Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 72 : Kelicikan Song Wejin


__ADS_3

Jglek...


Pintu rahasia terbuka, Song Wejin masuk ke dalam dan menelusuri lorong dengan obor di tangannya.


Di tengah perjalanan, entah kenapa dia merasa sesuatu yang tidak mengenakan. "Jika dia benar-benar ada di sini dan sampai ke ruang tahanan, tidak dapat dihindari jika dia akan tahu segalanya." Tanpa berpikir panjang pria tua itu mempercepat langkahnya kakinya. Dia berpikir akan menghabisinya untuk menutup mulut dan tetap menjaga rahasia.


Tidak lama kemudian Song Wejin sampai di ruang penjara, akan tetapi ekspresi wajahnya benar-benar buruk setelah melihat sembilan pintu penjara terbuka.


" ... Dia benar-benar telah menemukan tempat ini." Song Wejin berjalan ke salah satu ruang penjara, melihat gembok yang hancur di lantai.


"Tunggu dulu, mereka masih terkena racun es dan api. Aku yakin tidak ada yang bisa menyembuhkan racun itu. Kaisar dan semua orang setianya itu tidak akan bisa selamat." Setelah berkata Song Wejin tertawa, dia berjalan keluar untuk memberitahu penjaga agar semakin memperketat penjagaan.


Waktu berlalu dan hari berganti.


Sementara di istana sangat ramai dengan penjagaan yang diperketat, Xuan Zou dan yang lain telah memulihkan diri dengan memanfaatkan sumber daya istana di ruangan bawah tanah.


Satu hari satu malam, mereka semua telah mendapatkan kembali kebugaran yang telah lama mereka impikan. Bagaimana tidak, sudah lebih berbulan-bulan mereka terkurung dalam ruang tahanan dengan racun yang menggerogoti tubuh. Kini mereka telah bisa bergerak bebas dengan Qi yang meluap-luap.


"Yang Mulia, ini sudah waktunya untuk kembali dan menyingkirkan Perdana Menteri Song Wejin." tiga kasim berkata bersama dan meminta Xuan Zou segera kembali untuk mengambil kekuasaannya.


Tapi Xuan Zou yang masih duduk bersila dengan pelan menggelengkan kepala. "Dengan hanya kita, tidak akan bisa menyingkirkan Perdana Menteri Song Wejin. Dia memiliki kendali atas pasukan, terlebih aku yakin dia telah mendapatkan stempel dan plakat Kekaisaran Xuan. Bahkan jika aku berdiri di hadapan semua orang, prajurit istana hanya memandang plakat itu."


Sontak semua orang yang ada di saja menundukkan kepala mendengar ungkapan Xuan Zou.


"Yang Mulia, Perdana Menteri Song Wejin belum mendapatkan stempel dan plakat Kekaisaran Xuan."


Hem...


Xuan Zou mengernyitkan kening. "Bagaimana kau bisa tahu jika Perdana Menteri Song Wejin belum mendapatkan stempel dan plakat Kekaisaran Xuan?"


Bukan hanya Xuan Zou, tapi semua mata kini sedang memandang Zhang Yu dengan penuh pertanyaan.

__ADS_1


Zhang Yu hanya mengayunkan tangannya, mengeluarkan satu kotak kayu dari cincin penyimpanan.


Ekspresi Xuan Zou dan yang lain menjadi semakin penasaran, mereka menatap kotak kayu di tangan Zhang Yu sembari bertanya-tanya tentang isi di dalamnya.


Zhang Yu juga tidak berlama-lama, dia membuka kotak kayu menunjukkan sebuah stempel dengan lambang Kekaisaran Xuan.


"I-ini ...." Mata Xuan Zou terbelalak sempurna. Keterkejutan juga ditunjukkan oleh Ling Qiao, Ju Qianchen, Yun Wen, Zhao Yun dan ketiga kasim.


"Ba-bagaimana bisa stempel dan plakat Kekaisaran Xuan berada di tanganmu?" tanya Xuan Zou kepada Zhang Yu.


Zhang Yu lalu menjelaskan semua tentangnya, termasuk juga identitasnya sebagai murid Akademi Kekaisaran serta ia tidak lupa tentang misinya untuk datang ke istana menyerahkan stempel dan plakat Kekaisaran Xuan dari gurunya.


