
Karena dengan cara pertama tidak berhasil, Zhang Yu mengubah cara bertarungnya. Dia menyerang boneka kayu dalam jarak dekat dan mengambil kesempatan melumpuhkannya dengan serangan kejutan.
Tentu saja ini berhasil. Akan tetapi seperti sebelumnya boneka kayu kembali merakitkan diri.
Zhang Yu hampir kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan benda tak bernyawa ini. Namun untuk kesekian kalinya ambisi dalam dirinya lebih besar untuk menyelesaikan tantangan dari gurunya.
"Saat ini menggunakan cara yang sama pasti tidak akan berhasil." Zhang Yu mencoba menyerang dengan pedang semesta. Awalnya berjalan lancar, tapi saat akan memberi serangan kejutan, boneka kayu telah menebak gerakannya.
Serangan yang sama tidak akan berguna dalam pertarungan berikutnya.
Pada saat ini boneka kayu tanpa perasaan itu tiba-tiba menembakkan tangan tumpulnya yang berbentuk seperti sarung tinju.
Sangat cepat. Dalam satu detik berikutnya tangan tumpulnya telah menghantam lantai arena dengan keras.
Beruntung Zhang Yu memiliki reaksi yang cepat. Berguling ke samping menghindari serangan meski tak bisa melindungi dirinya dari efek luapan energi ledakan.
Tubuhnya terseret beberapa langkah sebelum kembali dapat berdiri. Mata legam nya menelisik dengan hati-hati mencoba menemukan cara untuk melumpuhkan boneka kayu.
Tanpa sengaja perhatiannya tertuju pada tali hitam di bawah kaki. Seperti tali tambang tapi berukuran lebih kecil.
"Dari mana datangnya tali ini?" Zhang Yu mengikuti ujung tali hitam itu dan ternyata berakhir di lengan boneka kayu.
Sebelum Zhang Yu menyadarinya, boneka kayu menarik dengan kuat tali hitam itu membuat tangannya yang ada di ujung melesat cepat seperti peluru.
Suara hembusan angin terdengar sangat nyata. Wajah Zhang Yu menjadi kusut melihat tangan boneka kayu yang ada di belakangnya.
Dia melompat untuk menjauh. Tapi tali hitam telah menjerat kakinya. Hal itu memaksa Zhang Yu membentangkan pedang semesta menahan serangan.
Trank!
Bukan hanya kuat. Meski telah menggunakan kekuatannya, tangan Zhang Yu gemetar menahan serangan tersebut. Dia dengan tenang melepaskan kakinya dari jerat tali itu lalu mundur sepuluh langkah.
Akan tetapi hal itu tidak membuat boneka kayu berhenti. Dia malah menembakkan satu tangan yang tersisa kemudian memutar dua tangan itu dengan tali hitam yang terhubung ke lengannya.
Tak tak tak...
__ADS_1
Suara nyaring terdengar begitu bising di telinga ketika dua tangannya bertabrakan.
Zhang Yu menghindar setiap kali tangan tumpul sebesar kepala bayi itu mengincarnya. Sambil bergerak dia memikirkan cara untuk mengalahkan boneka kayu.
Pada satu waktu boneka kayu memutar tangannya terlalu cepat. Dia kehilangan kendali dan satu kepalan tangan menghantam kepalanya.
Blam!
Suaranya sangat berat dan boneka kayu terhuyung bahkan hampir terjatuh. Terlihat dari kejauhan sebuah goresan yang dalam di kepadanya. Tepat di mana tangannya mendarat sebelumnya.
Kening Zhang Yu mengerut mendapat sebuah petunjuk.
Pedang semesta tidak bisa melukai badannya. Mungkin ini terdengar aneh karena pedang semesta adalah senjata kelas atas. Tapi sekali lagi Zhang Yu mengingat ini adalah tabir ilusi. Kemungkinan di tempat ini semua senjata sama saja. Jadi tak heran jika pedang semesta tidak bisa berbuat banyak.
Akan tetapi hal berbeda berlaku pada boneka kayu. Tangannya itu bisa menjadi kelebihan yang dimilikinya. Tapi di waktu yang sama itu dapat menjadi alternatif senjata untuk mengalahkannya.
