Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 147 : Darah Klan Xiao


__ADS_3

"Yan Xou!"


Beberapa orang dari Klan Yan berdiri melihat Yan Xou pingsan. Namun mereka tidak bisa turun ke arena begitu saja. Selain ada pembatas, juga karena terdapat peraturan yang melarang selain peserta dan pengadil tidak diperbolehkan maju ke arena.


"Jendral Ji Han! Peserta Zhang Yu terlalu berlebihan. Dia berniat membunuh putraku, dia harus didiskualifikasi!" seru Yan Wang dari tempat duduknya. Tangannya sudah terkepal, wajahnya memerah menahan amarah.


Putranya dipermalukan seperti ini. Juga terluka begitu parah, dia tidak akan membiarkan Zhang Yu lolos dengan mudah. Terlebih mendengar cerita tentangnya saat memasuki alam Zhen Yang dan membunuh banyak anggota klan.


Beberapa orang merasa yang dikatakan Yan Wang ini masuk akal. Pertarungan surga dilarang keras membunuh, jika ada yang berniat membunuh maka harus didiskualifikasi.


Namun Zhang Yu cukup tenang dalam tekanan ini. Dia berkata, "Jika ada yang berlebihan bukankah seharusnya itu putramu? Dia menggunakan ramuan khusus yang jelas dilarang. Dia melanggar peraturan."


Mendadak arena menjadi hening.


"Ramuan khusus? Yan Xou menggunakan ramuan khusus? Pantas saja dia tiba-tiba menjadi sangat agresif."


"Menggunakan ramuan khusus yang dapat meningkatkan kultivasi itu dilarang. Yan Xou benar-benar menyalahi aturan! Dia kalah karena ulahnya sendiri."


Penonton yang semula memojokkan Zhang Yu sekarang beralih mencela Yan Xou. Yan Wang menghentakkan kakinya kemudian berseru dengan marah. "Omong kosong! Bagaimana mungkin Yan Xou menggunakan ramuan khusus. Kau hanya mengada-ngada!"


"Patriark Yan, putramu memang menggunakan ramuan peningkatan kekuatan. Aku sudah menyimpan botol yang sebelumnya jatuh dari tubuhnya." Konfirmasi Jendral Ji Han langsung menampar wajah Yan Wang. Pria tua itu terduduk dan tidak bisa berkata-kata.


Sementara itu, Jendral Ji Han memberi tanda pada beberapa orang di sekitar arena untuk menurunkan Yan Xou, kemudian menyatakan Zhang Yu adalah peserta kelima yang lolos babak ketiga.


"Kau dapat kembali," ucap Jendral Ji Han.

__ADS_1


Zhang Yu mengedarkan matanya mencari kalung yang jatuh, mendapatinya di tengah-tengah arena. Dia langsung mengambilnya lalu mengenakannya.


Namun saat berjalan menuju tempat duduk seorang pria tua tiba-tiba muncul di hadapannya sambil memegang liontin kalung yang menggantung di lehernya.


"Ini adalah kalung Klan Xiao. Dari mana kau mendapatkannya?"


Zhang Yu terkejut dengan kedatangan Xiao Nie. Dia sangat cepat dan tiba-tiba sudah berada di depannya.


"Ayah, mungkin hanya modelnya yang sama. Tidak mungkin dia punya kalung dari kita kan?" Xiao Lang menyusul turun karena penasaran. Dia berusaha menenangkan Xiao Nie yang terlihat tidak sabaran.


Xiao Nie enggan melepaskan liontin hati tersebut. "Memang bukan mustahil untuk membuat tiruan kalung yang sama. Tapi aku dapat memastikan kalung ini milik Klan Xiao," kata Xiao Nie yakin.


Xiao Lang menyatukan kedua alisnya dengan tidak percaya. Dia masih ragu kalung milik Zhang Yu adalah kalung asli Klan Xiao. Pasalnya, kalung identitas hanya dimiliki keturunan utama. Zhang Yu yang orang luar tidak mungkin memilikinya. Kecuali ....


Tidak!


Karena Zhang Yu tidak menjawab pertanyaannya, Xiao Nie membuka liontin hati itu dan melihat nama Xiao Mei yang terukir dengan tinta khusus.


Tubuh Xiao Nie langsung menegang. Ekspresi yang terkejut juga ditunjukkan oleh Xiao Lang.


"Apa mungkin kau anak Xiao Mei?" tanya Xiao Nie dengan suara gemetar.


Zhang Yu tidak menjawabnya dan hanya menunjukkan sikap acuh tak acuh. Dia mundur satu langkah sambil menarik kalungnya kemudian berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Apa Xiao Mei sungguh ibumu?" tanya Xiao Nie untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Zhang Yu akan duduk. Dia mengangkat wajahnya menatap Xiao Nie tanpa rasa takut ataupun segan. "Benar atau tidak, apa itu begitu penting?"


"Bocah tidak tahu diri! Apa seperti itu kau bicara pada orang yang lebih tua?!" bentak Xiao Lang sambil mengangkat telunjuknya.


Zhang Yu tersenyum sinis, lalu membuang muka. "Lantas, bagaimana aku harus bicara? Apa aku harus sopan pada orang yang mengurung ibuku? Memisahkan anak dari ibunya, memisahkan pasangan suami istri? Apa orang seperti itu masih layak untuk mendapat hormat?"


Tanpa sadar mata Zhang Yu berkaca-kaca. Air mata menetes hingga membuatnya tak lagi dapat berkata-kata.


Selama ini dia berpikir ibunya telah tiada. Ketika anak-anak lain dengan bangga menyebut ibu mereka, dia hanya punya ayah dan juga bibinya.


Bukannya dia tidak bangga, dia sangat bangga dan senang punya mereka di sampingnya. Namun bagaimana mereka dapat menggantikan sosok ibunya?


Xiao Nie tercengang. Terlihat dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Jendral Ji Han di atas arena meminta dirinya kembali. "Senior Xiao, mohon kembali ke tempat masing-masing karena pertarungan masih akan berlangsung."


Xiao Nie kembali menatap Zhang Yu dengan lekat. Pantas dirinya merasa tidak asing ketika melihat wajahnya, dia adalah cucunya, putra dari putrinya. Namun ada kesalahpahaman yang terjadi.


"Tunggu pertarungan ini selesai, mari kita bicara." Kemudian Xiao Nie dan Xiao Lang kembali ke tempat Klan Xiao. Meninggalkan Zhang Yu di tempat duduk peserta dengan ribuan pasang mata menatap ke arahnya.


"Ada apa ini sebenarnya? Apa mungkin Zhang Yu sebenarnya adalah keturunan Klan Xiao?"


"Benar-benar tidak terduga. Zhang Yu ternyata keturunan Klan Xiao. Dia cucu patriark terdahulu dan keponakan patriark Klan Xiao saat ini."


Tidak mungkin bagi orang-orang untuk tidak penasaran jika semua dapat mendengar percakapan mereka. Mulai dari kalung identitas, sampai rahasia anak-ibu yang terpisah.


Namun di antara banyak orang yang terkejut juga ada beberapa orang yang tidak senang dengan hal ini. Sebut saja Xiao Yuze dan juga orang-orang Klan Yan yang semula ingin membuat perhitungan dengan Zhang Yu.

__ADS_1


Mengusik Zhang Yu memang bukan hal sulit, tapi berurusan dengan Klan Xiao adalah hal yang berbahaya. Yan Wang tidak berani mempertaruhkan masa depan klan, lebih baik menghilangkan dendam ini dan bersikap seperti tidak ada yang terjadi.


__ADS_2