
Ming Jun berpikir telah berhasil menarik perhatian ketujuh pangeran dan niatnya untuk mencari bantuan dapat terealisasikan.
Namun ketujuh pangeran bahkan tak mengenalnya. Pangeran pertama Xuan Yi menyipitkan mata sambil bertanya padanya. "Ming Jun? Keluarga Ming? Apa itu berada di ibukota?"
Wajah Ming Jun hanya tersenyum pahit ketika mendengar pertanyaan pangeran pertama.
"Tidak, Pangeran Pertama. Wilayah kami adalah Kota Heishan."
Xuan Yi menaikkan alis lalu membulatkan mulutnya sambil bergumam. Detik berikutnya Xuan Yi berjalan melewati Ming Jun sebelum berhenti di depan Zhang Yu.
"Tidak disangka dapat bertemu denganmu di sini, Zhang Yu."
Ming Jun yang melihat bagaimana pangeran pertama menyapa terlebih dahulu membuat tangannya berkeringat. Bahkan keluarga Ming pun tak diingatnya, tapi bocah dua puluhan tahun itu diingatnya dengan jelas.
"Apa mereka saling kenal?" batin Ming Jun. Saat itu juga dia menyadari alasan kenapa Zhang Yu sangat tenang melihat kedatangan kereta kuda Kekaisaran. Ini menjadi lebih masuk akal jika dia memang mengenal pangeran pertama.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus pergi dari sini." Ming Jun perlahan melangkah mundur. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Dia mulai berpikir dapat pergi dengan selamat.
Tidak disangka Zhang Yu melihat gelagat anehnya dan berseru dari tempatnya. "Apa Tuan Muda Ming sudah akan pergi?"
Tubuh Ming Jun bergetar dan punggungnya dipenuhi keringat.
Ehem...
"Pangeran Pertama, Pangeran Kedua, Pangeran Ketiga Pangeran Keempat, Pangeran Kelima, Pangeran Keenam, Pangeran Ketujuh, karena tidak ada hal lain aku pamit terlebih dahulu. Jika kalian berkunjung ke utara Kota Heishan, jangan lupa datang ke Kediaman Ming. Kami pasti akan menyambut dengan baik." Setelah mengatakan itu Ming Jun berlari sangat kencang dan tak pernah menoleh untuk kedua kalinya. Dia bahkan tidak peduli lagi dengan batu inti api yang berharga ini.
...
Kedatangan tujuh pangeran kekaisaran pastinya sangat menghebohkan. Seluruh anggota klan berkumpul di aula bahkan rela berdiri berdesakan hanya demi melihat tujuh putra kaisar.
__ADS_1
Tujuh pangeran mendapat tugas untuk menerima laporan serta melakukan pengamatan langsung di wilayah Kota Qian Gu. Itulah kenapa ketujuh pangeran datang ke kediaman Klan Zhang dengan alasan Klan Zhang satu-satunya klan besar yang tersisa.
"Kenapa kau di sini?"
Hanya dari suaranya Zhang Yu dengan mudah mengetahui siapa yang datang. Perlahan dia mengangkat wajahnya menatap sosok pria cantik di hadapannya.
"Menunggumu," balasnya.
"..."
Xuan Yin berdehem berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah. Perlahan dia mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar sebelum melanjutkan langkahnya setelah memastikan tidak ada orang. Dia duduk di samping Zhang Yu sambil mengamati tembok bagian belakang aula utama klan.
Di saat pertemuan berlangsung di balik tembok tersebut, tapi mereka berdua malah berada di pertemuan lain yang jelas sekali sangat berbeda.
"Sepertinya keenam kakakmu masih tidak tahu siapa adiknya." Zhang Yu sempat berpikir pangeran pertama dan lima pangeran lainnya sudah mengetahui identitas Xuan Yin sebagai wanita. Tapi melihat sikapnya saat pertama kali bertemu di pintu masuk kediaman Klan Zhang membuat Zhang Yu sadar jika mereka belum mengetahuinya.
Xuan Yin menghela nafas. "Ini permintaan ayah kaisar dan ibu suri. Aku harus merahasiakannya setidaknya dalam beberapa waktu ke depan."
"Apa itu barang milik pria bernama Ming Jun?" Xuan Yin memperhatikan batu inti api di tangan Zhang Yu.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Zhang Yu sambil menyipitkan mata. Dia ingat betul tidak pernah memberitahunya.
Xuan Yin terkekeh. "Itu karena Ming Jun terus menatapnya dengan mata marah. Kemudian aku melihat lehernya terdapat goresan dan tali yang putus di tanah. Aku menebak kau pasti menarik batu itu saat mengambilnya."
Zhang Yu melihat batu inti api itu kemudian tertawa tanpa rasa bersalah. "Benar. Batu inti api ini memang miliknya. Tapi anggap saja ini sebagai bayaran atas apa yang sudah dia lakukan."
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" tanya Xuan Yin menjadi lebih penasaran.
"Dia ...." Karena terbawa emosi Zhang Yu mulai menceritakan kisah bibinya pada Xuan Yin. Dia bahkan menceritakan cerita itu dalam versi terlengkap menurutnya.
__ADS_1
Tak ayal ketika Xuan Yin mendengarnya, dia juga menjadi kesal pada Ming Jun.
"Dia benar-benar keterlaluan! Seharusnya kau tidak melepaskannya begitu saja," kata Xuan Yin.
"Jika bukan karena kalian datang tiba-tiba, aku pasti sudah membunuhnya." Kalimat ini hampir saja terlontar begitu saja dari mulut Zhang Yu. Namun setelah dipikirkan kembali, Zhang Yu merasa akan lebih baik jika dirinya diam saja.
"Anggap saja dia beruntung. Tapi jika bertemu kembali, aku benar-benar tidak akan melepaskannya," kata Zhang Yu.
Xuan Yin mengangguk-angguk. Matanya memperhatikan batu inti api yang menurut cerita Zhang Yu akan menjadi obat penawar racun kaki bibinya.
"Kapan kau akan memulai proses pengobatan?" tanya Xuan Yin.
"Besok pagi."
Xuan Yin terlihat terkejut saat mendengar Zhang Yu akan memulai pengobatan besok. Dengan segera wajahnya berubah murung.
Bagaimana tidak, dia datang ke kota Qian Gu ikut rombongan kekaisaran hanya untuk bertemu Zhang Yu. Tentu saja dia tidak terima jika usahanya datang ke sini sedang Zhang Yu sibuk dengan urusannya.
Meski melakukan pengobatan adalah prioritas yang tak dapat diganggu gugat, tapi Xuan Yin hanya ingin melihat Zhang Yu lebih lama.
Seolah mengetahui apa yang dipikirkan Xuan Yin, Zhang Yu segera memberitahunya jika proses pengobatan akan berlangsung cepat. Tentu hal itu dengan segera membuat Xuan Yin kembali mengembangkan senyum di bibir tipisnya.
"Benarkah?" tanyanya.
Zhang Yu mengangguk. "Tentu saja. Aku ingin menyelesaikannya dengan cepat, lalu melakukan apa yang belum sempat kita lakukan."
Awalnya Xuan Yin tidak mengerti apa yang dimaksud Zhang Yu dengan kalimatnya. Tapi setelah menyerapnya secara perlahan, bertahap wajahnya memerah seperti tomat.
"A-aku ingat ada yang harus dilakukan. Aku akan pergi ke aula sekarang." Xuan Yin melarikan diri dengan cepat. Zhang Yu hanya tersenyum sambil terus memandanginya dan sesekali menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sepertinya aku terlalu berlebihan," gumamnya.