
Sebagian besar kediaman keluarga He hancur rata dengan tanah. Di antara banyak orang yang meninggal, terdapat satu orang beruntung yang akhirnya selamat dari kematian.
Siapa lagi jika bukan Du Xiong.
Sekarang, kasim kepercayaan keluarga He itu sedang dalam perjalanan menuju ke arah timur demi mencapai titik akhir dari jalur rahasia yang terhubung dari kediaman keluarga He. Meski kondisi tubuhnya masih terluka, tapi tak membuatnya berhenti ketika mengingat pesan tuannya untuk menjadi istri serta putrinya.
"Kasim Du, di depan adalah jurang. Apa kau yakin tidak salah mengambil jalan?" tanya Tang Yue. Karena dia orang asli Kota Heishan jadi mengetahui tempat-tempat yang ada di sini. Dan dia yakin sekali jika di depan mereka adalah jurang yang membentang belasan kilometer memisahkan Kota Heishan dengan Kota Qian Gu.
Du Xiong mengangkat wajahnya sekilas lalu tersenyum pada Tang Yue. "Tenang saja. Ini jalan yang benar. Pintu keluar dari jalur rahasia itu berada di tepi jurang.
Benar saja. Ketika sampai di tepi jurang mereka melihat sebuah terowongan yang agak menjorok ke bawah. Seharusnya ada penutupnya sebagai penyamaran agar tak diketahui orang, tapi terlihat sekarang dalam keadaan terbuka. Itu berarti ada orang yang baru saja keluar.
"Mereka pasti bersembunyi di sekitar sini," kata Du Xiong kemudian mencari ke beberapa tempat.
Sayangnya dia kesulitan karena wilayah ini cukup luas dan di penuhi banyak pohon.
Sampai satu ketika mereka menemukan jejak genangan darah di tanah yang sontak membuat tangan Du Xiong bergetar.
"Tidak ... Ini tidak mungkin!" Darah yang cukup banyak ini seperti jejak pertarungan. Du Xiang sungguh tak bisa membayangkan jika benar telah terjadi pertarungan. Dengan tingkat kultivasi nyonya serta nona mudanya, mereka berdua tidak akan bisa berbuat banyak ketika musuh menyerang.
"Paman Gendut, kau harus melihat ini!" Zhang Yu menunjuk tetesan darah serta dua jejak kaki yang mengarah ke tempat lain.
Du Xiong yang sudah terlanjur sedih segera menahan kesedihannya laku melihat jejak kaki itu dengan hati-hati.
"Sebaiknya kita pergi mengikuti jejak kaki ini. Siapa tahu ini adalah jejak kaki He Jiao dan ibunya," kata Tang Yue.
Du Xiang mengangguk setuju. Tanpa membuang banyak waktu dia melangkah menyusuri jejak kaki dan tetesan darah tersebut.
Namun alih-alih menemukan dua orang yang mereka cari, malah gerombolan serigala tingkat empat yang sedang berkerumun entah melakukan apa.
Mereka belum menyadari ada dua orang yang bersimpuh di tengah-tengah kerumunan serigala. Tapi begitu menyadarinya seketika mereka tercengang.
"Itu He Jiao ...."
Zhang Yu mencegah Tang Yue yang ingin maju menghadapi serigala serigala itu. Dia mengangkat tangannya, lalu dengan gerakan yang sangat mudah menghempaskan mereka tanpa menyentuh He Jiao dan ibunya yang ada di tengah kerumunan serigala.
Blam!
__ADS_1
Setidaknya ada sembilan serigala tingkat keempat dan mereka semua mati hanya dengan satu kali Zhang Yu mengangkat tangannya.
Tak ayal pemandangan ini membuat tiga orang di sebelahnya terkejut. Mereka yakin itu adalah sembilan serigala tingkat empat yang setara dengan tingkat grand master. Tapi Zhang Yu benar-benar menghempaskan mereka dengan sangat mudah.
Bahkan Du Xiong pun tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Tapi dia tak punya waktu untuk memikirkan hal ini dan segera berlari ke arah He Jiao.
"Nona Muda!" Du Xiong membantu He Jiao duduk tegak. Dia juga membantu Han Rui, nyonya nya dalam posisi serupa.
Zhang Yu membantu memulihkan mereka dengan Qi miliknya. Meski tidak akan mengobati luka mereka secara menyeluruh, setidaknya mereka akan sadar lebih cepat.
Dan benar saja. Begitu Zhang Yu membantu mereka berdua, He Jiao yang memiliki situasi lebih baik sadar terlebih dahulu.
"Tang Yue, Kasim Du, ...." He Jiao berkedip beberapa kali saat melihat dua sosok yang dikenalnya berada tepat di hadapannya.
"Nona Muda, akhirnya kau sadar."
Mendengar ucapan Du Xiong, He Jiao seperti mengingat kembali kondisi dan situasinya. Dia melirik ke samping menemukan ibunya yang masih pingsan lalu melirik ke belakang dan menemukan Zhang Yu.
