
Setelah diam cukup lama Wen Bailuo berkelebat menyerang Zhang Yu dengan melakukan tebasan vertikal.
Seperti dugaan Zhang Yu akan menahannya. Ini membuat Wen Bailuo tersenyum. Pria bertubuh gempal itu kemudian merogoh sakunya dan melempar bubuk berwarna hitam.
Zhang Yu sudah menjaga jarak, tapi bubuk halus itu mendarat tepat di wajahnya.
Wen Bailuo tertawa. "Hahahaha... Itu adalah bubuk kematian!"
Mendengar ucapan Wen Bailuo, belasan orang di belakang langsung bereaksi. "Bubuk kematian? Kakak Wen ternyata membawa bubuk seperti itu sebagai kartu As nya."
"Setelah terkena, bukan hanya akan merasakan rasa sakit luar biasa, tapi juga dapat mengancam nyawa."
Wen Bailuo sebenarnya sangat menyayangkan harus menggunakan bubuk persediaannya yang terakhir. Dia berjaga-jaga jika bertemu lawan kuat, tapi ternyata malah terpakai untuk menyingkirkan Zhang Yu.
"Tapi tak masalah. Asal kau tiada, aku sama sekali tidak menyesal." Tawa Wen Bailuo semakin kencang ketika membayangkan hal ini. Tapi raut wajahnya berubah melihat Zhang Yu baik-baik saja seperti tidak terkena racunnya.
"Ba-bagaimana hal ini terjadi?!"
Zhang Yu mengangkat tangannya yang semakin bertenaga. Dia tidak mengerti. Tapi setelah terkena racun dari Wen Bailuo, tenaga di tubuhnya meningkatkan seolah bisa mengkonversi racun menjadi energinya.
"Apa ini bagian kedua kitab budidaya tubuh?" gumam Zhang Yu pelan.
Selama ini dia masih berusaha memecah misteri bagian kedua kitab budidaya tubuh. Siapa yang mengira dengan kejadian ini dirinya sudah bisa menafsirkan maksud kalimat, "Rasa sakit yang menggerogoti tulang dan mengubahnya menjadi energi" Itu tak lain adalah racun.
"Aku pernah terkena racun sebelumnya. Tapi tidak begitu kuat. Dengan kata lain, hanya racun dalam tingkat tertentu yang dapat digunakan sebagai objek kultivasi."
Zhang Yu diam sejenak lalu mengangkat wajahnya. "Apa kau masih punya racun seperti itu? Keluarkan jika kau masih memilikinya."
Wen Bailuo dan teman-temannya tercengang. Mereka saling pandang dan tanpa tak percaya.
"Apa dia gila?! Bubuk kematian adalah racun yang sangat mengerikan. Tapi dia malah minta lagi!"
"Namun lihat dia. Dia baik-baik saja setelah terkena bubuk kematian. Apa jangan-jangan dia kebal terhadap racun?"
Wen Bailuo yang tadinya sudah percaya diri sekarang wajahnya berubah pucat. Dia menolak percaya ada orang seperti Zhang Yu.
Pertarungan jarak jauh, jarak dekat, bahkan racun pun dia dapat mengatasinya. Bagaimana mungkin ada manusia normal seperti ini?!
Ketika Wen Bailuo terdiam. Zhang Yu mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. "Sayang sekali tidak ada lagi. Padahal aku sangat menyukainya."
Tangan Wen Bailuo terkepal sempurna.
"Kakak Wen, kami akan membantumu!" Xu Ciang dan belasan orang lainnya sudah menggenggam pedang. Tanpa tanda atau aba-aba mereka berkelebat cepat menyerang Zhang Yu.
Zhang Yu melihat hal ini dan tersenyum sinis. Dia menarik sedikit kakinya ke belakang kemudian memacu kakinya secepat kilat.
Wish...
__ADS_1
Gerakan seperti bayangan. Belasan orang yang mengincarnya mendadak berhenti di tempat karena terkejut.
"Dia datang!" teriak Xu Ciang mengingatkan teman-temannya.
Tapi sebelum sempat bereaksi, Zhang Yu sudah berdiri di samping mereka, mengibaskan pedangnya menebas mereka bergiliran satu persatu.
Arg...
Arg...
Teriakan menggema. Xu Ciang menjadi panik melihat situasi yang tak sesuai bayangannya. Dia semakin kalut ketika melihat Zhang Yu meluncur ke tempatnya setelah menumbangkan teman-temannya.
"Sial! Aku tidak ingin mati!"
Trank!
Suara dentingan menggema ketika pedang Zhang Yu ditahan oleh Wen Bailuo.
Xu Ciang tertegun. Dia perlahan mengangkat wajahnya dan langsung berterima kasih ketika tahu siapa yang telah membantunya. "Kakak Wen, terima kasih karena telah menolongku."
"Jangan banyak bicara. Ayo kita hadapi dia!"
Xu Ciang sejenak ragu. Satu detik kemudian dia menganggukkan kepala. "Baiklah! Kita kalahkan dia!"
