
Lou Xian mengepalkan tangan saat mendengar kalimat Zhang Yu seperti meremehkannya. "Kurang ajar! Aku akan memberimu pelajaran!"
Tanpa basa-basi Lou Xian melesat dan menyerang Zhang Yu dengan pedangnya. Tapi dengan kekuatan yang hanya tingkat suci dia bahkan tidak sanggup menyentuh ujung pakaian Zhang Yu walau terus diberi kesempatan.
Jarak kekuatan terlalu jauh. Seberapa banyak Lou Xian mencoba melayangkan tebasan tapi pada akhirnya hanya sia-sia.
"Apa sudah selesai? Jika sudah sekarang giliranku." Zhang Yu bergerak sangat cepat yang tak bisa diprediksi oleh Lou Xian.
Tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba muncul di depannya. Zhang Yu mendorong tinjunya membuat tubuh Lou Xian terhempas seperti samsak pasir.
Tapi ternyata Lou Xian bumi menyerah. Dia kembali berdiri dan dengan amarah yang memuncak mengeluarkan serangan terkuatnya.
Tidak ada yang dapat Zhang Yu lakukan selain menertawakan kebodohan pria ini. Sudah jelas kekuatan jauh berbeda tapi malah memaksakan diri.
Ketika serangan itu sudah semakin dekat, Zhang Yu mengangkat tangannya untuk membuatnya menghilang. Bahkan jejak serangan pun tak membelas di sana. Benar-benar lenyap.
Kejadian ini tentu membuat Lou Xian tertegun. Mata pria itu membulat. Ketika sadar dirinya dalam bahaya, dia tidak punya lagi kesempatan untuk menghindar karena detik berikutnya Zhang Yu menggunakan telapak tangannya dan memukulnya sampai terpental.
Lou Xian memuntahkan beberapa teguk darah. Padahal itu masih permulaan tapi dia sudah tidak kuat menahannya.
Pada saat yang sama kakeknya datang bersama orang-orang akademi pulau selatan.
"Lou Xian, apa yang terjadi padamu?" tanya sang kakek.
__ADS_1
Zhang Yu mengenakan tudungnya sebelum berbalik pergi meninggalkan mereka.
Beberapa teman Lou Xian ingin mengejar, tapi kakek Lou Xian segera menahan mereka. "Kalian bukan lawannya. Sebaiknya jangan mengejar dan akhiri masalah ini sampai di sini. Kita harus fokus pada turnamen tiga hari kemudian."
Di tempat lain, Long Shen sedang bertanya kenapa Zhang Yu tidak membunuh Lou Xian. Zhang Yu akhirnya kembali ke ruangannya setelah meninggalkan tempat tersebut.
Dia melepas jubahnya dan duduk di tempat tidur. "Entah kenapa aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku."
"Apa itu pria tua tadi?" tanya Long Shen.
"Tidak. Bukan dia."
Di tengah pertarungan Zhang Yu benar-benar merasakan mata yang terus mengintainya. Itulah yang membuatnya menahan diri dalam pertarungan itu untuk antisipasi sosok tersebut.
Tapi sampai kembali ke penginapan sosok itu tidak muncul membuatnya kembali bertanya-tanya apa yang diinginkannya.
...
Dia adalah Zhang Ye, putra pertama Tetua Pertama Zhang Lei dan saudara Zhang Feng.
Bertahun-tahun Zhang Ye meningkatkan kekuatan bahkan mengorbankan masa hidupnya hanya untuk meningkatkan kekuatan.
Kesempatan akhirnya datang saat orang-orangnya melihat sosok yang mirip Zhang Yu di perbatasan Kota Xing Zou.
__ADS_1
"Ayah, Xiao Feng, aku akan membalas dendam kalian! Aku pastikan dia akan membayar kematian kalian!" ucap Zhang Ye.
Meski saat itu dia berhasil menyelamatkan ayah dan saudaranya yang terkurung dalam penjara bawah tanah, tapi keadaan mereka sangat tidak stabil.
Akhirnya, setelah berbagai upaya dikerahkan, nyawa keduanya tidak dapat diselamatkan. Dendam ini masih ada dalam diri Zhang Ye. Dia tidak akan lupa, siapa yang menjadi penyebab utama kematian mereka.
"Zhang Yu! Kau tunggu saja kedatanganku!"
Ketika Zhang Ye masih berbicara pada dirinya sendiri, seorang pria tua berjubah hitam memasuki ruangan.
"Guru!" sambut Zhang Ye pada pemimpin fraksi harimau, Gao Fengshui yang juga merupakan pemimpin Istana Roh.
"Zhang Ye, kau harus ingat dengan tujuan kita kali ini. Jangan hanya karena kau menemukan musuhmu, kau mengacaukan rencana kita."
"Tapi Guru ...."
Brak!
Gao Fengshui menatap marah Zhang Ye. "Apa kau tidak bisa diam terlebih dahulu?"
Zhang Ye mengangguk kepala dengan pasrah.
"Yang perlu kau ketahui adalah Zhang Yu bukan hanya musuhmu. Tapi juga musuh Istana Roh. Dia sudah membunuh Yu Dha dan puluhan anggota Istana Roh. Aku tidak akan melepaskannya. Tapi kau tetap harus fokus pada tujuan awal kita."
__ADS_1
"Baik Guru," ucap Zhang Ye. Dia hanya bisa menggertakkan gigi tapi tak bisa melawan kehendak gurunya.
...