
Beberapa saat sebelumnya.
"Bibi, kenapa kau masih di sini? Bukankah kau sudah bebas?" tanya Xuan Yin. Kemarin dia melihat dua penjaga membawanya keluar untuk bertemu Patriark Sepuh. Kata para penjaga hukuman yang diberikan sudah berakhir. Jadi seharusnya sudah tidak kembali ke ruangan ini bersamanya.
Xiao Mei tersenyum lembut. "Bibi ingin menemanimu di sini."
"Apa?" Jawaban Xiao Mei mengejutkan Xuan Yin.
"Tidak lama lagi Zhang Yu akan datang. Dia sekarang masih dalam perjalanan."
"Apa?" Xuan Yin kembali menengadahkan wajahnya. Matanya berbinar begitu penuh dengan harapan. "Dari mana Bibi mengetahuinya? Apa dia benar-benar datang?"
Xiao Mei menganggukkan kepala. "Dia akan datang."
Xuan Yin terlalu senang hingga tak bisa berkata-kata. Mereka kemudian duduk bersama lalu sekali lagi bercerita tentang Zhang Yu.
Entah sudah berapa lama mereka duduk bersama. Pada waktu itu terdengar suara dari luar ruangan yang sontak membuat mereka menghentikan pembicaraan.
Brak!
Pintu terbuka dengan keras lalu diikuti seorang pemuda yang memasuki ruangan. Wajahnya yang tampan, mata yang hitam legam dan garis wajah yang tegas terasa sangat familiar di mata Xuan Yin
Gadis itu terdiam sambil terus memandangnya. Dalam momen yang singkat dia tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya kemudian menerjang dengan pelukan.
"Zhang Yu!"
Xiao Mei hanya memperhatikan. Melihat bagaimana Xuan Yin menyerukan nama Zhang Yu membuat tubuhnya bergetar.
Ini putranya.
Putranya yang ditunggu selama ini akhirnya datang menjemputnya.
Xiao Mei merasa seluruh hal baik jatuh kepadanya. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan gejolak perasaan dalam dirinya. Setelah menjadi lebih tenang, dia berdehem dengan suara nyaring.
"Yin'er,"
Mata Xuan Yin terbelalak sempurna. Dia terlalu bersemangat hingga lupa keberadaan Xiao Mei.
__ADS_1
"Bibi ...." Rasanya Xuan Yin bersembunyi karena malu. Dia bahkan mendahului Bibi Xiao Mei untuk menemukan Zhang Yu. Seharusnya dia lebih bisa menahan diri. Namun dia seolah lupa hal itu saat melihat Zhang Yu benar-benar muncul di hadapannya.
"Kau harus bicara dengan ibumu kan, aku ...." Saat Xuan Yin hendak menjauh Zhang Yu langsung menahan tangannya. Itu seolah perintah agar Xuan Yin tetap di tempatnya.
"Tunggu di sini." Zhang Yu melepas tangan Xuan Yin sebelum berjalan ke hadapan Xiao Mei. Dia melangkah pelan sambil matanya terus tertuju pada sang ibu yang masih diam tak bicara.
Zhang Yu akhirnya berhenti tepat tiga langkah di hadapannya. Setelah hanya diam dan menatapnya, dia berlutut sambil menyentuh kakinya.
"Ibu!"
Untuk pertama kalinya anak ini bertemu ibunya. Berpisah dari lahir bahkan tak pernah melihat parasnya, kini sang ibu berdiri di hadapannya.
Senang, sedih dan haru. Semua bercampur menjadi satu menggambarkan perasaannya saat ini.
Xiao Mei yang tersadar dari lamunannya segera merengkuh tubuh Zhang Yu dan langsung memeluknya. Dia mencoba bersikap tegar tanpa mengeluarkan air mata, tapi air mata itu keluar begitu saja membasahi wajahnya.
"Maafkan ibu yang sudah meninggalkanmu."
Xiao Nie yang berada di ambang pintu tidak bicara sepatah kata pun. Dia sungguh merasa bersalah atas tindakannya dulu yang begitu kukuh memisahkan Xiao Mei dengan Zhang Long.
Sekarang sudah berlalu dua puluh dua tahun. Tapi itu seolah baru berlalu beberapa hari yang lalu.
Namun Xiao Nie malah membalikkan badan kemudian pergi dari sana.
Orang yang memisahkan anak dan ibunya bagaimana mungkin punya muka untuk muncul di saat bahagia ini. Zhang Yu mau kembali ke klan saja sudah bagus. Setidaknya hal itu dapat mengurangi rasa bersalahnya.
