
Zhang Yu memasuki kediaman kepala akademi untuk mencari gurunya. Namun sang guru tidak ada di halaman depan dan di ruang tamu, jadi dia memutuskan langsung ke halaman belakang.
Tampak dari kejauhan terlihat siluet punggung seseorang yang duduk di panggung batu persegi samping gazebo. Zhang Yu yakin itu adalah gurunya jadi tanpa banyak bicara mengayunkan kaki menghampirinya.
Akan tetapi baru beberapa langkah pertama, satu energi kekuatan berbentuk pedang melesat hampir menebas kepalanya.
Benar-benar berbahaya jika tidak segera menarik diri untuk menghindar.
"Siapa kau?! Bukankah ada larangan untuk masuk ke kediaman ini tanpa izin?" Seseorang yang duduk di panggung batu perlahan menurunkan kaki dan membalikkan badan.
Zhang Yu mematung di tempat sejak mendengar suaranya. Raut wajahnya menjadi rumit ketika melihat itu benar-benar "Pangeran" Ketujuh.
Bukan hanya Zhang Yu. Ketika pertama kali mengangkat wajahnya, Xuan Yin kaget hingga terdiam dengan mulut setengah terbuka.
"Ba-bagaimana kau ada di sini?" selidik Xuan Yin dengan gusar. Dia menoleh ke beberapa arah lalu berjalan mendekat setelah memastikan tidak ada orang di sekitar.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Zhang Yu segera menyetabilkan ekspresinya. Lalu membalas dengan tenang. "Tentu saja aku di sini sebagai murid akademi."
Murid akademi?
Xuan Yin jadi ingat tentang nama Zhang Yu yang diceritakan ayah dan ibunya. Kemudian wajah yang muncul di dekat gerbang saat pertama kali dirinya datang.
Jadi semua ini bukan kebetulan? Bukan halusinasi?
Melihat Xuan Yin diam, Zhang Yu kembali berkata, "Putri Ketujuh terlihat kecewa. Apa mungkin berpikir aku datang untuk mengunjungimu?"
Dua pipi Xuan Yin seketika berubah merah. Dia memalingkan wajah untuk menyembunyikannya. "Siapa yang peduli entah kau murid atau tetua sekalipun. Aku hanya ingin memberitahu tempat ini bukan tempat umum yang dapat didatangi oleh sembarang orang."
"Sebaiknya kau pergi dari sini," tambahnya.
Namun Zhang Yu bergeming seolah tutup telinga. Mengabaikan Xuan Yin yang bicara dan mengayunkan kaki menuju gazebo untuk duduk di sana.
Xuan Yin mengejar. "Hei! Apa kau tidak punya telinga? Aku memintamu pergi dari sini sekarang juga!"
Dia bahkan lupa dengan sosok pangeran ketujuh yang tenang dan dingin. Semua ini karena Zhang Yu, tapi lagi dan lagi Zhang Yu mengabaikannya sehingga membuat Xuan Yin semakin kesal.
Tepat bersama dengan itu Wang Chen datang.
__ADS_1
Xuan Yin yang merasa ini adalah kesempatan ingin mengadu. Tapi siapa sangka Zhang Yu terlebih dahulu berdiri dan memberi salam. "Pagi Guru!"
Kata "guru" yang keluar dari mulut Zhang Yu membuat Xuan Yin mengerutkan kening. "Siapa yang kau panggil guru?" pekiknya.
Zhang Yu hanya tersenyum. Wang Chen yang baru datang segera berjalan ke gazebo kemudian duduk di sana.
"Kalian berdua duduk sini," ajak pria tua itu sambil menunjuk tempat duduk yang dimaksud.
Meski terlihat enggan Xuan Yin tetap mengikuti Zhang Yu duduk berdampingan di depan Wang Chen.
"Guru, bisa kau jelaskan semua ini?"
Wang Chen mengerti. Pria tua itu tertawa lirih sebelum menjelaskan pada dua generasi muda di depannya. "Intinya kalian berdua adalah muridku. Jadi untuk kedepannya kalian harus akur."
Xuan Yin hampir tersedak ketika mendengar kebenaran ini. Dia melirik Zhang Yu sesaat lalu beralih kembali pada Wang Chen.
"Guru, aku tidak mau punya adik seperguruan sepertinya!"
"Tidak tidak. Bukan adik seperguruan, tapi kakak seperguruan."