Xuan Zou termenung mendengar penjelasan Zhang Yu, dia mengambil kotak kayu itu dan tersenyum. "Dengan plakat ini prajurit istana akan berada dalam kendali. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang Perdana Menteri Song Wejin. Dia dan orang-orangnya pasti akan mendapat hukuman setimpal."


Xuan Zou menyimpan kotak kayu itu, berjalan menepuk pundak Zhang Yu. "Nak, kami sangat berterima kasih kepadamu. Kau bukan hanya menyelamatkan kami dari racun, tapi juga menyelamatkan Kekaisaran Xuan dari kehancuran. Ini sudah saatnya untuk keluar dan menghukum penjahat yang masih berkeliaran di istana." Xuan Zou menoleh pada Zhao Yun sang jendral perang, bendahara istana dan ketiga kasim.


"Apa kalian sudah siap?"


"Kami siap, Yang Mulia."


"Yang Mulia, sepertinya Song Wejin telah datang ke tempat ini." Zhao Yun menunjuk pada satu dari sembilan pintu penjara yang hancur.


Xuan Zou mengukir seulas senyum. "Dia pasti merasa sangat marah karena kita berhasil kabur dari kurungannya. Pada saat ini aku yakin dia melakukan penjagaan yang sangat ketat di setiap lini istana."


...


Ruangan Song Wejin.


"Perdana Menteri, kami baru saja melewati pintu rahasia dan mendengar sesuatu dari arah pintu rahasia."


Laporan lima komandan membuat Song Wejin yang tengah bersantai langsung menarik tubuhnya bangkit.

__ADS_1


"Apa maksud kalian? Aku sudah memeriksa ke sana berkali-kali dan tak menemukan keberadaan mereka."


Lima komandan saling pandang. "Tapi Perdana Menteri, kita tidak tahu apa yang ada di sana. Mungkin saja ada ruangan rahasia lain atau semacamnya."


Song Wejin mengubah raut wajahnya. Pria tua itu tampak berpikir.


"Ikut denganku," pintanya kepada lima komandan.


Dipikir-pikir ulang memang mereka yang hilang secara misterius sangat tidak masuk akal. Mendengar perkataan satu dari lima komandan tentang ruangan rahasia, mungkin itu memang dapat dibenarkan.


Song Wejin membawa lima komandan berjalan menuju pintu rahasia, dia akan memeriksa setiap sudut dan akan memastikan apakah benar ada ruangan rahasia lain di sana.


Akan tetapi saat mereka sampai, tampak sepuluh orang yang baru saja keluar dari pintu rahasia.


Mata Song Wejin berkedut sempurna, mulut terbuka tapi tak dapat berkata. Hal yang sama ditunjukkan oleh lima komandan.


"Yang Mulia?"


Xuan Zou mendengus dan mengambil pedang yang terpajang di patung dekat dirinya. "Song Wejin, aku sudah di sini. Sebaiknya kau menyerah dan akui semua kejahatanmu."


Song Wejin masih diam, tapi tidak berselang lama dia tertawa. Dia berteriak lantang memanggil prajurit dan tidak membutuhkan waktu lama bagi ratusan prajurit untuk berkumpul di sana.


Menyaksikan ratusan prajurit datang dengan membawa tombak dan pedang, Xuan Zou masih tenang, dia menatap Song Wejin.


"Yang Mulia, harusnya aku yang berkata begitu. Sebaiknya kau menyerah dan tidak lagi melawan." Song Wejin tertawa angkuh.


Xuan Zou hanya mendengus, dia lalu mengeluarkan plakat Kekaisaran Xuan dan mengangkat tinggi dengan tangannya. "Prajurit Kekaisaran Xuan, kalian lihat apa yang ada di sini. Terima perintahku dan tangkap Percana Menteri Song Wejin!"


Akan tetapi bukannya bergerak, ratusan prajurit tetap di tempat tak berusaha untuk melaksanakan perintah yang dikeluarkan oleh Xuan Zou.


Song Wejin tertawa semakin lantang.

__ADS_1


Hahahaha...


"Yang Mulia, mereka tidak akan mendengar perintahmu. Bahkan jika menggunakan plakat Kekaisaran Xuan. Karena apa? Karena aku telah menyingkirkan prajurit yang tidak bersedia sumpah setia kepadaku."


__ADS_2