Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 110 : Ternyata Jiwa Dewa Naga


__ADS_3

"Tidak!"


Senyum pria tua langsung berubah datar mendengar jawaban Zhang Yu. "Apa maksudmu? Kenapa kau tidak mau? Kau akan menjadi penguasa tempat ini."


Zhang Yu tersenyum sinis. "Mendapat warisan dan menjadi penguasa tempat ini jelas sangat luar biasa. Tapi apa aku benar-benar mendapatkannya dengan mengikuti keinginanmu, Senior?"


Pria tua mengerutkan kening. Dia melihat sikap Zhang Yu yang sangat berbeda dari sebelumnya. "Apa dia telah menyadari sesuatu?" batinnya.


Namun pria tua itu menepis pikirannya tersebut dan mengetes Zhang Yu dengan menawarkan beberapa keuntungan lainnya.


Namun Zhang Yu segera menolaknya mentah-mentah. "Sampai kapan kau akan terus berpura-pura menjadi penguasa tempat ini, Senior? Kau tidak lelah? Sejujurnya aku yang lelah."


Dhang!


Wajah pria tua langsung berubah buruk. Senyum ramah yang ia tunjukkan perlahan berubah menjadi seringai penuh tipu muslihat. "Sejak kapan kau menyadarinya?"


"Sejak kau menunjukkan ingatan itu. Kau bukan pria yang mengalahkan dewa naga. Kau adalah dewa naga itu sendiri. Apa aku benar?"


"..."


Pria tua tidak bisa berkata karena Zhang Yu telah menebak identitasnya.


"Dari awal kemunculanmu sangat tidak masuk akal. Dibandingkan dengan orang yang ingin memberi sesuatu, setiap kalimatmu terkesan seolah kau sedang memaksa."


"Apa tujuanmu sebenarnya?"


Pria tua masih tidak bicara. Dia tertawa lirih sambil mengangkat tangan kanannya. Lalu bergumam dengan suara rendah. "Harusnya kau berpura-pura tidak mengetahui kebenarannya. Dengan begitu tidak akan begitu menyakitkan. Tapi karena kau sudah menyadarinya, aku tidak akan berbasa-basi lagi!"


Setelah mengatakan itu dari telapak tangannya keluar naga kecil sepanjang tiga kaki. Bergerak cukup cepat lalu melilit pergelangan tangan Zhang Yu seperti sebuah gelang.


Suara tawa menggema. Pria tua membentangkan tangan dengan arogan. "Aku lihat tubuhmu memiliki kualitas yang sangat baik. Jadi aku akan mengambilnya untuk tubuh baruku."


Hahahahaha!


"Aku sudah sangat lama menanti saat-saat seperti ini datang. Akhirnya aku dapat bangkit dan keluar dari penjara terkutuk ini!"


Zhang Yu merasakan lilitan gelang naga ini semakin erat. Itu juga terus menyerap energi kekuatannya. Semakin lama tubuhnya semakin lemas.


"Aku harus melepaskannya!"


Menyadari hal ini pria tua kembali tertawa. "Tidak ada yang bisa melepas gelang itu kecuali dengan kehendakku."


"Sebaiknya kau menyerah untuk melawan dan serahkan tubuhmu untukku. Setelah menyatukan kekuatan, aku berjanji akan menjaga semua yang ingin kau lindungi."


Namun alih-alih mempedulikan ucapan pria tua, Zhang Yu hanya fokus dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Pria tua itu menggertakkan gigi kesal. "Dasar keras kepala! Karena kau ingin merasakan akhir yang menyakitkan, aku akan mengabulkannya!"


Tubuh Zhang Yu tidak bisa bergerak. Pria tua mendekat lalu menempelkan tangannya di kening Zhang Yu.


Ketika sedang fokus melakukan ritual pengambilan raga, simbol busur di kening Zhang Yu tiba-tiba menyala.


Mata pria itu terbelalak sempurna terlihat sangat terkejut ketika melihatnya. Dia melompat menjauh sepuluh langkah seolah melihat setengah tepat di depan matanya.


"Ta-tanda itu ... Orang itu ... Bagaimana kau ...." Dia melangkah mundur dengan tubuh gemetar. Mulut tak bisa dikendalikan dan berucap dengan kacau. Mata agak buram karena mengingat trauma yang dalam.


Zhang Yu tidak mengerti apa yang terjadi. Melihat bagaimana jiwa dewa naga yang ketakutan dan menghindari darinya membuatnya sangat penasaran.


"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat!" Dia mundur ketika Zhang Yu mencoba melangkah. Dia menjaga jarak tetap berada dalam sepuluh langkah tanpa kurang satu jengkal pun.


"Kenapa kau lari? Bukankah tadi masih begitu angkuh berkata ingin merebut tubuhku?"


"..."


"Aku bilang jangan mendekat!" teriak pria tua.


Tapi Zhang Yu tak menghiraukan. Dia terus melangkah hingga jarak mereka semakin dekat.


Pada saat itu jiwa dewa naga berubah menjadi cahaya. Tersedot masuk ke dalam gelang naga yang melingkar di tangannya.


"Lepaskan! Keluarkan aku dari sini!"


Kejadian ini terjadi begitu cepat. Dia tidak tahu tentang simbol yang dimaksud jiwa dewa naga. Dia melihat keningnya dan menjadi sangat ketakutan. Pada saat itu memang keningnya terasa hangat. Tapi tidak mengetahuinya secara pasti simbol yang dimaksud.