Nafas Xuan Yin semakin tercekat mendengar hal ini. Ekor matanya melirik Zhang Yu dengan enggan.
Kakak seperguruan? Dia adalah kakak seperguruanku? Ini benar-benar tidak mungkin!
Dalam sekejap di sana hanya tersisa mereka berdua. Zhang Yu duduk dengan tenang, tapi berbeda dengan Xuan Yin yang merasa tidak nyaman.
"Hei, mari kita berdamai. Bagaimana?" Setelah diam cukup lama akhirnya Xuan Yin buka suara.
"Maksudku mari kita lupakan masa lalu dan anggap saja tidak ada yang pernah terjadi."
"Selain itu kau harus memegang janjimu untuk merahasiakan kebenarannya," tambahnya.
Zhang Yu diam tak merespon membuat Xuan Yin mengangkat wajahnya menoleh. Siapa yang mengira Zhang Yu telah duduk di panggung batu dan sudah memejamkan matanya.
"Hei! Aku masih bicara denganmu! Bagaimana kau bisa mengabaikanku?!" Xuan Yin bersungut-sungut marah.
Dia belum pernah diabaikan seperti ini oleh siapapun. Tapi pria ini secara terang-terangan mengabaikannya. Dasar pria keterlaluan!
Xuan Yin menunggu di sana beberapa waktu, tapi melihat Zhang Yu bergeming di tempat dia tak tahan untuk berdiri dan pergi.
__ADS_1
Lagi pula gurunya adalah satu-satunya orang selain Zhang Yu yang mengetahui rahasianya di akademi. Guru tidak mungkin membocorkannya, jadi jika sampai ada orang lain yang tahu maka ia hanya perlu mencari Zhang Yu untuk bertanggung jawab.
Zhang Yu membuka mata setelah tak merasakan keberadaan Xuan Yin. Dia melihat ke arah gazebo yang kosong dan mengedikkan bahu.
Bersama dengan itu Wang Chen kembali datang. Dia berjalan tenang sambil menyimpan tangannya di belakang. "Sepertinya kalian sudah mengenal cukup dalam."
Ah...
"Guru ...."
"Apa kau juga tahu rahasia besar Pangeran Ketujuh?" tanya Wang Chen langsung.
Zhang Yu sempat terdiam, sebelum mengatakannya. "Jika yang Guru maksud adalah rahasia Pangeran Ketujuh adalah seorang wanita, maka aku benar-benar telah mengetahuinya."
Raut wajah Wang Chen menjadi rumit. "Bagaimana bisa?"
Zhang Yu menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal ketika mendengar pertanyaan seperti itu. "Ini sedikit sulit dijelaskan, Guru. Yang pasti ini bermula dari pertemuan tak disengaja."
Wang Chen manggut-manggut. Tapi dalam sekejap dia berubah serius. "Zhang Yu, jangan sampai ada yang tahu tentang kebenaran ini. Kau harus merahasiakannya."
Entah kenapa mendengar nada bicara gurunya yang serius Zhang Yu merasa ada masalah yang tidak sepele berhubungan dengan rahasia Xuan Yin.
Akan tetapi ketika mencoba bertanya sang guru malah pura-pura tidak mendengarnya.
"Oh ya, ada urusan apa kau datang menemui Gurumu?"
Zhang Yu berdehem satu kali. "Guru, kau ini memandangku begitu rendah ya?"
"Tidak ada tujuan? Ini tidak seperti kau biasanya."
"Tapi memang ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu." Zhang Yu tersenyum tak berdosa kemudian mengeluarkan lembaran kertas dari saku pakaiannya.
Raut wajah Wang Chen berubah datar. Padahal dirinya mau memuji muridnya ini, tapi ternyata sama saja.
"Tanyakan apa?" Wang Chen melirik lembaran kertas itu dan secara bertahap mengintipnya. Tapi karena belum terlalu jelas dia mengambilnya dari tangan Zhang Yu.
"Apa ini yang ingin kau tanyakan?"
Saat pertama melihatnya Wang Chen masih bisa tenang. Akan tetapi ketika mengenali tulisan di kertas tersebut ekspresi wajahnya perlahan berubah.
__ADS_1
Dia meletakkan lembaran kertas itu di meja, seraya matanya tak berhenti memperhatikan Zhang Yu.
"Tulisan ini, kau mendapatkannya dari siapa?"