
Zhang Yu menatap dalam kanvas di tangannya. Semakin memperhatikannya semakin merasa jika apa yang ada di sana adalah struktur organisasi.
Menara Iblis sebagai keberadaan tertinggi sementara tiga lainnya berada dalam pengaruhnya.
"Yu Gege, sepertinya aku pernah mendengar tentang Kedai Bulan Merah."
Zhang Yu menautkan kedua alisnya lalu menatap Song Yixue. "Benarkah?"
Heem...
Song Yixue mengangguk. "Meski dikenal dengan nama Kedai Bulan Merah, sebenarnya itu adalah organisasi pembunuh bayaran yang ada di Kota Shenyang. Tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Tetapi kemampuan mereka sudah terkenal dalam kelompok orang tertentu terkhusus para bangsawan."
Zhang Yu menganggukkan kepala sebagai tanda memahami cerita Song Yixue. Tapi gadis itu terlihat cemas saat mengetahui Bandit Kuda Laut punya keterikatan dengan Kedai Bulan Merah.
"Yu Gege, apa ini tidak akan menjadi masalah untuk kita? Jika berita kehancuran Bandit Kuda Laut tersebar, pasti mereka tidak akan diam saja."
Zhang Yu menyimpan kanvas itu dalam cincin penyimpanannya.
"Ayo pergi dari sini," ajaknya. Song Yixue pun mengikuti Zhang Yu meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Tepat setelah mereka meninggalkan bangunan tersebut. Seorang pria berpakaian coklat keluar dari dapur dengan wajah penuh keringat. Tangan dan kakinya gemetar, dia menyadari jika dirinya baru saja lolos dari kematian.
Dia benar-benar mau pingsan saat menyadari pria yang membunuh teman-temannya mendekat. Beruntung ada tempat persembunyian di balik rak. Juga ada ramuan bayangan yang dapat menyembunyikan auranya.
"Sekarang yang terpenting adalah melaporkan masalah ini. Kehancuran bandit kuda laut harus dibalaskan!" Di tangan pria itu terlihat sebuah batu perekam. Dia sudah mendapat gambar dan merekam pertarungan yang terjadi bahkan menangkap jelas wajah pria yang memporak-porandakan tempatnya.
Di tempat lain.
"Seharusnya Yu Gege memesan satu ruangan saja. Aku tidak memiliki koin emas untuk menginap di tempat seperti ini." Song Yixue melihat daftar harga yang terpampang di atas lobi penginapan lantai pertama. Harga ruangan per malam benar-benar mahal untuk orang sekelas dirinya yang bahkan tak membawa sepeserpun koin emas.
Tetapi Zhang Yu tak mempedulikan ucapannya. Dia menyerahkan sekantong koin emas pada pelayan untuk membayar sewa beberapa malam.
"Ayo naik," ucapnya.
Tetapi sulit bagi Zhang Yu untuk memejamkan mata karena setiap kali dia mencobanya selalu muncul bayangan Xuan Yin dalam benaknya.
"Yin'er, apa kau baik-baik saja di sana?"
...
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Hari ini dia sangat patuh."
Xiao Mei tersenyum mendengar jawaban menantunya. Dia mengulurkan tangannya memberi obat yang telah diresepkan tabib untuk ibu mengandung.
"Semakin besar kandungan semakin banyak porsi obatnya. Ini memang pahit, tapi sangat berkhasiat."
Xuan Yin menghabiskan obat itu sekali teguk. Dia meletakkan cawan obat yang habis diminumnya lalu mencoret kertas yang menempel di dinding dengan garis lurus untuk menambah satu angka menghitung hari kelahiran anaknya.
Tepat hari ini diperkirakan kandungan sudah memasuki bulan keempat. Tersisa kurang lebih seratus lima puluh hari sampai waktu kelahiran. Xuan Yin hanya berharap Zhang Yu, suaminya itu dan menyaksikan bagaimana anaknya lahir ke dunia.
Benar. Di saat sebagian orang di klan Xiao ragu akan situasi Zhang Yu dan Xiao Nie, Xuan Yin menjadi satu di antara sedikit orang yang percaya jika keduanya masih hidup di luar sana.
Dia membaca sebuah buku di perpustakaan klan tentang turbulensi ruang dan mengetahui ada beberapa situasi yang memungkinkan seseorang selamat dari kematian ketika terjebak dalam turbulensi ruang.
Meski kemungkinan itu sangat-sangat kecil. Tapi Xuan Yin yakin dan percaya Zhang Yu akan kembali.
"Kau juga percaya kan jika ayahmu pasti akan kembali. Dia pasti kembali untuk melihatmu," lirih Xuan Yin sembari mengusap perutnya yang kian membesar.
Xiao Mei yang masih di ruangan hanya tersenyum melihat Xuan Yin. Dadanya seperti tertusuk sebuah tombak saat mengenang kejadian satu bulan yang lalu di mana dia harus kehilangan jejak ayah serta putranya.
__ADS_1
Situasi benar-benar di luar kendalinya. Yang dapat dilakukan sekarang hanyalah menunggu dan berharap keduanya baik-baik saja.
"Ayah, Zhang Yu, kalian harus kembali!"