He Jiao sempat ragu pria yang ada di belakangnya adalah Zhang Yu. Tapi melihat seekor monyet yang ada di pundaknya membuatnya yakin meski penampilan monyet ini sedikit berbeda.
"Zhang Yu, terima kasih ...."
Sontak kalimat Zhang Yu membuat He Jiao kembali memejamkan mata.
Du Xiong terus mengamatinya, terlihat tatapannya sedikit rumit ketika menatap Zhang Yu.
"Aku tahu dia genius. Tapi bukankah kekuatannya saat ini terlalu tinggi?" batin Du Xiong yang masih fokus dengan serangan Zhang Yu pada sembilan serigala tingkat empat.
Hanya mengangkat tangan dan sembilan serigala mati. Bukankah itu berlebihan? Sayangnya Du Xiong tidak tahu jika Zhang Yu saat ini berada di tingkat surgawi bintang sembilan. Jangankan sembilan serigala tingkat empat, sembilan serigala tingkat lima dan enam pun akan tumbang di tangannya.
"Kasim Du!"
Du Xiong tersadar mendengar suara yang lemah dari He Jiao. Dia tersentak kaget sebelum berlari mendekat ke arah He Jiao lalu membantunya berdiri.
"Nona Muda, bagaimana keadaanmu?"
He Jiao tak menjawabnya. Dia malah balik bertanya pada Du Xiong. "Bagaimana keadaan ayah?"
__ADS_1
Du Xiong langsung tertunduk ketika mendengar pertanyaan ini. "No-Nona ... Maaf. Tapi Tuan Besar ...."
He Jiao menggigit ujung bibirnya melihat reaksi Du Xiong. Tidak perlu baginya menunggu jawaban dari mulutnya karena semua itu sudah jelas melihat dari matanya.
"He Jiao, kau harus tenang. Masih ada ibumu dan aku di sini. Aku akan selalu bersamamu," kata Tang Yue sambil menenangkan He Jiao.
Namun bagaimana mungkin itu sama. Seorang ayah tidak mungkin tergantikan bagaimana caranya.
Hanya saja He Jiao harus bertahan. Bahkan jika bukan untuk dirinya, tapi untuk ibunya.
"Kasim Du, siapa mereka sebenarnya? Kenapa menyerang kita tiba-tiba? Apa mereka musuh keluarga He?" tanya He Jiao berturut-turut dengan penuh rasa penasaran.
Tetapi Du Xiong malah menggelengkan kepala sebagai jawabannya. "Aku tidak tahu Nona Muda. Yang jelas mereka adalah kelompok yang sangat kuat. Bahkan satu orang dari mereka mampu menghancurkan seluruh kediaman keluarga He."
Nafas He Jiao tertahan ketika mendengar hal ini. Dengan situasi yang sangat buruk ayahnya meminta dirinya pergi melalui terowong rahasia bersama ibunya. Dia mulai membayangkan apa yang terjadi di atas sana saat merasakan tanah bergema. Siapa yang mengira dirinya akan kehilangan banyak hal, termasuk ayah dan saudaranya.
"Lantas apa tujuan mereka?" tanya He Jiao kembali.
Bukan hanya He Jiao. Tapi Zhang Yu, Tang Yue bahkan Duan Jian pun ikut penasaran dengan pertanyaan ini.
Meski sebenarnya Du Xiong tidak berniat mengatakannya, tapi melihat situasi seperti ini dia tidak punya pilihan lain selain mengatakannya.
"Itu karena sesuatu yang ada dalam cincin Nona Muda."
Begitu mendengarnya He Jiao langsung menatap cincin penyimpanannya dengan terkejut.
"Apa? Memangnya apa yang ada dalam cincin ini? Aku tak pernah melihatnya karena ayah menitipkannya padaku." He Jiao ingat sekali saat ayahnya siang tadi tiba-tiba datang ke ruangannya sambil memberikan cincin penyimpanan itu. Tidak lama kemudian serangan datang sehingga ayah meminta dirinya bersembunyi terlebih dahulu bersama ibunya.
"Sebenarnya apa isinya?" gumam He Jiao. Dia pun segera mengeluarkan isinya yang ternyata ada sebuah gulungan.
"Zhang Yu, sepertinya itu adalah teknik pengendali jiwa."
Long Shen yang semula masih mengunci diri setelah menyerap energi gelap dalam gelang naga pun keluar karena merasakan keberadaan sesuatu yang tak asing.
Zhang Yu menahan tangannya yang sedang mengalirkan Qi untuk ibu He Jiao. Dia melirik Long Shen dengan serius. "Apa itu teknik yang dapat mengacaukan pikiran binatang spiritual dan mengendalikan mereka?"
"Benar. Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Long Shen.
__ADS_1
Tapi dibanding menjadi pertanyaan Long Shen, Zhang Yu lebih fokus dengan pertanyaan siapa kelompok yang mencoba mendapatkan teknik pengendali jiwa dari Keluarga He. Atau jangan-jangan Istana Roh?