Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 176 : Perjalanan Pulang


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu sejak serangan yang dilakukan orang-orang Istana Roh. Meski begitu suasana pasca pertarungan itu benar-benar masih dapat dirasakan di setiap penjuru wilayah Klan Xiao.


Terlebih bersama dengan hari itu Klan Xiao telah kehilangan sosok yang cukup penting. Xiao Lang, patriark klan.


Meski mereka mengecam keras atas pengkhianatan yang dilakukan. Tapi tidak mengubah kenyataan bahwa Xiao Lang pernah menjadi patriark klan dan termasuk orang yang cukup dihormati banyak orang.


"Xiao Lang ...." Xiao Nie bergumam seraya menatap batu nisan di hadapannya. Terlihat juga matanya berkaca kaca saat membayangkan wajah putra sulungnya.


Terlepas kekecewaan yang dirasakan pada saat ini, Xiao Lang tetap adalah putranya. Xiao Nie hanya menyayangkan kenapa dia melakukan semua itu. Kenapa dia bekerja sama dengan musuh untuk menyerang klan. Sekarang dia bahkan di tempatkan di tempat yang jauh dari makam kehormatan, tempat yang seharusnya menjadi peristirahatan terakhirnya seperti patriark-patriark terdahulu. Namun karena kesalahannya membuat Klan menjatuhkan hukuman kepadanya.


"Ayah,"


Xiao Nie perlahan mendongakkan kepala saat mendengar suara. Melihat Xiao Mei, Zhang Yu dan Xuan Yin yang datang bersama.


"Aku hanya melihatnya sebentar," kata Xiao Nie lalu segera memutar tubuhnya pergi. Dia berhenti setelah beberapa langkah sebelum berkata pada Xiao Mei.


"Dia berkhianat pada Klan. Tempat ini adalah tempat yang pantas untuknya." Setelah mengatakan itu Xiao Nie melangkah pergi tanpa menoleh.


Sikapnya benar-benar terlihat seperti dia tidak peduli. Namun Xiao Mei sangat mengenal ayahnya. Sikap dingin itu hanyalah dinding yang ia ciptakan untuk menutupi kesedihannya.


Walau bagaimanapun seorang ayah tidak mungkin tidak mempedulikan anaknya. Bahkan seberapa buruk anak itu, seorang ayah tidak mungkin memiliki kebencian lebih besar daripada kasih sayangnya.


"Ibu, ...."


"Ibu ingin di sini sebentar. Kalian dapat kembali terlebih dahulu."


Zhang Yu menatap Xuan Yin. Seketika dia mengetahui jika ibunya memiliki sesuatu yang ingin disampaikan kepada Xiao Lang. Mereka tidak akan mengganggu lebih lama dan memutuskan pergi dari sana.


...


Di kediaman utama, tempat tinggal Xiao Nie.


Setelah pulang ke kediamannya Zhang Yu pergi mencari kakeknya untuk menyampaikan sesuatu.


Itu adalah rencananya sejak lama, yakni membawa ibunya kembali ke Klan Zhang untuk bertemu ayahnya. Namun saat mencari sampai di ruangan kakeknya, Zhang Yu tak bisa menemukan keberadaannya.


"Ke mana kakek pergi?" gumam Zhang Yu. Ketika dia ingin berbalik mencari ke tempat lain, Xiao Nie ternyata berdiri di ujung lorong sambil memperhatikannya.


"Ada apa?" tanya pria tua itu.


Zhang Yu tertawa saat mengingat apa yang ia pikirkan dalam kepalanya. Berpikir kakeknya masih larut dalam kesedihan sehingga membuat keputusan yang mungkin akan disesalinya.

__ADS_1


Tetapi hal itu sama sekali tidak benar. Zhang Yu menggelengkan kepala sambil berjalan menghampirinya.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."


Sejenak Xiao Nie mengangkat alisnya kemudian menganggukkan kepala.


"Aku tahu apa yang ingin kau sampaikan," ucapnya yang sontak membuat Zhang Yu terkejut.


"Ibumu sudah mengatakannya beberapa kali saat kau masih di altar leluhur. Dia berkata jika kau ingin membawanya kembali ke Klan Zhang untuk bertemu ayahmu." Xiao Nie tersenyum kecut saat mengingat bagaimana dirinya menentang hubungan antara Xiao Mei waktu itu. Bahkan sampai mengancam menyerang Klan Zhang sehingga Xiao Mei dengan pasrah menyerahkan diri dan menerima hukumannya.


Sungguh Xiao Nie merasa bersalah atas semua yang telah terjadi.


"Pergilah. Bawa ibumu pergi untuk bertemu ayahmu."


Zhang Yu menyambut ini dengan senang.


Xiao Nie kembali berkata, "Jangan lupa untuk kembali setelah kalian sampai di sana. Tidak perlu terburu-buru, tapi juga jangan begitu lama. Mengerti?"


"Haha ... Aku mengerti kakek. Aku tidak mungkin lupa dengan pesan Leluhur Xiao Mu untuk menjaga Klan Xiao."


Zhang Yu berpamitan kemudian beranjak dari sana. Tapi dia kembali berhenti saat Xiao Nie memanggilnya.


"Apa ada yang ingin kau katakan, Kakek?" tanya Zhang Yu melihat kegelisahan di wajah kakeknya.


