
Hal pertama yang Zhang Yu lakukan setelah memasuki wilayah Kota Dou Yan adalah mengganti pakaiannya. Pakaian akademi terlalu mencolok baginya, dia mengenakan pakaian hitam agar tak terlalu menarik perhatian.
Masih di sekitar gerbang, Zhang Yu berhenti ketika melihat sebuah tugu batu yang berdiri tepat di hadapannya. Dia mengangkat wajahnya menatap ke atas membaca sekali lagi nama kota yang baru disinggahi nya.
Ini adalah hari pertamanya di Kekaisaran Yang. Kedatangannya ke sini adalah untuk menemukan Klan Xiao dan bertemu dengan ibu serta Xuan Yin.
“Hei, kau ….”
Zhang Yu yang akan berjalan spontan menengadahkan wajahnya. Dia melihat sesosok pria berikat kepala mengenakan pakaian merah.
Pria bertubuh gempal itu melipat tangannya di pinggang. Mata menatap ke sekitar, “Apa kau melihat wanita berambut panjang melintas di sini?”
Zhang Yu bukannya fokus dengan pertanyaan yang diutarakan malah memperhatikan pakaian merah dengan garis kuning di bagian merah leher.
Bukankah itu pakaian Klan Yan?
Karena tidak menggubris pertanyaannya, pria itu menautkan kedua alisnya dengan kesal. “Kurang ajar! Apa kau tidak bisa mendengar?! Aku berbicara kepadamu!”
Lagi dan lagi Zhang Yu hanya diam, membuat sang pria mengepalkan tangan. “Kau memang mencari mati,” ujarnya sembari melayangkan sebuah tinju. Namun, sebelum tinju itu melesat Zhang Yu menghempaskan tubuh pria itu dengan satu tendangan.
Blam!
Tubuhnya menghantam tugu batu hingga bergetar. Kekuatannya terlalu besar sehingga pria bertubuh gempal memuntahkan seteguk darah segar.
Huk… Huk…
Sambil bangkit berdiri pria itu menengadahkan tangan, seteguk darah segar melompat keluar dari mulutnya. “Anak setan! Sepertinya kau tak tahu siapa aku. Aku adalah ….”
Blam!
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh pria itu kembali terhempas dan menghantam tembok tinggi di belakang tugu batu. Tidak sampai di sana, Zhang Yu dengan tinjunya, melesat memburu tanpa segan.
Satu pukulan, dua pukulan, sampai pukulan ketiga pria itu tidak kuasa menahan serangan Zhang Yu. Dia bersimpuh lalu memohon dengan menyedihkan.
Namun Zhang Yu mengingat perbuatan Klan Yan saat masih di Alam Zhen Yang. Bagaimana mereka mencoba membunuhnya, juga mencelakai banyak murid akademi selatan.
Amarah Zhang Yu mendidih. Dia mengepalkan tangan memukul dengan penuh kekuatan.
Bamm!
Pukulan terakhirnya menerbangkan pria Klan Yan sampai ke dekat gerbang. Orang-orang yang menemukan satu orang tak sadarkan diri tentu saja langsung heboh. Tapi Zhang Yu si pelaku malah berjalan dengan tenang seolah tak terlibat sama sekali.
"Kau sangat tidak berbelas kasihan," kata dewa naga.
Zhang Yu kembali melirik pria Klan Yan itu lalu mendengus.
Huh!
__ADS_1
“Orang-orang Klan Yan selalu bisa membuat orang kesal. Dia bahkan tidak tahu namaku, tapi sudah ingin menghajar. Aku hanya membuatnya lumpuh dan gagah otak. Tidak sampai membunuhnya, itu juga sudah termasuk belas kasihan."
Zhang Yu melangkah masuk lebih dalam meninggalkan keramaian. Akan tetapi baru beberapa puluh langkah dia kembali berhenti setelah menyadari seseorang sedang menguntit nya.
Hem?
Zhang Yu melirik dengan ekor matanya menyapu ke beberapa tempat. Tidak lama setelah itu ia melanjutkan langkah dan sesekali melirik dengan penuh rasa waspada. Dia melihat sebuah gang kosong, tanpa banyak berkata langsung berbelok melangkahkan kakinya.
“Kaluar!” Zhang Yu berkata dengan lantang dan disertai dengan energi kekuatan. Tidak berselang lama sesosok wanita muncul di depannya.
“Apa tujuanmu?” tanya Zhang Yu sembari memutar tubuhnya.
Wanita ini terlihat ragu, wajahnya tiba-tiba memucat merasakan tekanan dari tubuh Zhang Yu. “A-aku hanya ingin berterima kasih kepadamu.” Dia sedikit membungkuk dan menyebabkan rambut di keningnya agak turun.
“Jadi kau yang dicari oleh pria sebelumnya?”
“Benar,” jawab wanita itu singkat. Ia menundukkan wajahnya saat berkata karena tidak ingin menyinggung Zhang Yu. Dia sudah melihat bagaimana kemampuan Zhang Yu yang mampu membuat pingsan Yan Xue
“Baiklah, kau boleh pergi sekarang.” Zhang Yu melambaikan tangan seperti mengusir. Itu langsung mengubah ekspresi wanita itu menjadi rumit.
