
"Zhang Yu, pergilah dari sini. Kakek yang akan menghadapi mereka!" seru Xiao Nie melihat kedua lawan yang kini telah mendapat kendali tubuh mereka.
Awalnya hanya satu, tapi saat Xiao Nie hampir membunuh Ning Feng dalam pertarungannya tiba-tiba datang lagi satu orang lainnya yang berada di tingkat setengah dewa. Tubuhnya kurus memiliki rambut panjang. Pria itu menyebut dirinya sebagai pemimpin fraksi ular dari Istana Roh, Shi Yuchen.
Memang secara kekuatan keduanya berada di bawah Xiao Nie. Namun perbedaan kekuatan tidak begitu jauh. Terlebih saat mereka menyatukan kekuatan dan menghadapinya bersama. Xiao Nie tidak bisa bertahan lebih lama. Bahkan jika bukan karena kemunculan Zhang Yu dengan teknik jarum jiwa penakluk, mungkin dirinya sudah mendapat luka yang sangat serius.
Zhang Yu sendiri masih diam di tempat tak bereaksi. "Aku akan tetap di sini bersamamu Kakek!" ucapnya.
"..." Sontak jawabannya membuat Xiao Nie terkejut. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi sebelum ia membuka mulutnya, matanya menangkap bayangan ular berwarna hitam yang melesat cepat ke tempat mereka.
Blar!
Xiao Nie melepaskan siluet tebasan dari pedangnya. Bayangan ular berwarna hitam itu terbelah lalu meledak seketika.
Shi Yuchen, pemimpin fraksi ular tertawa sambil mendengus. "Tidak ada yang akan pergi dari sini tanpa persetujuan kami," ucapnya percaya diri.
Xiao Nie mengepalkan tangan kemudian menegakkan tubuhnya bersiap menghadapi mereka. Akan tetapi secara tidak terduga Xiao Nie memuntahkan seteguh darah berwarna kehitaman.
Uhuk!
Sekujur tubuhnya menjadi dingin dan penuh keringat. Seketika hal itu membuat wajah Xiao Nie terlihat buruk.
"Racun? Sejak kapan?" Xiao Nie memperhatikan satu persatu lawannya. Matanya menjadi keruh mengingat serangan pedang Shi Yuchen yang sebelumnya menggores pundaknya.
"Kurang ajar!" maki Xiao Nie dalam hati.
Meski saat ini tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, tapi Xiao Nie tak boleh membiarkan lawan menyadari kondisinya. Jangan sampai mereka menemukan titik kelemahannya.
"Zhang Yu, apa kau masih bisa mengeluarkan teknik jarum jiwa penakluk?" tanya Xiao Nie sambil berbisik.
Zhang Yu melihat Xiao Nie yang sudah bersiap dengan teknik serangannya segera mengetahui apa yang direncanakannya.
"Akan ku lakukan, Kekek!"
Tanpa banyak membuang waktu Zhang Yu mengeluarkan dua serangan teknik jarum jiwa penakluk.
Ning Feng dan Shi Yuchen yang melihatnya hanya tersenyum sinis merasa serangan yang sama tidaklah berguna bagi mereka. Namun yang tidak mereka sangka adalah kekuatan jarum ini lebih kuat dari jarum sebelumnya. Dan membutuhkan waktu bagi mereka untuk lepas dari pengaruh teknik tersebut.
Meski sangat percaya diri mampu melepaskan diri, sayangnya pada saat yang sama Xiao Nie menggunakan kesempatan ini untuk menyerang mereka.
"Mata pedang! Evolusi terakhir!"
Jika Xiao Yuze saat itu hanya sampai pada tahap evolusi pertama, Xiao Nie menguasainya hingga tahap evolusi ketiga. Sepuluh siluet tebasan berukuran raksasa melesat dari pedangnya dengan memancarkan aura yang sangat kuat.
Mata Ning Feng dan Shi Yuchen terbelalak. Mereka dengan panik berusaha melepaskan diri dari pengaruh teknik jarum jiwa penakluk. Tapi mereka bahkan tak memperkirakan hal ini akan terjadi.
"Bedebah busuk!" raung Shi Yuchen.
