Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 278 : Misi Menyelamatkan Tawanan


__ADS_3

"Kurang ajar! Kalian benar-benar mencari mati!"


Ternyata serangan Zhang Yu tidak membunuh pria itu. Setelah terhempas dia bangkit sambil mengusap darah di sudut bibirnya, matanya pun hanya tertuju pada Zhang Yu seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Terima ini!" lontarnya sembari mengeluarkan gelombang energi dari ayunan pedangnya.


Zhang Yu mendengus pelan. Sedetik kemudian dia melambaikan tangan yang membuat gelombang energi milik pria itu hancur seketika.


Tidak sampai di sana, Zhang Yu kembali mengayunkan tangannya sehingga bola kekuatan memantul dari telapak tangannya mengincar pria itu.


Blam!


Pria itu bahkan tak sempat menghilangkan keterkejutannya setelah melihat serangan miliknya dipatahkan dengan begitu mudah. Begitu sadar, dia hanya bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Nyawanya pun melayang.


"Pangeran, aku tidak menyangka akan dapat bertemu kembali denganmu." Gui berkata dengan senang. Dia seolah lupa dengan apa yang dialaminya beberapa saat yang lalu dan seluruh perhatian tertuju pada Shin.


"Pangeran, kita harus membebaskan anggota suku yang lain." Yi berusaha mengingatkan.


Segera setelah itu Shin meminta puluhan anggota Suku Niao untuk memeriksa setiap ruangan di atas kapal.


Tidak perlu khawatir dengan orang-orang menara iblis. Sebelumnya mereka sudah memastikan jika tidak ada satu pun orang di ketiga kapal yang terparkir.


Namun tentu saja mereka tak bisa melupakan ancaman yang mungkin datang. Oleh karena itu sebagian orang tetap berada di depan untuk memastikan tidak ada orang menara iblis yang datang.


...


Di tempat lain. Kelompok menara iblis sedang berjaga di sekitar tambang batu kristal api sambil mengawasi orang-orang Suku Niao yang dijadikan budak pekerja.


Di salah satu gubuk, terlihat seorang pria yang cukup mencolok keberadaannya karena hanya dia yang bersantai sementara yang lain serius dalam tugas masing-masing.


Dia adalah Phan Gu. Salah satu anggota menara iblis yang cukup dekat dengan pemimpin regu An Xing.

__ADS_1


Karena An Xing harus kembali ke pulau naga untuk melapor, semua tanggung jawab sekarang berpindah ke pundaknya.


"Di mana mereka bertiga?" tanya Phan Gu sambil menarik kepalanya sedikit terangkat dari pembaringan.


Seorang pria berkata, "Sampai sekarang belum terlihat. Mungkin ada sedikit masalah yang membuat mereka kembali lebih lama."


Cih!


Phan Gu mendengus mendengar ucapan pria itu. Dia mengubah posisinya menjadi duduk. "Aku yakin mereka sengaja mengulur-ulur waktu agar dapat bersantai di kapal. Aku sangat tahu apa yang ada dalam kepala mereka."


Beberapa anggota menara iblis mencebik sinis. Dalam hati mereka seolah berkata, "Bukankah kau sendiri yang bersantai? Semua orang di sini memiliki tugas masing-masing."


Namun sayang kalimat itu hanya berakhir dalam hati mereka. Tidak ada yang berani berkomentar atau menunjukkan ketidaksukaan terhadap Phan Gu karena tahu siapa yang ada di belakangnya. An Xing, meski bukan yang tertinggi, tapi cukup memiliki kedudukan.


"Phan Gu, bagaimana jika aku pergi melihat mereka? Aku akan menegur mereka jika benar-benar bersantai di sana," kata seorang pria yang berdiri di sebelah tempat pembaringan.


Hem...


Phan Gu terlihat mengelus dagunya. Dia lalu menunjuk pria lain yang jelas bukan pria yang berdiri di sebelahnya. "Kau sangat dibutuhkan di sini. Jika kau pergi, siapa yang akan memutar kipas untukku?"


