Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 238 : Hari Yang Ditunggu


__ADS_3

Semalaman berada di gudang Zhang Yu akhirnya keluar dengan wajah senang. Bagaimana tidak, dia baru saja berhasil menyatukan baru besi hitam dengan komponen pedang sehingga meningkatkan kualitasnya. Pedang yang semula berada di kelas menengah biasa sekarang hampir mendekati kelas atas meski itu masih berada di kelas menengah.


"Sudah selesai?" tanya Xuan Yin yang kebetulan melintas di depan pintu gudang.


"Baru saja selesai. Lihat ini," ucap Zhang Yu sembari menunjukkan pedang yang baru selesai dibuatnya.


"Aku dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari pedang ini, apa ada komponen tambahan untuk membuatnya?"


"Itu adalah batu besi hitam."


Xuan Yin tidak tahu tentang batu besi hitam. Namun sepertinya itu barang yang sangat bagus jika melihat pedang kelas menengah yang dihasilkannya.


"Jiejie!"


Song Yixue datang entah dari mana. Ketika dia lebih mendekat, dia terkejut karena juga ada Zhang Yu di balik pilar.


Namun dia hanya menyapa, kemudian beralih lagi pada Xuan Yin. "Jiejie, kau tidak lupa dengan yang kita bicarakan kemarin kan?" tanyanya.


"Tidak. Tentu saja aku tidak melupakannya."


Zhang Yu yang tidak tahu topik pembicaraan ini pun menatap kedua wanita ini bergantian. "Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?"


"Yixue masih baru di sini. Jadi aku mengajaknya berkeliling untuk lebih mengenal klan Xiao."


Heem...


Song Yixue menganggukkan kepala dengan cepat mendengar ucapan Xuan Yin.


Entah sejak kapan mereka begitu akrab. Apakah wanita selalu mudah bergaul? Seharusnya tidak seperti ini kan?


"Yixue, jaga kakak iparmu dengan baik. Jangan biarkan dia terlalu lelah. Ingat itu."

__ADS_1


Song Yixue mengerutkan keningnya tanpa bisa berkata-kata. Sungguh baru pertama kali melihat Zhang Yu bersikap seperti ini. Seolah di depannya ini bukanlah Zhang Yu yang ia kenal.


"Sekarang aku benar-benar melihatnya sendiri, Yu Gege yang dingin saat ini sangat cerewet." Tentu saja Song Yixue tidak mengatakannya secara langsung. Dia hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Sekarang apa? Kau akan berhenti setelah berhasil satu kali? Ini tidak seperti dirimu yang aku kenal," kata Long Shen.


Zhang Yu tertawa. "Masalahnya saat ini Yin'er sedang hamil. Aku tidak mungkin menaruh semua fokusku hanya untuk berlatih menempa. Aku tidak ingin menyesal dan ingin lebih fokus menemaninya."


Long Shen tersenyum mengejek setelah mendengar ucapan Zhang Yu. "Aku tak yakin kau akan benar-benar bertahan."


Namun kenyataannya, dalam empat puluh hari Zhang Yu benar-benar menaruh seluruh perhatiannya pada Xuan Yin yang akan melahirkan. Dia menjadi calon ayah yang berguna, bahkan saat masa-masa terakhir sebelum Xuan Yin di bawa masuk ke dalam ruang persalinan, Zhang Yu masih menyiapkan minum untuknya. Sayang sekali, selama proses persalinan selain tabib siapapun tidak boleh memasuki ruangan yang membuat Zhang Yu harus menunggu seperti orang-orang yang berkumpul di kediamannya.


"Mereka akan baik-baik saja. Kau jangan terlalu cemas." Meski berkata begitu, Xiao Mei adalah orang yang terlihat paling cemas. Bahkan kakinya gemetar dan tak bisa berdiri karena menunggu hasil persalinan.


Entah berapa waktu yang mereka habiskan di sana. Satu jam, dua jam, bahkan sekarang sudah tiga jam. Tapi hampir tidak ada suara dari dalam yang membuat semua orang yang sedang menunggu benar-benar khawatir.


