
Zhang Yu berjalan kembali menuju tempat duduk. Saat melangkah tatapan matanya bertemu dengan Xiao Nie yang juga memperhatikannya.
Terlihat pria tua itu terkejut seperti menemukan sesuatu yang akrab.
"Ada apa Ayah?" tanya Xiao Lang yang duduk di sebelahnya.
Namun Xiao Nie hanya diam tanpa memberinya jawaban. Dalam hati ia bergumam, "Kenapa aku merasa tidak asing dengannya. Padahal ini kali pertama aku melihatnya. Tatapannya, matanya, ekspresinya ...."
"Ayah, sekarang giliran Yuze. Aku yakin dia dapat mengalahkan dua peserta lainnya dengan mudah."
Seketika Xiao Nie menurunkan pandangannya ke arena. Benar seperti yang dikatakan Xiao Lang, sekarang Xiao Yuze, cucunya akan bertarung dalam babak pertama.
"Kenapa lama sekali? Apa kalian tidak punya nyali untuk bertarung?" Xiao Yuze menyindir dua peserta lain yang datang begitu lama seolah takut menghadapinya. Sikapnya yang seperti ini tentu saja berhasil membuat dua peserta marah.
"Xiao Yuze adalah generasi terbaik Klan Xiao saat ini. Dengar dengar dia sekarang berada di tingkat grand master bintang lima. Dia salah satu kandidat juara dalam pertarungan surga."
Zhang Yu melirik ke samping melihat Hong Shen yang baru datang. Awalnya dia duduk paling kanan, tapi sengaja berpindah ketika melihat kursi di sebelah Zhang Yu kosong.
"Kenapa kau menjelaskan hal itu?"
Hong Shen tersenyum. "Siapapun yang memperhatikanmu pasti menyadari kau penasaran dengan Xiao Yuze. Aku hanya menjelaskan apa yang ingin kau ketahui," ucapnya percaya diri.
Zhang Yu menggelengkan kepala samar. Dia bukan penasaran dengan Xiao Yuze. Dia hanya menaruh sedikit lebih banyak perhatian karena dia perwakilan Klan Xiao dan pria yang akan menikah dengan Xuan Yin.
"Omong-omong, aku memperhatikan pertarungan mu sebelumnya. Kau jauh lebih kuat dari dua tahun yang lalu. Aku yakin saat itu kau masih berada di tingkat master. Tapi sekarang ...."
"Kau juga mengalami peningkatan dari dia tahun yang lalu," balas Zhang Yu.
"Tapi membandingkan denganmu peningkatan ku sama sekali tidak ada apa-apanya. Bagaimana kau melakukannya? Apa kau menemukan sebuah peninggalan lain?"
Zhang Yu tak menjawab secara langsung hal-hal yang sudah dilaluinya. Hanya berkata menemukan sedikit keberuntungan yang membuatnya memiliki perkembangan seperti ini.
Di sisi lain pertarungan babak pertama gelombang ketiga dimenangkan oleh Xiao Yuze. Dia mengalahkan dua peserta lainnya tanpa kesulitan dan dalam waktu yang cukup singkat.
Namun tidak ada yang terkejut dengan hal ini. Sejak awal pertarungan gelombang ketiga sudah dapat ditebak. Jadi ketika Xiao Yuze keluar sebagai pemenang, semua orang sudah menduganya.
"Tiga peserta selanjutnya, Guang Liao, perwakilan Klan Guang. San Xing, perwakilan Keluarga Li. Dan Guang Zhou perwakilan Keluarga Tong."
Mendadak suasana hening ketika mendengar dua nama bermarga Guang disebutkan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Klan Guang membiarkan generasi mudanya mewakili Keluarga Tong?"
Zhang Yu yang duduk di tempat memperhatikan Guang Zhou. Dia tidak mungkin salah mengenali jika Guang Zhou ini sama dengan Guang Zhou dari Akademi Kekaisaran.
"Bagaimana dia bisa sampai di sini?"
"Pantas saja saat itu dia mengetahui banyak tentang pedang abadi. Ternyata dia adalah anak terlantar Klan Guang yang diusir keluar lima belas tahun yang lalu. Sepertinya dia sekarang tinggal dengan Keluarga Tong, keluarga dari ibunya."
Zhang Yu menyipitkan mata mendengar ucapan Hong Shen. Guang Zhou ternyata berasal dari Klan Guang, satu dari tiga klan kuno. Itu menjelaskan sikapnya yang misterius tapi menyimpan kekuatan yang tidak dapat diremehkan.
"Ini menarik karena dua generasi muda Klan Guang akan berhadapan. Aku ingin melihat apakah Guang Liao yang berhasil, atau Guang Zhou yang menyingkirkan Guang Liao."
Zhang Yu juga ikut mengamati. Awalnya sempat berpikir kekuatan Guang Zhou berada di tingkat master tapi sekarang dia menyadari jika Guang Zhou selama ini menyembunyikan kekuatannya yang berada di tingkat grand master.
"Aku rasa ini akan menjadi pertarungan yang sengit," gumamnya.
Di atas arena, bahkan sebelum dimulai suasana sudah sangat tegang. Guang Liao dan Guang Zhou saling tatap menunjukkan aura permusuhan.
