Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 192 : Bertemu Kembali Dengan Duan Jian


__ADS_3

Waktu kembali berlalu. Hari ini tepat satu bulan sejak rombongannya kekaisaran meninggalkan kediaman Klan Zhang.


Dalam kurun waktu itu Zhang Yu membantu pembangunan klan, khusus dalam mengelola tambang yang sempat terbengkalai. Walau hasilnya tak sebanyak tahun-tahun pertama sejak ditemukan, tapi paling tidak dengan keberadaan tambang sumber daya ini dapat menjadi pasokan utama persediaan sumber daya klan.


Terlebih sekarang Klan Zhang tak perlu membagi hasil dengan Keluarga He. Jadi hasil tambang sepenuhnya milik Klan Zhang. Itu karena perjanjian antara kedua pihak hanya berlaku lima tahun. Bahkan orang-orang keluarga He sudah tidak datang satu bulan sebelum serangan orang-orang Istana Roh.


"Zhang Yu, ayahmu bilang kau akan pergi. Apa itu benar?" Xiao Mei memasuki ruangan Zhang Yu dan langsung menginterogasi putranya yang sedang berbaring.


"Benar. Aku akan pergi,"


Wajah Xiao Mei semakin buruk mendengar kalimat Zhang Yu. "Ke mana?" tanyanya.


"Aku pergi menjemput menantumu, Ibu. Apa kau masih akan menahanku di sini?" Zhang Yu bangkit dari posisinya lalu menatap Xiao Mei sambil menaikkan alisnya.


"Menjemput Yin'er? Jika begitu cepatlah pergi dan bawa Yin'er kembali."


Melihat sikap ibunya yang berubah begitu dekat membuat Zhang Yu berdecak pelan. Sudah jelas sekali jika ingin menahan kepergiannya. Tapi ketika bicara akan pergi menjemput Xuan Yin, ibunya bahkan tak berkedip saat memintanya pergi.


Haih...


Zhang Yu menghela nafas setelah menyaksikan ibunya pergi. Dia melirik Sun yang ada di sudut ruangan dan masih dalam tidur panjangnya.


"Sepertinya aku hanya bisa meninggalkannya di sini," ucap Zhang Yu. Namun belum juga mulut kering setelah bicara, tubuh kecil Sun memancarkan cahaya keemasan.


Eh...


"Apa dia akan selesai?" Zhang Yu menunggu. Matanya tak lepas dari bulu di tubuh mungil Sun yang tiba-tiba berubah warna menjadi abu-abu gelap.


Di saat yang sama aura kekuatannya meningkat. Dari yang semula hanya setingkat master kini aura kekuatannya bahkan lebih tinggi dari tingkat grand master.


"Seperti yang dikatakan Long Shen. Setelah proses evolusi kekuatan Sun akan meningkat signifikan." Zhang Yu mengangguk-angguk antusias melihat perkembangan Sun.

__ADS_1


Cit... Cit..


Sun bangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat dia masih bingung seperti masih mengamati keadaan sekitar. Tetapi begitu melihat Zhang Yu berada di dekatnya, Sun segera melompat ke pundaknya.


Cit!


"Sepertinya tubuhmu mengandung kekuatan es," kata Zhang Yu ketika merasakan tubuh Sun dipenuhi energi dingin.


Monyet kecil itu mengerti dengan apa yang dikatakan Zhang Yu. Mengira itu adalah sebuah pujian dia menarik telunjuk Zhang Yu dan meletakkannya di atas kepalanya.


"Di sini lebih dingin." Mungkin begitu maksudnya andai dia bisa bicara.


Zhang Yu tersenyum sekilas lalu mengeluarkan kristal sumber daya untuk Sun.


Mata Sun menjadi lebih bersinar ketika melihat makanan. Tanpa banyak basa basi segera melahap nya bulat-bulat. Sangat rakus.


"Karena kau sudah bangun, sekarang ikut denganku pergi ke akademi." Padahal Zhang Yu berniat meninggalkan Sun di kediaman karena melihatnya masih dalam proses evolusi. Tapi mungkin dia mendengar ucapannya sehingga dengan segera bangun agar tidak ditinggal.


"Ada apa Ayah?" tanya Zhang Yu.


Tetapi Zhang Long hanya melirik Zhang Zhou yang berdiri di sampingnya. Pria setengah baya itu berdehem sebelum menggeser tubuhnya ke sebelah ranjang.