“Bagaimana jika kita mencari tempat makan? Biarkan aku mengungkapkan rasa terima kasihku kepadamu.” Tong Zian, wanita itu masih bersikukuh.
Tanpa berpikir panjang Zhang Yu menggelengkan kepala, “Tidak, itu sama sekali tidak perlu. Tapi jika kau memaksa untuk berterima kasih, berikan saja koin emas mu dan anggap itu sebagai ungkapan terima kasih.”
Tong Zian langsung kehilangan kata, wajahnya semakin rumit dan tatapan tidak bisa diartikan.
Ah…
Tong Zian tersadar, pandangannya menyapu mencari sosok Zhang Yu. Tapi tidak ada siapapun di sekitarnya. “Kemana dia pergi?” gumamnya.
“Padahal aku ingin berterima kasih dengan tulus. Dia sangat tidak menghormati pendapat seseorang.” Tong Zian pergi dengan keluh kesahnya. Tidak menyadari sesosok pria memperhatikannya dari kejauhan.
"Padahal dia ingin mengenal lebih dalam. Harusnya sebagai pria kau tak boleh menolak wanita." Dewa naga mulai berceramah.
Zhang Yu tak mempedulikannya. Dia melanjutkan langkahnya menyusuri jalan.
Hem…
“Bukankah itu sebuah kedai?” Zhang Yu berpikir untuk mengumpulkan informasi lebih banyak. Meski memiliki informasi dari peta di tangannya, itu masih kurang untuk mempermudah langkah ke depannya.
“Selamat datang tuan, apa ada suatu yang ingin engkau pesan?”
Baru saja masuk ke dalam kedai, dua sampai tiga pelayan wanita menempel kepadanya seperti bulu yang terkena air. Sangat mengganggu.
“Tuan, bagaimana jika kita membuka kamar?”
“Hargaku tidak mahal, tuan. Tapi bisa menjamin engkau akan puas.”
__ADS_1
Zhang Yu melihat beberapa pengunjung pria yang diperebutkan beberapa pelayan wanita. Dengan pakaian minim mereka menempel dan menggoda.
Dewa naga tertawa dan menjadi bersemangat. "Zhang Yu, tempat ini ramai juga. Ini akan menyenangkan."
Namun berbeda dengan dewa naga, raut wajah Zhang Yu membeku dan sedikit suram.
Dia pikir Ini kedai biasa, tapi ternyata kedai plus-plus.
Wajah Zhang Yu semakin buruk ketika datang lagi pelayan wanita yang mendekat kepadanya. Dia dengan segera menepis tangan pelayan itu.
“Tuan?”
Ehem…
“Aku tidak ingin apapun, sebaiknya kalian menyingkir.”
Empat pelayan wanita langsung membubarkan diri. Meski tidak berkomentar tapi dapat dilihat dari ekspresi bahwa mereka sangat tidak senang.
Zhang Yu berjalan ke meja pemesanan, duduk di kursi sembari melihat gentong-gentong arak yang terisi penuh. “Tolong satu araknya!”
Wanita yang sejak tadi sibuk membelakanginya perlahan membalikkan badan, menuangkan satu cawan arak dan meletakkannya di depan Zhang Yu. “Silakan dinikmati, Tuan.”
Hem…
Zhang Yu hanya bergumam, mulai meraih cawan arak dan meneguknya dengan tenang.
“Tuan, apa engkau baru di sini?”
Pertanyaan wanita itu membuat Zhang Yu menghentikan tegukannya, sontak saja wanita itu bingung karena tidak tahu ada yang salah dengan pertanyaannya. “Kau begitu asing, kau pasti baru pertama kali mengunjungi ‘Ye Hua’.”
Heem…
Zhang Yu sekali lagi berdehem. Ye Hua adalah nama tempat ini dan memang benar ini adalah kali pertama ia datang kemari.
Melihat Zhang Yu kembali tenang, wanita itu menghela nafas lega. Meski masih tidak tahu apa yang aneh dari pertanyaannya, ia tidak lagi mau mengungkit hal itu karena akan berdampak buruk baginya.
“Bisa kau ikut denganku?” tanya Zhang Yu tiba-tiba.
“Tuan, jika engkau menginginkan teman untuk bermalam ada banyak wanita di sana.” Sambil berkata wanita itu menunjuk ke sebelah pintu masuk. Di sana terdapat sekitar belasan wanita yang berdandan menor berusaha menarik perhatian pria.
“Apa dia salah paham?” gumam Zhang Yu dengan mengerutkan kening.
Ia memang ingin mengajak wanita ini. Melihat sosoknya yang sangat teliti dan kaya informasi tidak ada keinginan lain kecuali memintanya untuk memberi pemahaman tentang keadaan kota dan sekitarnya.
“Aku baru di kota ini, oleh sebab itu aku membutuhkan bantuan untuk lebih mengenal tempatku tinggal.”
Penjelasan Zhang Yu membuat wanita itu merasa malu karena telah menuduh sembarangan. Dengan cepat dia meminta maaf atas tindakannya. “Tuan, jika seperti itu tolong biarkan pelayan ini menyelesaikan beberapa pekerjaan. Engkau dapat memesan sebuah ruangan dan meninggalkan nomornya di atas meja.”
__ADS_1
Zhang Yu mengangguk, “Jangan terlalu lama, aku membutuhkan bantuanmu segera.”