
Mencari batu inti api benar-benar bukan perkara gampang. Zhang Yu mencari di setiap penjuru kota dengan mendatangi toko-toko sumber daya yang dikelola klan tingkat kedua tapi tak juga menemukannya.
"Ibu, di mana ayah?" Xiao Mei baru saja keluar dari ruangannya ketika Zhang Yu yang berada di ruang tamu tiba-tiba menghentikannya.
"Ayahmu? Bukankah belum kembali dari tempat Patriark?"
Zhang Yu baru ingat jika beberapa hari terakhir memang pekerjaan ayahnya cukup banyak sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah. Jadi tak heran jika sampai sore hari seperti ini dia belum kembali.
"Apa Ibu melihat bibi?" tanya Zhang Yu lagi.
Xiao Mei sejenak memegang dagunya seperti mengingat sesuatu. "Jika tidak salah beberapa waktu lalu ada penjaga yang datang ke sini mencari bibimu. Tidak lama setelah itu bibimu pergi dan Ibu tidak sempat menanyainya akan kemana."
"Sepertinya dia akan menemui seseorang," tambah Xiao Mei.
Sontak Zhang Yu menyipitkan mata. "Siapa yang ditemui bibi?" gumamnya.
Zhang Yu yakin sekali jika bibinya tidak pernah datang langsung menemui seseorang seperti ini. Tentu hal itu membuat Zhang Yu penasaran. Dia segera berpamitan pada ibunya untuk pergi mencari bibi.
Xiao Mei yang melihat Zhang Yu pergi sangat cepat hanya dapat menggelengkan kepala pasrah. Dia tahu selama tiga hari ini Zhang Yu pergi ke setiap toko sumber daya yang ada di kota untuk mencari obat yang dapat menyembuhkan racun bibinya.
Itu hal baik karena Zhang Yu sangat peduli dengan keluarganya. Tapi Xiao Mei juga kasihan ketika melihat Zhang Yu kesulitan menemukan sumber daya yang dicarinya.
...
Di gapura pintu masuk kediaman klan. Zhang Bing yang duduk di kursi roda terlihat ingin berbalik pergi meninggalkan sosok pria berpakaian hijau beraksesoris emas.
Namun pria itu terlihat mencegah Zhang Bing dengan memegang kursi rodanya.
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Zhang Bing bernada ketus. Dia pergi ke luar karena penjaga memberitahunya jika ada seseorang dari keluarga Zhen datang mencarinya. Siapa yang mengira orang itu adalah Ming Jun. Pria yang sudah membunuh Zhen Rui, kekasihnya.
Ming Jun masih memegang kursi roda dengan tangan kirinya sehingga Zhang Bing kesulitan memundurkannya. Raut wajahnya memerah karena marah dan tak tahan untuk memakinya. Tapi Zhang Bing merasa terlalu sia-sia untuk menguras tenaganya untuk berurusan dengan orang seperti Ming Jun.
"Pergilah. Kau tidak akan mendapat apa yang kau inginkan."
Bukannya mendengar ucapan Zhang Bing, Ming Jun malah tertawa seperti orang gila. "Zhang Bing, berhentilah menjual mahal. Sekarang kau bukanlah genius yang dulu. Kau bahkan menggunakan kursi roda. Jika bukan karena aku mengagumi parasmu yang cantik, apa aku akan bersikeras seperti ini?"
__ADS_1
"Seharusnya kau beruntung karena dapat menjadi istri ketiga calon Kepala Keluarga Ming," tambahnya dengan percaya diri.
Tetapi Zhang Bing bahkan tak perlu berpikir untuk menolaknya. Dia melambaikan tangan dengan dengus menghina. "Pergilah. Aku tidak sudi."
Bertahap wajah Ming Jun memerah mendengar penolakan untuk kesekian kalinya. Dikuasai dengan amarah, dia menarik tangan Zhang Bing kasar.
Tentu saja Zhang Bing berusaha mendorong Ming Jun. Tapi karena perbedaan basis kultivasi dan kondisi kakinya yang bermasalah, Zhang Bing tidak bisa berbuat banyak.
Tepat di saat Ming Jun berniat membuat Zhang Bing pingsan dengan menepuk punggungnya, bayangan hitam berkelebat cepat menendangnya hingga terjungkal.
"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerangku?!" raung marah Ming Jun.
Zhang Yu yang baru saja datang seolah tak mendengar ucapannya. Dia berjalan ke arah Zhang Bing kemudian menarik kursi rodanya beberapa meter ke belakang. "Bibi, apa kau baik-baik saja?"
