Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 49 : Peringkat Dua Ratus Teratas


__ADS_3

Setelah mencapai panggung kedua, Zhang Yu langsung melanjutkan langkahnya menaiki tiga puluh anak tangga dan sampai di panggung ketiga.


Meski begitu hingga saat ini dia belum merasakan tekanan yang terlalu menyulitkannya. Zhang Yu sejenak beristirahat sambil memperhatikan murid-murid yang baru kembali dari panggung keempat.


Sebagian dari mereka tampak lelah dan letih dengan kondisi tubuh lemah. Hal ini menciptakan rasa penasaran tentang berapa besar tekanan di anak tangga menuju panggung keempat.


"Harusnya itu tiga kali lipat," gumam Zhang Yu.


Di tangga penghubung panggung ketiga kenaikan tekanan pada setiap anak tangga mencapai dua setengah kali lipat. Jadi sangat masuk akal kenaikan tekanan di tangga penghubung menuju panggung keempat memiliki kenaikan tiga kali lipat.


Zhang Yu tak mau membuang lebih banyak waktu. Dia berjalan menuju anak tangga ke sembilan puluh satu dan mulai mengangkat kakinya.


Tepat pada saat ini dua murid luar yang beberapa waktu lalu mengejek Zhang Yu, terkejut ketika melihat Zhang Yu ada di samping mereka.


Mata berkedut dan alis sedikit menyatu.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya mereka dengan rasa tidak percaya.


Zhang Yu menoleh ke samping. "Apa kalian sungguh tidak tahu? Aku sampai di sini dengan menaiki anak tangga."


"..."


Raut wajah dua senior itu terlihat kusut mendengar jawaban Zhang Yu. Siapa yang tidak tahu untuk sampai mereka harus menaiki anak tangga. Tapi ....


Tapi bukan jawaban seperti itu yang mereka harapkan.


Sebelum sempat bicara lagi, Zhang Yu sudah melangkah naik ke anak tangga sembilan puluh dua.


Dua senior yang tidak ingin ketinggalan langsung menyusul. "Hei! Kau anak baru jangan mencoba suatu di luar jangkauan. Sebaiknya kau kembali karena semakin ke atas kau akan merasakan tekanan berkali-kali lipat."


Namun Zhang Yu sudah berjalan lebih dari sepuluh anak tangga. Dua senior ketinggalan di bawah.


"Keterlaluan! Bagaimana bisa dia naik begitu cepat?! Kita satu anak tangga dan dia sudah dua bahkan tiga anak tangga."


Bukan hanya dua senior yang terkejut. Belasan murid yang baru dilewati olehnya pun tak bisa menahan mata terbelalak oleh aksinya.


"Dia tidak mengenakan jubah. Itu berarti dia masih murid pelataran luar. Tapi kecepatannya dalam menanjak seperti murid pelataran dalam," kata seorang murid di bawah.


Dua senior yang mendengar ucapan ini seketika saling memandang. Sedetik kemudian menggelengkan kepala. "Tidak. Itu pasti karena trik. Tidak mungkin dia berada di tingkat master."


Yang bisa menanjak santai seperti itu di anak tangga keempat hanya tingkat master ke atas. Tapi bagaimana mungkin seorang murid baru berada di tingkat master? Dan umurnya juga masih muda. Dia pasti menggunakan semacam trik rahasia.

__ADS_1


Sementara orang-orang ini heboh membicarakan dirinya, Zhang Yu malah bersikap tenang seolah memakai kacamata kuda. Dia hanya fokus dengan langkahnya yang bertahap meninggalkan dua senior jauh di bawah.


Anak tangga ke seratus sepuluh ... Anak tangga seratus lima belas. Pada saat ini Zhang Yu merasakan tekanan yang berbeda dari sebelumnya.


"Ini bukan lagi meningkat tiga kali lipat, tapi lima kali lipat!" Zhang Yu mengeratkan rahangnya lalu perlahan mengerahkan kekuatannya. Ini adalah pertama kalinya Zhang Yu merasakan apa itu "tekanan".


Namun meski begitu, dia berhasil mencapai panggung keempat setelah berusaha lebih gigih.


Namanya kini masuk dalam daftar peringkat dua ratus teratas. Perubahan papan peringkat seperti sebuah notifikasi pada pilar batu yang ada di bawah.


Zhang Yu. Satu nama yang membuat Tetua Roxie--penjaga panggung naga--dan puluhan murid di sekitarnya tertegun.


