Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 40 : Meningggalkan Kota


__ADS_3

"Tapi apa Ayah?"


Kalimat Zhang Long yang menggantung membuat Zhang Yu penasaran. Ibunya yang selama ini dianggap meninggal ternyata masih hidup sampai sekarang. Dia tak bisa menahan gejolak perasaan dalam hatinya, ingin melihat dan bertemu langsung dengannya.


Namun ....


"Ibumu sangat jauh dari kita. Ayah juga tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Tapi ayah yakin ibumu baik-baik saja di sana."


Zhang Yu terhenyak di tempat. Jawaban ini jelas sangat tidak memuaskan baginya. Dia mengharap sebuah jawaban jelas. Akan tetapi saat bertanya di mana ibunya sekarang, Zhang Long malah bangkit dari kursi dan pergi.


Tangan Zhang Yu mengelus liontin hati perak pada kalung tersebut. Tidak sengaja menyadari jika ada ruang di antara dua sisinya. Keningnya mengerut, dia lantas membuka bagian dalamnya.


"Xiao Mei"


Nama di dalam liontin itu terdengar tidak asing. Xiao Mei, seperti pernah mendengarnya di suatu tempat. Tapi Zhang Yu tidak yakin.


"Mungkinkah ini nama ibu?"


Malam itu Zhang Yu benar-benar terjaga di kamar terus memikirkan tentang ibunya. Bahkan dia tidak sadar malam telah berakhir dan hari telah berganti.


Zhang Bing mengetuk pintu seraya memanggil dari luar. Itupun tidak lantas membuat Zhang Yu beranjak dari atas tempat tidur. Tangannya tetap mengelus liontin hati perak dan tatapan masih tertuju ke nama Xiao Mei di dalamnya.


Cit... Cit...


Sun yang sejak kemarin menemani Zhang Yu di pojok ruangan tiba-tiba melompat ke pangkuannya.


Zhang Yu langsung tersadar dari lamunannya. Tangan menengadah menangkap Sun dan menatap kera kecil itu yang menunjukkan wajah tak bersalah.


"Yu'er, buka pintunya. Bukankah kau ingin memulai perjalanan? Apa kau menarik niat kepergianmu?"


Suara sang bibi terdengar dari luar. Zhang Yu melihat ke luar jendela dan itu benar-benar sudah pagi.


Jadi dirinya melamun dari malam hingga pagi? Ini terlalu mengerikan!


Tentu saja Zhang Yu tak lupa tujuannya. Sesuai rencana, hari ini adalah hari awal perjalanannya. Ayo cepat keluar, jangan sampai semua jadi berantakan.

__ADS_1


Zhang Yu memakai kalung ibunya dan melihatnya sekilas. Detik berikutnya dia menarik tubuhnya turun dari tempat tidur dan mulai mengayunkan kaki keluar ruangan.


"Bibi pikir kau tidak jadi pergi," kata Zhang Bing dengan penuh harap.


Meski sudah menyetujui kepergian Zhang Yu, tapi tetap ia lebih senang jika Zhang Yu bertahan di Kota Qian Gu.


"Bibi, di mana Ayah?"


"Ayahmu ada di luar bersama patriark dan beberapa tetua. Mereka datang setelah mengetahui kau akan pergi meninggalkan Kota Qian Gu."


Patriark? Tetua?


Tanpa bicara lagi Zhang Yu mendorong kursi roda bibinya keluar. Sun tidak ketinggalan, dia berdiri di atas pundak sebelah kanan, berpegangan sambil menggoyangkan ekor.


"Ayah!"


Melihat Zhang Long berbicara dengan Patriark Zhang Lei, Tetua Keempat Zhang San, Tetua Kelima Zhang Lou dan Tetua Keenam Zhang Zhou, Zhang Yu datang menghampiri mereka.


"Zhang Yu, kau benar-benar akan pergi ke ibukota?" tanya Zhang Lei sambil menatap Zhang Yu.


Tetua Keempat Zhang San tertawa dengan jawaban Zhang Yu. "Itu sungguh pilihan yang bagus Zhang Yu. Setelah sampai di ibukota kau mungkin harus bergabung dengan Akademi Kekaisaran. Aku dengar sangat sulit untuk masuk ke sana. Tapi yakinlah kau pasti bisa."


Heem...


Zhang Yu menganggukkan kepala sebagai tanda. Itu memang tujuannya untuk datang ke ibukota. Yakni bergabung dengan Akademi Kekaisaran dan menemukan gurunya.


