
Menjelang siang Zhang Yu meninggalkan akademi untuk menuju istana. Membawa kotak berisi stempel kekaisaran dan sebuah plakat emas.
Menurut informasi yang tertera dalam gulungan yang diberikan guru kemarin, Kekaisaran Xuan yang terlihat tenang sebenarnya sedang menghadapi konflik dengan kekaisaran tetangga, Kekaisaran Yang.
Karena konflik inilah membuat Kaisar Xuan Zou menyembunyikan stempel kekaisaran dan plakat emas di Akademi Kekaisaran.
Setidaknya sudah dua setengah tahun kedua benda ini berada di akademi. Sekarang harus mengembalikannya setelah datang surat langsung dari kaisar.
"Sepertinya ini akan berjalan dengan lancar," gumam Zhang Yu. Dia sudah melakukan perjalanan melewati dua desa dan sampai saat ini tidak menemukan satu pun halangan yang membuat perjalanan terganggu.
"Jika terus seperti ini aku akan sampai di istana besok malam." Zhang Yu tersenyum senang. Ia membayangkan imbalan misi yang didapat tanpa usaha yang berlebihan. Ini sungguh suatu yang layak.
Beberapa lama perjalanan, Zhang Yu sampai di sebuah kawasan berpasir yang luas. Tangannya merogoh peta lalu menemukan satu keterangan tentang nama tempat dirinya saat ini.
"Padang Pasir Xin."
Zhang Yu mendengar banyak hal tentang Padang Pasir Xin saat ada di Akademi Kekaisaran. Entah itu tentang wilayahnya yang luas atau juga cerita negatif sebagai sarang kelompok bandit dan penyamun yang tak jarang meresahkan orang-orang.
Zhang Yu tidak lagi menahan langkahnya, bergerak cepat membelah hamparan pasir kuning yang panas. Tidak peduli hari akan siang, dalam pikirannya ia hanya ingin segera mengakhiri misi dan mendapat imbalan.
Namun, sepertinya perjalanan tidak semulus pada awalnya. Tidak lama setelah memasuki kawasan Padang Pasir Xin, Zhang Yu merasakan sekelompok orang tengah mengawasi pergerakannya. Ini membuatnya tidak nyaman dan memutuskan untuk mengayunkan kaki lebih cepat.
Siapa yang mengira setelah tertinggal mereka malah menampakkan diri.
Belasan orang berpakaian putih mengenakan penutup wajah yang senada mengejar dengan pedang menunjuk ke atas.
Zhang Yu berdecak pelan, mengutuk mereka para bandit kurang kerjaan. "Padang Pasir Xin memang tidak berbohong. Baru juga masuk dan ada sekelompok bandit yang memburu ku." Entah ini karena nasibnya yang tidak baik atau memang hari yang sial baginya.
Zhang Yu melesat dan meninggalkan jauh bandit di belakang. Tapi siapa yang mengira jika akan muncul kelompok bandit lain yang sudah menunggu di depan.
"Kemana kau akan pergi?" Mereka tertawa renyah. Pedang ada di tangan mereka dan siap untuk menghadapinya.
Zhang Yu spontan berhenti dan kelompok bandit yang ada di belakang menyusul. "Hahaha... Kau tak bisa lari."
"Serahkan cincin penyimpananmu dan kami akan membiarkanmu pergi dari sini dengan selamat," ucap salah seorang bandit yang ada di depan.
Zhang Yu melirik cincin ruang di jariinya. Ini bukan hanya tentang kekayaannya, tapi juga stempel Kekaisaran Xuan serta plakat emas yang tak boleh jatuh ke tangan orang lain.
Sampai itu lepas dari tangannya, entah dampak seperti apa yang akan diterimanya baik Akademi Kekaisaran ataupun Kekaisaran Xuan. Ini menyangkut nyawa dan keselamatannya.
"Kau cukup keras kepala. Jangan salahkan kami jika bertindak keras." Satu dari mereka memberi aba-aba untuk menyerang. Tidak butuh waktu lama bagi dua puluhan bandit mengepung Zhang Yu.
Tentu saja Zhang Yu tidak tinggal diam. Dia mengeluarkan teknik pedangnya. Energi kekuatan menyebar dari pedangnya membabat bandit tanpa peduli bagaimana nasib mereka.
Sontak aksi Zhang Yu membuat dua puluhan bandit waspada, mereka yang telah menerima serangan Zhang Yu tidak berani mengulangi kesalahan serupa.
Zhang Yu melihat kelompok bandit ini waspada terhadapnya. Dia menyimpulkan kekuatan bandit tidak ada yang mencapai tingkat master, paling tinggi pasti ahli bintang sembilan. Zhang Yu semakin percaya diri, berbeda dengan bandit yang merasa tertipu.