Tepat setelah itu sepuluh siluet tebasan itu menghantam tubuh mereka.
Boom!
__ADS_1
Boom!
Keras dan memekak. Xiao Nie sekali lagi memuntahkan seteguk darah kehitaman karena terlalu memaksakan diri. Zhang Yu yang ada di sampingnya segera memapahnya.
"Kakek, kau baik-baik saja?"
Xiao Nie menstabilkan nafasnya. Kemudian menatap Zhang Yu seolah memberitahu dirinya masih dapat bertahan. Jikapun harus terluka sekalipun dia tidak menyesal karena serangan itu seharusnya dapat mengalahkan kedua lawannya.
"Dengan pengaruh teknik jarum jiwa mereka tidak akan sempat menghindar. Aku mengeluarkan serangan terkuatku, seharusnya ini sudah berakhir," batinnya.
Perlahan asap yang berkumpul mulai menyebar. Xiao Nie menegakkan tubuhnya sambil mencari keberadaan dua lawannya. Namun bukannya menemukan mereka, tepat di depan matanya tampak ular besar yang dalam posisi melilit membentuk kerucut.
"Lepaskan!"
Bersama dengan suara ini ular besar itu melepas lilitannya sehingga Ning Feng dan Shi Yuchen yang bersembunyi di dalamnya keluar dengan selamat.
Mereka berhasil bertahan dari serangan mata pedang Xiao Nie. Namun harus diakui mereka sempat panik karena hampir tak bisa lepas tepat waktu dari pengaruh teknik jarum jiwa penakluk.
Bahkan perasaan adrenalin itu masih ada. Nafas masih memburu dan keringat dingin yang membasahi wajah mereka.
"Kurang ajar! Mereka ternyata masih punya artefak pelindung tingkat tinggi!" Xiao Nie menggertak gigi. Karena dalam pertarungan sebelumnya Ning Feng juga menggunakan artefak pelindung tingkat tinggi untuk menahan serangannya, Xiao Nie berpikir mereka tidak punya artefak pelindung tingkat tinggi kedua. Siapa yang mengira, bahkan Shi Yuchen pun memilikinya.
Uhuk!
Untuk ketiga kalinya Xiao Nie memuntahkan darah. Zhang Yu yang melihat Xiao Nie hampir tersungkur segera menahan tubuhnya lalu memaksanya duduk.
"Kakek, jangan memaksa dirimu lagi. Aku yang akan menghadapi mereka."
Sontak Xiao Nie tercengang mendengar ucapan Zhang Yu.
Sebelum menyelesaikan ucapannya Zhang Yu bahkan sudah berdiri sambil memegang pedangnya.
"Zhang Yu, kau gila? Bagaimana kau menghadapi mereka? Kau masih di tingkat suci bintang satu sedang mereka berdua adalah kultivator setengah abadi." Dewa naga berusaha memperingati Zhang Yu.
Namun Zhang Yu bergeming tak menggubrisnya. Dia mulai mengayunkan pedang kemudian mengeluarkan satu teknik serangan.
"Tinju Batu!"
Melihat serangan yang jauh lebih lemah dari serangan mata pedang membuat Ning Feng dan Shi Yuchen tertawa meremehkan. Mereka pun menahan serangan itu tanpa kesulitan.
"Hahahahaha ... Bahkan kakekmu pun tak berkutik menghadapi kami. Apalagi kau yang yang hanya bocah kemarin sore." Tawa kedua pemimpin fraksi itu semakin menggema. Mereka terus tertawa sambil mencemooh Zhang Yu yang masih ingin bertarung menghadapi mereka.
Konyol, pikir mereka.
Akan tetapi tepat pada waktu itu tiba-tiba muncul lingkaran lingkaran cahaya berbentuk cincin di bawah kaki mereka.
"Apa?!"
Seketika raut wajah Ning Feng dan Shi Yuchen berubah. Terlebih saat mereka kesulitan menggerakkan kaki dari tempat berpijak.
"Bocah, apa yang coba kau rencanakan?" tanya Shi Yuchen dingin. Dia mencoba tenang sambil berusaha melepaskan diri. Namun yang tak disangka pengaruhnya lebih kuat dari teknik jarum jiwa penakluk.
