
Xu Ciang masih bergeming di tempatnya, tapi tidak lama kemudian dia melesat dan menyerang Zhang Yu dengan pedang yang sudah mengalir Qi miliknya.
Satu serangan melesat ke tempat Zhang Yu dengan cepat, tapi Zhang Yu masih bisa bertahan dengan pedang yang terbentang di depan.
Melihat serangannya tidak berhasil, Xu Ciang kembali mengayunkan pedangnya dan menciptakan serangan teknik yang berbeda.
Sangat disayangkan semua usaha yang dia lakukan berakhir sia-sia. Zhang Yu begitu mudah menghentikan serangannya. Bahkan tak membutuhkan banyak tenaga.
"Aku peringatkan kau sekali lagi, sebaiknya kau berhenti sampai di sini ...." Tidak memberi kesempatan bagi Zhang Yu untuk menyelesaikan ucapannya, Xu Ciang berkelebat menyerang dalam jarak dekat.
Dia berpikir jika tidak bisa menggunakan serangan jarak jauh, serangan jarak dekat mungkin akan berbeda. Namun dia salah, Zhang Yu juga memiliki teknik yang bagus dalam serangan jarak dekat. Teknik pedang andalannya masih tidak bisa mengalahkannya.
"Bukankah dia hanya murid baru?! Kenapa dia memiliki kekuatan seperti ini? Apa kekuatannya waktu itu bukan hanya kebetulan?" Sembari mengambil jarak mundur dia berkata dalam hati. Matanya tak berhenti menatap Zhang Yu dengan rumit.
Sejak awal Xu Ciang tidak menerima kekalahannya waktu itu dari Zhang Yu. Tapi setelah mengujinya secara langsung hari ini, ia menjadi ragu dengan keyakinannya sendiri.
Di sisi lain Zhang Yu yang melihat Xu Ciang mengambil jarak, kembali mengingatkan agar pria itu pergi dan melupakan masalah ini. Tapi dengan sifat Xu Ciang yang arogan, tidak mungkin menyerah begitu saja karena sama halnya dengan dia mengakui kekalahannya.
Zhang Yu tidak memiliki pilihan lain kecuali mengakhiri semua ini dengan cepat. Tanpa menunggu lebih lama dia berkelebat dengan mencengkeram pedangnya.
Bahkan jika Zhang Yu hanya menggunakan separuh kekuatannya, ini akan menjadi mimpi buruk Xu Ciang.
Xu Ciang yang tidak tahu apa yang dilakukan Zhang Yu menerjang maju berniat menghadapinya secara langsung. Dia sangat yakin kali ini, tapi semua keyakinannya dipatahkan dalam beberapa kali ayunan pedang yang membuat pedang di tangannya terlempar.
Wajah Xu Ciang menjadi buruk melihat pedang miliknya yang tergeletak di atas tanah. Dia berlari hendak mengambilnya, tapi Zhang Yu mengeluarkan serangan membuat pedang itu terlempar semakin jauh.
Tepat saat ini terdengar seruan kelompok murid dari kejauhan.
"Xu Ciang!"
__ADS_1
Mereka semakin dekat. Zhang Yu mengangkat wajahnya melihat kelompok murid plataran luar yang datang.
Tang Yue yang ada di belakang segera menarik tangan Zhang Yu dan mengingatkannya untuk tidak bertindak lebih jauh. "Zhang Yu, sebaiknya kita kembali ke akademi."
Zhang Yu sama sekali tidak mengerti kenapa harus pergi. Mereka tidak bersalah, jika ada seorang yang harus melarikan diri itu adalah Xu Ciang.
Tang Yue masih berusaha menarik tangan Zhang Yu kemudian menjelaskan secara singkat. "Kelompok yang datang itu pasti antek-antek Wen Bailou. Sebaiknya kita tidak berurusan dengannya."
Wen Bailou? Apa dia murid pelataran dalam yang waktu itu?
Sejujurnya Zhang Yu tidak takut dengan murid dalam bernama Wen Bailou. Tapi karena Tang Yue sendiri tidak ingin melanjutkan masalah ini ia hanya bisa melepaskan Xu Ciang dengan enggan.
"Xu Ciang kan namamu?" Zhang Yu menyimpan pedangnya dan melangkah ke depan Xu Ciang yang baru saja berdiri.