Terlebih keterangan "Murid pelataran luar angkatan 175" di samping namanya, semakin membuat orang terheran-heran.


Meng Hua kebetulan melintas di sekitar panggung naga. Melihat kehebohan yang ada di sana, dia tergerak untuk mendekat.


"Tetua Roxie, apa yang terjadi di sini?"


Tetua Roxie menoleh sekilas kepada Meng Hua, dia melambaikan tangan ke arahnya dan menunjuk pilar peringkat. "Lihat! Murid baru bernama Zhang Yu telah mencapai panggung keempat. Ini adalah suatu yang sangat jarang dan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya."


Zhang Yu?


Ketika memastikan itu benar-benar Zhang Yu, dia tak bisa menahan diri untuk menggelengkan kepala.


"Aku baru memberinya informasi tentang panggung naga pagi tadi. Tapi siang ini dia sudah datang dan membuat kehebohan. Entah kejutan apa lagi yang akan dia berikan selanjutnya." Meng Hua merasa telah melakukan sesuatu yang tepat dengan meminta maaf pada Zhang Yu.


Dia tahu usia Zhang Yu belum genap dua puluh tahun. Tapi dengan kekuatan seperti itu, bahkan ia ragu dapat mengalahkannya dalam sebuah pertarungan.


Entah siapa tetua yang membawanya masuk ke akademi. Meng Hua yakin tetua atau orang ini memiliki kedudukan yang tidak rendah.


...


Di panggung keempat.


Zhang Yu baru saja sampai tapi dirinya langsung menjadi pusat perhatian.


Dia adalah sedikit dari puluhan orang di panggung keempat dengan identitas murid pelataran luar. Sebagian besar atau sekitar delapan puluh persen murid mengenakan jubah biru yang telah menunjukkan identitas mereka sebagai murid pelataran dalam.


Seorang murid pelataran dalam bangkit dari posisi duduk bersilanya lalu berjalan menghampiri Zhang Yu.


"Siapa namamu? Apa kau baru pertama kali naik ke panggung keempat?"

__ADS_1


Zhang Yu memperhatikan senior murid pelataran dalam itu. "Zhang Yu, namaku adalah Zhang Yu."


Mendengar nama yang sangat asing, beberapa murid di sana mengerutkan kening.


Setiap murid pelataran luar yang mencapai panggung keempat pastinya memiliki nama yang akrab. Tapi nama Zhang Yu sungguh asing di telinga mereka.


Pria bernama Shi Guan kembali bertanya. "Kau murid pelataran luar angkatan berapa? 173? 174?"


"Aku angkatan 175."


Uhuk!


Shi Guan sontak terbatuk mendengar jawaban Zhang Yu. Dia mengorek telinganya berpikir salah mendengarnya.


"Bisa kau jawab sekali lagi?" pintanya.


"Aku murid baru, murid pelataran luar angkatan 175."


Shi Guan dan beberapa orang yang menyimak percakapan langsung menahan nafas. Tapi masih ada seorang murid dalam bertubuh gempal yang tidak percaya. "Kau sungguh murid baru? Coba tunjukkan token identitasmu,"


Mereka menjadi penasaran. Zhang Yu heran kenapa mereka begitu terobsesi dengannya. Salahkah jika seorang murid baru naik ke panggung keempat? Lagipula untuk apa dirinya berbohong? Sama sekali tidak menguntungkan.


Karena ingin segera lepas dari pusat perhatian, Zhang Yu menunjukkan token identitasnya.


Saat puluhan mata melihat token identitas itu dan memastikan Zhang Yu benar-benar murid baru, air muka mereka tampak tidak percaya.


Pria bertubuh gempal membalikkan badan sambil membawa token identitas Zhang Yu dan berseru pada sosok pria yang duduk bersila tak terpengaruh oleh kejadian di sekitarnya.


"Guang Zhou, dia murid baru angkatan 175."


Pria yang tak mengenakan jubah murid dalam itu perlahan membuka matanya dengan malas. "Memang apa urusannya denganku? Entah dia murid baru atau bukan, aku tidak peduli."


Pria bertubuh gempal tertawa.


"Kau sungguh tidak peduli? Dia mematahkan rekor mu saat pertama kali datang ke panggung naga dan mencapai panggung ketiga."


Guang Zhou hanya mendengus. Sejurus kemudian dia bangkit dari posisinya berjalan menaiki anak tangga menuju panggung kelima.


Spontan pria gempal berdecak dengan kesal karena diabaikan.


"Keterlaluan! Dia masih saja begitu dingin."

__ADS_1


__ADS_2