Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 191 : Satu Lawan Satu Menghadapi Bibi


__ADS_3

Sontak Zhang Yu dan Xuan Yin membalikkan badan mendengar suara dari arah samping. Ternyata itu adalah Xuan Wu yang baru kembali setelah melakukan pengamatan di wilayah pinggiran kota.


Xuan Wu berlari mendekat, lalu menatap dua orang di depannya bergantian. "Saudara Ketujuh, aku mencarimu kemana-mana sejak kemarin. Benar-benar sulit menemukanmu. Kau dari mana?"


"Kau juga Zhang Yu. Saudara pertama mencarimu beberapa kali kemarin tapi kau tidak ada di kediaman."


Xuan Yin dan Zhang Yu saling berpandangan.


Ehem...


Xuan Yin berdehem. Walau bagaimanapun identitasnya adalah pangeran ketujuh, dia harus menjaga wibawanya.


"Kami harus berbicara. Jika kau tidak ada urusan, silakan pergi dari sini."


Zhang Yu hanya mengangguk-angguk kepala. "Jika begitu aku permisi, Pangeran Kelima, Pangeran Ketujuh."


Zhang Yu sengaja mengedipkan mata saat tatapannya bertatapan dengan Xuan Yin. Tapi Xuan Yin langsung memalingkan wajahnya seolah menghindari tatapannya. Dia membasahi bibirnya karena gugup, dia menarik nafas cukup panjang setelah memastikan Zhang Yu pergi dari hadapan mereka.


"Saudara kelima, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Xuan Yin.


Tetapi Xuan Wu masih memandang ke arah pintu masuk kediaman klan. Senyum di wajahnya benar-benar tak bisa disembunyikan ketika menatap Zhang Yu dan juga Xuan Yin sebelumnya.


"Tidak ada. Seharusnya kau ikut pergi denganku untuk mengamati daerah pinggiran. Tapi sudah selesai. Jadi lupakan saja."


Xuan Yin menatapnya ragu. Tapi dia juga tidak bisa memaksa karena Xuan Wu telah mengatakan tidak ada. "Jadi baiklah. Aku harus kembali, sampai jumpa Saudara Kelima!"


Xuan Wu menatap kepergian Xuan Yin dengan tatapan prihatin.


"Dari banyak wanita yang mengagumimu kenapa kau malah memilih seorang pria. Saudara Ketujuh, ... Ckckck!" Xuan Wu menghela nafas. Dia berpikir apa yang dilihatnya malam itu setelah pergi dari kediaman tetua kedua adalah halusinasi. Tapi pertemuan kali ini seketika mengkonfirmasi kebenaran tentang apa yang dilihatnya malam tersebut. Terlebih Zhang Yu dan saudara ketujuhnya yang menghilang di waktu bersamaan.


"Sekarang bagaimana aku harus memberitahu ayah kaisar dan ibu suri? Bukankah ini akan mencelakai saudara ketujuh?" Xuan Wu menjadi bingung ketika memikirkan hal ini. Masalah ini terlalu penting untuk dirahasiakan dari ayah kaisar. Tapi dia sungguh tidak tega untuk melakukannya. Hanya saja dia sungguh menyayangkan saudaranya memiliki ketertarikan yang menyimpang. Apalagi itu adalah Zhang Yu yang notabene merupakan pria populer.


"Sepertinya dunia ini telah rusak. Mereka berdua memiliki paras tampan dan bakat tinggi, tapi kenapa mereka malah memiliki ketertarikan menyimpang. Apa tidak ada wanita yang dapat menarik perhatian mereka?" keluh Xuan Wu tak berdaya. Pada akhirnya dia harus menyimpan masalah ini sendiri karena tidak ingin mendatangkan rumor tak sedap untuk Xuan Yin ataupun istana kekaisaran.


...


Di sisi lain Zhang Yu baru saja sampai di kediamannya. Melihat sang bibi sudah berlatih di halaman depan dengan sebilah pedang, Zhang Yu tidak bisa untuk tidak menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Padahal aku sudah memperingatkannya untuk menggerakkan kakinya dengan santai. Tapi ...."


"Xiao Yu, kau sudah kembali?" Zhang Bing berhenti dari latihannya lalu berjalan kepada Zhang Yu.


"Cepat keluarkan pedangmu dan ayo kita bertarung," tantangnya.


Untuk beberapa saat Zhang Yu menatap kaki dan tangan bibinya. Masih seperti ini tapi sudah berniat menantangnya.


"Bibi ...."


"Jangan banyak alasan. Ayo kita bertarung." Zhang Bing tak membiarkan Zhang Yu menolak. Dia mengeluarkan pedang lain yang hampir mirip dengan pedangnya lalu melemparnya ke arah Zhang Yu.


"Peraturannya hanya satu. Kau tidak boleh menyerang."


"Apa?" Zhang Yu merasa peraturan ini sedikit berlebihan. Tidak boleh menyerang? Bukankah kali dia hanya akan menjadi samsak bertarung?


Namun Zhang Bing bahkan tidak membiarkan Zhang Yu bersiap. Selesai mengatakan peraturan tersebut dia segera mengalirkan Qi lalu menyerang dengan pedang di tangannya.