"Zhang Yu, aku mendengar dari ayahmu kau akan kembali ke Akademi Kekaisaran. Jika kau tidak keberatan, tolong jaga Zhang Ying di sana. Dia baru lolos tes penerimaan enam bulan yang lalu, dan sekarang masih murid luar. Aku hanya khawatir dia mendapat masalah dan tak tahu harus bagaimana."


Zhang Yu tertegun mendengar cerita Tetua Keenam. Setelah satu bulan lebih dirinya kembali sungguh harus menyadari Zhang Ying memang tidak pernah terlihat. Pantas saja, ternyata dia sudah bergabung dengan Akademi Kekaisaran.


"Baik Tetua Keenam. Kau tidak perlu khawatir."


Setelah meninggalkan ayahnya dan tetua keenam, Zhang Yu mencari ibu dan bibinya untuk berpamitan. Tepat ketika siang hari Zhang Yu baru memulai perjalanannya menuju ke arah barat.


Hampir sama dengan lima tahun yang lalu. Zhang Yu naik kapal untuk menuju Kota Heishan. Dia menempati bagian dek depan sambil menunggu kapal berlayar.

__ADS_1


Tepat pada waktu itu, seorang pria berjubah merah baru saja naik ke atas kapal sambil berjalan gontai menunjukkan pedang di pinggangnya.


Ketika dia berjalan semua orang ketakutan. Tidak ada yang berani manatap matanya secara langsung karena mengenali siapa pria itu.


Dia adalah Duan Jian. Perompak sekaligus penguasa sungai barat.


Lima tahun yang lalu dia hanya perompak kelas teri yang hanya bermodal wajah seram. Tapi setelah kekalahannya waktu itu membuat Duan Jian fokus meningkatkan kekuatan. Sekarang, setelah lima tahun namanya semakin tenar. Terlebih setelah dia memberantas bandit pendatang dari Kota Heishan seorang diri sehingga kawasan sungai barat bersih dari aksi-aksi kekerasan. Tapi tentu saja dia mematok tarif untuk setiap pelayaran yang disebutnya sebagai biaya perlindungan.


"Setiap penumpang wajib bayar. Tidak bayar tidak boleh naik!" seru Duan Jian sambil menodongkan tangan ke setiap penumpang. Tak ayal Duan Jian mendapat lebih banyak keuntungan bahkan jika dibandingkan dengan melakukan perampokan.


"Hei! Bayar. Apa kau tidak dengar?" Duan Jian mengetuk alas kakinya ke lantai kapal sehingga membuat Zhang Yu mengangkat wajahnya. Mereka pun berpandangan untuk beberapa waktu yang lama sebelum Duan Jian mulai mengerutkan kening merasa wajah Zhang Yu terlihat akrab.


"Tunggu, apa kita pernah bertemu?" tanya Duan Jian.


Zhang Yu awalnya tidak terlalu ingat dengan pria di hadapannya. Tapi ketika Duan Jian bertanya seperti itu padanya dan melihat penampilan yang tak banyak berubah, Zhang Yu segera mengenalinya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Ingin berenang di sungai? Lagi?"


Zhang Yu bertanya dengan santai. Tapi ekspresi Duan Jian seperti melihat jiwa-jiwa menakutkan yang bergentayangan.


"Ka-kau ...." Bahkan mulutnya mendadak kelu ketika ingin mengatakan sesuatu.


Zhang Yu menggelengkan kepala kemudian menghela nafas. "Kau masih memeras orang?"


Tatapan Zhang Yu berubah tajam saat mengatakan kalimatnya. Mata Duan Jian sontak berkedut dan dia cepat-cepat menyembunyikan beberapa koin emas di tangannya.


"Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak melakukan pemerasan," bantah Duan Jian. Dia tidak tahu jika Zhang Yu terus memperhatikannya sejak naik ke atas kapal. Bagaimana Duan Jian mulai menodongkan tangan sampai menerima koin pemberian penumpang kapal.


"Sial! Padahal aku sudah berada di tingkat grand master bintang satu, tapi kenapa aku jadi ketakutan hanya karena dia menatapku?" batin Duan Jian gelisah. Dia merasakan tekanan aura yang sangat kuat berasal dari tubuh Zhang Yu seolah mampu menelannya hidup-hidup. Hal itulah yang membuat dirinya tidak berani bertindak gegabah.


"Sekarang kembalikan milik mereka," kata Zhang Yu sambil melirik kantong di pinggang Duan Jian.

__ADS_1


Seketika Duan Jian menurut. Dia melepas kantong merah itu dari celananya, kemudian membagikan kembali koin emas yang ia dapat sebelumnya.


__ADS_2