Pada satu waktu, ketika suasana sangat hening, tiba-tiba suara tangis bayi menggema dari dalam ruangan.


Zhang Yu spontan berdiri dari tempat duduknya. Begitu tabib keluar dengan menggendong bayi laki-laki, air mata kebahagiaan keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.


"Keduanya baik. Jika ingin menjenguk bisa masuk saja ke dalam. Tapi jangan terlalu banyak karena itu akan mengganggu sirkulasi udara."


"Kami akan membersihkan si bayi. Kami akan kembali segera," tambahnya.


"Tabib, aku akan ikut dengan kalian. Aku ingin melihat cucuku," kata Xiao Mei laku melangkah cepat mengikuti tiga tabib.


"Zhang Yu, kau masuklah temui istrimu. Dalam situasi ini kau harus berada di sampingnya," kata Xiao Nie.


Zhang Yu pun segera masuk untuk melihat keadaan Xuan Yin. Di sana terlihat Xuan Yin yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Dia terlihat sangat lelah meski raut kebahagiaan terpoles jelas di wajahnya. Ini adalah perjuangan seorang ibu. Wanita tangguh yang rela mempertaruhkan nyawa demi anaknya.


Zhang Yu berkata dalam hatinya, "Jika ada pria yang mengkhianati istrinya dia sungguh adalah pria yang sangat buruk."

__ADS_1


Sepertinya kehadiran Zhang Yu membuat Xuan Yin terbangun. Dia membuka mata, lalu mencari keberadaan anaknya. "Di mana anak kita?"


Zhang Yu memeluknya. "Dia baik-baik saja. Sekarang tabib sedang memandikannya, sebentar lagi ibu akan membawanya kembali."


Tiga detik Xuan Yin terhenyak sebelum menghela nafas lega. "Syukurlah jika begitu. Aku benar-benar takut saat tabib mengatakan posisi anak kita tidak begitu baik. Aku benar-benar takut kehilangannya."


Melihat istrinya menangis, Zhang Yu segera mengeratkan pelukannya sambil terus memberitahunya jika semua baik-baik saja dan akan baik-baik saja.


Hal itu benar-benar berhasil dan Xuan Yin menjadi lebih tenang. Ketika Xiao Mei datang dengan bayinya, Xuan Yin tak sabar untuk menggendongnya.


"Yin'er, apa nama yang kau pilih untuk putramu?" tanya Xiao Mei.


Xuan Yin segera menoleh kepada Zhang Yu untuk membantunya menjawab.


"Zhang Chao," ucap Zhang Yu.


"Apa?" Xiao Nie yang baru masuk langsung berhenti di ambang pintu mendengar nama yang diberikan kepada cicitnya.


"Kau memberikan marga Zhang untuk putramu?" tanyanya.


"Maaf kakek. Tapi setiap anak bukankah hal wajar jika mengikuti marga ayahnya? Karena marga ku adalah Zhang, sudah sepantasnya aku memberinya marga Zhang di depan namanya."


Xiao Nie tertegun beberapa saat, kemudian berdehem dengan suara yang nyaring.


"Karena kau sudah memutuskan kakek hanya bisa mengikuti keinginanmu. Lagi pula, bukankah itu hanya marga? Dia tetap akan menjadi bagian Klan Xiao."


Xiao Mei dan Zhang Long datang dengan membawa Zhang Chao kecil.


"Ibu, biarkan aku menggendongnya," ucap Xuan Yin dengan antusias.


Walau sebenarnya Xiao Mei masih ingin menggendong lebih lama, tapi dia sadar nenantunya ini belum melihat anak yang dilahirkannya. Jadi menguatkannya untuk saat ini. Nanti, dia akan memiliki kesempatan untuk menggendongnya lebih lama.

__ADS_1


Xiao Mei menghampiri Zhang Yu, lalu menepuk pundaknya pelan. "Kau sudah mengambil keputusan yang benar," ucapnya tentang marga Zhang untuk cucunya.


Zhang Yu tersenyum, "Kakek sudah bilang jika itu hanya marga. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."


__ADS_2