
Mata belasan orang berpakaian coklat semakin kelam setelah mendengar ucapan Zhang Yu. Tanpa banyak bicara mereka menyerang dengan kekuatan yang cukup besar.
Sayangnya dengan jumlah sebanyak itu tidak satu pun dari mereka yang berada di tingkat surgawi. Zhang Yu melepaskan energi kekuatannya untuk menghadapi seraba itu secara langsung. Meski dirinya dalam keadaan terluka, tapi untuk mengalahkan belasan orang tingkat suci masih terlalu mudah baginya.
Dalam hitungan detik belasan orang terbunuh. Tetapi tepat setelah itu datang tiga orang pria paruh baya yang mengenakan pakaian dengan motif berbeda. Hanya melihat sekilas pun dapat mengetahui jika mereka adalah pemimpin yang dimaksud.
"Kurang ajar! Memang seharusnya kita melumpuhkannya saat masih tak berdaya. Sekarang dia bangun dan membunuh orang-orang kita." Pria yang berdiri di tengah mengeluarkan sepasang pedang pendek. Dua pria di sampingnya saling berbisik seperti memikirkan rencana untuk mengalahkan Zhang Yu.
Tetapi Zhang Yu bahkan masih sangat tenang di posisinya. Dia hanya menatap ketiga pria setengah baya sembari menelisik kekuatannya.
"Mereka lebih kuat dari belasan orang sebelumnya. Tapi masih terlalu awal untuk berhadapan dengan ku." Zhang Yu mengangkat telapak tangannya. Kemudian melepaskan serangan yang memaksa ketiga pria itu melompat menghindar.
"Keterlaluan! Rasakan ini!" Pria di tengah mengayunkan sepasang pedangnya untuk menciptakan siluet tebasan. Dua pria di sampingnya dengan segera membantu. Tetapi serangan itu bahkan langsung hancur dengan gerakan tangan Zhang Yu.
Blar!
Tidak ada yang tersisa kecuali uap asap yang perlahan menyebar. Mata ketiganya pun terbelalak karena terkejut.
Belum juga hilang keterkejutan setelah menyaksikan serangan ditahan dengan mudah, Zhang Yu tiba-tiba menghilang dari tempatnya lalu muncul di depan tiga orang itu sambil memukul mereka.
Bang!
Bang!
Bang!
Tiga tubuh terbang menghantam dinding lorong. Ketiganya duduk bersimpuh dengan nafas ngos-ngosan.
Di saat yang sama perhatian Zhang Yu tanpa sengaja tertuju pada cincin penyimpanan di tangan seorang pria. Segera raut wajahnya berubah ketika memastikan itu adalah cincin penyimpanannya.
"Kalian memang mencari mati!"
"A-apa ...." Tiga orang itu berusaha berdiri. Tetapi Zhang Yu tidak memberi mereka kesempatan kemudian langsung membunuh mereka.
__ADS_1
Zhang Yu sengaja membuat pria yang mengambil cincin penyimpanannya menyaksikan kematian dua temannya. Perlahan berjalan mendekatinya dengan senyum penuh makna.
"A-apa yang kau inginkan?" tanya pria berambut ikal itu dengan suara bergetar. Dia sungguh tidak menyadari telah membawa ular ke dalam kapalnya. Terlebih ini adalah ular berbisa yang memiliki kemampuan untuk membunuhnya.
Zhang Yu mencengkeram pergelangan tangan pria itu lalu secara bertahap mengangkatnya. "Apa kau begitu menginginkan cincin ini?" tanyanya.
Walau pertanyaan itu terdengar terdengar santai tapi pria berambut ikal merasakan tubuhnya berkeringat dingin. Dia menatap Zhang Yu dengan takut dan cemas.
"Karena kau tidak mau bicara, jadi anggap saja kau tidak menginginkannya."
Krak!
Tanpa segan Zhang Yu menekuk tangan pria itu hingga meraung kesakitan. Seolah bukan suatu yang berarti Zhang Yu mengambil kembali cincinnya.
Terlihat mata pria itu menatap Zhang Yu. Tetapi dia bahkan tak berani mengatakan sesuatu. Mulutnya kelu dan sudah bergetar terlebih dahulu sebelum bisa bersuara.
