Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 118 : Tingkat Master Bintang Sembilan


__ADS_3

Perkembangan Zhang Yu meningkat dengan cepat dengan menggunakan metode bagian kedua kitab budidaya tubuh. Dari tingkat master bintang tujuh sekarang dia sudah di tingkat master bintang sembilan.


Di usianya yang belum dua puluh dua tahun dia hanya selangkah lagi untuk mencapai tingkat grand master bintang satu. Dari seorang sampah yang diabaikan sekarang berubah menjadi genius. Semua yang menghinanya dulu, sudah pasti akan menyesal.


"Aku lupa berapa lama aku di lantai kelima. Tapi sepertinya sudah waktunya untuk pergi dari sini." Zhang Yu bangkit dari posisi duduk bersilanya. Sekilas melirik biji petir yang lagi-lagi kehilangan energi.


"Aku berharap dapat mencapai tingkat grand master bintang satu. Tapi energinya lebih dulu habis. Benar-benar tidak bisa diandalkan," gumamnya.


Zhang Yu mendorong pintu agar terbuka. Dia berniat kembali ke kediamannya untuk melihat perkembangan Sun selama dirinya berada di menara kultivasi. Dengan dewa naga di sampingnya, Zhang Yu semakin tak sabar untuk menengoknya.


Namun, sebuah sambutan diberikan ketika dirinya baru keluar.


"Tetua Zhuge Da, ...." Zhang Yu baru membuka mulutnya dan menyadari ekspresi pria tua ini tidak baik. Bahkan matanya menunjukkan kemarahan. Spontan Zhang Yu menutup mulutnya lagi dan bertahap mundur untuk menjaga jarak, tapi Tetua Zhuge Da menghalangi jalannya.


"Akhirnya aku menangkapmu! Kemana kau akan pergi, ha?!" Tetua Zhuge Da mengintip dari celah pintu memeriksa keadaan biji petir. Mengetahui biji petir telah kehilangan energi dia sudah tidak terkejut lagi dan hanya menggertakkan gigi.


"Dalam dua puluh bulan kau sudah merusak lima biji petir di lima ruangan berbeda. Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya. Aku juga tidak tahu kau melakukannya untuk apa. Tapi kau harus mendapatkan hukuman!"


Alih-alih fokus dengan inti yang diucapkan Tetua Zhuge Da, Zhang Yu hanya fokus dengan waktu yang dia habiskan di lantai kelima menara kultivasi ternyata hampir dua tahun.


"Bocah! Kau benar-benar luar biasa! Kau merusak lima biji petir dalam dua puluh bulan. Kau tidak tahu betapa mahal dan sulitnya mendapatkan satu biji petir?" Suara Wang Chen menggema dalam kepala membuat perhatian Zhang Yu terbagi.


Tapi dia masih dapat melihat dengan jelas kemarahan di wajah Tetua Zhuge Da.


"Guru, bukankah kau yang menyarankan ku untuk ber kultivasi di lantai kelima? Bahkan kau sendiri yang memberi token khususnya," balas Zhang Yu dalam hati.


"Ya, aku memang memintamu untuk ber kultivasi di lantai kelima. Aku juga ingin kau menggunakan racun petir untuk kultivasi. Tapi kenapa kau menyerap racun petir itu hingga habis seluruhnya? Harusnya kau menyisakan sedikit untuk menjaga kestabilan biji petir."


Zhang Yu tidak tahu jika biji petir tidak dapat diperbaiki. Andai tahu hal ini ia tidak akan sembrono menyerap racun petirnya hingga kering.


"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan, Guru?" tanya Zhang Yu sedikit merasa bersalah.


"Tidak tahu. Kau pikirkan sendiri caranya. Masalah yang kau ciptakan, kau harus menyelesaikannya."


"Bahkan jika kau adalah muridku, kau tetap akan menerima hukuman karena telah merusak biji petir," tambahnya.


"Guru, guru ...." Zhang Yu berusaha memanggil tapi Wang Chen Sang Guru telah mengakhiri percakapannya.

__ADS_1


Zhang Yu gelisah dengan tatapan Tetua Zhuge Da. Dalam hati mengomel tentang gurunya. "Guru, kau tidak memberitahuku tentang hal itu. Jadi bukan sepenuhnya salahku karena kau tidak menjelaskan dengan rinci. Tapi sekarang kau malah pergi tanpa membantu muridmu?!"


"Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan berpikir kau dapat mencari alasan untuk menutupi kesalahan-kesalahanmu. Semua sudah jelas. Kau tidak bisa mengelak!" dengus Tetua Zhuge Da.


"Aku tidak akan mengelak, Tetua. Tapi bisakah aku membayarnya saja?"


Tetua Zhuge Da mengangkat kedua alisnya. "Memangnya berapa banyak poin kontribusi yang kau punya? Kau tidak akan bisa membayarnya dengan sedikit poin kontribusi."


"Aku tahu. Tetua Zhuge Da, ini adalah poin kontribusi yang aku miliki saat ini. Aku masih punya hadiah peringkat yang belum kuambil, lalu juga ada beberapa barang yang dapat ditukarkan. Aku akan datang lagi dan membayar sisanya."


Tetua Zhuge Da menatap dengan rumit. Dia menatap Zhang Yu dan mendengus. "Kau pikir semudah itu?" sinisnya.


Zhang Yu agak bingung. Setelah berpikir cukup lama dian mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya.


Mata Tetua Zhuge Da terbuka sempurna dan terlihat jelas dia terpesona dengan apa yang ada di tangan Zhang Yu.


