Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 203 : Hukuman Untuk Perdana Menteri


__ADS_3

Tangan Song Wejin berkeringat mendengar suara Zhang Yu. Perlahan tapi pasti dia bergerak mundur mencoba menghindarinya, tapi Zhang Yu terus mempersempit jarak di antara mereka yang sontak membuat wajah pria tua itu pucat sepucat-pucatnya.


"Zha-Zhang Yu, namamu Zhang Yu, kan?"


Zhang Yu mengerutkan kening mendengar Song Wejin menyebut namanya. Dia penasaran dengan apa yang direncanakannya sekarang.


"Bagaimana jika kau bergabung denganku? Jika kau mau, aku ...."


Jleb!


Sebelum Song Wejin menyelesaikan kalimatnya Zhang Yu sudah menusuk tubuhnya dengan pedang.


Mata Song Wejin memerah dan melotot. Tetapi tidak ada yang dapat dikatakan selain berkomat kamit sambil menahan darah yang menyembur keluar.


"Bergabung dengan mu? Aku tidak sama seperti kau yang haus kekuasaan dan menggunakan segala macam cara bahkan mengkhianati Kekaisaran Xuan." Zhang Yu menarik pedangnya meninggalkan Song Wejin yang terjatuh dan mulai kehilangan banyak darah.


Perhatian Zhang Yu sekarang tertuju pada manik terakhir yang ada di antara mulut gua. Zhang Yu segera mengambilnya kemudian berjalan masuk menelusuri gua tersebut.


Pada saat itu Xuan Yin berada dalam ruang tahanan dan berdiri dengan khawatir menunggu sosok penolong yang datang. Xuan Yin hampir tak bisa menahan diri ketika menyaksikan wajah Zhang Yu adalah wajah yang muncul pertama kalinya dari lorong gua.


Xuan Yin menahan nafas dan segera berjalan ke sisi pagar besi yang mengurungnya.

__ADS_1


"Zhang Yu!"


Zhang Yu fokus dengan pintu jeruji besi itu kemudian menghancurkannya untuk membebaskan Xuan Yin. Begitu tidak ada penghalang yang memisahkan mereka, Zhang Yu segera berjalan masuk yang disambut Xuan Yin dengan antusias.


"Aku tahu kau akan datang!" ucapnya sambil memeluk Zhang Yu.


Zhang Yu mengeluarkan manik-manik yang sengaja dikumpulkannya sepanjang perjalanan sampai di gua. "Aku lega kau baik-baik saja," katanya.


Tak lupa Zhang Yu membuka aliran Qi dalam tubuh Xuan Yin yang dimatikan oleh Yu Dha dan kelompoknya. Seketika Xuan Yin dapat merasakan kembali energi dan Qi dalam tubuhnya.


"Bagaimana dengan perdana menteri?" tanya Xuan Yin.


Namun alih-alih menjawabnya langsung, Zhang Yu mengajak Xuan Yin keluar lalu menunjukkan beberapa mayat yang ada di mulut gua.


"Zhang Yu, kita harus kembali ke pusat kota." Tiba-tiba wajah Xuan Yin yang tenang berubah cemas saat memikirkan sesuatu.


Xuan Yin mengingat ucapan Song Wejin padanya beberapa waktu lalu tentang peringatannya yang mengancam keselamatan keluarganya. Sudah pasti Song Wejin memiliki rencana yang sudah berjalan untuk mencelakai mereka.


Zhang Yu pun tidak banyak membuang waktu di sana. Mereka meninggalkan wilayah tersebut untuk kembali ke tempat sebelumnya.


Dalam kurun waktu itu Xuan Yin terus bertanya tentang Istana Roh yang kembali mengincarnya. Xuan Yin juga bertanya hubungan seperti apa yang dibuat Istana Roh dengan Song Wejin.

__ADS_1


Zhang Yu awalnya tidak berniat menceritakan hal ini. Tetapi Zhang Yu menyadari masalah ini terlalu besar untuk dirahasiakan. Cepat atau lambat Xuan Yin akan tahu, jadi lebih baik memberitahunya sekarang.


"..."


Sambil memanfaatkan waktu yang ada Zhang Yu menceritakan semua kepada Xuan Yin. Termasuk rencana pengorbanan darah yang dilakukan Istana Roh dengan menggunakan tubuh dewi bulan sebagai wadah.


Ketika Xuan Yin mendengar hal itu, raut wajahnya terus berubah dan menjadi lebih buruk.


Seolah mengetahui apa yang ada dalam kepala Xuan Yin, Zhang Yu segera menggenggam tangannya sambil menenangkannya. "Ini bukan salahmu. Ini semua karena Istana Roh dan Perdana Menteri Song Wejin yang haus kekuasaan."


"..."


Meski Xuan Yin merasa lebih baik setelah mendengar ucapan Zhang Yu, tapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya atas kejadian ini.


"Saudara Ketujuh!"


Suara Pangeran Ketiga dan Pangeran Kelima menyadarkan Xuan Yin yang sempat melamun. Dia mengedipkan mata beberapa kali sebelum berhenti di depan dia saudaranya yang juga berusaha berjalan ke arahnya.


"Saudara ketujuh, syukurlah kau baik-baik saja!"


Mereka bahkan mengabaikan luka sendiri dan masih mempedulikan orang lain.

__ADS_1


Xuan Yin menyambut dengan senang. Mereka saling mengungkap perasaan senang karena semua baik-baik saja. Akan tetapi pada saat yang sama Zhang Yu tiba-tiba mengangkat tangannya memberi tanda pada ketiga orang di sebelahnya.


"Ada yang datang,"


__ADS_2