Setelah berkata keduanya dengan kompak menyerang Zhang Yu. Menusuk pedang di kiri dan kanan hampir berhasil menusuk tepat sasaran.
Sekejap mata dia tak lagi terlihat di tempatnya. Bergerak cepat sambil menodongkan pedang ke depan.
Wen Bailuo dan Xu Ciang bisa melihat ini adalah ancaman berbahaya. Mereka dengan kompak melompat menjauh. Tapi sialnya gerakan Zhang Yu lebih cepat. Ketika masih bergerak Zhang Yu mendorong pedangnya dua kali.
Sret...
Sret...
Goresan halus terlihat di leher mereka. Meski sangat tipis tapi tampak darah mulai merembes keluar.
Mereka meneguk ludah. Wajah menjadi pucat dan berkeringat.
"Aku sempat berpikir nyawaku sudah tidak dapat diselamatkan," kata Xu Ciang sambil menyentuh lukanya.
Wen Bailuo juga berpikir serupa. Bahkan tangannya gemetar ketika membayangkan hal itu.
Di sisi lain, Zhang Yu mengangkat pedangnya menciptakan bayangan cakar raksasa yang menyentuh langit-langit. Cakar runcing berwarna merah terlihat menakutkan dan terasa mencekam.
"Saatnya mengakhiri semua ini!"
Mata Xu Ciang dan Wen Bailuo membulat sempurna ketika melihat bayangan cakar raksasa.
__ADS_1
"Zhang Yu! Tidak ... Jangan!" Xu Ciang mencoba memohon sementara Wen Bailuo diam tak bisa bicara karena tubuhnya gemetar dan tenggorokannya kering kerontang.
Tapi Zhang Yu tidak mempedulikan mereka. Dia sudah menutup telinga dan mata. Mengayunkan pedang semesta sehingga bayangan cakar langsung melesat dari tempatnya.
Shut...
Wing...
Boommm!!
Ledakan begitu dahsyat. Wen Bailuo dan Xu Ciang yang tidak lagi memiliki kekuatan hanya bisa pasrah menerimanya dan mati.
Dua cincin menggelinding ke bawah kakinya. Zhang Yu mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tidak ada simpati atau belas kasihan. Sejak awal merekalah yang datang dan mencari masalah padanya. Mereka tiada karena tidak memiliki cukup kemampuan. Andai kempunan nya lebih rendah, sudah dapat dipastikan dirinyalah yang menjadi korban.
Sambil melihat kekacauan ini Zhang Yu tak bisa untuk tidak berterima kasih pada mereka.
"Aku sudah mencoba mendalami bagian kedua dari kitab budidaya tubuh. Siapa yang mengira akan mendapat petunjuk dalam pertarungan ini."
Zhang Yu memeriksa cincin penyiksaan Wen Bailuo dan milik Xu Ciang. Melihat isinya yang cukup banyak membuat hatinya senang.
Belum lagi milik belasan murid lainnya. Zhang Yu mengumpulkan semua dengan tak sabar dan menyimpan semua dalam cincin penyimpanannya.
Bersama dengan itu Wu Zetian, Tang Yue dan He Jiao kembali. Mereka terlihat khawatir. Terlebih ketika mendengar suara ledakan yang begitu menggema. Ketiganya langsung memutuskan untuk kembali untuk melihat keadaan Zhang Yu.
Saat sampai di tempat ketiganya terkejut melihat Zhang Yu mengalahkan mereka.
"Zhang Yu, kau baik-baik saja?" tanya mereka bersamaan.
"Aku baik-baik saja."
Ketiganya baru bisa menghela nafas lega setelah mendengar Zhang Yu baik-baik saja. Wu Zetian berjalan ke arah mayat Wen Bailuo dan menatapnya dengan sinis.
"Dia terkenal sangat angkuh dan suka menindas. Tidak ada yang pernah berpikir dia akan berakhir di tangan seorang murid baru."
"Wen Bailuo memang penindas. Begitu pula dengan Xu Ciang," timpal Tang Yue dengan kerutan di keningnya. Dia masih ingat jelas di mana waktu itu Xu Ciang mengikutinya dari akademi. Andai tidak bertemu Zhang Yu, maka nasibnya akan benar-benar tragis.
"Zhang Yu, apa kita akan langsung pergi?" tanya Wu Zetian.
"Tentu saja. Kita ...." Zhang Yu hendak menganggukkan kepala. Satu suara datang dari belakang seperti memperhatikan mereka di kejauhan.
Zhang Yu berbalik lalu berjalan ke arah suara itu untuk memeriksa.
"Ada apa? Apa kau ...."
"Tidak ada. Sepertinya itu hanya halusinasiku saja."
Wu Zetian yang akan bertanya sontak menutup mulutnya melihat Zhang Yu sudah kembali.
__ADS_1
"Ayo lanjutkan perjalanan ini," kata Zhang Yu lagi lalu berjalan memasuki lorong sebelah kanan.