Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 124 : Jangan Sampai Lolos


__ADS_3

Keenam pria berpakaian hitam langsung mengangkat kepala dan sangat terkejut dengan kemunculan Zhang Yu dari balik batu.


"Penyusup!" Mereka berteriak lalu menyerang setelah mengeluarkan pedang.


Sayangnya sebelum berhasil mendaratkan serangan Zhang Yu sudah berkelebat cepat menendang mereka berenam.


Buk!


Buk!


Buk!


Keenam pria berpakaian hitam jatuh menabrak dinding gua cukup keras. Kepala mereka berdarah karena permukaan gua tidak rata.


"Brengsek!"


Zhang Yu memberi waktu untuk mereka berdiri kembali. "Lama tidak bertemu. Apa kalian masih mengingatku?"


Keenam pria berpakaian hitam mengerutkan kening secara bersamaan. Mereka menatap Zhang Yu dari atas ke bawah lalu mencibir dengan sinis. "Memangnya kau siapa yang harus kami kenal? Kau tidak penting!"


Setelah mengatakan itu mereka diam beberapa saat. Satu dari enam orang ini seperti mendapatkan kembali ingatannya. "Hei, bukankah dia agak mirip dengan bocah dua tahun lalu?"


"Apa maksudmu bocah yang membawa stempel kekaisaran? Dia memang terlihat agak mirip."


Mereka berbisik dan merundingkan hal ini. Tidak lama setelahnya keenam pria berpakaian hitam tertawa cukup lantang.


"Hahahaha.. Ternyata kau yang melarikan diri dua tahun lalu. Apa sekarang kemampuanmu sudah bertambah hingga mencari kami?" kata salah satu pria sambil menempatkan tangannya di pinggang dengan arogan.


Zhang Yu mencibir. "Ya, sudah meningkat. Sekarang aku dapat membunuh kalian."


Puft...


Keenam pria berpakaian hitam tertawa dengan kalimat Zhang Yu. Mereka berkata, "Kau pikir hanya dirimu yang berkembang? Kami juga memiliki beberapa peningkatan."


"Benarkah?" Zhang Yu tersenyum sinis. Dia memusatkan Qi di telapak tangannya lalu bergerak sangat cepat ke samping pria yang bicara.


"Apa?!" Pria itu membelalakkan mata. Dia tak menyangka Zhang Yu memiliki kecepatan seperti ini. Tangan berusaha bereaksi untuk menciptakan perisai pertahanan, tapi gerakannya tidak cukup cepat.


Blam!


Baru juga berdiri sudah terhempas untuk yang kedua kali. Lima orang lainnya tertegun, punggung berkeringat dingin menyaksikan satu teman yang sekarat.


"Bagaimana mungkin! Dia tidak sekuat ini pada saat itu?!" gumam mereka tanpa sadar.


Zhang Yu mengangkat wajahnya memandang mereka satu persatu. "Giliran kalian,"


Dhang!


Wajah langsung berubah pucat. Namun secara naluri mereka masih mengangkat pedang ke atas seperti menantang.


"Telapak tangan api!"


Siluet telapak tangan raksasa berwarna merah menyala melesat mengincar lima orang yang tersisa.


Mereka menyatukan kekuatan membentuk lapisan pertahanan tapi tetap tidak bisa menahan kekuatan serangan teknik telapak tangan api. Hancur berkeping-keping.


"Dia menjadi sangat kuat dalam dua tahun. Kita harus pergi mencari bantuan!" Kelimanya mengangguk kemudian berlari tunggang langgang seperti dikejar setan.

__ADS_1


"Kau tak mengejar mereka?" tanya dewa naga keheranan melihat Zhang Yu diam.


Bukannya segera melesat mengejar mereka Zhang Yu malah tersenyum miring sambil menenangkan dewa naga. "Tidak perlu terburu-buru, mereka tidak akan aku biarkan kabur."


Swoosh!


Setelah mengatakan itu Zhang Yu seperti menghilang karena kecepatan yang di luar nalar.


Kelima pria yang sedang berlari sekilas melihat ke belakang saat sampai di mulut gua. Ada perasaan bebas dan lega saat berpikir mereka berhasil lolos dari kematian.


Namun, satu suara membuat mereka seketika menghentikan langkah kaki.


"Kalian ingin pergi kemana?"


Sret...


Kaki mengerem sampai meninggalkan jejak di tanah. Wajah mereka pucat pasi dan semakin berkeringat banyak.


"Lepaskan kami! Kau boleh membawa pergi seluruh barang yang sudah kau ambil. Lepaskan kami," mohon mereka dengan tubuh gemetar.


Dewa naga tertawa melihat lima pria berumur ini yang sangat penakut. "Zhang Yu, mungkin kau ...."


Jleb!


Jleb!


Jleb!


Dewa naga tercengang melihat Zhang Yu langsung membunuh mereka. Padahal dirinya baru mau bilang mungkin sebaiknya memberi mereka pengampun. Tapi Zhang Yu bertindak lebih tegas dari yang ia pikirkan.


Dewa naga tak bisa berkata-kata. "Memberi harapan sebelum membunuhnya, itu sungguh tindakan yang terlalu kejam!" batinnya.


Ak ak...


Sun datang dari dalam sambil menyeret kantong coklat milik keenam pria sebelumnya. Zhang Yu tersenyum padanya, "Kerja bagus. Satu kristal sumber daya untukmu!"


Sun menangkap hadiahnya dengan senang. Dewa naga mendengus melihat interaksi mereka.


"Kau juga mau?" tanya Zhang Yu sambil menunjukkan kristal sumber daya.