__ADS_1
Zhang Yu tak menggubris pertanyaan Shi Yuchen. Dia mengedarkan Qi miliknya yang kemudian terbang ke arah keping-keping bayangan tinju yang sebelumnya hancur.
Shing...
Suaranya cukup nyaring. Cincin polos di atas tanah berubah membentuk pola. Pada saat yang sama cengkeraman yang mengekang Ning Feng dan Shi Yuchen menjadi lebih kuat.
"Apa-apaan ini! Kurang ajar!" Mereka terus berusaha lepas. Tapi semakin berusaha keras, semakin kuat cengkeraman yang mengekang mereka.
Long Shen yang melihat perubahan bentuk ini pun terkejut hingga matanya membulat. Dia menatap Zhang Yu tanpa berkedip bahkan ekornya pun bergetar.
"Segel kuno!" gumamnya. Mustahil dewa naga itu lupa dengan teknik yang membuatnya terkurung ratusan tahun di pagoda. Teknik yang menjadi alasan utama kekalahannya dalam pertarungan ratusan tahun silam.
Yang membuatnya tak menyangka adalah Zhang Yu mampu menguasai teknik yang sulit ini. Selain harus menempatkan tanda, juga harus memastikan posisi lawan tak bergerak. Dan Zhang Yu benar-benar melakukannya dengan sempurna.
"Kakek! Sekarang giliranmu!" seru Zhang Yu.
Xiao Nie yang masih duduk segera berdiri dengan gagah. Ning Feng dan Shi Yuchen tercengang karena sebelumnya berpikir Xiao Nie sudah tak berdaya dengan efek racun.
"Xiao Nie! Bu-bukankah kau ...." Shi Yuchen menjadi gugup dan cemas.
Xiao Nie tertawa remeh. "Aku sendiri juga tidak menyangka cucuku memiliki kemampuan seperti ini. Bukan hanya menyerap racun dalam tubuhku, tapi juga membuat rencana yang begitu sempurna."
"Apa!" Shi Yuchen hampir tersedak mendengar ucapan Xiao Nie. Yang mereka pikir Xiao Nie sudah tak berdaya karena efek racun tapi ternyata itu hanya pura-pura.
Ning Feng dan Shi Yuchen benar-benar kehilangan kata. Wajah mereka dipenuhi emosi saat menatap Zhang Yu dengan tajam.
"Kurang ajar! Semua ini karena bocah itu!"
Xiao Nie tak menghiraukan lagi kedua musuh yang terus menyela. Dia memusatkan kekuatan pada pedangnya kemudian untuk yang ketiga kalinya mengeluarkan teknik mata pedang.
"Mata pedang! Evolusi terakhir!"
Sepuluh siluet tebasan menerjang cepat ke arah Ning Feng dan Shi Yuchen.
Jika sebelumnya mereka berhasil bertahan karena masih sempat melepaskan diri tapi sekarang mereka tidak bisa apa-apa dalam pengaruh segel kuno.
Boom!
Boom!
Boom!
Sepuluh ledakan keras bergema dengan hebat. Tanpa adanya pertahanan ataupun artefak tingkat tinggi, Ning Feng dan Shi Yuchen harus pasrah menerima kematian.
Namun Xiao Nie juga harus menerima dampak serangan itu karena terlalu memaksakan tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih. Begitu melihat dua tubuh sang lawan tergeletak, dia pun jatuh terduduk dengan wajah pucat.
"Kakek!" Zhang Yu segera menghampirinya.
Xiao Nie memegang pundak Zhang Yu lalu tersentuh kepadanya. "Kakek sangat bangga padamu. Kau telah menyelamatkan Klan Xiao."
Zhang Yu cukup senang dengan pujian ini. Tetapi dia merasa terlalu awal untuk mengatakannya karena mengingat jika beberapa musuh masih di wilayah Klan Xiao.
__ADS_1
"Kakek. Ini bukan waktu yang tepat merayakannya. Kita harus membersihkan penyusup penyusup itu yang masih berkeliaran."
"Kau benar. Ayo pergi bersama."