Zhang Yu pun tak mau membuang waktunya untuk berlama-lama di sini. Dia menghempas pria itu ke tembok, lalu memukul wajahnya hingga tak lagi bernafas.
Pada saat itu gadis berjubah merah keluar dari persembunyiannya. Dia mendekat setelah memastikan orang-orang itu tiada. "Apa kau baik-baik saja?"
Secara ajaib Zhang Yu merasakan tubuhnya membaik. Bahkan luka setelah menghadapi badai ruang pun pulih begitu gadis ini meletakkan tangannya di punggungnya.
Apa ini semacam teknik khusus, pikir Zhang Yu.
"Terima kasih,"
Gadis itu mengangkat wajahnya dengan ragu. Sedetik setelah itu dia tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Di mana yang lain? Apa kau sudah membawa mereka keluar?"
Lagi-lagi gadis itu hanya menganggukkan kepala.
Harus diakui dia cukup pendiam dan irit bicara. Zhang Yu berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju ke tempat orang-orang yang telah diselamatkannya.
__ADS_1
Baru setelah di luar Zhang Yu mengetahui tempat itu adalah sebuah gua persembunyian yang ada di tengah hutan. Dan Zhang Yu memastikan hutan ini bukan berada di wilayah Kekaisaran Xuan ataupun Kekaisaran Yang. Kekuatan kelompok penjahat tadi terlalu mengerikan jika berada di dua kekaisaran itu.
"Tuan, terima kasih karena telah menyelamatkan kami."
"Terima kasih. Jika bukan karena Tuan, pasti kami sudah dijual oleh mereka sebagai budak."
Zhang Yu menyipitkan mata. Detik berikutnya dia tersenyum membalas ucapan terima kasih tersebut. "Karena sudah bebas, kalian bisa kembali ke tempat masing-masing."
Orang-orang di sana sontak saling memandang satu sama lain. Karena tak bisa menahan kebahagiaan mereka sampai menangis haru. Mereka tak makan melewatkan kesempatan dan kembali ke rumah untuk bertemu dengan suami, istri atau anak yang telah menunggu.
Dalam sekejap di sana hanya tersisa Zhang Yu dan gadis berjubah merah. Zhang Yu terus memperhatikannya dan merasa penasaran dengannya.
"Apa kau tidak pergi?" tanya Zhang Yu.
Gadis berjubah merah itu masih diam tak beranjak. Dia mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang rumit, kemudian menggelengkan kepala.
"Apa itu rumah? Apa itu keluarga? Aku tidak pernah benar-benar memilikinya."
Awalnya Zhang Yu merasa aneh mendengar ucapan gadis muda itu. Tetapi ketika melihat ekspresinya, itu seolah mengingatkan kembali dengan sosok dirinya saat dikucilkan oleh warga kota.
"Apa kau sungguh tidak punya keluarga?" tanya Zhang Yu.
Namun bukannya menjawab gadis itu menurunkan tudungnya menunjukkan sosoknya yang membuat Zhang Yu terhenyak. Rambut gadis ini sepenuhnya berwarna merah. Dengan mata berwarna kuning cerah, dia memiliki penampilan yang jelas berbeda dengan anak pada umumnya.
"Kau terkejut, bukan? Karena penampilanku ini seluruh warga desa menganggapku sebagai anak pembawa sial. Orang tuaku sudah meninggal, sementara paman dan bibiku meninggalkanku karena mereka juga berpikir aku pembawa sial."
Zhang Yu tak bisa berkata-kata setelah mendengar ceritanya. Butuh beberapa waktu baginya untuk mengambil keputusan mengajaknya pergi bersama.
"Ayo, kau dapat ikut denganku."
Song Yixue, nama gadis itu. Secara bertahap dia mengerjapkan matanya sambil menatap Zhang Yu tak percaya. "Apa kau tidak takut aku akan membawa sial?" tanyanya.
Zhang Yu tersenyum ringan. "Tidak ada hal semacam itu karena setiap anak terlahir suci."
__ADS_1
Entah kenapa kalimat sederhana seperti ini membuat Song Yixue merasa sangat berharga. Matanya berbinar lalu segera mengenakan kembali tudungnya. "Jika begitu aku akan mengikutimu."
"Bukan masalah. Itu karena aku membutuhkan penjelasanmu untuk membantu ku."