
Pertarungan antara Xiao Yuwen dengan Guang Zhou berakhir. Meski sebagian orang berharap Xiao Yuwen akan menyusul dua keturunan klan Xiao lainnya, tapi kenyataan berkata sebaliknya. Guang Zhou berhasil mengunci satu tempat yang tersisa setelah memaksa Xiao Yuwen mengakui kekalahan.
Sekarang ketiga peserta babak final berada di arena bersiap mengambil tali untuk memutuskan siapa yang akan bertarung pertama. Zhang Yu mengambil tali merah pilihannya, begitu pula dengan Xiao Yuze dan Guang Zhou. Saat ini mereka menariknya perlahan, tetapi Jendral Ji Han masih menahannya.
"Menurut kalian siapa yang akan bertarung pertama?"
"Mungkin Xiao Yuze dan Zhang Yu. Walau bagaimanapun mereka adalah berasal dari Klan Xiao. Akan sangat menarik jika mereka bertarung lebih dulu."
"Tidak masalah entah siapa yang akan bertarung lebih dulu. Klan Xiao tahun ini sangat mendominasi. Tidak ada yang berharap, juga tidak ada yang mengira jika dua keturunan mereka lolos ke babak final. Andai Xiao Yuwen lolos, ini akan menjadi sejarah untuk pertama kalinya."
Hampir semua orang membicarakan hal ini. Klan Xiao yang tidak ikut dalam dua edisi terakhir, sekali mengikutinya kembali langsung dengan kejutan tak terduga. Tidak ada yang mengira, juga tidak ada yang memikirkannya.
"Sekarang!" Jendral Ji Han melepas tangannya yang memegang ujung tali. Tali berwarna merah itu langsung menggantungkan dan menunjukkan hasilnya.
"Pertarungan babak final pertama, Xiao Yuze, berhadapan dengan Guang Zhou!" seru Jendral Ji Han dari tempatnya.
Sejenak penonton terhenyak dengan hasil acak penempatan ini. Mereka berharap Zhang Yu dan Xiao Yuze akan bertarung lebih dulu, tapi ternyata Guang Zhou yang akan bertarung pertama dengan Xiao Yuze, sedang Zhang Yu harus menunggu gilirannya dan berhadapan dengan siapa yang kalah di antara mereka.
"Zhang Yu, kau bisa kembali ke tempatmu."
Zhang Yu mengangguk. Dia meninggalkan arena dan kembali ke tempatnya. Pada saat itu tatapan matanya bertemu dengan Xiao Yuze. Terlihat sekali dia juga berharap bertemu dengannya dalam pertarungan pertama, tapi hasil telah didapatkan, mereka hanya bisa mengikuti aturan.
"Menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Hong Shen yang tiba-tiba sudah berada di samping Zhang Yu.
"Tidak ada yang tahu pasti kekuatan mereka berdua, jadi sangat sulit menebak siapa yang akan menang," tambah Hong Shen dengan raut seriusnya.
Zhang Yu mengamati sekilas. Dia sendiri tidak bisa mendeskripsikan secara jelas kekuatan kedua pesaingnya dalam babak final. Baik Xiao Yuze ataupun Guang Zhou sama-sama punya kelebihan.
"Guang Zhou, ambillah ini." Seorang tetua melompat dari tempat duduk Klan Guang menyerahkan sebuah pedang kepada Guang Zhou. Warnanya jingga dengan guratan hitam seperti sulur di badan pedangnya, terlihat begitu kuat dan memukau.
Beberapa orang termasuk Jendral Ji Han yang ada di arena memperhatikan niat tetua Klan Guang tersebut. Sambil bersiap untuk memulai pertarungan, menyaksikan apa yang ada di depannya.
Guang Zhou tidak bergerak di tempat dan hanya menatap pedang yang diserahkan kepadanya. Ekspresinya datar, begitu pula dengan tatapan matanya yang acuh tak acuh.
"Patriark memberimu kesempatan untuk menggunakan pedang leluhur Klan Guang. Gunakan dan tunjukkan kemampuanmu dalam babak final." Tetua Klan Guang itu masih memegang pedang sambil berusaha menyerahkannya.
Akan tetapi Guang Zhou yang tak kunjung mengambil pedang dari tangannya pun sedikit canggung dengan tatapan semua orang.
"Guang Zhou, apa yang kau pikirkan? Cepat ambil pedang ini dan gunakan sebagai senjatamu," desak tetua dengan suaranya yang lirih.
Meski begitu Guang Zhou masih tidak menggubris nya. Dia beralih pada Jendral Ji Han memintanya agar segera memulai pertarungan.
"Jendral, pertarungan ini dapat dimulai."
Sejenak Jendral Ji Han tertegun karena tidak berharap jawaban seperti ini. Dia berdehem dengan suara nyaring, lalu menunjuk tempat Klan Hong sebagai tanda untuk tetua kembali ke tempatnya.
