
Di tempat yang sangat jauh dari akademi.
"Kenapa kalian membawanya juga?" Gao Ran menunjuk He Jiao yang tergeletak di tanah.
Jia Li menatap Gao Feng Sha yang terlihat gugup. "Itu karena dia yang bertindak sangat lambat. Dia membiarkan gadis ini menelan cincin penyimpanannya."
"Hei! Itu juga bukan sepenuhnya kesalahanku. Siapa yang mengira gadis ini sangat nekat dan berani menelan cincin spiritual hanya untuk melindungi gulungan teknik itu." Gao Feng Sha yang tak terima berusaha membela diri. Tapi Jia Li terus mengolok nya.
"Semua ini salahmu. Kau yang salah. Ran Gege, kau harus menghukumnya!" kata Jia Li.
Gao Ran mendengus dingin yang membuat keduanya terdiam seketika. Matanya yang tajam menatap dengan tidak senang ke arah mereka berdua. "Jika kalian terus berisik, kalian pergi saja dari sini!" ucapnya, tegas.
Gao Feng Sha menelan ludah secara kasar. "Maafkan aku,"
Pada saat itu mata Gao Feng Sha tanpa sengaja melihat luka di pundak sang kakak. Dia pun penasaran dengan luka tersebut. "Kakak pertama, siapa yang membuatmu terluka?"
Jia Li yang baru menyadarinya pun terkejut. Namun reaksi Gao Ran malah terlihat malu dan terhina. "Aku mendapatkan luka ini karena ceroboh."
Owh...
Gao Feng Sha manggut-manggut. Dia merasa itu alasan yang masuk akal karena dia yakin tidak ada yang dapat menahan kekuatan kakaknya yang sudah menerima tiga anugerah surga.
"Ran Gege, apa luka ini juga sama?" tanya Jia Li sambil menunjuk luka di lengan kanannya.
Tangan Gao Ran sedikit bergetar ketika mendengar pertanyaan Jia Li. Itu adalah luka saat Zhang Yu menghancurkan naga api miliknya. Bayangan cakar raksasanya tidak langsung menghilang saat menghancurkan naga api, tapi itu melesat ke tempatnya dan meninggalkan luka seperti yang tampak di lengan kanannya.
"Ya, benar."
Namun dengan harga diri tinggi bagaimana mungkin Gao Ran mengatakan hal itu. Lebih baik mengatakan dirinya ceroboh dari pada harus mengatakan dirinya terluka oleh seorang yang jauh lebih muda darinya.
__ADS_1
"Kakak pertama, apa aku harus merobek perutnya untuk mengambil cincin spiritual itu?" tanya Gao Feng Sha.
Kebetulan pada saat itu He Jiao sudah tersadar. Dia mendengar perutnya akan dirobek dan tubuhnya langsung bergetar ketakutan.
Jia Li yang berada cukup dekat dengannya tersenyum sinis saat menyadarinya. Dia menjambak rambut He Jiao sambil menariknya untuk berdiri. "Kita robek saja perutnya. Kebetulan dia juga sudah bangun."
He Jiao menggelengkan kepala berusaha menolak hal itu. Wajahnya berubah pucat dan sangat ketakutan ketika melihat Jia Li menunjukkan pedang miliknya.
"Berhenti! Jangan menakutinya lagi." Gao Ran berdiri di depan He Jiao. Meskipun dia sudah menyelamatkan He Jiao dari tangan Jia Li, tapi He Jiao malah semakin gemetar melihat sosok pria di hadapannya.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" Suara He Jiao terputus-putus.
Gao Ran tak menghiraukannya. Tangannya perlahan menyentuh perut He Jiao, lalu mengalirkan sebagian Qi miliknya.
Rasa sakit langsung menyerang He Jiao pada bagian perutnya. Seperti ada sesuatu yang mengoyak lambungnya dari dalam.
Arg...
Uhuk huk!
Setelah beberapa lama, He Jiao pun tak kuasa menahan rasa sakit itu. He Jiao memuntahkan cincin penyimpanannya yang sudah ditelannya beberapa waktu lalu.
"Teknik pengendali jiwa." Senyum di wajah Gao Ran semakin nyata saat mendapatkan cincin penyimpanan He Jiao. Dia segera membukanya, dan benar-benar menemukan apa yang mereka cari.
"Jia Li, bawa dia."
Jia Li sejenak terhenyak karena tidak tahu kenapa mereka masih harus membawa gadis ini. Bukankah teknik pengendali jiwa sudah di tangan mereka? Namun Jia Li juga tidak berani bertanya pada Gao Ran.
"Gao Feng Sha, kau bawa dia."
__ADS_1
Apa?
Gao Feng Sha mengerutkan kening. "Kenapa aku? Bukankah kau yang disuruh?!"
"Banyak bicara! Bawa saja!" teriak Jia Li.
Cih!
Gao Feng Sha akhirnya pasrah dan membawa He Jiao.
...
Kembali ke akademi, di sebuah ruangan.
"He Jiao! Di mana putriku?" Han Rui yang terbangun langsung mencari He Jiao. Namun saat dia tak mampu menemukannya, dia menangis saat mengingat He Jiao di bawa oleh pasangan berpakaian hitam.
"Bibi, He Jiao pasti baik-baik saja. Kau harus tenang," kata Tang Yue.
Wu Zetian yang ada di ruangan itu juga berusaha menenangkan Han Rui. Bahkan beberapa tetua yang juga ada di sana juga ikut memberikan suara.
Han Rui menggeleng kepala dengan frustrasi. Dirinya yang baru satu tahun sembuh dari trauma kehilangan suami dan keluarganya, bagaimana mungkin dapat bertahan saat mengetahui kenyataan putrinya diculik.
"Tidak! Aku harus pergi menyelamatkannya. He Jiao! Tunggu ibu, ibu akan menyelamatkanmu!"
Suara teriakan Han Rui terdengar sampai di luar ruangan. Zhang Yu yang hanya berdiri di samping pintu hanya mampu menggertak gigi tanpa bisa mengangkat wajahnya.
"Zhang Yu, ini bukan kesalahanmu. Kau jangan terlalu menyalahkan diri sendiri." Wang Chen datang lalu menepuk pundak Zhang Yu. Dia mengajak Zhang Yu keluar untuk melihat ratusan murid sedang membereskan kekacauan.
"Jika kau tidak datang, mungkin akademi Kekaisaran hanya akan tinggal nama. Semua murid dan tetua menjadi korban, bahkan aku, gurumu juga mungkin sudah mati di tangan pemimpin kelompok pemberantas."
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan gurumu. Lagi pula, bahkan jika gadis itu tahu apa yang sudah kau lakukan. Bukan hajyantudak menyalahkanmu, aku yakin dia berterima kasih karena kau datang tepat waktu untuk menyelamatkan ibunya. Jika ada yang bisa kau lakukan saat ini, kau harus memikirkan cara untuk menyelamatkannya dan menggagalkan rencana kelompok pemberantas."
Zhang Yu memejamkan mata untuk beberapa saat. Dia merenungkan kalimat sang guru dan Long Shen.