
"Kenapa kau begitu lama? Jika tidak punya keyakinan untuk lolos tahap pertama lebih baik tidak perlu ikut ujian," kata murid dalam yang berdiri di atas arena menyindir Wu Zetian setelah naik ke atas arena.
Wu Zetian mencebik. Diam-diam mengatainya dalam hati. "Jika bukan untuk mengulur waktu aku juga akan langsung menghadapimu. Dasar bodoh!"
"Murid Wu Zetian, apa kau sudah siap?" tanya tetua pengawas.
"Tunggu sebentar Tetua," Wu Zetian mengangkat telunjuknya dan mengeluarkan roti isi daging dari cincin penyimpanan.
Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Wu Zetian. Tapi pria bertubuh gemuk itu malah memakan roti isi daging dengan santai.
"Aku tidak bisa bertarung jika perut masih kosong. Tolong beri aku waktu untuk makan," katanya sembari kenalan potongan terakhir roti isi daging.
Murid dalam yang menjadi penguji sudah memegang pedang. Dia sontak menyipitkan mata dengan sikap Wu Zetian. Tetua yang ada di sana juga tercengang. Murid yang menyaksikan dari bawah pun tak bisa menahan diri untuk mencela.
"Ini bukan perlombaan makan. Dia mengabaikan lawannya dan malah makan dengan santai. Keterlaluan!"
"Aku baru pertama kali melihat hal semacam ini! Tidak tahu malu!"
Setelah semua usaha telah dilakukan. Wu Zetian tak bisa lagi memikirkan cara untuk mengulur waktu. Dia pun memulai pertarungannya. Dia mencoba bertahan selama mungkin meski sebenarnya dapat mengalahkan murid dalam yang menjadi partner bertarungnya.
Ini semata-mata untuk mengulur waktu. Tapi setelah batas waktu sepuluh menit berlalu, pertarungan ini berakhir. Wu Zetian masih berdiri di atas arena membuat tetua pengurus mengerutkan kening dengan tingkahnya.
"Murid Wu Zetian, kau lolos ke tahap kedua. Kau bisa turun sekarang."
Wu Zetian mengambil nafas panjang lalu memberanikan diri untuk bicara. "Maaf Tetua. Tapi bisakah kau memberi waktu untuk tahap pertama ini?"
Sepuluh tetua yang mengurus ujian ini seketika tertegun. Mereka melihat empat arena lainnya yang kosong dan sudah seharusnya tahap pertama berakhir
"Apa ada yang belum datang?"
"Ada. Ada satu orang yang belum datang."
Mendengar hal ini sepuluh tetua saling melirik. Mereka menggelengkan kepala dengan tak berdaya. "Karena dia tidak datang tepat waktu maka dia harus ikut ujian dua tahun lagi. Ujian murid dalam memiliki peraturan. Tidak seorang pun berhak membuat aturan sendiri."
"Tapi Tetua. Tolong beri waktu lagi. Dua puluh menit, tidak, sepuluh menit saja. Jika dia tidak datang sampai saat itu, tetua bisa melanjutkan ujian ini."
Sepuluh tetua kembali berunding. Kemudian mereka menganggukkan kepala. "Baiklah. Tapi dengan syarat kau harus tersingkir jika dia tidak datang. Itu adalah resiko yang harus kau tanggung karena membuat ujian tertunda. Bagaimana?"
Wu Zetian meneguk ludah secara kasar. Harus tersingkir? Jika begitu dia harus mengulang dua tahun kemudian. Itu ....
"Baiklah. Tetua dapat melakukannya!"
Sepuluh Tetua mengangguk dan kembali duduk sembari memutar waktu.
Di tempat penonton, tujuh orang berdiri sejajar sambil melipat tangan di depan. Mereka kompak melihat ke atas arena.
__ADS_1
"Di mana Zhang Yu? Padahal aku menunggu dia datang dan menunjukkan kemampuannya. Tapi sampai babak pertama akan berakhir dia belum menunjukkan batang hidungnya. Jika sampai babak pertama berakhir dia tidak akan punya kesempatan tahun ini." Xuan Wu berdiri di antara kerumunan sambil melihat ke tempat peserta ujian murid dalam.
"Mungkin dia masih di menara kultivasi. Dia sudah di sana sejak satu tahun lebih. Entah apa yang dia lakukan," kata Xuan Si menimpali.
"Saudara Ketujuh, kau memiliki ikatan yang paling dekat dengannya. Menurutmu dia akan datang atau tidak?" tanya Xuan Wu.
Xuan Yin tersedak setelah mendengar hal ini.
Xuan Wu dan Xuan Si saling memandang dan mengedikkan bahu secara bersamaan. "Bagaimanapun kalian saudara seperguruan. Jadi bukan aneh jika saling mengerti satu sama lain."
Xuan Yin merenung. Sejujurnya dia sejak tadi juga mencari keberadaan Zhang Yu. Dia penasaran apakah Zhang Yu akan datang atau tidak dalam ujian murid dalam tahun ini.
Meski dengan kekuatannya dia sudah pasti lolos, Xuan Yin ingin melihatnya secara langsung sebelum ia tidak lagi memiliki kesempatan.
Sepuluh menit berlalu. Para tetua mulai melihat jam pasir di atas meja. Wajah Wu Zetian pucat dan cemas.
"Zhang Yu, kau keterlaluan sekali! Aku akan memberimu pelajaran jika kau tidak datang."
"Murid Wu Zetian ...."
"Maaf Tetua, aku terlambat."
Zhang Yu mendarat di atas arena. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat semua orang di sana terdiam. Sepuluh tetua menyipitkan mata dan secara bertahap menelisiknya.
