
"Tetua Pertama, sekarang kau hanya bisa patuh dan terima hukuman." Zhang Lei menyimpan pedangnya yang ada sedikit noda darah di ujungnya.
Tepat di depan dalam jarak tiga langkah, Zhang Xu berlutut sambil memegang lengan kirinya yang terluka. Selain luka di lengan, ada juga beberapa luka di bagian perut dan pinggang. Keadaannya sangat memprihatinkan. Namun itu bukan hal mengejutkan karena dia terlalu memaksakan diri dengan menghadapi banyak lawan sekaligus.
"Tetua Kedua, angkat dia pulang." Zhang Lei menunjuk Zhang Long, lalu beralih pada belasan orang lainnya. "Kalian bantu Tetua Kedua."
Mereka pun mengangkat tubuh Zhang Xu dan membawanya ke ruang penjara bawah tanah yang ada di kediaman patriarki.
Mereka menjebloskan mantan tetua pertama itu dalam penjara besi setelah mengunci titik meridian nya agar tidak bisa mengarahkan kekuatan.
Pintu penjara digembok, lalu orang-orang itu keluar menyisakan Zhang Lei dan Zhang Long yang masih berdiri di depan jeruji besi.
"Apa yang kalian inginkan?! Tidak cukup melihatnya? Pergi dari sini!" Zhang Xu berkata dengan marah. Mengusir kasar sambil melempar beberapa batu kecil seukuran biji salak.
Zhang Lei menghela nafas. "Tetua Pertama, kau sangat mengecewakan. Sebagai senior kau harusnya mengetik contoh yang baik untuk klan. Tapi kau telah dibutakan keserakahan. Kau harus merenungkannya di sini untuk waktu yang lama."
Zhang Xu kembali melempar batu. Wajahnya arogan seperti tidak takut apapun. Dia bicara penuh keyakinan jika dirinya tidak akan mengeluh tentang hukuman. Tapi baru saja selesai mulutnya berpidato, ekspresinya langsung berubah melihat siapa yang datang.
Wajahnya memerah, matanya menjadi keruh. "Zhang Yu! Apa yang kau lakukan pada Zhang Feng?!"
Zhang Yu sampai di samping ayahnya. Meletakkan Zhang Feng yang pingsan bersandar di jeruji besi.
Ketika melihat putranya tak sadarkan diri Zhang Xu hanya dikuasai amarah. Dia tidak banyak bicara segera mendekat dan melihat kondisinya.
"Tetua Pertama, kau tenang saja. Dia hanya pingsan karena terlalu takut."
Mata setajam elang itu menatap dengan aura membunuh. "Jika terjadi sesuatu padanya, kau akan mati dengan mengenaskan!"
Zhang Yu tersenyum. Meski begitu ia tak ragu dengan ucapan Zhang Xu. Pria tua ini sangat menyayangi Zhang Feng dan bisa melakukan apapun untuknya. Terbukti sebelumnya dia rela bertaruh nyawa demi membuka jalan pelarian. Sayang sekali gagal karena sejak awal sudah tertebak olehnya.
"Patriark, apa yang harus dilakukan dengan Zhang Feng?"
Sebelum Zhang Lei menjawab pertanyaan Zhang Yu, Zhang Xu berseru sambil berdiri dan mencengkeram jeruji besi. "Apa yang kalian rencanakan?! Jangan macam-macam dengannya!"
__ADS_1
Zhang Lei mengeluarkan kunci gembok. "Tetua Kedua, buka dan masukkan Zhang Feng dalam penjara."
Zhang Xu meraung kesetanan mendengar ucapan Zhang Lei. Dia semakin menjadi-jadi saat Zhang Long menyentuh tubuh putranya.
Namun apa yang dapat dia lakukan? Bahkan dia tidak bisa menyelamatkan diri sendiri. Saat Zhang Feng dilempar ke penjara, dia langsung menghampiri putranya yang masih tak sadarkan diri.
"Kurang ajar! Kalian bertiga tidak berperikemanusiaan! Kalian keterlaluan!"
Zhang Xu tak berhenti memaki dengan marah. Zhang Lei, Zhang Long dan Zhang Yu menutup telinga seolah tidak dengar. Ketiganya memutuskan keluar dari sana dengan hanya meninggalkan satu obor menemani di ruang penjara.
...
Keesokan paginya.