Dua puluhan bandit tampak saling melirik, melempar kontak kata dan melesat setelah melihat aba-aba.
Zhang Yu menarik sedikit sudut bibirnya dan tersenyum mengembang. Tidak lama dia menerjang ke depan menciptakan satu bayangan tinju berwarna emas.
__ADS_1
"Tinju Batu!"
Dua puluh bandit dengan cepat melompat ke samping, tunggang langgang menghindari serangan. Meski mereka berhasil lepas dari serangan Zhang Yu, jangan berpikir itu sudah berakhir. Zhang Yu menatap lima orang bandit yang sedikit berpencar, memburu mereka layaknya seekor serigala.
Wush...
Slash!
Tanpa bisa menghindar lima tubuh jatuh tak bernyawa. Belasan bandit yang berdiri tak jauh dari kelima temannya memandang dengan mata redup. Keberanian dan juga keganasan yang sebelumnya ditunjukkan benar-benar hilang seolah tak pernah ada.
"Kita salah mencari mangsa," kata satu dari belasan bandit.
Yang lain pun setuju, mereka menengok ke belakang dan langsung melarikan diri tidak menghiraukan keberadaan teman yang telah tiada.
Zhang Yu mematung di tempat. Dia menatap belasan bandit yang telah berlari sangat jauh. Mereka benar-benar terbiasa dengan medan berpasir. Langkah kaki seolah tidak terpengaruh sama sekali.
"Kalian beruntung karena aku tidak memiliki waktu untuk mengurusi kalian. Jika tidak, aku sudah mengejar kalian." Zhang Yu melirik lima mayat bandit, melihat ada beberapa cincin penyimpanan, sangat sia-sia jika dibiarkan begitu saja.
Anggap saja cincin penyimpanan itu adalah biaya kompensasi atas waktu yang telah terbuang, pikirnya.
Setelah menyimpan tiga cincin penyimpanan, Zhang Yu melanjutkan perjalanan untuk menyeberangi dataran tandus bernama Padang Pasir Xin. Karena hadangan sebelumnya, membuat Zhang Yu harus bertahan lebih lama di atas panasnya pasir kuning.
Sore menjelang malam.
Melakukan perjalanan tanpa berhenti Zhang Yu menyadari hari akan gelap. Dia tidak berhenti, malah semakin mempercepat langkah. Terlebih setelah melihat ada gapura di depan.
Meski tidak dapat melihat tulisan apa yang ada di gapura tersebut, Zhang Yu yakin itu adalah pintu masuk menuju Desa Ne. Itu tandanya dia telah melakukan separuh perjalanan. Tunggu setelah melewati Desa Ne dan ia akan sampai di istana.
Tiba-tiba Zhang Yu mendengar suara yang datang dari arah samping. Sontak Zhang Yu berhenti, ia merasakan aura kekuatan yang sedang mendekat ke arahnya. "Apa ada kelompok bandit lagi," gumamnya pelan.
Bersama dengan itu sekelompok orang menampakkan diri. Berjumlah tak kurang dari empat belas orang dengan pakaian serba hitam.
Empat belas orang mendekat dan berdiri di depan Zhang Yu. Mereka menelisik dan terus menelisik. "Kau pasti murid Akademi Kekaisaran kan?" kata mereka.
Zhang Yu termenung. Padahal dalam misi ini dia sengaja tidak memakai seragam akademi untuk menyamarkan identitasnya, tapi masih ada orang yang mengenalinya.
Sial! Apa mereka musuh?
Zhang Yu benar-benar tidak mengerti. Dia spontan mengeluarkan pedang melihat kelompok orang berpakaian hitam bersiap menyerang.
"Tangkap dia!" Masih tidak belas apa alasan mereka. Tapi empat belas orang ini tidak bercanda menyerang ingin mencelakainya.
Tentu saja Zhang Yu menghadapi mereka dengan teknik bertarungnya. Menggunakan teknik pedang pembunuh, tinju baru dan telapak tangan api untuk memaksa mereka menjaga jarak darinya.
Tapi empat belas orang ini tidak bisa dibandingkan dengan kelompok bandit sebelumnya. Seluruhnya berada di tingkat master dan ada yang auranya setara dengannya.
Zhang Yu tak bisa bertahan lama, perlahan tapi pasti keadaan mendesaknya untuk mengambil jarak yang lebar.
"Sebaiknya kau serahkan saja stempel Kekaisaran Xuan dan plakat emas itu kepada kami. Kami tidak akan melukaimu jika kau bersikap patuh."
