Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 84 : Alam Zhen Yang Terbuka


__ADS_3

Tiga minggu berlalu. Hari ini adalah hari di mana pintu menuju Alam Zhen Yang terbuka. Sebagian orang sangat bersemangat menunggu hari ini tiba. Sekitar tiga ratus murid dalam dan luar berkumpul di hutan belakang Akademi Kekaisaran.


Zhang Yu juga sudah hadir di sana bersama Wu Zetian, Tang Yue dan He Jiao. Mereka terlihat tidak sabar menunggu kemunculan pintu menuju Alam Zhen Yang, terkhusus Wu Zetian.


"Tang Yue, kapan pintu menuju Alam Zhen Yang akan muncul?"


Dia bertanya pada Tang Yue karena lebih berpengalaman. Tapi Tang Yue tidak mengetahuinya dengan pasti.


"Dua tahun lalu pintu itu muncul menjelang siang. Tapi dengar dengar dua tahun sebelumnya pintu itu muncul saat sore. Jadi tidak ada yang tahu pasti kapan akan munculnya. Oleh karena itu kita ditempatkan di sini untuk berjaga-jaga."


Wu Zetian berdecak lalu berkata dengan mencibir. "Aku pikir kau akan tahu. Ternyata sama saja."


Kening Tang Yue mengernyit mendengar celetukan itu. Matanya menatap Wu Zetian dengan tajam dan tak segan menunjukkan kepalan tangannya. "Dasar gemuk! Jika tak suka bicara langsung di depanku. Jangan hanya mendumal seperti wanita."


Kata gemuk membuat Wu Zetian sangat marah. Dia ingin membalasnya tapi sudah didahului dengan kedatangan ketujuh pangeran yang menarik perhatian semua murid di sana.


"Lihat lihat! Apa ketujuh pangeran akan ikut memasuki Alam Zhen Yang?"


"Dua tahun lalu hanya empat pangeran yang ikut masuk. Sepertinya sekarang mereka bertujuh akan ikut."


Ketika tujuh pangeran berjalan, semua mata berpusat pada mereka. Bahkan ada yang berusaha menjilat untuk mencari perhatian.


"Pangeran Pertama, Pangeran Ketujuh ...." Tidak satupun lolos dari kata-kata manis mereka. Namun tidak satupun yang berakhir digubris.


Wen Bailou tertawa menertawakan kebodohan semua murid yang tidak tahu diri.


Para pangeran yang terhormat dan berbakat bagaimana mungkin mau berurusan dengan sampah. Ingin menjadi perhatian tentu saja harus memiliki kualifikasi, dan dirinya sudah jelas memiliki kualifikasi tersebut.


Dengan kepercayaan diri yang tinggi dia maju setapak demi setapak. Ketika sudah berada di depan ketujuh pangeran dia berinisiatif menyapa seolah mengenal mereka.


"Pangeran Pertama, Pangeran Kedua ...." Dia menyebut satu persatu tanpa ketinggalan.


Beberapa murid yang melihat sikap Wen Bailou merasa dia sangat beruntung karena telah mengenal ketujuh pangeran.


Tapi beberapa detik setelah itu, pujian tentang Wen Bailou sekejap menghilang setelah melihat ketujuh pangeran melewatinya begitu saja. Bahkan tak membalas sapaan yang akrab darinya.


Suara tawa menggema dari kerumunan murid. Hal ini spontan membuat wajah Wen Bailou memerah malu.


"Diam kalian!" bentaknya. Wen Bailou sungguh ingin pergi dari sana saat itu juga untuk menyembunyikan wajahnya. Tapi pada akhirnya dia hanya bergeming sambil menatap punggung ketujuh pangeran.


Xuan Wu, sambil berjalan sekilas melirik ke belakang melihat Wen Bailou. Dia mencibir laku bertanya pada kakak pertamanya. "Saudara Pertama, apa kau mengenal murid itu?"


"Tidak,"

__ADS_1


Mendengar jawaban yang acuh tak acuh, Xuan Wu berpaling pada Xuan Yin. "Bagaimana denganmu, Saudara Ketujuh?"


Namun Xuan Yin tak merespon. Bahkan bertanya beberapa kali pun tetap tak merespon.


Xuan Wu mengerutkan kening dan secara bertahap mengikuti kemana arah tatapannya. Raut wajahnya menjadi rumit ketika melihat kelompok empat orang yang terdiri dari dua pria dan dua wanita.


"Saudara Ketujuh, apa akhirnya kau bisa menyukai wanita? Yang mana tipemu? Yang kanan atau yang kiri?" Xuan Wu tiba-tiba menjadi semangat. Adik bungsu yang terkenal dingin dan tak menyukai wanita akhirnya mendapat pencerahan.


Xuan Yin langsung menghentikan langkah mendengar pertanyaan Xuan Wu. Raut mukanya menjadi suram.


Dia? Menyukai wanita? Benar-benar konyol.


"Saudara Kelima, dari pada kau bicara yang tidak-tidak sebaiknya mempersiapkan diri sebelum memasuki Alam Zhen Yang."


Cih...


Xuan Wu berdecak sambil memalingkan wajahnya. Ketika melihat kelompok empat orang ini, dia tak bisa mengalihkan perhatian pada sosok pria yang tampak akrab.