Kejadian di tempat tambang menghebohkan seluruh anggota klan. Mereka tidak menyangka tetua pertama yang dihormati sepenuh hati ternyata memiliki siasat busuk demi kepentingan sendiri. Bukan hanya ingin menguasai tambang tapi juga mengambil alih kursi patriark.
Nama baik Zhang Xu hancur dalam pandangan semua anggota klan. Tidak ada yang empati bahkan setelah mendengar Zhang Xu dan Zhang Feng dijatuhi hukuman kurung di ruang penjara bawah tanah.
Menurut mereka itu sangat pantas dan layak karena orang seperti Zhang Xu harus menerima pelajaran.
Kediaman Tetua Kedua.
"Yu'er, ayahmu berkata kau akan pergi. Ini tidak benar, kan?" Zhang Bing masuk ke dalam ruangan Zhang Yu dan melihat keponakannya ini sedang melakukan persiapan.
Zhang Bing seketika menjadi cemas. "Katakan pada Bibi. Kau tidak pergi, kan?"
"Bibi ...." Zhang Yu bangkit lalu mendorong kursi roda Zhang Bing keluar dari kamar.
"Kau membawa Bibi kemana?! Juga, kau belum menjawab pertanyaannya!"
Namun, Zhang Yu tetap tidak bicara. Dia malah membawa Zhang Bing keluar melihat bunga di halaman.
Memanfaatkan keadaan Zhang Bing yang lebih tenang, Zhang Yu mengatakan rencana perjalanannya untuk pergi ke Akademi Kekaisaran. Mencari gurunya juga untuk mencapai tingkat kultivasi lebih tinggi.
__ADS_1
Tidak dipungkiri cara penyampaian Zhang Yu sangat halus hingga membuat Zhang Bing sulit mengatakan tidak. Akan tetapi dengan sikapnya yang keras Zhang Bing tidak mungkin mengatakannya terang-terangan. Dia memalingkan wajahnya sambil mengeluarkan telunjuk. "Cukup! Jangan bicara lagi. Kau hanya mengatakan suatu yang tidak masuk akal. Antar aku kembali!"
Zhang Yu tersenyum. Dia tahu bibinya akan lebih mudah dibujuk dengan bicara hati ke hati. Itulah sebabnya meyakinkan ayahnya adalah yang utama.
"Ayo, aku akan mengantar Bibi ke dalam."
Di ruang tamu ternyata Zhang Long sudah menunggu. Zhang Bing seperti dapat melihat ada yang ingin dibicarakan kakaknya kepada Zhang Yu. Dia dengan perhatian melepas tangan Zhang Yu yang memegang kursi roda. "Aku akan kembali ke kamar. Kau habiskan waktu dengan ayahmu."
Zhang Long menepuk kursi di sampingnya meminta Zhang Yu segera duduk di sana. Zhang Yu menoleh melihat Zhang Bing yang masuk ke kamar, menarik nafas perlahan kemudian menghampiri sang ayah.
Untuk beberapa waktu yang lama tidak ada pembicaraan di antara mereka. Diam dan sunyi seperti di dalam gua.
Tiba-tiba Zhang Long mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya. Sebuah kalung dengan liontin hati yang terbuat dari tembaga.
Zhang Yu memperhatikan kalung itu. Sayang sekali tidak ada ingatan sama sekali tentangnya. "Milik siapa itu Ayah?"
"Itu milik ibumu."
"Ibu?"
Zhang Long menarik tangan Zhang Yu dan menyerahkan kalung itu. Dia diam, menatap begitu dalam.
"Ayah ...."
"Zhang Yu, sebenarnya ibumu masih hidup."
Suaranya lirih tapi sanggup membuat jantung Zhang Yu seperti berhenti berdetak.
Usianya hampir dua puluh tahun tapi tidak pernah melihat sosok ibunya. Saat kecil beberapa anak menghina dirinya tidak punya ibu. Beberapa kali bertanya pada ayahnya dan mengatakan jika ibu telah tiada. Namun setiap kali bertanya di mana makamnya ayah selalu mengalihkan pembicaraan.
Sekarang, detik ini, ayahnya tiba-tiba mengatakan ibunya masih hidup. Ini membuat kepala Zhang Yu kosong.
"A-Ayah, apa ibu benar-benar masih hidup?"
__ADS_1
"..."
Zhang Long memalingkan wajahnya dengan mata memerah. "Ya. Ibumu masih hidup. Tapi …."