Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 196 : Tujuan Istana Roh


__ADS_3

"Zhang Yu, apa tidak masalah seperti ini? Bagaimana jika kelompok mereka yang lain datang?" Tang Yue mengawasi sekitar dengan perasaan cemas. Tak jarang dia melirik ke arah pria berjubah hitam yang terikat di salah satu pohon.


"Tenang saja. Dia tidak akan bisa menggunakan Qi dalam beberapa waktu ke depan," kata Zhang Yu. Pada detik-detik berikutnya dia menyiram wajah pria itu hingga gelagapan lalu terbangun dengan nafas ngos-ngosan.


"Ku-kurang ajar! Beraninya kalian ...."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Zhang Yu menuang lagi sewadah air dan membuatnya terdiam.


Uhuk! Uhuk!


Dia batuk beberapa kali. Wajahnya memerah dan tatapannya menjadi keruh. Tapi dia bahkan tidak bisa melakukan apapun kecuali membiarkan dirinya diperlakukan seperti ini.


"Apa yang kau inginkan?" tanya pria itu.


Zhang Yu sejenak diam laku tertawa lirih. "Kau sangat tahu diri. Tapi sebaiknya kau menjawabnya tanpa menyembunyikan apapun."


"Apa tujuan kalian datang ke Kekaisaran Xuan?"


Pria itu langsung memicingkan mata begitu mendengar pertanyaan Zhang Yu. "Kau sungguh bertanya hal ini padaku? Kau bahkan tidak tahu siapa kami," dengusnya.


"Apa itu begitu sulit? Bukankah kalian dari Istana Roh?"


Wajah pria itu menjadi tegang saya mendengar Zhang Yu menjawab dengan benar. Matanya membulat dan terlihat tidak percaya.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanyanya. Pria itu sangat mengingat jelas dalam rencana mereka tidak akan mengungkapkan identitas secara sembarangan. Tapi pemuda ini mengetahui siapa dirinya. Apa ada seseorang yang membocorkan nya?


"Kalian datang jauh-jauh dari Kekaisaran Long, pastinya tujuan ini tidak sederhana kan?" kata Zhang Yu lagi yang kembali membuat pria itu mengerutkan keningnya.


"Siapa kau sebenarnya? Apa kau berasal dari Kekaisaran Long, atau Kekaisaran Yang?"


Zhang Yu mendengus. "Itu tidak penting. Sekarang katakan, apa tujuan kalian. Apa yang akan kalian lakukan dengan mengincar teknik pengendali jiwa?"


Pria itu tidak mau menjawabnya. Bahkan Zhang Yu berusaha mengancam pun tetap tidak berguna. Dia benar-benar setia dengan kelompoknya.


"Karena kau tidak mau bicara, aku akan melihat isi cincin penyimpananmu." Zhang Yu segera mengambil cincin penyimpanan pria itu.

__ADS_1


Tetapi anehnya cincin itu dalam keadaan terkunci dan dia tidak bisa membukanya.


Hahahaha...


Pria itu tertawa cukup puas melihat wajah terkejut Zhang Yu. Dia berkata, "Bukalah jika kau bisa. Setiap anggota Istana Roh memiliki teknik khusus untuk menyegel cincin penyimpanan. Kau tidak akan bisa membukanya."


Di saat pria itu sangat senang karena berhasil menyegel cincin penyimpanannya, Duan Jian berjalan mendekat dengan percaya diri.


"Tuan Muda, biarkan aku yang membukanya."


Sejenak Zhang Yu hanya menatapnya. Begitu pula dengan pria Istana Roh yang lalu tertawa mengejek Duan Jian.


"Kau pikir semudah itu membuka segel kunci cincin penyimpanan? Bahkan aku sendiri pemilik cincin itu pun tidak bisa melakukannya. Apalagi ...."


"Sudah selesai." Kalimat Duan Jian membungkam pria itu yang terus bicara. Wajahnya menjadi pucat ketika melihat cincinnya sekarang benar-benar dapat diakses.


"A-apa? Bagaimana mungkin kau bisa membukanya?" seru pria itu.