Mata Zhang Yu terbuka sempurna mendengar kalimat ini. Seketika itu dia sadar jika kelompok di depannya bukanlah kelompok bandit seperti yang ia pikirkan. Mereka adalah kelompok yang mengincar stempel dan bahaya yang dimaksud oleh guru.
__ADS_1
Tapi bagaimana bisa mereka tahu jika stempel ada di tangannya?
Pertanyaan itu sedikit mengganggu pikiran Zhang Yu.
"Kau dengar apa yang kami katakan? Cepat serahkan kepada kami."
Zhang Yu memasang raut wajah bingung, lalu berjalan sembari mengangkat kedua tangannya. "Aku sungguh tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Stempel apa? Stempel apa? Aku tidak tahu stempel yang kalian maksud."
Empat belas pria berpakaian hitam saling memandang. "Cih! Kau pikir kami akan tertipu dengan ucapanmu? Kau tidak mendengar ucapan kami, kau pikir dapat pergi dengan membodohi kami?!" Setelah itu mereka semua melesat dan berusaha menangkap Zhang Yu.
Zhang Yu merapatkan gigi dan berusaha untuk tersenyum. "Sulit untuk membodohi mereka. Tidak ada pilihan lain kecuali bertarung."
Zhang Yu melirik ke belakang sekilas lalu melesat menghadapi empat belas lawan di depannya. Kobaran api menyambar dari ujung pedangnya, tapi empat belas pria berpakaian hitam menerobos tanpa ragu.
Blam!
Satu ledakan keras terdengar diiringi dengan uap asap yang pekat. Empat belas pria berpakaian hitam segera mengusir uap asap dengan pedang di tangan mereka.
Namun, anehnya mereka tidak melihat keberadaan Zhang Yu di posisinya. Mereka saling pandang dan mulai mengernyitkan kening.
"Di mana dia?" tanya mereka kompak.
"Apa kalian mencari ku?!" Zhang Yu muncul dari belakang dengan pedang mengandung Qi yang besar. Dia mengincar dua orang yang berada paling dekat dengannya dan membunuh mereka selagi belum sadar.
Crash!
Dengan itu dua orang jatuh tak bernyawa. Dua belas lainnya terkejut dengan apa yang dilakukan Zhang Yu. Mata memandang dua teman yang telah berpulang, kemudian mengalihkan mata yang tajam itu kepada sosok pemuda yang berdiri tanpa rasa bersalah.
"Sialan! Kami akan membunuhmu!"
Zhang Yu merasakan tekanan dari dua belas pria di depannya. Terlebih dua pria yang berdiri paling kanan. Mereka berdua tidak lebih lemah darinya. Sama-sama telah mengumpulkan lima lingkaran Qi.
"Kalian pikir aku peduli?"
Dua belas pria berpakaian hitam menggeram marah dan melesat menyerang Zhang Yu. Pertarungan dua belas melawan satu terjadi di Padang Pasir Xin. Di saat matahari telah tenggelam dan langit perlahan mulai gelap, tidak satu pun dari mereka yang berniat mengakhiri pertarungan.
Zhang Yu dengan pedangnya masih dapat bertahan meski lawan ada dua belas orang. Tapi pada saat ini ekspresi wajahnya menjadi lebih buruk ketika menyadari ada sekelompok orang yang mendekat ke tempat pertarungan. Matanya menatap dua belas pria, mulutnya bergumam. "Apa mereka memiliki bantuan?"
"Jika begitu aku harus pergi segera dari sini. Jangan sampai stempel Kekaisaran Xuan jatuh ke tangan mereka." Zhang Yu memutar pedangnya. Qi bergejolak, hal ini ditanggapi oleh dua belas pria berpakaian hitam dengan segera mempersiapkan serangan.
"Kau benar-benar tidak tahu batas diri sendiri."
Zhang Yu tidak mempedulikan ucapan dari dua belas lawannya, satu bayangan cakar dengan kuku berwarna merah tercipta lalu dengan cepat melesat mengikuti perintahnya.
Dua belas pria berpakaian hitam mendengus bersamaan, mereka mengeluarkan serangan dan menghadapi siluet pedang yang dikeluarkan Zhang Yu.
Boom!!
Ledakan kuat kembali membuat hamparan pasir terangkat, sementara angin yang berputar kencang menyebabkan simulasi badai.
Dua belas pria berpakaian hitam tersenyum puas melihat serangan mereka berhasil menghancurkan serangan Zhang Yu. Akan tetapi ekspresi senang tidak bertahan lama ketika pandangan kembali normal dan menyadari tidak ada orang lain kecuali mereka sendiri.
__ADS_1
Mata terbuka sempurna. "Sialan! Di mana dia?!"