"Kenapa kau tidak turun saja dan membiarkan aku lolos?" kata Guang Liao dengan tatapan mengejek.
Guang Zhou langsung membalasnya. "Jika begutu kau saja yang turun. Aku tak ingin melukaimu karena mengingat hubungan keluarga."
"Karena kalian sudah siap, aku akan menghitung sampai tiga." Jendral Ji Han mengangkat tangannya sebagai aba-aba. Dalam hitungan ketiga manusia kayu yang berada di tengah arena perlahan berdiri seperti ada tapi yang mengikat kepalanya. Matanya bersinar, lalu menatap tiga peserta dalam arena secara bergantian.
Guang Liao tersenyum percaya diri. Dia melirik ke arah Guang Zhou lalu melempar gumpalan energi ke arahnya. Dia berusaha menarik perhatian manusia kayu agar menyerang ke titik yang dia inginkan. Namun, Guang Zhou sudah menebak trik liciknya jadi melakukan hal yang sama.
Dua energi kekuatan muncul secara bersamaan di dua tempat berbeda. Manusia kayu menoleh ke kanan dan kiri secara cepat, lalu menembakkan peluru dari tangannya.
Boom!
Dentuman memekak telinga. Tapi serangan ini tidak melukai keduanya. Baik Guang Liao ataupun Guang Zhou baik-baik saja.
"Ini belum berakhir! Terima ini!" Guang Liao mengumpulkan Qi nya ke titik perangnya. Kemudian melakukan sebuah tebasan melintang.
Di waktu yang sama Guang Zhou juga mengeluarkan serangan. Keduanya bertarung satu sama lain seolah lupa jika pertarungan babak pertama terdiri dari tiga peserta.
San Xing masih diam di tempat. Bahkan tidak beranjak dari tempatnya. Perseteruan dua peserta yang menjadi lawannya benar-benar menguntungkannya. Jadi dia dapat menyimpan tenaganya.
Seharusnya ini hal baik untuknya. Namun siapa yang menyangka jika manusia kayu yang tadinya terlibat dalam pertarungan tiba-tiba berpaling ke arahnya.
__ADS_1
"Celaka! Kenapa dia berjalan ke sini?!" San Xing panik dan menempatkan pedang di depan tubuhnya. Saat manusia kayu menyerang, dia bertahan dengan sekuat tenaganya.
Satu kali memang berhasil. Dua kali juga masih berhasil. Tapi yang ketiga kali tubuhnya langsung terhempas keluar.
Sekarang di arena tersisa dua peserta. Manusia kayu yang baru saja menyingkirkan satu peserta menatap dua peserta lain yang kini masih bertarung. Andai bisa berkata mungkin dia akan mengeluh karena seharusnya ini menjadi tugasnya. Alih-alih memikirkan cara menghadapinya mereka malah mengabaikannya.
Manusia kayu mengangkat kedua tangannya. Setiap Guang Liao dan Guang Zhou bergerak dia menggerakkan tangan mengikutinya.
Woosh...
Dua peluru melesat cepat. Guang Zhou melihat hal ini, jadi dengan segera menghindar. Guang Liao juga menyadarinya, tapi saat akan menghindar Guang Zhou muncul di belakangnya lalu menahan punggungnya.
"Kurang ajar! Guang Zhou, apa yang kau ...."
Sebelum menyelesaikan kalimatnya dentuman yang keras menggelegar hingga membuat arena bergetar.
Guang Liao berjongkok satu lutut sambil membawa pedangnya. Dia melihat ke belakang dan memastikan dirinya belum keluar dari arena.
"Guang Zhou, ...."
"Ada apa? Kau tidak bisa pergi sendiri? Aku akan mengantarmu!" Guang Zhou menendang Guang Liao hingga terjungkal keluar pembatas.
Tawa ribuan penonton menggema membuat suasana sangat ramai. Wajah Guang Liao memerah malu, begitu pula dengan wajah-wajah Klan Guang yang merasa dipermalukan.
Mungkin jika kalah biasa itu masih dapat diterima, tapi kalah dengan penghinaan seperti ini bagaimana mereka memiliki muka untuk ditunjukkan?
Guang Zhou tak menguiraul tatapan kebencian yang ditujukan orang-orang Klan Guang. Setelah disahkan menjadi orang ketiga yang lolos dia kembali ke tempat duduknya.
"Pertunjukan yang menarik," kata Zhang Yu setelah Guang Zhou duduk di depannya.
"Aku tak mengira dapat bertemu denganmu di sini. Percaya atau tidak sejak awal aku ingin bertarung denganmu, sekarang kesempatan itu datang. Jadi mari kita bertarung dalam babak kedua."
Zhang Yu menggelengkan kepala samar. "Sebenarnya aku tidak berniat bertarung, tapi jika memang babak kedua harus bertarung denganmu aku juga akan melakukannya."
...
Setelah Zhang Yu, Xiao Yuze, Ban Yuetai dan Guang Zhou lolos ke babak kedua, beberapa peserta lain mengikuti jejak mereka. Sebut saja Hong Shen, Hong Xiu, Guang Mo, Xiao Yuwen, Yan Xou, dan Zhao Ran.
Sepuluh nama ini akan bertarung dalam babak kedua yang kemudian akan ditentukan siapa yang berhak berdiri di takhta langit sebagai generasi paling berbakat.
__ADS_1