Duan Jian mengedikkan bahu dengan acuh tak acuh. "Membuka teknik kunci seperti itu bukan hal sulit bagi Duan Jian," ucapnya penuh kepercayaan diri.


Perlahan Zhang Yu membacanya. Tidak melewatkan satu pun kata berusaha memahaminya. Ketika dia menemui sesuatu yang janggal, kedua alisnya segera menyatu.


"Ternyata tujuan mereka adalah menggunakan serangan binatang spiritual menyerang Istana. Tapi yang aneh, kenapa Istana Roh mengincar istana?"


Zhang Yu tak bisa menyimpulkan lebih lanjut. Dia membuka gulungan lain dan segera membacanya.


Pada gulungan ketiga, Zhang Yu menemukan satu informasi yang membuatnya terdiam seribu kata.


"Mendapatkan Putri Ketujuh?"


Zhang Yu fokus dengan kata putri ketujuh. Entah ini benar atau tidak yang dimaksud adalah Xuan Yin. Tapi kenapa mereka mengincar Xuan Yin, dan dari mana Istana Roh tahu identitasnya?


Srak!


Srak!

__ADS_1


Gesekan terdengar dari arah barat. Zhang Yu menyimpan gulungan itu sambil memanggil yang lain bersiap pergi.


"Kita tinggal saja dia di sini, ayo pergi!"


Zhang Yu membantu menggendong ibu He Jiao karena lukanya cukup parah setelah diterkam serigala tingkat empat. Mereka bergerak melewati jalur selatan, sengaja memutar jalan untuk mencapai perbatasan Kota Xue He.


Tidak lama setelah mereka pergi, Yan Baufan dan ketujuh orangnya sampai di tempat Zhang Yu sebelumnya.


Ketika menemukan dua anggota Istana Roh yang tergeletak di dekat jurang, Yan Baufan segera memeriksa kondisi mereka. Alangkah murkanya pria itu saat memastikan dua-duanya kehilangan nyawa.


"Kurang ajar! Pasti firasat ku saat itu jika memang ada orang yang mengawasi kita. Karena tidak mungkin dua wanita tingkat master membunuh dua orang tingkat senior."


"Pemimpin, ada mayat lagi."


Kalimat ini seperti petir yang menyambar otak Yan Baufan. Pria itu membelalakkan mata lalu segera berjalan ke arah orang-orang yang berkumpul di balik sebuah pohon beringin.


Nafas Yan Baufan tertahan saat menemukan mayat pria yang terikat di sana. Dia mengepalkan tangan seperti akan meledak.


"Sungguh keterlaluan! Siapa yang berani bersikap seperti ini pada Istana Roh?! Aku tidak akan membiarkannya lolos!" serunya.


Hahahaha...


"Pemimpin Yan, kenapa kau terlihat begitu marah? Apa istri dan putri Tuan Besar He itu lolos dari kejaran mu?" tanya sesosok pria bercaping yang berdiri sambil bersandar di sebuah pohon besar.


Yan Baufan mendengus. "Ini bukan urusanmu. Kau hanya perlu menyediakan informasi yang kami butuhkan. Dan duduk saja menunggu apa yang kau inginkan."


Hahahaha...


Pria bercaping kembali tertawa lalu mencoba menasehati dengan suara lirih. "Terlalu percaya diri itu tidak baik. Meski dalam segi kekuatan kau memang sangat kuat, tapi ini adalah Kekaisaran Xuan, bukan Kekaisaran Long."


Setelah mengatakan itu pria bercaping pergi meninggalkan wilayah tersebut. Yang Baufan mengepalkan tangan, kemudian memukul barang pohon besar di depannya hingga berlubang.


Blar!


Ketujuh orang yang menyaksikan gemetar ketakutan. Lagi-lagi tidak satu orang pun yang berani bersuara dalam situasi ini.

__ADS_1


"Memang apa hebatnya? Jika bukan karena kau masih berguna, kami juga tidak akan mempedulikanmu. Dasar brengsek!" lontar Yang Baufan diliputi amarah.


__ADS_2