"Jamur Spiritual! Bagaimana kau mendapatkan sumber daya ini?" tanyanya antusias.


"Aku mendapatkannya saat memasuki Alam Zhen Yang. Jika Tetua Zhuge Da ...."


"Hum ... Kau ingin menyuapku agar memberimu keringanan? Apa kau pikir aku orang yang begitu rendah?" Tetua Zhuge Da memalingkan wajahnya sambil melipat tangan cukup berwibawa.


"Tentu saja aku tak berpikir Tetua Zhuge Da adalah orang yang seperti itu. Tapi ini bukan menyuap atau apapun itu. Aku hanya ingin berbagi dengan Tetua Zhuge Da hasil yang aku dapatkan."


Ehem...


"Karena kau ingin berbagi maka tidak baik bagiku untuk menghalangimu. Dengan terpaksa aku harus menerimanya."


Tetua Zhuge Da bergerak lebih cepat dari pada seekor tupai yang mengambil kacang. Dia melihat jamur spiritual dari jarak dekat sambil mengendus aromanya yang sangat khas.


"Aku peringatkan kau untuk membayarnya. Satu biji petir seharga seratus ribu poin kontribusi. Kau merusak lima biji petir jadi harus mengajar lima ratus ribu poin kontribusi."


Zhang Yu tidak mengatakan apapun kali ini. Lima ratus ribu poin kontribusi bukan jumlah yang sedikit. Tapi dia mengingat hadiah peringkat seratus besar tangga naga adalah dua puluh ribu poin kontribusi setiap bulan. Dua tahun Zhang Yu tak mengambilnya, jadi ada sekitar empat ratus delapannya puluh ribu poin kontribusi.


Dengan poin kontribusi yang sudah diberikan sebelumnya sekitar lima belas ribu, jadi ia perlu lima ribu poin kontribusi untuk sisa nya.


Zhang Yu pergi ke pusat misi.

__ADS_1


"Aku tidak pernah melihatmu beberapa waktu terakhir. Satu tahun, mungkin lebih. Apa yang kau lakukan selama ini?" tanya Tetua Zhu He, penjaga pusat misi.


"Aku berada di menara kultivasi dan baru saja keluar."


Tetua Zhu He manggut-manggut. "Kau pasti keluar karena ingin mengikuti ujian murid dalam. Benar kan?"


"Ujian murid dalam?"


"Kau tidak tahu? Sekarang ujian murid dalam sudah berlangsung di arena pelataran dalam. Aku pikir kau sengaja keluar untuk mengikuti ujian. Ternyata kau bahkan tidak mengetahuinya."


Zhang Yu berkedip beberapa kali, "Tetua Zhu He, bisakah kau berikan hadiahku sekarang? Aku harus pergi ke pelataran dalam untuk mengikuti ujian."


Tetua Zhu He sudah menyiapkan token identitas tanpa nama berisi hadiah poin kontribusi di dalamnya. Dia langsung memberikannya kepada Zhang Yu. "Cepatlah ke sana sebelum terhambat. Jika tidak kau harus menunggu dua tahun lagi untuk mengikutinya."


Zhang Yu menyimpan token identitas itu ke dalam cincin penyimpanan. "Aku tidak akan terlambat, Tetua. Sampai jumpa."


...


Di arena pelataran dalam. Ratusan murid entah dari pelataran luar atau pelataran dalam berkumpul untuk memeriahkan ujian murid dalam.


Sekitar seratus lima puluh murid luar akan mengikuti ujian yang terdiri dari tiga tahapan. Tahap pertama adalah bertarung menghadapi murid dalam peringkat terendah.


Jadi selama dapat mengalahkannya, atau setidaknya bertahan sepuluh menit makan murid tersebut dipastikan lolos ke tahap kedua.


Sekarang sudah sembilan puluh delapan persen murid menyelesaikan tahap pertama dengan tingkat keberhasilan enam puluh persen. Hanya tersisa lima murid yang masih menunggu giliran termasuk Wu Zetian, He Jiao dan Tang Yue.


"Di mana Zhang Yu? Apa dia belum datang?" Mereka bertiga saling bertanya. Melihat ke sekeliling tapi tak menemukan orang yang mereka cari.


"Hanya tersisa lima orang. Dengan lima arena yang ada, itu berarti ini ronde terakhir sebelum babak pertama berakhir. Jika dia tidak datang sampai saat itu, dia tidak punya kesempatan untuk mengikuti ujian tahun ini."


"Wu Zetian, He Jiao, Tang Yue ... Silakan naik ke arena masing-masing." Yang dikhawatirkan tiba. Suara tetua memanggil mereka untuk mengambil bagian dalam tahap pertama ujian murid dalam.


Wu Zetian masih bergeming di tempat. Bahkan ketika Tang Yue dan He Jiao sudah naik ke atas arena dia masih diam di tempatnya.


"Murid Wu Zetian! Jika kau tidak naik ke atas arena sekarang maka secara otomatis kesempatan untuk mengikuti ujian dibatalkan."


Wu Zetian menggertakkan gigi. Dia mengangkat tangannya tinggi sambil meminta maaf. "Maaf Tetua, aku akan naik sekarang."

__ADS_1


Dia berjalan setapak demi setapak. Satu langkah berhenti, satu langkah berhenti. Dia tak menghiraukan tatapan aneh semua murid di sekitar dan menutup telinga untuk apa yang mereka katakan.


"Brengsek! Kenapa kau selalu merepotkan orang! Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk mengulur waktu. Sisanya kau harus menyelesaikannya sendiri"


__ADS_2