Xu Ciang tidak bisa bicara. Lebih tepatnya bibir gemetar karena ketakutan. Dia memaksa mulutnya untuk terbuka dan setelah susah payah akhirnya bisa mengatakan beberapa patah kata. "Be-benar. Ke-kenapa kau bertanya?"
Zhang Yu mendengus.
"Terima kasih karena kau telah menyelamatkanku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak datang tepat pada waktunya."
"Kebetulan aku melihatmu dalam masalah jadi sekalian membantu."
Mereka berpisah setelah memasuki gerbang karena Zhang Yu tidak kembali ke tempat tinggalnya. Dia lebih dahulu mengunjungi kediaman guru untuk menyerahkan gulungan dari Yang Mulia Kaisar. Juga untuk mengambil sisa hadiah yang dijanjikan.
Tidak butuh waktu lama bagi Zhang Yu untuk sampai di kediaman guru, dia langsung masuk dan mencari keberadaannya.
Akan tetapi guru tidak berada di dalam kediamannya, Zhang Yu memutus untuk ke halaman belakang, berpikir mungkin guru berada di sana.
Sungguh tebakan yang akurat. Ternyata benar, guru berada di halaman belakang tengah bersemedi di atas sebuah pondasi batu berbentuk persegi yang ada di samping gazebo.
__ADS_1
"Guru terlihat tidak bisa diganggu, apa aku kembali nanti saja?" gumamnya yang kemudian mulai membalikkan badan.
Namun, sebelum benar-benar memutar tubuhnya, Wang Chen perlahan membuka mata. "Aku sudah menunggumu lama dan kau berniat pergi begitu saja setelah sampai?"
Zhang Yu merajut kedua alisnya, tidak jadi pergi dan berjalan mendekat.
"Aku hanya tidak ingin mengganggumu, Guru."
Wang Chen mendengus pelan. Dia kembali memejamkan mata, sedang tangan melambai meminta Zhang Yu mendekat. "Kemarilah dan katakan bagaimana misinya?"
Zhang Yu mengikuti permintaan Wang Chen untuk mendekat, dia berdiri tepat di samping pria tua berambut putih itu. "Misinya berjalan lancar Guru."
Wang Chen beberapa saat masih diam. "Aku ikut senang mendengarnya. Aku sempat khawatir karena kau tidak kunjung kembali."
Zhang Yu tersenyum seraya menggaruk tengkuknya. "Omong-omong Guru, Yang Mulia menitipkan pesan untukmu."
"Yang Mulia menitipkan pesan?" Pria tua itu dengan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Benar," angguk Zhang Yu lantas mengeluarkan satu gulungan yang ia dapat sebelumnya dari Kaisar Xuan Zou.
Setelah menerima gulungan itu, Wang Chen membacanya dengan cepat. Akan tetapi terlihat dari raut wajahnya, ada satu pertanyaan yang sekarang sedang dia pikirkan.
"Zhang Yu, apa yang sudah kau lakukan?"
Zhang Yu yang mendengar pertanyaan Wang Chen dengan segera mengernyitkan kening. "Ada apa, Guru? Apa aku melakukan suatu yang salah?"
Wang Chen menggelengkan kepala. "Tidak, bukan itu." Setelah memberi jawaban Wang Chen sejenak diam, kemudian setelah lebih tenang kembali melanjutkan ucapannya. "Yang Mulia memujimu sangat tinggi seolah kau telah melakukan suatu yang sangat berjasa bagi kekaisaran."
Wang Chen menggulung surat di tangannya, matanya mehatap Zhang Yu dengan serius. "Aku bertanya kepadamu, apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
Zhang Yu terdiam sejenak mendengar kalimat Wang Chen tentang pujian itu. Kemudian menceritakan semua pada gurunya tanpa terkecuali. Pemberontakan perdana menteri sampai racun es dan api yang bersarang di tubuh kaisar dan keluarga kekaisaran.
Tidak dipungkiri Wang Chen sangat terkejut mendengar cerita Zhang Yu. Bahkan mungkin jika tidak menerima surat dari Yang Mulia dia akan mengangap cerita ini hanya bualan semata. Tapi dengan pendapat Yang Mulia tentang Zhang Yu sudah mengkonfirmasi kebenaran ceritanya.