"Satu lagi, tolong sampaikan maafku ini pada ayahmu. Kakek sungguh menyesal dan merasa bersalah padanya."


Zhang Yu berpikir ada satu hal lain yang sangat penting. Tapi ternyata kakeknya hanya ingin menitipkan maaf untuk ayahnya.


"Aku akan menyampaikan permintaan maaf kakek pada ayah. Kakek jangan terus-menerus merasa bersalah. Lagi pula sekarang kakek telah memiliki pandangan yang berbeda. Aku yakin ayah memahami alasan kakek melakukannya."


"Syukurlah jika begitu," hembus Xiao Nie menjadi lebih lega.


Zhang Yu kembali ke kediamannya untuk bersiap. Keesokan harinya bersama ibunya serta Xuan Yin dan di antar beberapa orang, mereka menggunakan token khusus untuk mengaktifkan portal teleportasi meninggalkan domain Klan Xiao.


"Sepupu, jangan lupa untuk kembali. Kami semua menunggumu!" kata Xiao Yuwen.


Xiao Yujin pun tak ingin ketinggalan dan berseru sambil melambaikan tangan. "Jangan pergi terlalu lama. Ingatlah untuk kembali karena ini adalah rumahmu."


Zhang Yu mengangguk sambil melambaikan tangannya sebelum tubuhnya menghilang ditelan cahaya portal teleportasi.


Wush...

__ADS_1


Sekejap portal teleportasi itu lenyap dari hadapan beberapa orang Klan Xiao yang ada di sana. Namun pada saat yang sama di wilayah pegunungan selatan, Kota Dou Xi. Tempat yang sama di mana Zhang Yu saat itu memasuki domain bersama Xiao Yujin.


"..."


"Ada apa ibu?" tanya Zhang Yu melihat ekspresi bingung yang ditunjukkan Xiao Mei.


"Entahlah. Mungkin karena ibu baru keluar kembali setelah puluhan tahun di dalam domain. Ibu merasa seperti berada di dunia yang sungguh berbeda," jelasnya.


Zhang Yu dan Xuan Yin saling memandang. Pada saat itu juga mereka tersenyum.


"Bibi, kita akan sampai di Kota Qian Gu dalam waktu lima belas hari."


"Benarkah?" Xiao Mei diam sejenak sebelum menyentuh dagunya. "Apa itu waktu tercepat untuk sampai?"


"Tidak. Kita bisa saja sampai dalam perjalanan sepuluh hari tapi tidak beristirahat sama sekali. Paling lambat kita sampai di Kota Qian Gu dalam lima belas hari," jelas Xuan Yin.


Mendengar hal ini Xiao Mei menganggukkan kepala. Dia menjadi lebih tidak sabar setelah meninggalkan domain. Mungkin karena waktu untuk bertemu dengan Zhang Long sudah sangat dekat sehingga membuatnya antusias.


Mereka pun memulai perjalanan. Dari Kota Dou Xi menuju Kota Dou Ha, kemudian ke Kota Dou Yan dan sampai di perbatasan dalam kurun waktu enam hari.


Jika sebelumnya Zhang Yu harus menempuh perjalanan jauh dari Kota Nuli ke Kota Dou Yan, sekarang tidak perlu lagi karena dapat menggunakan kapal memanfaatkan aliran sungai merah yang nantinya akan langsung membawa mereka ke perbatasan Kota Heishan dan Kota Qian Gu.


"Kebetulan sekali kita datang tepat saat kapal baru saja singgah. Akan ada banyak ruangan kosong untuk tempat beristirahat."


Xuan Yin dan Xiao Mei hanya mengikuti kemana Zhang Yu melangkah. Mereka segera naik begitu sebagian besar penumpang yang baru datang di Kota Dou Yan turun.


Pada saat itu ada kelompok penumpang yang turun dengan tergesa-gesa sehingga satu pria hampir menyenggol Xuan Yin dan Xiao Mei. Tetapi Zhang Yu segera memasang badan membuat tubuh pria itu tertahan olehnya.


"Hati-hati," ucap Zhang Yu sambil menepuk pundaknya.


Zhang Yu berpikir pria ini setidaknya akan meminta maaf. Namun bukan hanya tidak meminta maaf, pria itu menatapnya seolah ingin bertarung dengannya. Bahkan saat dia mulai melangkah pergi, lirikan matanya masih saja seperti ingin menantang dirinya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Xuan Yin.


"Aku baik-baik saja." Karena sejak awal tidak berniat mempermasalahkan hal ini Zhang Yu juga tidak mau mengambil pusing. Dia berniat segera mencari ruangan dan beristirahat, akan tetapi saat akan melangkah pandangannya tanpa sengaja tertuju pada ikat pinggang yang tergeletak di antara kakinya.


Terlebih saat melihat pola di atasnya yang seketika membuat matanya membulat.


"..."


Tanpa banyak bicara Zhang Yu mengambil ikat pinggang itu sambil berusaha mencari pria yang sebelumnya telah pergi. Sayangnya pria itu tidak lagi terlihat sehingga Zhang Yu memutuskan untuk menyimpan ikat pinggang tersebut sebelum naik ke atas kapal.

__ADS_1


__ADS_2