Wu Zetian menggigit ujung bibirnya dan ingin naik untuk memukul kepalanya. Tapi dia tetap tersenyum dengan senang melihat kedatangannya. "Andai kau datang terlambat, aku benar-benar akan memukulmu hingga babak belur!"
"Dia hampir terlambat."
"Akhirnya dia datang juga!"
Xuan Yin tersenyum diam-diam. Mereka sudah tidak bertemu dua puluh bulan. Sekarang, melihatnya berdiri di atas arena arah telah menebus semua waktu yang telah terlewati.
"Maaf Tetua, Nama murid ini Zhang Yu, angkatan 175."
Sepuluh tetua berdehem. Mereka tak mengira yang akan datang ternyata Zhang Yu. Nama Zhang Yu sudah cukup terkenal di kalangan akademi. Mulai dari berita tentangnya mencapai lantai kelima tangga naga, serta menangkap buronan kelas A, juga mencapai lantai ketujuh dalam pagoda naga.
"Tetua! Dia terlambat datang. Harusnya dia tak berhak ikut dalam ujian." Suara ini datang dari kelompok murid dalam. Suaranya yang cukup keras tak ayal membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Ji Gou?! Sejak kapan dia kembali? Bukankah dia berpetualang di luar?!" Suara suara bersahutan ketika melihat kedatangan seorang pria bertubuh kekar dengan kulit agak kehitaman. Wajahnya sangat, rambutnya coklat seperti landak.
"Saudara Pertama, rivalmu datang," bisik Xuan Wu sambil menahan tawa.
Xuan Yang menyipitkan mata. "Sudah tiga tahun dia meninggalkan akademi. Tidak kusangka kemampuannya meningkat cukup pesat."
"Dengan sifatnya yang seperti itu, aku yakin Ji Gou akan mencari masalah. Saudara Pertama, apa kau tidak ingin turun tangan?" tanya Xuan San, pangeran ketiga.
__ADS_1
"Tidak perlu. Dengan keberadaan Tetua di sini dia tidak akan berbuat onar. Tapi mungkin dia tidak melepaskan Zhang Yu dengan mudah," ucap Xuan Yang.
Zhang Yu memperhatikan murid yang mengenakan pakaian murid dalam ini. Terus menatapnya sampai dia naik ke atas arena lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Tetua, bolehkah aku yang menjadi lawannya?"
Sepuluh tetua tidak bisa langsung memutuskan. "Ji Gou, kau sudah berada di tingkat grand master bintang satu. Bagaimana kau akan menjadi penguji? Itu sangat tidak adil."
Ji Gou membalas. "Tidak adil lagi jika seorang yang terlambat tapi masih bisa mengikuti ujian murid dalam. Tentu saja, jika dia memiliki kemampuan, dia harus menghadapi ku."
Tidak ada yang tidak terkejut dengan kalimat Ji Gou. Siapa yang tidak tahu Ji Gou adalah sepuluh besar murid dalam. Salah satu murid terbaik menjadi penguji dalam ujian murid dalam. Ini sedikit keterlaluan.
Namun sebagian besar murid yang berkumpul di arena pelataran dalam menantikannya.
"Zhang Yu, bukan? Murid baru yang mencapai lantai kelima tangga naga? Apa kau tidak keberatan aku menjadi pengujimu dalam ujian tahap pertama ini?"
"Jika kau tak berani, ...."
"Baik! Aku terima kau menjadi pengujiku."
Jawaban Zhang Yu disambut sorakan antusias dari semua orang.
Ji Gou menarik sedikit sudut bibirnya lalu tertawa. "Hahahaha ... Kau lebih berani dari yang aku pikirkan. Kau cukup pantas dengan berita yang tersebar. Karena jika kau bahkan tak memiliki keberanian, lebih baik turun dan ikut ujian dua tahun kemudian."
"Aku tak akan menindas murid luar. Jika kau sanggup bertahan lima menit, kau bisa lolos ke tahap kedua." Ji Gou mengangkat tangannya, kemudian bertanya pada tetua tentang peraturan yang baru dikemukakannya. Tapi sebelum tetua sempat memberi jawaban, Zhang Yu dengan segera mengatakan pendapatnya.
"Aku rasa itu tidak perlu. Karena peraturan awal adalah sepuluh menit, maka kita akan menggunakan format yang sama."
Lagi lagi jawaban Zhang Yu mengejutkan semua orang. Terkhusus Ji Gou.
"Kau bicara tentang keadilan, bukan? Jadi mati lakukan tanpa mengubah peraturannya."
"Siapa yang tahu aku bisa mengalahkanmu."
Dhang!
Semua orang tercengang. Menggosok telinga berpikir telah mendengar suatu yang salah.
"Mengalahkan Ji Gou? Zhang Yu terlalu percaya diri!"
Tidak satupun menganggap ucapan Zhang Yu sebagai bentuk keseriusan. Mereka mengira Zhang Yu hanya bercanda. Namun, Ji Gou memiliki pandangan yang berbeda.
Melihat tatapannya yang tak ragu, Ji Gou merasa Zhang Yu bukan hanya bicara. Seolah dia benar-benar memiliki kemampuan untuk mengalahkannya.
Hahahahahaha...
__ADS_1
Setelah diam cukup lama Ji Gou tertawa cukup lantang. "Aku akan mengikuti keinginanmu. Kau akan lolos ke tahap kedua jika mengalahkanku atau setidaknya bertahan sepuluh menit."
"Tetua, apa pertarungan ini bisa dimulai?" tanya Ji Gou setelah mengeluarkan pedang dan mengalirkan Qi miliknya.