"Ya, ... Tapi bagaimana kau bisa tahu Bibi di sini?" tanya Zhang Bing heran.
Zhang Yu dan Zhang Bing sibuk sendiri. Ming Jun yang merasa diabaikan benar-benar marah sehingga kepalanya akan meledak.
"Bocah busuk! Aku akan memberimu pelajaran!" Pria berusia empat puluh lima tahun itu menerjang dengan tangan terkepal. Dia berniat mendaratkan pukulan mengincar wajah Zhang Yu.
Dengan sangat mudah Zhang Yu menghindarinya, kemudian menangkap tangannya sebelum memelintirnya dengan keras.
Krak!
Bunyi tulang pergelangan tangannya yang patah.
Ming Jun meringis kesakitan. Dia mencoba menarik tangannya agar lepas tapi Zhang Yu tak benar-benar ingin melepaskannya.
"Kau yang lemah ini bermimpi untuk mendapatkan bibi? Kau harus bangun dari tidurmu yang miring!" Zhang Yu menendang tubuh Ming Jun hingga terseret puluhan langkah.
Ming Jun memuntahkan seteguk darah dan wajahnya terlihat lebih buruk dari sebelumnya.
Tetapi Zhang Yu bahkan tidak mempedulikannya. Mengingat penderita yang bibinya alami selama ini, mulai dari kehilangan kekasih sampai dengan kehilangan fungsi kakinya. Zhang Yu bertekad tidak akan melepaskan pria ini dengan mudah.
"Zhang Yu, lihat apa yang ada di lehernya."
__ADS_1
Leher?
Zhang Yu memusatkan perhatiannya pada leher Ming Jun setelah mendengar ucapan Long Shen. Pada saat itu di pupil matanya terlihat bayangan batu berwarna jingga yang berukuran cukup besar.
"Batu inti api!"
Setelah mencari tiga hari di setiap toko sumber daya di kota dan tidak menemukannya, sekarang batu inti api yang mereka butuhkan datang dengan sendirinya.
"A-apa yang kau inginkan?" Suara Ming Jun tercekat saat melihat Zhang Yu berjalan ke arahnya.
Wajahnya yang dingin dan serius terlihat sangat menakutkan di mata Ming Jun.
Srak!
Zhang Yu merampas batu inti api yang dijadikan sebagai liontin.
Tentu hal ini membuat Ming Jun bernafas lega karena dia berpikir Zhang Yu berniat membunuhnya. Namun sedetik kemudian setelah menyadari apa yang diambil darinya, wajah pria itu terlihat marah.
Hanya saja ketika ingin berteriak dia kembali menutup mulutnya mengingat kekuatan Zhang Yu jauh di atasnya.
"Kurang ajar! Itu adalah barang yang aku dapatkan dengan susah payah. Aku tidak terima!" batinnya.
Pada saat yang sama rombongan kereta kuda melintas tak jauh dari tempat mereka. Dalam jangka waktu itu pula, perhatian mereka tertuju pada bendera yang menempel di kereta.
"Kereta kekaisaran?" gumam Ming Jun. Detik berikutnya pria itu tersenyum cukup merekah hingga wajahnya penuh dengan kebahagiaan. Dia seperti mendapat bantuan dalam situasinya saat ini.
"Pangeran Pertama, Pangeran Kedua, Pangeran Ketiga Pangeran Keempat, Pangeran Kelima, Pangeran Keenam, Pangeran Ketujuh!" Saat ketujuh pangeran keluar dari kereta utama, Ming Jun segera menyapa mereka dengan hormat. Tak lupa dia menyebut namanya sembari memberitahu dari mana asal keluarganya.
Zhang Bing yang melihat sikap Ming Jun seperti ini memiliki sedikit kekhawatiran. Dia melambaikan tangan kepada Zhang Yu memintanya mendekat.
"Bibi dengar Keluarga Ming memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga Kekaisaran. Mungkin kau harus mengembalikan barang yang kau ambil darinya," pintanya.
Zhang Yu hanya tersenyum sambil menenangkan Zhang Bing. "Bibi tidak perlu khawatir. Ketujuh pangeran tidak akan ikut campur dalam urusan ini."
Tentu saja Zhang Bing mengerutkan keningnya mendengar ucapan Zhang Yu. "Bagaimana kau bisa begitu yakin dengan hal itu? Bagaimana jika kau salah?"
__ADS_1
Zhang Yu kembali tersenyum. "Tidak mungkin. Aku yakin sekali jika mereka tidak akan membantu Ming Jun."