Pria berambut keriting yang berdiri di luar gubuk segera mendekat. "A-aku?" tanyanya ragu.


"Tentu saja kau, bodoh! Siapa lagi jika bukan kau? Cepat pergi!" Phan Gu berdecak kesal lalu kembali berbaring. Pria berambut keriting itu pergi, sementara pria yang memegang kipas hanya bisa ******* pegangan kipas itu dengan wajah tak puas.


"Padahal belum terlalu lama mereka pergi. Bukankah kau yang paling bertanggung jawab itu hanya ingin terlihat berguna?" Pria berambut keriting mendengus. Melihat bagaimana dirinya dipermalukan di depan banyak orang benar-benar membuatnya sangat marah. Dia menyepak batu yang ada di depan secara sembarangan untuk melampiaskan kemarahan.


Tak!


"..."


Langkah kaki pria berambut keriting terhenti. Entah ini hanya perasaannya atau tidak, tapi dia mendengar suara kepakan sayap dari balik tebing yang ada di sebelah kanannya.

__ADS_1


"Tidak mungkinkan aku salah dengar? Aku harus pergi memeriksanya." Pria berambut keriting memutar arah untuk pergi ke balik tebing. Ketika dia mulai mengintip dari kejauhan, dia menemukan beberapa burung yang sedang diam di tempatnya.


"Kupikir ada penyusup yang masuk pulau ini. Ternyata hanya burung." Setelah berkata, pria berambut keriting berniat pergi dari sana.


Namun saat kaki kanannya baru saja terangkat, dia mengingat sesuatu yang membuatnya kembali berbalik.


"Tunggu! ... Bukankah kami sudah menangkap semua burung raja milik Suku Niao? Lantas bagaimana bisa burung-burung ini ada di sini?" Pria berambut keriting menautkan kedua alisnya. Tak lama kemudian, matanya membulat saat menyadari sesuatu.


"Aku harus kembali!" ucapnya.


Sayang sekali, meski dia cukup pintar untuk menyadari jebakan itu, dia tidak bisa lari dari kejaran Shin dan juga Yi yang bergerak bersama sambil mengayunkan pedang.


Sreg!


Pinggang kiri dan kanan robek cukup lebar. Pria berambut keriting pun langsung jatuh, bersimpuh di tanah.


"Aku tahu itu! Sudah tidak ada lagi burung raja di pulau ini. Jika burung raja muncul, itu berarti orang-orang Suku Niao yang kabur telah kembali." Pria berambut keriting mengeluarkan benda kecil seperti seruling. Dia hendak meniupnya untuk memberi pesan pada kelompoknya.


Krak!


Satu injakan kaki dan seruling kecil itu hancur. Wajahnya pria berambut keriting pucat, dia pun perlahan mengangkat wajahnya dan melihat sosok sang pemilik kaki tersebut.


"Si-siapa kau?" tanyanya. Pria berambut keriting yakin jika tidak ada anggota Suku Niao yang memiliki karakteristik fisik seperti manusia pada umumnya. Sosok yang berdiri di depannya ini jelas bukan anggota Suku Niao. Dia orang luar. Tapi siapa?


Pria berambut keriting melihat seruling kecilnya yang hancur. Dia menemukan bagian yang dapat mengeluarkan suara masih dapat digunakan. Jadi dia segera mengambilnya lalu meniupnya sekuat tenaga.


Syut...


Sling!


Kepalanya terjatuh sebelum menyelesaikan tiupan pertama. Zhang Yu tak memberinya kesempatan, atau lebih tepatnya tak ingin mengekspos keberadaan mereka terlalu awal.

__ADS_1


Yang harus dipikirkan sekarang adalah orang-orang Suku Niao yang masih menjadi tawanan. Apapun caranya, harus membebaskan mereka terlebih dahulu agar dapat lebih bebas dalam bertarung.


l


__ADS_2