."
Seketika kepala He Jiao mendadak kosong mendengar ucapan ibunya.
"Apa?" Dia menarik kursi duduk lalu duduk di samping ibunya.
"Bukankah mereka mengincar kita karena cincin itu? Sekarang mereka sudah mendapatkannya. Jadi kita bisa hidup tenang."
Pada saat ini He Jiao seperti akan lepas kendali. Tapi dia masih berusaha menahannya. "Ibu, apa kau bersungguh-sungguh? Pada siapa kau memberikan cincin itu?"
"Dia wanita baik yang membantu kita. Dia akan membantu kita menyerahkan cincin itu pada mereka. Jadi hidup kita akan tenang."
He Jiao tidak bisa percaya ini. Diasegeta berkati keluar berusaha menemukan sosok wanita yang dikatakan ibunya.
Jangan sampai cincin itu hilang. Apalagi sampai ke tangan Istana Roh. He Jiao masih mengingat peringatan Zhang Yu untuk menjaga cincin itu baik-baik. Tapi sekarang dia malah menghilangkannya.
"Tidak. Aku harus segera mencari Zhang Yu!"
He Jiao berlari keluar. Pada saat itu dia bertemu dengan Wu Zetian.
"He Jiao, kau sudah kembali? Sejak kapan?" tanya Wu Zetian. Dia satu minggu ini berada di menara kultivasi. Jadi dia baru tahu He Jiao sudah kembali setelah pergi ke Kota Heishan. Dia bahkan tidak tahu Zhang Yu juga telah kembali. Dia benar-benar hanya fokus kultivasi setelah resmi menjadi murid dalam. Jika diperhatikan, Wu Zetian juga terlihat lebih kurusan.
Sayangnya He Jiao tidak menghiraukan kehadiran Wu Zetian. Dia berlari menuju kediaman Zhang Yu yang cukup jauh dari tempatnya.
"Siapa sebenarnya yang kau tuju?" tanya Wu Zetian mengekor.
"Zhang Yu, aku mencari Zhang Yu."
Mendengar jawaban He Jiao, Wu Zetian sempat berpikir beberapa saat sebelum otaknya merespon dan terkejut.
__ADS_1
"Apa? Zhang Yu sudah kembali? Sejak kapan?" Wu Zetian menjadi sangat cerewet.
He Jiao tidak mempedulikannya dan hanya fokus dengan langkah kakinya. Baru ketika sampai di kediaman Zhang Yu, dia berhenti dan mulai mengetuk pintu.
Namun bukannya Zhang Yu yang keluar, malah Wang Lou dengan pakaian basah dan bau keringat.
"Apa kalian mencari kakak seperguruan? Sayang sekali dia sudah pergi sejak pagi-pagi buta."
Kening He Jiao dan Wu Zetian mengerut mendengar Wang Lou menyebut kakak seperguruan. Mereka tentu tahu Wang Lou adalah murid kepala akademi.
Tetapi kenapa murid kepala akademi memanggil Zhang Yu sebagai kakak seperguruan? Tidak mungkin kan Zhang Yu juga murid kepala akademi?
Ketika mereka bertanya-tanya dalam benak masing-masing. Wang Chen datang yang sebenarnya ingin bertemu Zhang Yu.
"Kenapa di sini sangat ramai?" Kalimat Wang Chen membuat tiga orang ini memandang ke arahnya.
Wang Lou segera memberi salam. "Guru, apa kau juga mencari kakak seperguruan? Sayangnya dia sudah pergi sejak pagi dan memintaku menjadi kediamannya."
"Dia sudah pergi?" Wang Chen menghela nafas.
He Jiao dan Wu Zetian saling menatap. Ternyata benar. Zhang Yu adalah murid kepala akademi. Apa ini baru terjadi? Atau sudah berlangsung lama dan mereka tidak mengetahuinya?
"Kepala Akademi, kami permisi terlebih dahulu."
"Tunggu, bukankah kalian datang mencari Zhang Yu? Ada apa?"
Wu Zetian menatap He Jiao. He Jiao ragu-ragu ingin menyampaikannya atau tidak.
"Apa terjadi masalah dengan gulungan tekniknya?" tanya Wang Chen membuat He Jiao terbelalak.
Dia tak berpikir kepala akademi akan mengetahui tentang hal ini. Apa mungkin Zhang Yu yang memberitahunya? Sepertinya memang Zhang Yu.
Wu Zetian dan Wang Lou yang tidak tahu pembicaraan ini hanya menatap dengan bingung.
"Guru, ...."
"Wang Lou, tetap di luar, aku ingin bicara empat mata." Wang Chen melirik ke arah He Jiao, lalu memberinya tanda untuk masuk terlebih dahulu.
Di dalam pun He Jiao menceritakan semua yang terjadi. Tidak menyembunyikan kebenaran tentang kondisi ibunya yang memprihatinkan.
"..."
Wang Chen hampir tidak bisa menahan diri ketika mendengar cerita He Jiao. Dia mengetuk pegangan kursi dengan telunjuknya dan berpikir dengan serius.
"Wanita setengah baya? Ada terlalu banyak wanita setengah baya di akademi. Mulai dari tetua sampai pengurus, sepertinya sangat sulit mengidentifikasi wanita itu."
He Jiao menggigit ujung bibirnya. "Jadi apa yang harus dilakukan, Kepala Akademi?"
Wang Chen berdiri dari tempat duduknya. "Tidak ada pilihan lain. Aku pergi menutup setiap akses keluar dari akademi sebelum penyusup itu melarikan diri."
__ADS_1