Pisau bermata ganda. Mungkin pepatah ini sangat tepat untuk menggambarkan situasi boneka kayu.
Zhang Yu mengukir senyum di bibir tipisnya. Satu rencana besar sudah tersusun matang dalam benaknya.
Seolah mendengar gumaman pelan itu, boneka kayu melesatkan satu tangannya untuk menyerang Zhang Yu.
Blam!
Zhang Yu menggeser tubuhnya sangat tenang. Tinju boneka kayu itu menghantam lantai arena dan langsung meninggalkan bercak cekungan sedalam satu jengkal.
Sebelum menariknya kembali, Zhang Yu menahan tali dengan kedua tangannya. Ketika boneka kayu berusaha lebih kuat, Zhang Yu juga menambah kekuatannya.
Sontak ini membuat boneka kayu marah. Meski dia tidak memiliki emosi, tapi marah adalah bentuk normalisasi. Dia mengayunkan satu tinju yang tersisa lalu mengayunkannya mengincar Zhang Yu.
Blam!
Sayang sekali tembakan kedua juga meleset. Zhang Yu tersenyum melihat tinju boneka kayu yang berjarak beberapa meter darinya. Dia menancapkan pedang semesta untuk menahan tali pertama dan mengambil tali kedua.
Boneka kayu berusaha kuat, tapi Zhang Yu tidak kalah kuat dalam mempertahankannya.
__ADS_1
"Tarik! Tarik terus!"
Melihat tali hitam begitu tegang, Zhang Yu semakin bersemangat. Dia mulai menghitung dan bersiap melepaskannya secara bersamaan.
Satu, dua ... Sekarang!
Shut...
Dua tinju itu langsung melesat begitu cepat. Badan boneka kayu tersentak karena tiba-tiba tarikan menjadi ringan. Dia tidak sadar, tahu-tahu dua tinju datang menerjang telak perut dan wajahnya.
Blam!
Bukan hanya tercerai-berai ataupun terpisah antara badan, kaki, dan tangan. Tapi itu benar-benar hancur menjadi partikel kecil.
Pemahaman konsep dan analisa yang sempurna. Kesadaran Zhang Yu perlahan kembali ke tubuhnya. Dia membuka mata, melihat Shi Guan dan beberapa murid masih berdiri di sampingnya.
"Aku berhasil?" Ada ketidakpercayaan memastikan dirinya telah berhasil mengalahkan boneka kayu.
Sempat berpikir boneka kayu akan bangkit kembali seperti sebelumnya. Tapi ternyata benar-benar dimusnahkan.
"Guang Zhou ...." Saat melihat ke atas, Zhang Yu melihat Guang Zhou sudah setengah jalan mencapai panggung kelima. Dia berada di anak tangga ke seratus tiga puluh lima. Sekarang berdiri diam di sana. Sepertinya sedang menghadapi ujian tabir ilusi kedua.
Zhang Yu sekali lagi melirik Shi Guan yang belum menyelesaikan tahap pertama. Dia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga berikutnya. Akan tetapi tubuhnya terhuyung ketika merasakan tekanan luar biasa dari anak tangga tersebut.
Ck!
"Tenaga ku terkuras cukup banyak saat menghadapi boneka kayu." Giginya menggertak. Jika bukan karena pertarungan itu dia tidak akan begitu tersiksa saat akan naik ke anak tangga selanjutnya.
"..."
Namun Zhang Yu tidak berpikir untuk menyerah. Dia diam untuk beberapa waktu yang lama, kemudian secara perlahan menggerakkan kakinya.
Keringat terus menetes membasahi pakaiannya. Di atas kepala seperti membawa puluhan batu berukuran raksasa.
Satu demi satu. Perlahan tapi pasti. Dia mulai mengejar keberadaan Guang Zhou yang masih bergeming di anak tangga seratus tiga puluh lima.
__ADS_1
Tapi jangan berpikir dia dapat memikirkan hal lain dalam kepalanya. Tekanan ini bahkan setara dengan kekuatan ayahnya yang berada di tingkat grand master. Hanya ada upaya untuk bertahan.