Setelah basa-basi yang cukup memakan waktu, Zhang Yu berpamitan pergi untuk memulai perjalanan. Dia berdiri di antara gapura lalu secara bertahap membalikkan badan melihat ke belakang.


Zhang Bing menangkup wajahnya menahan kesedihan. Zhang Long berdiri tegak seperti tidak terpengaruh. Tapi percayalah, dalam hati terus merapalkan harapan untuk putra semata wayangnya, Zhang Yu.


...


Di luar wilayah Klan Zhang, Du Xiong dan empat orangnya menunggu kedatangan Zhang Yu. Sejak kemarin mereka telah sepakat untuk bertemu di titik ini sebelum melakukan perjalanan ke Kota Heishan.


Setelah itu mereka akan berpisah jalan. Du Xiong akan kembali ke Keluarga He untuk menyerahkan keuntungan pertama dan melapor situasi gua tambang setelah evaluasi berkelanjutan. Sedang Zhang Yu akan melanjutkan perjalanan menuju Kota Xue He.

__ADS_1


"Paman Gendut, apa aku terlalu lama?"


Zhang Yu berlari sambil melambaikan tangan setelah melihat kelompok Du Xiong di kejauhan.


"Ya, agak lama. Tapi bukan masalah." Du Xiong memberi tanda pada empat orang di belakangnya lalu mereka melakukan perjalanan bersama ke arah barat.


Dalam perjalanan, Zhang Yu acapkali bertanya pada Du Xiong tentang Akademi Kekaisaran. Tapi selain informasi dasar Du Xiong tidak banyak tahu tentang Akademi Kekaisaran. Yang jelas itu adalah akademi terbesar dan kiblat utama tempat menimba ilmu di Kekaisaran Xuan. Hampir semua orang memiliki keinginan untuk bergabung dan menjadi bagian mereka, tapi tidak semua memiliki kesempatan.


Dua jam lebih Zhang Yu dan rombongan melakukan perjalanan akhirnya sampai di wilayah paling barat Kota Qian Gu, Desa Apung.


Desa ini tidak begitu luas. Tapi seperti namanya, desa ini bagai pulau yang mengapung di keliling sungai.


Untuk sampai di Kota Heishan mereka harus naik kapal jalan darat telah berakhir. Namun ini sungguh baru pertama bagi Zhang Yu untuk naik kapal. Ketika pertama kali menginjak lantai kapal, dia merasa was-was karena kapal sedikit terguncang diterjang angin dan gelombang.


Akan tetapi itu hanya beberapa waktu pertama saja. Karena bertahap Zhang Yu mulai membiasakan diri dan malah menikmati perjalanan di atas kapal. Terlebih duduk di dek depan melihat arus sungai terbelah diterjang badan kapal.


"Zhang Yu, perjalanan ini akan sedikit memakan waktu. Apa kau ingin makan atau beristirahat di ruangan?" Du Xiong menghampiri Zhang Yu yang berdiri seperti patung di dek depan.


"Aku masih kenyang. Aku akan tetap di sini," jawab Zhang Yu tanpa mengalihkan perhatiannya pada permukaan air di depan.


Du Xiong menganggukkan kepala kemudian meninggalkan Zhang Yu di sana. Zhang Yu meraba liontin hati perak di lehernya dan menggumamkan nama ibunya.


"Ayah tidak bisa mengatakan identitas ibu dengan jelas. Pasti ada sesuatu di baliknya." Zhang Yu merasa harus mencari tahu hal ini. Dia akan menyelidikinya, cepat atau lambat akan mengungkap kebenarannya.


Di saat Zhang Yu begitu fokus dengan liontin hati perak peninggalan ibunya. Tiba-tiba sebuah teriakan terdengar tepat di belakangnya.


"Kurang ajar! Apa kalian ingin mati?! Tanggung jawab jika masih ingin hidup." Pria berjubah mencengkeram pasangan setengah baya dan memaksa mereka untuk bertanggung jawab.


Tidak tahu apa masalah mereka. Tapi keributan ini sangat mengganggu. Zhang Yu menggosok telinganya sambil membalikkan badan. "Hei, bisakah kau pelankan suara saat bicara?"


Pria berjubah hitam mengerutkan kening. Pupil matanya melebar menatap Zhang Yu yang mencoba menasehatinya. "Apa kau cari mati?! Pergi dari sini jika tidak ingin mencari masalah."


Dua alis Zhang Yu terangkat sempurna. Mata menatap pria berjubah hitam dari atas ke bawah.


Bagus sekali. Pria ini adalah tiran lokal yang suka menindas orang. Harus diberi pelajaran!

__ADS_1


__ADS_2