Kembali ke dalam ruangan. Setelah beberapa waktu mereka akhirnya melepas pelukan itu. Zhang Yu menarik tangan Xuan Yin, lalu memperkenalkannya pada ibunya.
"Ibu, kenalkan dia ...."
"Ibu sudah tahu. Yin'er sudah bercerita banyak tentang hubungan kalian. Juga darinya lah ibu dapat mengetahui sedikit cerita perjalananmu."
Seketika Zhang Yu menaikkan alisnya mendengar ucapan Xiao Mei. Sungguh tidak disangka ternyata hubungan antara ibunya dengan Xuan Yin jauh lebih baik dari apa yang dia pikirkan.
Berbeda dengan Xuan Yin. Saat mendengar hal ini dia langsung memalingkan wajahnya ke samping. Dia bahkan tergagap saat berusaha menyangkalnya. "I-itu tidak benar. Aku tidak bercerita apapun."
"Bibi, bukankah kau berjanji tidak mengatakan hal ini?" kata Xuan Yin pelan dengan nada mengeluh.
__ADS_1
Xiao Mei hanya tertawa canggung sambil merasa bersalah. "Maaf maaf, Bibi lupa karena terbawa suasana."
Xuan Yin sangat malu. Dia ingin mencari topeng untuk menyembunyikan wajahnya.
"Ibu, Yin'er, ayo keluar dari sini," ajak Zhang Yu.
Xiao Mei cukup bersemangat, tapi Xuan Yin agak ragu.
"Keluar? Bagaimana dengan penjaga? Apa mereka akan membiarkanku pergi dari sini?"
Zhang Yu langsung melirik penjaga yang ada di depan pintu. Mereka dengan segera membuka pintu lebih lebar seolah memberi jalan bagi mereka.
"Ayo,"
Perasaan dilindungi oleh seseorang itu sangat luar biasa. Terlebih orang itu adalah orang yang kita suka. Seolah dia dapat menggenggam alam semesta di atas telapak tangannya.
Mereka meninggalkan ruangan itu bersama-sama. Tidak satu pun penjaga berani menghentikan mereka karena mengingat perintah Xiao Nie sebelumnya.
Namun jangan berpikir jalan mereka akan sangat mudah. Karena pada saat ini Xiao Lang datang menghentikan mereka.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Xiao Mei dengan keras pada Xiao Lang.
Xiao Lang tertawa. "Hahahaha ... Adikku tersayang. Kakakmu ini mendengar keponakanku tersayang pulang untuk pertama kalinya ke kediaman klan Xiao. Bukankah sebagai paman yang baik harus datang menyambutnya?"
Tatapannya terlihat ramah. Tapi siapa yang tidak tahu bahwasanya dia memiliki pikiran yang sangat-sangat rusuh.
Zhang Yu bersikap tenang. Karena pamannya ingin bermain seperti ini dia merasa kurang sopan jika tidak meladeninya.
"Terima kasih karena paman menyembutku. Ini ada sedikit hadiah untuk paman. Tanaman herbal penyembuh, mungkin akan berguna untuk anak paman."
Respon yang sempurna. Wajah Xiao Lang yang semula tenang-tenang saja langsung berubah kesal dan marah mendengar ucapan Zhang Yu. Dia mengabaikan tanaman herbal yang diberikan padanya, kemudian berlalu pergi.
Langkahnya kembali berhenti ketika mengingat sesuatu. Dia berbalik lalu berjalan ke arah Xuan Yin. "Sebagai calon pengantin. Bukankah kau harus menjenguk calon suamimu yang terluka? Kalian akan segera menikah, jika bisa sering menghabiskan waktu bersama agar lebih saling mengenal."
Tubuh Xuan Yin membeku. Bahkan setelah Xiao Lang pergi dari sana dia masih tidak mengatakan apapun.
Xiao Mei yang menyadari hal ini segera memeluknya. "Tenang saja. Menurut janji yang ada, kau hanya akan menikah dengan keturunan Klan Xiao yang memiliki tingkat persentase darah tertinggi. Zhang Yu juga adalah keturunan Klan Xiao dan Bibi yakin dia memiliki persentase darah yang lebih tinggi dari Xiao Yuze."
__ADS_1
"Apa kau percaya padaku?" tanya Zhang Yu sambil menggenggam tangan Xuan Yin.
Pada saat itu keraguan dan kegelisahan langsung menghilang. "Aku percaya pada mu."