Tapi dewa naga menolaknya mentah-mentah. "Kau pikir aku membutuhkannya? Jika kau benar-benar ingin memberiku sesuatu, beri aku kebebasan. Lepas ikatan antara jiwaku dengan gelang naga. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."


"Mimpi saja sana!" Zhang Yu mendengus dingin.


Percuma dewa naga meminta hal itu darinya karena ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Tapi bahkan jika dia mengetahuinya juga tidak akan pernah melepas ikatan jiwa itu mengingat kekacauan seperti apa yang pernah dilakukannya saat masih hidup dulu.


Mereka pergi dari sana dengan hasil jarahan yang cukup lumayan.


Sesaat setelah Zhang Yu pergi sekelompok orang berpakaian hitam datang. Mereka berjalan dengan wajah senang karena berhasil memperoleh barang-barang berharga. Namun kebahagiaan dan rasa senang itu seketika hilang ketika melihat mayat di mulut gua.


Sudah pasti mereka terkejut. Tapi tidak terburu-buru bereaksi melainkan berlari ke dalam untuk melihat tanaman-tanaman herbal yang tersimpan di dalam.


Tubuh mereka menegang dan tangan langsung terkepal. "Siapa yang melakukan ini?" geram mereka dengan penuh kemarahan dan kebencian.


Akan tetapi dalam sekejap kemarahan itu berganti dengan ketakutan.


"Bagaimana kita harus mengatakan ini pada Perdana Menteri? Semua itu adalah persediaan nya untuk mencapai tingkat suci bintang tujuh. Tapi seseorang baru saja mengambilnya."

__ADS_1


Beralih ke bagian lain, Zhang Yu baru saja memasuki wilayah pegunungan es yang menjadi wilayah terakhir sebelum sampai di Kekaisaran Yang.


Dengan berbekal peta di tangannya dia melalui perjalanan dengan lancar.


"Bagaimana dengan tempat ini? Apakah aman untuk ditinggali?" tanya Zhang Yu setelah menemukan tempat untuk mereka bermalam.


Dewa naga memalingkan muka ke arah lain. "Bocah, kau harus ingat aku adalah dewa naga yang agung. Beraninya kau menggunakanku sebagai alat pemindai situasi."


"Jika kau tidak ingin melakukannya. Tinggal lah di dalam gelang naga. Aku ...."


"Di sini aman, tapi agak basah. Mungkin kita bisa pergi agak jauh lagi, di sana ada udara yang lebih hangat." Dewa naga panik langsung menjabarkan semua.


Zhang Yu tersenyum puas. "Begini baru benar. Kita saling membantu dalam setiap keadaan."


"Cih! Saling membantu?!" Dewa naga tak pernah menyangka dalam hidupnya akan jadi seperti ini. Dia sang dewa naga yang agung berakhir dengan menyedihkan.


Tapi jika dipikir kembali lebih menyedihkan andai masih terkurung dalam pagoda lantai ketujuh.


...


Malam berlalu, pagi hari udara di pegunungan es semakin dingin. Zhang Yu melanjutkan perjalanannya menyusuri tempat tersebut dan sampai di wilayah paling baratnya setelah dua hari berlari tanpa henti.


"Kenapa berhenti?" tanya dewa naga.


"Kau tidak melihat apa yang ada di depan kita?"


Di depan mereka terdapat gunung salju yang menutup jalan. Tingginya mencapai lima belas meter dan menghalangi satu-satunya jalan yang ada di sana.


"Sepertinya kemarin datang badai salju di wilayah ini. Akses jalan terblokir," Zhang Yu melirik Sun memintanya pergi memeriksa di balik gunung salju.


Sun bergegas melompat dan memanjat ke atas. Ketika tidak melihat adanya rombongan atau siapapun itu di balik gunung salju, Zhang Yu langsung menyerang gunung salju itu hingga saljunya tumpah kemana-mana.


Eh...


Apa ini?


Begitu salju di jalan tersapu bersih, di jalan itu tampak jasad ular es raksasa. Kulitnya biru seperti kristal dengan panjang delapan meter.


"Binatang spiritual tingkat lima!" Zhang Yu baru pertama kali melihat ular sebesar ini dan melihatnya begitu serius sampai tertegun beberapa saat.


"Cacing kecil ini mati dengan mengenaskan, padahal masih tingkat kelima," kata dewa naga dengan prihatin. Dia tidak menyadari kalimatnya ini sedikit aneh di telinga Zhang Yu.


Cacing kecil?


Zhang Yu memperhatikan tubuh ular es dan membandingkannya dengan dewa naga yang sekarang di pundaknya. Dia tak bisa menahan tawa ketika menyadari bahkan ukuran dewa naga hanya awal dari tubuh ular es.


Dewa naga tahu ketidakberesan ini. Dia mendengus dengan kesal lalu berkata penuh percaya diri. "Ular ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku yang dulu."


"Kau harus percaya karena itulah kebenarannya!"


"Yah, terserah kau. Aku percaya dengan semua yang kau katakan." Zhang Yu berjalan ke arah jasad ular es.


Dewa naga masih kesal karena Zhang Yu tak percaya dengan ceritanya. Panjang tubuhnya saat itu mencapai dua puluh lima meter dan merupakan binatang spiritual paling agung.


Zhang Yu benar-benar mengabaikan hal ini. Dia fokus membelah perut ular es untuk mengeluarkan kristal intinya. Warnanya ungu dan sangat dingin.


"Benar-benar tidak bohong jika dia binatang spiritual tipe es."

__ADS_1


__ADS_2