Sayangnya sekalipun Zhang Yu hanya bertahan Zhang Bing tetap tak bisa membuatnya beranjak dari tempatnya. Kakinya diam di sana seolah ada perekat yang sangat kuat. Dan tangannya masih menempatkan pedang di depan dadanya bersikap bertahan.


"Keterlaluan! Tidak bisakah kau mengalah pada bibimu?" Zhang Bing langsung membuang pedangnya ke tanah dan tak ingin melanjutkan pertarungan.


Zhang Yu pun pergi meninggalkan bibinya sendiri di sana. Zhang Bing juga tak mencoba menghentikannya.


Satu hari kemudian.


Zhang Yu di ruangannya sedang sibuk menghadap wadah air. Sambil memperhatikan bayangan wajahnya sambil terus mengusap keningnya yang terdapat simbol busur dan anak panah.


Meski sudah mengetahui keberadaan simbol itu tapi biasanya simbol itu hanya akan muncul dalam kondisi tertentu. Atau saat melakukan kontak dengan Xuan Yin. Tapi kali ini simbol tersebut muncul tanpa tanda-tanda akan menghilang. Setidaknya sudah satu hari satu malam sejak Zhang Yu menyadarinya dan mungkin akan terus bertambah atau bahkan selamanya.


"Zhang Yu!" panggil Xiao Mei dari luar ruangan.


Zhang Yu segera menaruh wadah air itu lalu berjalan ke arah pintu. Dia tidak khawatir ibunya akan melihat simbol di keningnya karena itu transparan di mata orang lain. Yang dapat melihat hanyalah dirinya dan juga Xuan Yin.


"Ada apa Ibu?" tanya Zhang Yu begitu pintu terbuka.


Namun alih-alih menjawabnya, Xiao Mei malah menautkan kedua alisnya dengan tatapan heran.

__ADS_1


Tentu saja Zhang Yu yang tidak tahu apa-apa dengan ragu bertanya kembali pada Xiao Mei.


"Ada apa Ibu?"


"..."


Xiao Mei menghela nafas panjang lalu berdecak pelan. "Kau ini keterlaluan sekali. Yin'er kembali ke ibukota tapi kau tidak mengantarnya bahkan juga tidak menyaksikan kepergiannya."


"Apa?" Zhang Yu memiringkan kepalanya seperti orang bingung.


"Dia sudah pergi?" tanyanya.


Untuk beberapa waktu Xiao Mei menatap wajah putranya apakah sikapnya ini sengaja berpura-pura tidak tahu atau memang sungguh tidak tahu.


"Kau sungguh tidak tahu?" tanyanya Xiao Mei.


Zhang Yu menggelengkan kepala. "Tidak. Bahkan aku mengetahuinya dari Ibu."


Untuk sejenak Xiao Mei manggut-manggut. "Mungkin Yin'er lupa untuk memberitahumu. Karena menurut jadwal awal seharusnya mereka akan berangkat kembali nanti malam. Ibu juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin kembali lebih cepat. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu di istana?"


Ketika memikirkan hal ini Xiao Mei tiba-tiba menjadi khawatir. Mengingat kondisi fisik spesial Xuan Yin yang langka, kemungkinan dirinya menjadi incaran sangat lah masuk akal.


"Zhang Yu, apa perlu kau menyusulnya? Kau harus memastikannya baik-baik saja," desak Xiao Mei. Dia bahkan lebih mengkhawatirkan Xuan Yin dari pada putranya sendiri. Ini membuat Zhang Yu sedikit merasa cemburu.


"Tenanglah Ibu. Dia akan baik-baik saja," ucap Zhang Yu menenangkan Xiao Mei, walau sebenarnya dia sendiri juga penasaran kenapa Xuan Yin dan keenam saudaranya kembali lebih awal.


Namun mungkin ini hanya kekhawatiran tanpa dasar yang merasa rasakan. Mereka hanya ingin Xuan Yin tetap di sini sehingga ketika dia pergi perasaan tak nyaman itu muncul mempengaruhi pikiran.


...


Di perbatasan Kota Qian Gu.


"Saudara Pertama, apa isi surat itu sehingga kau meminta kita semua segera kembali ke istana?" tanya Xuan Yin. Dia bahkan lupa memberitahu Zhang Yu karena kakak pertamanya ini mendesak mereka segera bersiap memulai perjalanan pulang.


Bukan hanya Xuan Yin, tapi lima pangeran lain yang tidak mengetahui isi surat itu pun satu persatu bertanya pada Xuan Yang, Pangeran Pertama.


Mau tidak mau Xuan Yang memberitahu keenam adiknya isi surat tersebut.

__ADS_1


"Surat ini dikirim oleh orang ku yang ada di ibukota. Dia memberitahu jika baru-baru ini banyak terlihat orang-orang bertingkat kultivasi tinggi berkeliaran di pusat kota. Aku khawatir ada kelompok yang berniat jahat. Jadi kita harus kembali ke istana dan memberitahu Ayah Kaisar."


Xuan Yin dan kelima pangeran lainnya saling pandang. Mereka tak meragukan kemampuan dalam mengumpulkan informasi dari orang-orang pangeran pertama. Di antara mereka, Xuan Yang lah yang memiliki kemampuan itu.


__ADS_2