"Bocah! Keluarkan aku! Beraninya kau mengurung dewa naga seperti ku?! Aku adalah penguasa ras binatang spiritual! Aku akan membunuhmu dan mengambil alih tubuhmu!"


Bahkan dalam keadaan terkurung jiwa dewa naga masih mempertahankan arogansinya. Dia tak mencoba memohon, tapi masih memerintah dengan penuh keangkuhan.


Zhang Yu mencelanya. "Jika kau bisa melakukannya, maka lakukan! Tapi karena kau tidak bisa, diam saja di dalam gelang. Setelah keluar dari tempat ini aku akan mengeluarkanmu."


"Menjadi nutrisi binatang spiritualku,"


Jiwa dewa naga sejenak merasa senang ketika mendengar kalimat pertama yang dikatakan Zhang Yu. Tapi mendengar kalimat setelahnya, dia tak lagi dapat menahan amarahnya. "Dasar bocah tak tahu diri! Kau pikir siapa dirimu berani melakukan hal itu terhadapku?! Kau tak bisa! Aku memberimu perintah untuk tidak melakukannya!"


Zhang Yu menutup telinga tak menghiraukan teriakan jiwa dewa naga. Dia mengikuti intuisinya untuk berjalan lurus berharap menemukan jalan keluar dari tempat tak berpenghuni ini.


...


Getaran di seluruh lantai pagoda naga yang beberapa saat lalu mereda sekarang kembali terjadi dan semakin kuat.


Di lantai dua, tiga, empat dan lima, semua orang berbondong-bondong keluar karena takut tertimbun jika sewaktu-waktu pagoda naga ambruk.

__ADS_1


Lantai bergetar dengan kuat. Dinding bergoyang heboh. Suara retakan yang terdengar juga mempengaruhi kewaspadaan mereka.


"Cepat keluar! Cepat Keluar!" Teriakan diserukan dari seluruh penjuru lantai keenam.


Mereka yang semula menunggu di sana menantikan kembalinya lima orang yang naik ke lantai tujuh tak lagi berani duduk santai di sana. Mereka berlarian turun untuk menyelamatkan diri.


"Wu Zetian, apa yang kau lakukan? Ayo pergi dari sini!"


Namun Wu Zetian bergeming di tempatnya. "Aku harus menunggu nya kembali. Kami sudah seperti saudara, tidak mungkin aku pergi tanpanya."


Meski saat ini kakinya lemas ketakutan. Tapi Wu Zetian selalu memegang prinsipnya. "Kalian pergi saja terlebih dahulu. Aku akan menunggunya di sini. Lagi pula ini hanya getaran biasa, nanti juga akan berakhir."


Tang Yue menjadi cemas dengan kalimat ini.


Getaran biasa? Apa matanya bermasalah? Apa telinganya tidak berfungsi?


"Wu Zetian! Kau jangan gila! Jika Zhang Yu ada di sini dia pasti akan meminta kita menunggu di luar. Kau sendiri tahu bagaimana sikapnya. Yang harus kita lakukan adalah menyelamatkan diri dan tak menjadi bebannya!"


"..."


Wu Zetian seketika mengubah wajah sedihnya menjadi berapi-api. "Siapa yang kau sebut beban? Aku tidak akan menjadi beban!"


"Jika begitu ayo kita keluar dan tunggu dia di luar."


Dengan berat hati Wu Zetian mengikuti ucapan Tang Yue. Mereka bertiga keluar mengikuti beberapa kelompok yang sudah berkati terlebih dahulu.


Dalam sekejap lantai keenam hanya menyisakan sedikit orang. Jiang Fu adalah satu di antara sedikit orang itu. Dia terus memperhatikan satu di antara lima pilar batu sambil mengukir senyum yang berbahaya.


"Zhang Yu, tidak kusangka akan datang kesempatan lagi untuk menyingkirkanmu."


Jiang Fu mengeluarkan pedang. Jika pilar batu ini yang sebelumnya mengantar Zhang Yu ke atas, seharusnya melalui pilar batu ini dia akan kembali. Tapi bagaimana jika ia menghancurkan pilar batunya? Bukankah dia akan terjebak di lantai ketujuh?


Lalu dengan keadaan pagoda naga yang semakin rapuh, tak lama lagi pasti akan roboh. Pada saat itu semua akan berakhir.


"Hehe-he ...." Jiang Fu merasa rencananya kali ini akan berhasil. Dia mencengkeram pedangnya sembari memastikan tidak ada orang lain yang akan menghentikannya.


Aman. Sebagian besar fokus melarikan diri meninggalkan lantai keenam. Sementara sisanya masih diam tapi dalam kekacauan seperti ini mereka tidak akan punya waktu untuk menghalangi rencananya.


"Zhang Yu, kau tetap saja di sini. Jangan berpikir untuk kembali!"


Jiang Fu yakin dapat menghancurkan pilar batu besar ini dengan kekuatannya setelah melihat beberapa titik kerusakan yang diakibatkan guncangan pada lantai. Dia mulai mengangkat pedangnya, saat Qi sudah berkumpul di satu titik, tiba-tiba sebuah siluet tebasan hampir menebas pergelangan tangannya.


Klang...


Tentu saja secara reflek Jiang Fu melepas pedangnya hingga langsung terjatuh. Setelah itu dia mengangkat wajahnya dengan mata tajam.

__ADS_1


"Siapa ...." Namun kalimatnya langsung terhenti melihat seseorang yang berdiri belasan langkah di samping kanannya. Wajahnya pun berubah pucat.


"Pa-Pangeran Ketujuh ...."


__ADS_2