"Tetua, silakan kembali, pertarungan ini harus dimulai."
Ekspresi tetua dalam sekejap menjadi gelap. Begitu pula dengan Patriark Klan Hong dan beberapa tetua lain yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan anak ini?! Tetua Kedua, lihat cucumu yang tidak sopan itu. Tetua Ketiga datang dengan perintah Patriark, tapi dia malah menolaknya di hadapan semua orang." Tetua Pertama Klan Guang mengungkapkan kemarahannya pada sosok di sampingnya. Guang Yao, kakek Guang Zhou.
Namun alih-alih mendengarkan ucapan tetua pertama, Guang Yao hanya diam dengan wajah lesunya. Dia ingin bersuara untuk Guang Zhou, tapi tidak punya keberanian di depan Patriark dan tetua Klan lainnya.
Guang Qin, Patriark Klan Guang memberi tatapan tajam pada Guang Yao. Tapi hanya sekilas sebelum menariknya kembali ke arena. "Padahal aku berniat memberinya kesempatan untuk masuk Klan Guang secara resmi. Tapi karena dia tidak menginginkannya, aku juga tidak bisa memaksa."
Guang Zhou menyadari tatapan kebencian yang tertuju kepadanya. Dia merespon dengan tenang seolah semua tak berkaitan dengannya.
"Jendral Ji Han, kau dapat memulainya."
Jendral Ji Han mengangguk.
"Dalam hitungan ketiga pertarungan akan dimulai. Satu, dua ... Tiga. Mulai!" Jendral Ji Han melompat saat memulai pertarungan babak final pertama. Namun Xiao Yuze dan Guang Zhou yang masing-masing sudah memegang pedang, tidak beranjak dari tempat mereka. Mata saling menatap, seolah sedang menunggu celah pertahanan lawan terbuka.
Meski begitu, aura tubuh mereka seakan bertarung berusaha mendominasi.
"Sampai kapan kau akan diam di sana? Aku memberimu kesempatan untuk menyerang." Xiao Yuze menarik sedikit sudut bibirnya sambil berkata dengan nada mengejek.
"Karena kau bicara begitu, aku tidak akan menahannya," balas Guang Zhou. Kemudian mengikuti gerakan pedangnya, lima cahaya berwujud perang muncul di atas kepalanya.
"Lima pedang cahaya? Sepertinya kau lebih hebat dari generasi Klan Guang yang payah," dangus sinis Xiao Yuze. Sebelum kompetisi dia bahkan tidak mengenal Guang Zhou. Tapi penampilannya dalam setiap babak cukup menonjol, membuat setiap orang termasuk dirinya tidak bisa untuk tidak memperhatikannya.
Guang Zhou tidak menggubris kalimat Xiao Yuze. Dia sudah cukup mengamati Xiao Yuze adalah lawan yang tangguh, jadi saat ini dia akan serius menghadapinya sejak awal pertarungan. Tidak akan membuang banyak kesempatan.
"Pedang cahaya!" Guang Zhou berseru. Satu pedang cahaya langsung melesat mengikuti gerakan pedangnya.
Suara ledakan teredam. Namun energi kekuatan menyebar seperti badai.
Di tempatnya, Xiao Yuze ternyata masih bergeming tidak beranjak sedikit pun. Tepat di depan tubuhnya terlihat bayangan tengkorak yang cukup besar berwarna putih kemerahan.
"Tidak mengherankan. Serangan teknik rahasia Klan Guang memang kuat." Bersama dengan kalimatnya, bayangan tengkorak itu perlahan memudar dan hancur.
Kerusakan yang diberikan pedang cahaya jelas terlalu kuat. Beruntung hanya satu pedang, jika kelimanya maju secara bersamaan, mungkin perlu mengeluarkan sesuatu yang lebih kuat untuk menahannya.
"Aku akan menyimpan semua kartuku untuk mengalahkannya." Xiao Yuze melirik Zhang Yu. Dia beranggapan dapat mengalahkan Guang Zhou dengan mudah, lalu menghadapi Zhang Yu dalam pertarungan terakhir.
"Ini belum berakhir. Bukankah kau terlalu meremehkan lawan dengan bersikaplah seperti ini?" Guang Zhou menyadari perhatian Xiao Yuze. Terlepas perbedaan kekuatan di antara mereka, dirinya tidak akan menyerah dengan mudah.
Xiao Yuze mendengus. "Kau ini cerewet sekali."
"Mata pedang!"
Tiga siluet tebasan melesat dengan cepat seperti anak panah. Riak energi mengikutinya bagai ekor, memercikkan bara api yang cukup panas.
