Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 274 : Mirip Seperti Ayahnya


__ADS_3

"Kakak Yu ...." Shin menatap mayat An Ming yang bersimbah darah tanpa beranjak dari tempatnya.


Dia seakan tidak percaya, berhasil membunuh salah satu pemimpin regu menara iblis yang sudah menghancurkan rumahnya. Terlepas memang pria itu bukan dikalahkan olehnya, melainkan Zhang Yu yang sudah membuatnya tak berdaya.


"Pertarungan ini belum berakhir. Jadi terlalu awal untuk merayakannya."


Kalimat Zhang Yu menyadarkan Shin. Pangeran Suku Niao itu segera mengeratkan genggamannya kembali, kemudian membalikkan badan untuk menghadap pertarungan yang masih berlangsung.


Namun, kematian tiga pemimpin regu jelas membuat kelompok menara iblis yang tersisa seperti kehilangan setir dalam pertarungan. Yang mulanya masih mengembangi bahkan terlihat dominan, tapi perlahan mulai goyah dan tak percaya diri.


Terlebih dengan keberadaan Zhang Yu. Jumlah mereka yang masih cukup banyak, secara perlahan dapat dikalahkan. Kemenangan pun tak diragukan lagi menjadi milik Kota Qian Gu.


"Apa kau terluka?" Xuan Yin datang menghampiri Zhang Yu dengan wajahnya yang terlihat cemas.


Zhang Yu berbalik lalu memandang istrinya. "Aku baik-baik ...."


Akan tetapi sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya, Xuan Yin sudah memeriksa setiap jengkal tubuhnya seolah tak percaya dengan jawabannya.


"..."


Baru setelah puas untuk menelisik tubuh suaminya, Xuan Yin menghela nafas dengan lega.


"Syukurlah," ucapnya sambil tersenyum lebar.


Zhang Yu hanya dapat menggelengkan kepala melihat sikap istrinya. Dia meraih pundak sang istri dan merangkulnya dengan erat. "Dibanding dengan diriku sendiri, aku jauh lebih mengkhawatirkanmu."


Mendengar ini wajah Xuan Yin agak memerah. Dia berusaha memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan suaminya yang begitu lekat.


"Lepaskan. Kau tidak malu di lihat banyak orang?" kata Xuan Yin pelan.


Tetapi Zhang Yu enggan melakukannya. "Kenapa harus malu? Lagi pula apa salahnya bermesraan dengan istri sendiri?"

__ADS_1


Wajah Xuan Yin semakin memerah. Tepat pada saat itu, Zhang Lei dan Xuan Yang datang ke tempat mereka.


Xuan Yin yang pertama kali menyadari kedatangan mereka segera melepaskan diri dari rangkulan Zhang Yu. Dia menyikut perut suaminya yang masih merangkulnya hingga membuatnya mengaduh.


Pouch...


Aduh!


Zhang Yu meringis meski itu tidak cukup sakit. Dia mencoba menggapai tangan Xuan Yin, tapi istrinya itu malah terus melangkah tanpa menoleh.


"Dia marah?" gumam Zhang Yu, tak mengerti.


"Zhang Yu,"


Zhang Yu melihat patriark dan pangeran pertama datang untuk membahas hasil pertarungan ini. Meskipun kemenangan sudah pasti menjadi milik mereka, tapi dampak kerusakan yang dihasilkan membuat mereka harus berpikir ulang tentang pembangunan.


Di sisi lain.


Zhang Long, Xiao Mei dan tetua klan Zhang lainnya berkoordinasi dengan toko bunga kenanga untuk menyediakan bahan obat. Atas kerja sama hubungan mereka, setidaknya ada lebih banyak nyawa yang tertolong.


"Yin'er, kau sudah kembali?"


"Ya, baru saja."


Xuan Yin mencari keberadaan putranya di rumah tapi tidak menemukannya. Dia berpikir Zhang Chao ikut pergi dengan kakek neneknya ke aula, tapi sepertinya putranya itu juga tidak di sini.


"Ibu tahu di mana Chao'er?"


Pada saat itu seorang bocah laki-laki berlari memasuki aula dengan membawa buku di tangan kanannya.


"Ibu!" teriaknya dengan semangat.

__ADS_1


"Di sini sangat sibuk, jadi kami menitipkannya di tempat Tetua Keenam. Kebetulan Zhang Ying baru saja kembali dan dia dapat menjaga Chao'er sementara waktu."


Bersama dengan kalimat Xiao Mei, seorang wanita juga memasuki aula. Dia adalah Zhang Ying, putri tetua keenam.


"Ibu!" Zhang Chao memeluk kaki Xuan Yin sambil menunjukkan buku yang dibawanya.


"Kultivasi dasar?" Xuan Yin mengerutkan kening.


"Padahal aku sudah memberinya buku cerita. Tapi dia malah mengambil buku panduan dasar kultivasi." Zhang Ying menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


Sementara Xuan Yin yang mendengarnya sontak menatap sang putra yang terlihat tertarik dengan buku tersebut.


Meskipun tahu putranya itu sudah cukup mahir membaca, tapi bukankah terlalu awal untuk mempelajari hal-hal berkaitan dengan kultivasi? Dia bahkan baru berusia tiga tahun. Delapan sampai sepuluh tahun lagi juga tidak akan terlambat untuk mempelajarinya.


Xuan Yin hanya tidak ingin sang putra melewatkan masa kecilnya seperti halnya dirinya yang harus hidup dibalik topeng. Dia ingin Zhang Chao bebas dan menikmati masa-masa bahagianya tanpa memikirkan beban ataupun masalah.


"Putramu benar-benar mirip dengan Zhang Yu saat kecil. Tidak diragukan lagi jika Chao'er adalah putranya." Zhang Long tertawa, seakan bernostalgia dengan Zhang Yu kecil yang begitu tertarik dengan kultivasi. Karena kegemaran Zhang Yu waktu kecil, dia bahkan harus meminjam banyak buku dari perpustakaan hanya untuk memenuhi rak kamarnya.


Huft...


Xuan Yin menghela nafas. Sepertinya dia tidak bisa melarang Zhang Chao jika itu yang dia inginkan.


"Terima kasih karena sudah menjaganya," ucap Xuan Yin pada Zhang Ying.


Zhang Ying menganggukkan kepala, dia kemudian pergi ke tempat ayahnya, Tetua Keenam, yang sedang membantu memasang perban pada salah satu korban terluka.


"Yin'er, sebaiknya kau kembali dan beristirahat. Biarkan Chao'er di sini, dia tidak akan kemana-mana ... Ya kan Chao'er?"


"Heem!" Zhang Chao menganggukkan kepala dengan semangat. Bocah tiga tahun itu beralih ke sisi sang nenek, kemudian duduk beralaskan tikar sebelum membuka bukunya.


"Anak ini ... Dia benar-benar akan seperti ayahnya," batin Xuan Yin, menghela nafas.

__ADS_1


__ADS_2