"Zhang ... Kenapa dia ada di sini?" Xuan Wu mengenali Zhang Yu. Dia menepuk pundak Xuan Yin dan memberitahunya.


"Saudara ketujuh, sepertinya ucapanku waktu itu benar. Zhang Yu ada di akademi ini."


Mata Xuan Yin membulat mendengar ucapan Xuan Wu. Sebelum dia mengatakan sesuatu, Xuan Wu sudah berjalan ke tempat Zhang Yu.


Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa Zhang Yu mengenal pangeran kelima?


Namun Zhang Yu sangat tenang. Membalas sapaan dengan jawaban yang santai. "Tentu saja mengingatnya. Bagaimana mungkin lupa dengan orang penting seperti pangeran kelima."


Xuan Wu tertawa, lalu berkata, "Kau masih saja menarik seperti sebelumnya."


Keakraban mereka membuat murid-murid memuji Zhang Yu.


"Siapa murid itu sampai Saudara Kelima begitu antusias bicara dengannya?" tanya Pangeran Ketiga, Xuan San.


"Aku tidak tahu. Dan meski Saudara Kelima memiliki sikap yang terbuka, tapi dia tak akan sembarangan mengajak orang bicara. Itu tandanya murid ini agak spesial."


Di saat saudaranya terus bertanya-tanya tentang Zhang Yu, Xuan Yin membuka mulutnya untuk memberitahu. "Dia adalah Zhang Yu."


"Zhang Yu?"


Kelima pangeran menyatukan alis dengan kompak ketika mendengar namanya. Mereka terus mengulang dan mencoba mengingat nama yang tidak asing ini.


"Ah ... Apa mungkin dia yang dimaksud Ayah Kaisar dan Ibu Suri?"

__ADS_1


"Benar! Namanya sama-sama Zhang Yu. Kemungkinan dia memang orangnya."


Xuan Yang, pangeran pertama menunjukkan wajah serius. Matanya menelisik Zhang Yu dengan hati-hati. "Jika benar dia yang telah membantu di istana, mungkin nanti kita harus mencarinya untuk berterima kasih."


"Oh ya, Saudara Ketujuh, sepertinya kau sangat mengenalnya. Apa kalian ...."


Sebelum Xuan Yang menyelesaikan kalimatnya Xuan Yin langsung menyerobot. "Tidak kenal. Hanya kebetulan tahu."


Owh...


Xuan Yang tak lagi bertanya. Dia mengalihkan perhatiannya pada sekelompok pria dan wanita berumur yang berjalan dengan berwibawa.


"Tetua sudah datang! Tetua sudah datang!"


Beberapa murid berseru dengan semangat. Selain tetua pelataran luar dan tetua pelataran dalam, lima guru besar dan Wang Chen sebagai kepala akademi juga tak ketinggalan hadir di hutan belakang.


"Kepala akademi, kapan pintu menuju Alam Zhen Yang akan terbuka?" tanya seorang murid dalam kerumunan.


Wang Chen menarik nafas cukup dalam sebelum mengelus jenggotnya yang lebat. "Tidak akan lama. Sebentar lagi akan terbuka."


Entah kebetulan atau memang tahu waktu kemunculan pintu menuju Alam Zhen Yang, tak berselang lama setelah kalimatnya, sebuah retakan ruang muncul di antara mereka.


Tak begitu besar dan berbentuk seperti sobekan kertas.


Wang Chen memimpin para tetua menyatukan kekuatan untuk membuka retakan itu membentuk pintu yang lebih besar.


Dengan usaha dan kegigihan mereka, akhirnya retakan ruang yang seperti sobekan satu garis lurus menjadi berbentuk pintu yang besar.


Dalam waktu yang singkat itu seluruh murid menyaksikan dengan tercengang. Tapi sejurus kemudian mereka bersorak semangat karena tak sabar ingin memulai perjalanan.


Wang Chen mengangkat tangannya meminta semua bersiap. Memberi beberapa patah kalimat sebagai nasehat lalu mempersilahkan mereka memasuki portal menuju Alam Zhen Yang.


Satu persatu melesat masuk secara bergantian. Dalam beberapa waktu hutan belakang yang ramai hanya tersisa para tetua dan guru besar.


"Kepala Akademi, apa ada yang salah?" tanya Ouyang Jun, satu dari lima guru besar dan merupakan guru pangeran pertama.


"Entahlah, aku hanya merasa ada yang tidak beres dengan portal tahun ini," jawab Wang Chen seraya mengelus janggutnya.


Tetua lain yang mendengar tidak bisa menahan untuk tidak mengerutkan kening mendengar kalimat Wang Chen. Mereka bergiliran bertanya kepadanya.


"Ketidakberesan seperti apa yang Kepala Akademi rasakan? Kenapa kami tidak merasakannya juga?"


Menghadapi pertanyaan ini Wang Chen tidak bisa memberi jawaban. Dia diam cukup lama sebelum akhirnya menggelengkan kepala dengan pasrah. "Mungkin ini hanya kekhawatiranku saja. Tidak perlu memikirkannya lagi."

__ADS_1


__ADS_2