"Padang cahaya!" Guang Zhou tidak diam saja. Dia menggunkan satu pedang cahaya untuk menahan serangan ini. Dia berpikir satu pedang cahaya sudah cukup, tapi siapa yang mengira satu pedang cahaya tidak mampu menahan serangan mata pedang milik Xiao Yuze.
"Pedang cahaya!"
Dalam keadaan terdesak Guang Zhou kembali mengirim satu pedang cahaya untuk menahannya. Karena mata pedang sudah agak lemah, upaya Guang Zhou kali ini membuahkan hasil.
__ADS_1
"Dua pedang cahaya untuk satu serangan. Aku harus menahan diri setelah ini," batin Guang Zhou. Teknik lima pedang cahaya menggunakan banyak sekali Qi, jadi tidak mungkin mengeluarkannya lagi jika sudah menghabiskan dua pedang cahaya yang tersisa.
Xiao Yuze sudah mempelajari cara kerja teknik rahasia Klan Guang. Sedikitnya mengetahui kelemahannya yang mengkonsumsi hampir tujuh puluh persen Qi. Dia berniat memancing Guang Zhou menggunakan semua pedang cahayanya agar ia lebih leluasa. Tapi ternyata Guang Zhou tidak berniat menggunakan dua pedang cahaya yang tersisa begitu cepat.
"Apa yang kau lakukan sekarang, ha?" Xiao Yuze memutar pedangnya sambil memasang kuda-kuda saat melihat Guang Zhou melesat ke arahnya. Matanya berkedip dua kali saat menyadari Guang Zhou tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
"Apa?"
Xiao Yuze terkejut. Tapi dengan respon yang cepat dia menyadari Guang Zhou mengincarnya dari belakang. Dia berbalik, lalu mendorong pedangnya menahan kedatangan pedang yang hampir melukai punggungnya.
Trank!
Dua pedang bertukar kekuatan. Saling menahan dengan tatapan tajam.
Dalam satu waktu Guang Zhou menarik pedangnya, kemudian melakukan gerakan berputar sambil mengangkat kaki kanannya.
Xiao Yuze yang tak berpikir serangan kaki Guang Zhou sangat kuat, hanya menahan dengan tangan kirinya. Matanya terbuka sepenuhnya saat menyadari dia tak bisa menahannya seperti itu, lalu dia mundur beberapa langkah sambil mengibaskan tangan kirinya yang terasa kebas.
"Tidak disangka dia sangat merepotkan," dengus Xiao Yuze. Sedetik kemudian dia memegang pedangnya dengan kedua tangan, lalu siluet tebasan cukup besar terpampang di depan tubuhnya.
Itu adalah transformasi dari bentuk serangan pertama teknik mata pedang. Memiliki jangkauan serangan lebih sempit tapi sepuluh kali lebih tajam.
Guang Zhou awalnya tidak ingin menggunakan dua pedang cahaya yang tersisa. Tapi melihat serangan Xiao Yuze sangat kuat, dia tak berpikir punya cara lain untuk menghadapinya.
"Dua pedang cahaya!"
Swosh!
BLAR!!
Tubuh Guang Zhou terseret sepuluh langkah dari tempat semula. Namun dia masih mempertahankan posisinya sambil menyilangkan pedang di depan dadanya. Matanya tertuju pada uap asap yang berkumpul di tengah arena. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan uap asap ini. Dia terus menatapnya, sampai satu waktu cahaya berwarna kuning melesat seperti jarum menembus keningnya.
Jleb!
Seketika Guang Zhou kehilangan kontrol atas dirinya. Dia tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bahkan bibirnya. Dia hanya bisa berpikir, tapi semua kacau karena keadaan yang dialaminya.
Pada saat yang sama Xiao Yuze berjalan keluar dari kumparan uap asap. Dia mengayunkan kakinya begitu tenang hingga berada tepat di depan Guang Zhou dan mengacungkan pedang ke arahnya. Setelah itu dia membebaskannya hingga Guang Zhou langsung tersungkur setelah memuntahkan beberapa teguk darah.
"Tadinya aku menyimpan teknik ini untuk Zhang Yu, tapi kau sangat merepotkan."
Setelah diputuskan pemenangnya, Xiao Yuze lekas berjalan kembali ke tempat duduk peserta.
"Aku harap kau tidak sengaja mencari kekalahan untuk menghindariku," ejek Xiao Yuze pada Zhang Yu.
Zhang Yu mendengus. "Kau tenang saja, lebih baik persiapkan saja dirimu agar tidak beralasan saat kalah dalam pertarungan."
"Ka-kau …." Wajah Xiao Yuze memerah. Dia sangat marah sehingga ingin mencabik Zhang Yu. Tapi dia mengingat sekarang banyak orang memperhatikannya, jadi harus bersikap tenang dan elegan.
"Awas saja kau nanti, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!" batinnya.
__ADS_1